
"Hadeuh lemes gw anjir!" Gerutu Hugo sembari melempar asal kain pel yang ada di tangannya.
Kalimatnya yang kelewat ambigu itu langsung saja ditanggapi aditya yang otaknya rada kotor. "Baru mulai aja udah lemes lu, entah gimana kalau gw mainin, dah tepar lu bwahahaha.
Yang lain tertawa pecah mendengar ucapan Adit. "Hahaha... parah sih lu!" Ucap Ayu memukul pundak Adit pelan.
Hugo mencibir Aditya, "Bicit lu, kalau belum pernah mainin jangan sok tau neng." Balasnya tak terima direndahkan seperti itu.
"Nah gw setuju tuh!" Sambar Reano, sedangkan cowok-cowok lain manggut-manggut setuju dengan pembelaan Hugo tentang laki-laki.
"Buwung kecil diem lu!" Balas Chaterine tak terima tim cewek diejek.
Reano berkacak pinggang dibarengi keangkuhan nya, "Belum juga pernah ihat, atau mau gw tunjukin ke lu sekarang?" Lanjut Reano membalas serangan Chaterine. Sedangkan hanya bisa bungkam untuk kali ini, tidak mungkin ia mengiyakan hal itu demi pertempuran ini.
Raka tertawa melihat tim cewek yang ikut bungkam. "Jangan Re, entar si Chaterine kaget liatnya, hahaha!" Ejek Raka diikuti tawa besar Reano dan Hugo.
"Udah? Itu lantainya belum kelar lu pel." Ucap Bless menerobos diantara mereka.
Hugo memutar bola mata malas, "Cuih! Diem lu kutu buku!"
"Ingat kita lagi di hukum." Ucap Flora masih fokus dengan pekerjaannya.
"Cuih! Bicit lu kulkas karatan!" Sinis Hugo pada Flora.
Gerakan Flora terhenti, tatapannya yang dingin menatap tepat di mata Hugo, membuat pria itu berusaha mengambil kembali kata-kata nya. "Hehehe, gk kok. lu bukan kulkas, lu itu lebih mirip microwave yang anget kaya-AAAAKKKKHHH!" Belum selesai beralibi, Flora sudah terlebih dahulu menusuk tepat di rusuk pria itu dengan gagang pel.
"Noh rasain tuh." Ejek Siska merangkul pundak Flora.
Aditya berjalan keluar gudang itu dengan malas, tak lupa sebelumnya mengembalikan sapu ke dalam lemari penyimpanan. "Dah lah, mending ke kantin aja, perut gw lagi konser dangdut Nassar nih."
"Gasss!" Sorak Chaterine bersemangat. Alhasil Chaterine dan teman-temannya langsung meluncur ke kantin, padahal masih ada bagian dari lantai gudang yang belum mereka bersihkan.
Diperjalanan Aditya berhenti sejenak, "Eh btw gw gk ada bawa duit, traktirin gw yaahhh." Ucapnya memelas, mirip seperti anjing pitbul.
"Lah gw juga gk ada uang Jubaedah, gw kira tadi lu mau traktir kita." Ucap Raka menoyor kepala gadis itu.
"Njer gimana dong? Padahal gw udah laper banget ini." Ucap Ayu mengelus perutnya yang berbunyi sedari tadi.
Dengan sigap Raka langsung mendekati Ayu, "Laper banget ya? Tunggu gw ngutang mie ke bi Sitti dulu." Ucapnya hendak ke gerobak bi Sitti namun langsung ditahan Ayu. "Apasih, gk perlu." Ucap Ayu malu-malu.
"Nih anak berdua hubungannya gk jelas kayak Chaterine sama Reano. Ditanya pacaran jawabannya 'enggak' tapi hobinya mesra-mesraan. Gila sumpah." Sosor Hugo pusing.
"Diem lu!" Ucap empat orang yang disindir Hugo.
"Gw ada ide!" Ucap Chaterine mengalihkan perhatian teman-temannya.
"Jangan! jangan! Palingan ide lu buat jual kita kayak waktu ngelunasin kas." Ucap Reano menutup mulut Chaterine dengan tangan besarnya. Chaterine melepas paksa tangan itu lalu menyengir-ria, "Hihih."
Berhenti menyimak pembahasan bodoh itu, Flora langsung meluncur ke kantin, tetap dengan ekspresi datarnya tentunya. Teman-temannya menatap bingung dari belakang kala gadis itu menghampiri meja berisi kira-kira 6 gadis yang sudah dipastikan itu adalah anak kelas 10.
"Keluarin uang lu semua." Ucapnya dingin. keenam gadis itu menggeleng ketakutan.
masih belum memberi uangnya, Flora semakin bersemangat 'bermain' dengan gadis-gadis itu, hingga finalnya ia menendang meja dengan keras. Hal itu membuat anak kelas 10 itu meninggalkan semua uang mereka diatas meja lalu kabur kesana kemari.
Flora mengambil uang tersebut lalu menyerahkannya pada teman-temannya tanpa memperdulikan tatapan penghuni kantin yang lain.
"Noh." Ucapnya datar. Sedanglan Chaterine dan yang lainnya masih tertegun melihat aksi Flora tadi. Sungguh sadis, apalagi ini kali pertama mereka memalak orang sejak 2 bulan terakhir.
"Njir serem lu. Tuh anak pada kena mentalnya pasti." Ucap Bless masih terkejut.
*****
Setelah beribu percecokkan, akhirnya perut anak-anak manusia itu terisi full. Yah... walau menggunakan uang haram, tapi tenang saja Reano, Raka dan Hugo sudah mendoakan uangnya agar halal.
"Huft... akhirnya!" Ucap Ayu sembari mengelus perutnya yang buncing karena kekenyangan.
"Weh! Anak gw dah gede!" Girang Raka mendekatkan kepalanya ke perut Ayu, namun langsung didorong gadis itu. "Anak gundul lu! Gw smoothing bibir lu entar!"
"Chaterine!" Panggil seseorang ramah.
Sial!
Chaterine merutuki diri sendiri dalam hati, sial sekali dirinya bisa bertemu dengan Hans di kantin, dan buruknya lagi ada Siska di sana. Mungkin kedepan dirinya harus berkomitmen untuk berdiam di kelas saat jam istirahat.
"Gw boloh bicara sebentar sama lo?" Tanyanya penuh pengharapan.
"Hehehe.. gk bisa, perut gw penuh sulit diajak bicara." Alasan Chaterine yang tidak masuk akal.
Hans terkekeh gemas sendiri.
"Pergi atau mati." Ucap Flora dingin.
Hans nampak bingung, "Gw?" Ucapnya sambil menunjuk diri sendiri.
"Lexa udah bilang gk mau, jadi lebih baik lu pergi sekarang." Sambar Reano membuat suasana kian memanas. Sedangkan yang lain hanya menonton tidak mau mencampurinya. Bukan karna tidak peduli,tapi karena ini masalah pribadi Chaterine. Kalau memang suasana semakin terkendali barulah mereka bertindak.
"Hhh... lu lagi? Males gw." Ucap Hans remeh.
"Masih belum mau pergi hah?!" Bentak Flora disertai bunyi pukulan meja yang keras, lalu gadis itu menarik kasar kerah Hans. "Gw bilang pergi sekarang!" Ucapnya tepat didepan Hans.
Hans melihat kesekeliling, banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya saat ini. mengetahui hal itu, Hans melepas paksa cengkraman Flora. "Lepas!" Ucapnya berjalan keluar dari kantin.
Para penghuni kantin bersorak riuh entah karena apa.
"Maafin gw." Ucap Flora pada Siska. Gadis itu menatap Flora bingung. "Maaf kenapa?" Tanya nya.
"Gw gk bisa matahin leher cowok sialan tadi." Desis Flora sembari mengepal kuat.
Siska terkekeh lalu mengelus kepala sahabatnya itu, "Ini bukan salah lu kok."
"Siska, maaf." Ucap Chaterine tidak enak.
Siska mengigit bbr bawahnya, ingin sekali berkata 'tidak' namun lidahnya kelu. "Iya Ket, gpp." Uccap Siska tersenyum tipis.
"Beneran?!" Tanya Chaterine senang.
Siska mengangguk terpaksa sebagai balasannya.
*****
REANO POV
Selesai dari kantin, gw dan anak-anak langsung kembali kekelas, itu pun karena bu Ian yang teriak-teriak dari atas kelas sebelas dua. Dan tentu saja gw dan yang lain langsung kesana, lelah saja rasanya jika dihukum dua kali di hari yang sama.
Kelas yang tadi sempat berhenti kini kembali dilanjutkan ketika gw dan rombongan sampai. Namun tetap saja suasana kelas tidak bisa damai. Teman-teman bodoh gw yang silih berganti menggombali bu iIan membuat seisi kelas riuh. Bahkan sampai wajah guru perempuan cantik itu memerah karena kesal, memang murid laknat.
Sedangkan gw, gw sedari tadi mengamati Chaterine yang sedang bermain dengan mainan pulpennya. Kalian tahu, mainan karet yang biasanya ada di ujung pulpen, yang bentuknya lucu-lucu. Namun selucu-lucunya mainan itu, Lexa gw lebih lucu, asek!
Aktivitas gw terhenti kala alam memanggil. Gw berdiri dari bangku menuju pintu kelas.
"Kemana?" Tanya Chaterine. "Toilet" Ucap Reano mantap. Pria itu bergegas keluar dari kelas.
"MAU KEMANA KAMU?!" Teriak bu Ian muak dengan tingkah murid di kelas ini.
Reano berhenti di daun pintu. "Toilet bu. Mau ikut?" Tanyanya dengan senyum yang ambigu
"Reano!"
Tanpa memperdulikan teriakan itu gw langsung berjalan ke toilet. Tidak butuh waktu lama, gw langsung keluar dari tempat itu, lalu berjalan lagi menyusuri lorong yang panjang untuk sampai ke kelas kebanggaan.
Namun langkah gw terhenti kala seseorang menarik tangan gw. "Vin!" Ucap seseorang dibelakang gw.
Melihat siapa yang datang gw langsung melepas paksa tangannya dari genggaman orang tersebut.
"Pergi lu!" Gw gk kenal!" Ucap gw karena tidak mengenali siapa gadis kurang hajar tersebut.
"Ini gw Vin! Karin!"