Secret

Secret
23



Di kelas, Erga dan Keysha duduk bersama.


Meski Erga tidak begitu mengerti maksud kalimat terakhir yang diarahkan Keysha pada Inez, Erga dapat melihat kemarahan yang samar padanya.


Menopang dagu dengan tanggan kirinya, Erga menatap Keysha lama.


"Kamu, apa yang kamu lihat?" Tanya Keysha sedikit gugup.


"Kamu terlihat cukup kesal". Ucap Erga sambil menunjuk alis Keysha.


Mendengus, "Apakah kamu akan berdiri diam ketika seseorang memiliki niat terhadap saudaramu?"


"Ah". Mengerti dengan ucapan Keysha, Erga mengangguk, "Tidak heran kamu memarahinya dengan keras".


"Dia pantas mendapatkannya. Tidakkah kamu berpikir demikian? Atau, apakah menurutmu saya berlebihan dengan itu?"


"Tidak". Jawab Erga cepat sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Bagaimana dia dapat berpikir demikian? Jika dia ada di posisi Keysha saat ini, dia mungkin akan melakukan hal yang sama.


Keysha begitu dekat dengan saudaranya, pastinya dia tahu betul seperti apa saudaranya itu.


Dengan demikian, akan lebih muda mencegah para gadis yang memiliki niat berlebihan terhadap saudaranya. Bagaimanapun juga, itu akan lebih baik dari pada orang-orang itu mendapatkan hasil yang tidak menyenangkan.


Mencegah lebih awal dari pada membiarkan mereka melangkah lebih jauh. Setidaknya, ini untuk kebaikan mereka sendiri.


Menghela napasnya, Keysha bersandar, "Dia tidak hanya picik, tetapi juga memiliki banyak trik. Saya bertanya-tanya, bagaimana Senior Ardan begitu mudah olehnya".


Mendengar itu, Erga hanya mengedikkan bahunya acuh.


Dia sendiri juga tidak mengerti akan hal itu. Mungkin, dia benar-benar tidak dapat melihatnya, atau mungkin dia menyadarinya dengan sangat baik, hanya saja, dia menutupi matanya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Seperti kata pepatah, anak yang menangis selalu di beri permen.


Lupakan! Lagi pula, dia tidak begitu peduli dengan urusan orang lain.


Sebagai sepupunya, dia sering melihat bagaimana cara mata para menatapnya. Itu sangat intens dan menggoda seperti telah menemukan sesuatu yang mereka dambakan.


Hanya saja, itu semua berbeda dengan bagaimana cara Inez menatap saudaranya. Entah kenapa, dia merasa sangat tidak nyaman dan sedikit jijik. Itu berbinar seperti wanita murah yang telah menemukan harta berharganya dan dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.


Awalnya, Keysha tidak begitu peduli karna menurutnya, itu adalah hal yang wajar dan selain itu, itu adalah pertama kali bagi mereka untuk bertemu.


Namun, melihat bagaimana sikap Inez tadi, dia menjadi lebih kesal.


Meskipun dia tahu bahwa saudaranya tidak akan pernah tertarik dengan gadis seperti itu, itu menjadi pengecualian untuknya. Bagaimanapun, dia harus mencegahnya agar tidak melangkah lebih jauh dan membuat orang-orang salah paham.


Semakin jauh, semakin baik.


Memikirkan ini, dia melirik Erga dari sudut matanya.


Betapa baiknya jika mereka bersama. Ditambah keduanya sangat cocok ketika berdiri bersama.


Mengerutkan  bibir merah cerinya, "Tidakkah kamu berpikir bahwa Inez sedikit di sengaja? Dia dan senior..."


Keysha menghentikan dirinya sendiri dan dengan hati-hati melirik Erga. Namun, melihat bahwa Erga sama sekali tidak terpengaruh, Keysha menghela napasnya lega.


Rumor memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya.


Dia telah mendengar banyak rumor tentang Erga ketika masih di sekolah menengah. Semuanya hanya mengenai hal-hal buruk Erga.


Sayang bahwa dia sama sekali tidak mempercayai rumor tersebut. Dengan tempramen Erga yang seperti ini, dia yakin bahwa itu semua hanya di sengaja.


Tapi kenapa?


Alasan itu, hanya Erga yang tahu.


Sadar bahwa Keysha tidak melanjutkan,  Erga menaikan alisnya, mengalihkan atensinya dari ponsel, "Ada apa?"


Menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak apa-apa". Menopang kepalanya, Keysha bertanya, "Katakan padaku, apakah kamu pernah menyukai Senior?"