
“Ingat, gambarnya di kumpul besok. Sekarang kalian boleh keluar untuk mencari referensi.”
“Baik bu!”
Ruangan yang dipenuhi kanvas dan cat yang tadinya ramai berangsung-angsur menghening. Semuanya keluar untuk mengerjakan tugas mendadak yang diberikan seorang pendidik bernama Dita, seorang guru seni lukis dan guru ekstrakurikuler seni lukis. Namun ruangan tersebut tidak sepenuhnya kosong, didalam masih ada Bu Dita, Hans, dan Chaterine.
“Gk keluar nih?” Tanya Hans yang duduk santai di atas meja di depan seorang gadis
“Bentar lagi kak, ini gw lagi rapihin cat warna.” Jawab gadis tersebut terlihat sangat sibuk dengan cat yang berserakkan. Sangking fokusnya dengan cat, gadis itu sampai tidak peduli dengan poni yang menutupi matanya.
“Ini rambutnya di jepit, kasihan matanya ketutup mulu.” Hans menghampiri Chaterine lalu merapikan rambut gadis tersebut, menumpuknya di daun telinga.
Gadis itu mendadak menjauhkan tubuh dari Hans, Chaterine tersenyum aneh ke arah Hans lalu berdiri dari tempatnya duduk. “Yuk ke luar.” Ucap gadis itu berlalu meninggalkan Hans.
Senyum kecut terbentuk dari sudut bibirnya, tangannya mengepal kuat. “Cepat atau lambat lo bakalan jadi milik gw.”
Pria itu kemudian keluar mencari Chaterine, Hans dapat dengan mudah menumukan Chaterine karena letak kelas kesenian berada di lantai tiga. Lapangan basket. Disana Chaterine tengah berdiri di pinggir
lapangan sambil sesekali tertawa. Rahangnya mengeras kala melihat Reano ada disana, tertawa bersama Chaterine. “Ck.” Pria itu segera berlari kebawah, ke lapangan basket.
Pria tersebut berhenti mendadak kala hampir menabrak punggung Chaterine sangking tergesa-gesanya.
Chaterine terperanjat kaget, untung saja ia tidak menjatuhkan barang bawaannya. “Astoje!” Kaget gadis itu.
Gadis itu membalikkan badan lalu menepuk pundak pria dibelakangnya itu pelan. “Bikin kaget aja.”
Hans mendongak ke atas. “lagian yang kabur siapa?” Ucapnya tersenyum geli.
“Hilih.”
“Abang boleh yahh... ini tugas gw, di kumpul besok. Yahhh...” Rengek Chaterine kembali kepada abangnya, Nathan yang sedang latihan basket sekarang. “Ayo dong...” Rengek Gadis itu lagi.
Nathan menatap adeknya itu aneh. “Gk. Gw ada turnamen dua minggu lagi, jadi harus latihan.” Ucapnya singkat sambil memantul-mantulkan bola bundar orange di tangannya.
“Huh!” Gadis itu berdecak kesal, padahal tugas ini penting sekali. Sekarang Chaterine sangat geram ingin mengigit bu Dita karena memberi tugas dadakan.
“Gw aja.” Seseorang memegang bahu Chaterine. Gadis itu tersenyum cerah kepada orang tersebut, tapi tak lama senyumnya memudar menjadi murung. “Jangan deh Re, lo kan juga harus latihan kayak bang Nathan.” Ucapnya lesu. Yap, yang tadi menawarkan diri adalah Reano.
Pria itu mengacak pelan rambut Chaterine, tangannya kemudian di rentangkan ke atas. “Gw udah latihan duluan tadi, jadi sekarang gw kosong.” Jelas pemuda tersebut membuat semangat Chaterine kembali
terkumpul.
“Tuh udah ada Reano, abang mau latihan dulu, bye.” Segera Nathan berlari ke arah kerumunan tim basketnya meninggalkan Chaterine, Reano dan Hans di pinggir lapangan.
“Gw juga pengen gambar lo.” Ucap Hans dingin kepada Reano. Matanya menyorotkan sebuah peringatan. Mana bisa ia membiarkan Chaterine berduaan dengan Reano, ditambah lagi jika ingin melukis pasti Chaterine akan menatap Reano dengan intens nantinya.
Reano terkekeh singkat. “Gw se-tampan itu yah, sampai-sampai lo mau gambar gw juga?”
Hans mengepalkan tangan kuat, rahangnya mengeras dan sorot matanya menjadi semakin tajam.
Sedang kan Chaterine yang tidak tahu apa-apa hanya diam menyaksikan pembicaraan kedua pria di hadapannya itu.
Reano tersenyum sekilas ke pada Hans lalu beralih pandang kepada teman-temannya yang sedang beristirahat di pinggir lapangan. “Oy Ra!”
Raka yang merasa terpanggil menoleh ke arah Reano lalu berlari ke arah pria yang memanggilnya itu. “Paan bro?” Tanyanya bingung.
“Temani dulu nih kakak kelas kita tercinta buat jadi model gambarnya.” Ucap Reano singkat.
Raka di buat bingung dengan perkataan temannya itu. Namun kebingungan itu hilang kala melihat sorot mata yang ditunjukkan Reano dan Hans.
“Owh oke-oke.” Raka merangkul bahu Hans lalu membawanya ke tempat yang agak jauhan dari Reano dan Chaterine berdiri. Mungkin lebih mirip menarik dari pada jika dikatakan membawa atau mengajaknya.
“Oke sekarang lo boleh puas liatin gw sekarang.” Reano berpose keren kala mengatakan hal tersebut. Mendengarnya Chaterine ingin sekali menikam pria ke-PDan di hadapannya ini.
“Apaan sih, gaje amat.”
Reano mendekat ke arah Chaterine, mengikis jarak diantara mereka. “Hati-hati, entar naksir.” Setelah mengatakan itu pria tersebut menjauhkan wajahnya dari Chaterine, jangan lupakan dengan senyum jahil di bibirnya.
Merah. Wajah Chaterine merah padam. Dekatnya jarak Reano ditambah dengan bau keringat bercampur bau parfum menjadikannya sangat maskulin.
Lelaki tersebut mengigit bibir geli melihat Chaterine. “Ciee yang merah...” Godanya menoel pipi gembul Chaterine.
“Ishh... ini merah karna kepanasan.” Alibi Chaterine tak berani menatap Reano. Tingkahnya yang semakin menggemaskan membuat Reano sangat ingin mencubitinya hingga puas.
*****
“Jangan banyak gerak dulu ihhh...” Kesal seorang gadis hampir ingin melempar kuas yang ada ditangannya.
“Istirahat bentar napa? Pegel.” Ucap pria di hadapan gadis tersebut.
“Dasar Reano kebo. Baru juga lima belas menit.” Ucap gadis itu jengkel melihat Reano yang sedari tadi bergerak-gerak membuat fokusnya terganggu.
“Lima belas menit lama. Nanti lanjut ya, capek.” Ucap Reano.
Chaterine menatapnya aneh. “Capek kenapa? Perasaan lo cuman gw suruh duduk di depan gw, gk ada pose yang lain.” Kesal Chaterine.
“Nah itu dia, gw gk kuat lama-lama di depan lo. Hehehe.” Ucap Reano menyengir ria.
“Yodah istrahat dulu sono.” Suruh Chaterine memisahkan gambar setengah jadinya agar tidak kotor.
Dengan riang Reano berdiri lalu mendaratkan bokong di sebelah Chaterine. Chaterine menatapnya aneh. “Katanya mau istrahat? Ngapain masih di sini?” sinis Chaterine kepada pria yang duduk bersila di sebelahnya.
“Nih gw lagi istrahat.”
Chaterine menepuk jidat keras. “Bedanya duduk di depan gw, sama di sebelah gw apaan Reano Calvin Putraaaaaaaa.......” Geram Chaterine memberi simbol ingin meremas di tangannya.
“hahaha!”
“Awas kau.” Peringat Chaterine kepada Reano.
Seketika gelap, tempat mereka yang tadinya di sinari teriknya matahari menjadi adem kala bayangan seseorang menutupi mereka. Reano dan Chaterine yang duduk bersila dibawa mendongak ke atas, melihat siapa yang datang.
“Eumm... maaf mengganggu kak, ini ada sedikit kue tadi yang aku buat di ekstrakurikuler cooking.” Ucap seorang gadis manis berambut panjang. Gadis itu nampak tersipu malu saat mengatakannya. Dapat dilihat jelas dari rona di pipinya.
Reano menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Buat gw?” Tanya Reano singkat.
Gadis tersebut menyodorkan kotak kue bermotif gambar hati tersebut kepada Reano. “Iya, buat kakak. Dimakan ya.” Reano mengambil kotak tersebut. “Makasih.” Ucapnya singkat kepada Gadis tersebut.
Reano mendekati Chaterine yang sedang fokus dengan buku gambarnya. “Buka mulut.” Ucap Reano dengan ekspresi yang sangat jauh berbeda saat berbicara dengan gadis tadi. Entah mengapa Chaterine refleks melihat Reano sembari membuka mulut.
Dengan cepat Reano memasukkan sepotong kecil kue ke mulut Chaterine.
“Eh.” Gadis yang tadi memberikan kue kepada Reano ternyata belum pergi. “Itu kue kenapa bukan kakak yang makan?” Tanyanya dengan raut wajah imut.
Reano menatap gadis dihadapannya dingin. “Terserah gw mau kasih kue ke siapa. Kalau gk seneng mending gk usah kasih.” Ucapnya dingin. Sangat dingin, membuat terik matahari seakan kalah darinya.
“Eum, bener juga. Ya udah aku pamit dulu kak.” Gadis tersebut pergi meninggalkan Chaterine dan Reano dengan hati yang kesal.
“Astaga, kasar banget lo jadi manusia.” Ucap Chaterine kala kue di dalam mulutnya yang di masukkan secara tiba-tiba habis.
Reano menatap Chaterine kesal. Tangannya kembali dengan sigap menyumpal mulut Chaterine dengan bongkahan kue yang besar. “Udah makan aja dulu.”