Secret

Secret
Part 24



Suara dari penyanyi Olivia Rodrigo yang indah mengiringi sore ini. Lagu happier itu mengalun dengan keras mengisi kesunyian di kamar Tiara.


Tiara yang sedang mengeringkan rambutnya itu sesekali ikut bernyanyi mengikuti alunan musik yang merdu itu.


Tok tok tok


"Masuk" ucap Tiara begitu pintu kamarnya diketuk.


Cowok tinggi dengan handuk yang melilit pinggangnya serta dada bidang yang dibiarkan terbuka itu masuk dengan cengiran tanpa dosanya.


Tiara menghembuskan napasnya kesal ketika melihat Kaffa tak memakai baju seperti itu. Kakaknya itu sering sekali membuka aurat.


"Gue numpang mandi ya, dek" belum sempat Tiara menjawab Kaffa sudah mengunci kamar mandi Tiara.


Benar-benar tidak tau diri. Belum diperbolehkan sudah masuk seenaknya. Kalau begitu untuk apa Kaffa ijin segala. Huft, Tiara jadi jengkel sendiri dengan kakaknya itu.


Tiara masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer berwarna pink soft miliknya. Tak lupa Tiara memakai vitamin rambut agar rambutnya wangi dan sehat.


Begitu rambutnya sudah kering, Tiara menyisir rambutnya agar rapi. Tiara jadi teringat kakaknya yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Padahal lagu yang mengisi kamarnya sudah berganti tiga kali. Ngapain aja di kamar mandi itu.


Baru Tiara akan beranjak untuk menggedor pintu kamar mandinya, sosok dengan dada bidangnya itu keluar sambil berucap, "Seger banget"


"Lo mandi kok kayak cewek, kak" cibir Tiara begitu Kaffa keluar dari kamar mandi.


"Berendam dulu, dong" jawab Kaffa santai sambil berjalan menuju kasur king size milik Tiara.


"Gila, beneran kayak cewek" cibir Tiara sambil terus menyisir rambutnya.


"Biarin, dah" jawab Kaffa santai.


"Kamar mandi lo kenapa emangnya, ha?" Tiara jadi gemas sendiri kalau Kaffa mandi di kamar mandinya. Pasti bertelanjang dada dan tak segera memakai kaos. Sengaja sekali kakaknya ini.


"Air panasnya gak bisa" Tiara menggelengkan kepalanya begitu ia mendengar jawaban Kaffa. Cowok kok mandi pake air panas.


"Cowok apaan lo, mandi pake air panas" cibir Tiara dengan senyum mengejeknya.


"Hujan gini enaknya mandi pake air panas" elak Kaffa.


"Hujan?" Tiara segera membuka gorden kamarnya dan melihat rintikan air yang jatuh dari langit itu. Lumayan deras juga.


"Gue gak ngeh kalo hujan" ucap Tiara kembali menutup gordennya.


"Iyalah, lo terlalu fokus sama kakak lo yang tampan ini" jawab Kaffa dengan senyum pedenya.


"Dih, pede banget lo" balas Tiara dengan wajah gelinya.


"Gue nih gak pernah kayak gini kalo diluar. Cuma di dalem rumah aja. Dan lo, cewek satu-satunya yang tau gue sesixpack ini" Ini nih sifat Kaffa. Kepedean tingkat dewa.


"Dih, muji diri sendiri" cibir Tiara sambil menata rambutnya.


"Kenyataannya kan emang gitu. Siapa sih cewek yang gak suka sama cowok sixpack dan tampan kayak gue, ha" Kaffa semakin menyombongkan dirinya.


"Kalo lo tampan, kenapa Selena sampek nyelingkuhin lo?" Tiara tersenyum menang pada Kaffa yang memandangnya dengan tatapan sengit.


"Anjir" Kaffa jadi ingat kalau beberapa hari lalu bertemu lagi dengan gadis bernama Selena itu.


"Matiin lagu lo, dek. Gue mau cerita nih" Tiara mematikan lagunya dan mulai duduk menghadap Kaffa yang masih setia berbaring di kasur miliknya.


"Beberapa hari yang lalu, gue liat Selena sama selingkuhannya itu. Mereka kok bisa bahagia gitu ya" ucap Kaffa sambil mengingat betapa bahagianya Selena ketika bersama laki-laki itu. Bahkan Kaffa tak pernah melihat senyum bahagia Selena yang ditunjukan pada laki-laki itu.


"Liat dimana lo?" Tiara yakin, pasti Kaffa belum sepenuhnya melupakan mantan pacarnya itu.


"Itu tandanya dia udah bahagia. Lo harusnya juga move on dong. Biar bisa bahagia kayak Selena. Masa lo kalah sama Selena" Tiara jadi ingat ketika kakaknya itu diselingkuhi oleh Selena. Padahal dulu Kaffa sangat mencintai gadis itu.


"Lo taulah, gue sama Selena kenal udah lama. Kalo tau ujungnya kayak gini, mending gue gak kenal sama dia aja"


Kaffa dan Selena itu sudah berteman sejak SMA. Kaffa awalnya tak tertarik pada gadis itu, tapi gadis itu membuatnya jatuh cinta. Kaffa masih ingat, bagaimana ia berusaha mempertahankan hubungan itu.


"Lo tuh harus bisa bahagia kak, tanpa Selena. Dia itu masa lalu lo. Mungkin lo dipertemukan sama Selena untuk jadi pelajaran kedepannya" Kaffa menoleh pada Tiara yang kini menatapnya.


Perempuan yang begitu ia sayangi dan ia lindungi selalu ada disampingnya. Tiara selalu mendengarkan semua keluh kesah Kaffa. Dan Kaffa tak akan bisa membiarkan adiknya itu tersakiti. Ia akan melakukan semua hal untuk menjaga adiknya.


"Gue gak mau lo ngalamin hal sama kayak gue. Kalo Arsen sampek berani macem-macem sama lo, apalagi nyelingkuhin lo, gue bakal kasih pelajaran sama dia. Lo harus bilang sama gue kalo Arsen nyakitin lo" Tiara mendengar ucapan yakin dari Kaffa. Bahkan mata Kaffa menunjukkan keseriusannya.


Tiara jadi teringat akan Tania. Bagaimana jika Tania itu benar pacar Arsen? Jika benar Tania itu pacar Arsen, itu tandanya Tiara lah yang menjadi selingkuhan. Ia jadi ingin tau siapa Tania sebenarnya.


"Gue mau makan ah, laper" ucap Kaffa sambil beranjak meninggalkan kamar Tiara.


"Pake baju dulu, woy!" Teriak Tiara begitu Kaffa akan menutup pintu kamarnya. Ia mendengar tawa Kaffa yang keras itu.


Tiara memasukan hairdryer yang dipakainya ke dalam laci meja riasnya. Lalu menata kembali kasurnya karena telah berantakan setelah dipakai Kaffa.


Tiara keluar dari kamar menuju lantai bawah. Dilihatnya Kaffa yang sedang berdiri dibelakang Farhan. Entah apa yang dilakukannya.


"Paa!! Bang Farhan pacaran nih!" Teriak Kaffa lalu diiringi tawa kerasnya.


Farhan yang mendengar teriakan Kaffa langsung menoleh pada Kaffa yang ada dibelakangnya.


"Heh, anjir maksudnya apaan?" Farhan jadi curiga adiknya ini membaca pesannya.


"Itu tadi Viona siapa coba? Pacar lo kan" goda Kaffa sambil duduk di samping Farhan.


"Sekretaris gue" jawab Farhan sambil meletakkan handphone nya di meja.


"Masa? Tadi kayaknya ngajak jalan tuh? Apa kencan? Dinner?" Kaffa terus menggoda Farhan dengan alis yang dinaik turunkan. Sedangkan Farhan hanya memandang dengan tatapan geli.


"Nanya jadwal gue besok" Tadi ia bertanya pada sekretarisnya untuk agendanya besok. Eh malah Kaffa mengira ia akan berkencan. Apa-apaan itu.


"Kalo abangmu punya pacar, emang kenapa Kaf? Iri kamu?" Tanya Dika dengan kekehan diakhir ucapannya.


Kaffa melihat sang papa yang baru keluar dari bilik kamar mandi dekat dapur.


"Dih, apaan iri. Bang Farhan mah kalo punya cewek diajak ke rumah kek. Dikenalin gitu lho. Jangan main kencan buta aja" jawab Kaffa dengan tawa mengejeknya. Farhan menatap Kaffa dengan sengit. Mengesalkan sekali adiknya ini.


"Siapa juga yang kencan buta" bantah Farhan sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja makan.


Tiara dan Dika sudah duduk menunggu mereka berdebat.


"Dek, besok ke sekolah gue anter aja ya. Mau cari cewek gue" ucap Kaffa begitu makan malam dimulai.


"Kalo dapet cewek, mau kamu apain Kaf?" Tanya Dika dengan kekehannya.


"Mau aku jadiin pacar dong pa" jawab Kaffa santai.


"Dih, inget bang. Pernah diselingkuhin jangan banyak tingkah" ucap Tiara yang langsung membuat Kaffa kehabisan kata-kata.


Dulu sejak kenal dengan Selena, Kaffa tak pernah dekat dengan cewek lain. Bahkan ia berusaha untuk selalu ada buat Selena. Ternyata perjuangannya membuahkan hasil yang buruk.


To be continued....