REANO

REANO
chapter 9



Kringg... Kringg...


Jam beker milik Chaterine berbunyi tepat di angka 05.30, membuat sang empunya bangun dari tidurnya.


"Hoaaam." gadis itu kini tengah duduk di tepi ranjang nya sembari mengumpulkan nyawa.


Chaterine lalu berjalan menuju kamar mandi dan seperti biasa, gadis itu melakukan ritual paginya.


Tidak sampai 15 menit, gadis itu sudah selesai dengan seragam SMA Budi Sakti yang melekat rapi di tubuhnya.


Gadis itu berjalan menuju kamar Jonathan, bermaksud meminta abangnya itu untuk mengantarkannya ke sekolah kecintaannya.


Tok tok tok


"Bang Nathan, udah bangun belom." Tanya Chaterine dari luar kamar abangnya itu, tapi sang pemilik kamar tak memberi jawaban atas pertanyaan Chaterine.


"Bang Nathan!" Ulang Chaterine sedikit berteriak.


Tidak mau berlama-lama, Chaterine langsung melengos masuk kedalam kamar Nathan. Matanya bergerilya mencari Nathan, tapi hasilnya nihil.


"Tuh bocah mana, ya?" Gerutu Chaterine seraya berjalan menuju ruang makan.


"Ehh, ada bunda. Pagi bun." Chaterine mencium pipi bundanya yang tengah memasak omelet kesukaannya.


"Pagi sayang." Jawab bunda Lena.


"Bun, bang Nathan kemana? Chaterine cariin di kamar, gak ada." Tanya Chaterine pada bundanya.


"Bang Nathan udah kesekolah duluan, mau jemput gebetan katanya." Jelas bunda Lena yang tentunya membuat Chaterine berdecak kesal.


"Dasar abang laknat!"


"Truss, Chaterine kesekolahnya bareng siapa?"


"Nanti biar bunda ant..."


Ting tong


Perkataan Lena terpotong karena bunyi bell.


"Kamu makan sana, bunda mau lihat siapa yang pencet bel." Suruh bunda Lena.


"Sippp."


Jujur, Chaterine sangat lapar saat ini. Ia makan dengan sangat lahap, bahkan sampai belepotan.


Sedangkan Lena, bunda dari seorang Alexa Chaterine itu kini tengah membukakan pintu.


Kriieet


"Pagi tante." Ucap seorang pria di balik pintu hitam milik keluarga Chaterine.


"Pagi. Kalau boleh tau, kamu siapa?" Tanya Lena pada anak muda di hadapannya ini.


"Kenalin tante, saya Reano. Teman Chaterine. Sekaligus masa depannya anak tante. Hehehe." Dia adalah Reano. Orang yang pagi-pagi sudah mengapeli rumah masa depannya. Dan beruntungnya, saat ini pria berbalut jaket kulit itu dapat bertemu langsung dengan calon mertuanya.


"Hahaha. Kamu bisa aja. Ayo masuk." Ajak Lena.


Misi pertama dari rencana Reano telah terselesaikan, yaitu memenangkan hati calon mertuanya. Selanjutnya, tinggal mengambil hati ayah Reano. Reano sudah memikirkan cara agar ayah Chaterine mau menerimanya sejak kemarin. Tentunya dengan membawa kerupuk sebagai buah tangan. Jika banyak pria yang membawa martabak pada calon mertua, Reano justru memberi kerupuk. Why? Tentu karena Reano ingin berbeda dari pria-pria diluar sana, yang membawa martabak manis sekaligus janji-janji manisnya. Eaaa!


"Silahkan duduk, tidak usah sungkan-sungkan." Ucap bunda Lena sopan.


"Iya tante." Jawab Reano sopan.


"Kamu mau minum apa, biar tante ambilin." Tawar bunda Lena.


"Ehh, gak usah tante. Sebagai calon menantu yang baik, saya gak boleh nyusahin calon mertua." Dasar Reano. Masa iya, pria itu tidak mengurangi rasa percaya diri berlebih itu saat bertemu calon mertuanya.


"Hahahaha. Beneran nih mau jadi menantu tante?" Tanya Lena tertawa.


"Mau dong tante!" Jawab Reano antusias layaknya anak kecil.


Chaterine POV


"Bunda kok lama banget bukain pintunya?" Tanya gue pada diri sendiri.


Karena penasaran, akhirnya gue mencoba mencari bunda.


"Bun, kok lama banget. Emang tamunya sia- Kok lo ada dirumah gue!" Jujur gue terkejut banget lihat si bayi berang-berang sedang tertawa ria dengan bunda gue.


"Pagi Alexayang." Sapa Reano dengan menambah embel-embel 'sayang' di akhir nama depan gue.


"Ngapain lo kesini, rumah lo kebanjiran emangnya?" Tanya gue sedikit ketus berharap Reano segera pergi karena sindiran yang gue lemparkan.


Reano menampakkan deretan gigi putih miliknya, dan jangan lupakan dengan sudut bibir yang tertarik membentuk senyuman yang sangat manis. Ya lorrd kok gue malah muji tuh bocah, ya?


"Gue mau antar lo kesekolah, sekaligus mau ketemu camer."


"Ngarep lo!" Ketus gue.


"Jangan galak-galak dong, nanti gue tambah sayang." Goda pria di hadapan gue yang masih setia dengan senyumannya.


"Ket, gimana kalau bunda pengen menantu kayak Reano?" Tanya bunda gue dengan nada jahilnya.


"Ihh. Bunda..." Serius dah, kesel banget gue. Di tambah lagi bunda belain tuh anak bekicot.


"Hahaha. Bercanda doang sayang." Bujuk bunda.


Sabar Ket, sabar. Ini semua cobaan dari sang maha kuasa. Atau jangan-jangan ini semua balasan dari Tuhan karena sering menipu bi Siti. Ahh, lupakan saja.


"Kamu kesekolah bareng Reano aja, ya. Bunda masih banyak kerjaan." Apa-apaan ini! Bunda nyuruh gue buat kesekolah bareng cucunya buto ijo. Ini gak boleh di biarin.


"Ihhh... Chaterine gak mau." Tolak gue berharap sang bunda tercinta tidak memaksakan kehendaknya.


"Tidak ada penolakan." Ucap bunda singkat. "Tidak ngerepotin, kan?" Lanjut bunda bertanya pada Reano.


"Gak ngerepotin, kok. Yaudah saya ijin bawa anak tante, ya." Izin Reano.


Bunda gue mengangguk tanda menyetujui. "Kalau Chaterine nakal, di marahin saja."


"Tante tenang saja, Alexayang gak bakalan liar kalau ada Reano." Ujar Pria itu bangga.


"Yaudah, kesekolah sana. Bunda gak tanggung jawab kalau telat, loh."


"Bunda, ihhh." Kesal gue


Chaterine POV end


Setelah beradu mulut, akhirnya Chaterine pasrah dengan keputusan bundanya.


"Yuk." Ajak Reano dengan wajah berseri-seri. Sedangkan Chaterine, ia memasang wajah cemberutnya. Bibir yang di manyunkan dan pipi yang menggembung menjadi kebiasaan Chaterine saat kesal.


Kedua bocah tersebut menyalami bunda Lena sebagai tanda hormat mereka. "Chaterine pamit ya, bun. Awas rindu." Pamit Chaterine mencium pipi bundanya.


"Gue gak di cium?"


Tentu kalian tahu siapa sosok yang berani mengatakan hal-hal gila tersebut, Reano.


"Gak mau! Bibir gue bisa busuk nanti!" Tolak Chaterine.


Reano memayunkan bibir imut sambil mengedip-ngedipkan matanya agar terlihat lucu.


"Gak luluh!" Ketus gadis itu.


Reano membuang nafas kesal. "Yaudah."


*****


"Gimana, nih." Chaterine panik tentunya. Siapa yang tidak panik jika gerbang sekolah sudah ditutup rapat seperti ini.


"Gimana apanya?" Ucap pria disebelahnya balik bertanya.


"Masuknya, Reano Calvin Putra." Jawab Chaterine geram.


"Tinggal manjat aja, kan gampang." Lanjutnya santai.


"Boleh sih, tapi disana ada pak Haru." Tunjuk Chaterine.


"Bolos aja kalau gitu."


"Gak! Bunda bisa marah." Chaterine menolak tentunya. Jika bundanya tahu anak perempuan satu-satunya bolos lagi, bisa habis Chaterine di buatnya.


"Truss."


"Ahaa! Gue punya ide. Sini lo." Chaterine menarik Reano ketempat pak Haru yang sedang mencari mangsa.


"Nanti ketahuan ket." Reano bingung tentunya dengan jalan pikiran gadis yang menarik tangannya itu.


"Diam aja."


Chaterine sudah sampai di tempat pak Haru berdiri. Sekarang tinggal menjalankan misi kedua.


"Pak Haru! Nunggu saya ya, pak?" Dengan tidak sopannya Chaterine mengatakan hal itu sambil menyengir lebar.


"Kenapa terlambat!" Teriak pak Haru yang dimana membuat nyali seorang Alexa Chaterine menciut.


Jika kalian bertanya dimana Reano, pria itu hanya menyaksikan percakapan antara gadis idamannya dengan seorang kakek sihir tua.


"Jadi gini, saya tuh punya kucing pak, namanya Choco. Nah... kucing saya itu lagi lahiran, pak. Jadi sebagai majikan yang bertanggung jawab, saya menemani Choco saat proses lahirannya. Saya itu tidak seperti kucing jantan yang menghamili Choco, pak. Sangat tidak bertanggung jawab."


Reano cengo mendengar cerita konyol Chaterine. Inikah ide yang gadis itu maksud? Sungguh tidak bisa di percaya.


"Bapak tidak percaya!" Tegas pak Haru.


"Chaterine gak bohong pak. Tadi tuh, kucing nya Chaterine emang lagi lahiran. Saya juga terlambat karna nemani Chaterine." Reano menatap Chaterine sekilas lalu mengedipkan mata sebelah.


"Banyangin aja ya, pak. Waktu istri bapak lagi lahiran, bapak pasti bela-belain buat datang. Kalau gak datang istri bapak pasti..." Reano menggantung kalimatnya.


"Pasti sedih." Lanjut pak Haru dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Mungkin guru tersebut tengah mengulang memori saat-saat sang istri tercinta sedang lahiran.


"Tuh bapak tahu. Choco juga sama pak, Choco pasti sedih kalau gak di temani saat detik-detik lahiran." Reano akhirnya menyelesaikan cerita konyol nya.


"Yaudah kalian masuk sana. Lain kali jangan terlambat lagi, kecuali kalau kucing nak Chaterine lahiran lagi." Suruh pak Haru dengan berlinang air mata.


"Bapak yang semangat, ya." Dasar bocah-bocah laknat. Mereka masih sempat-sempatnya menyemangati guru yang mereka bohongi tersebut.


Sungguh sebuah anugerah. Alasan konyol itu dapat diterima oleh guru. Aplaus buat Chaterine dan Reano, sepasang remaja yang berhasil membuat alasan bodoh yang mampu di terima oleh si guru BK.


Tanpa berlama-lama, kedua remaja tersebut melengos masuk meninggalkan pak Haru seorang diri di luar sana.


"Makasih karena sudah bantuin gue dari terkaman pak Haru." Chaterine mulai bersuara ketika sudah masuk kedalam lingkungan sekolah.


"Santai aja."