REANO

REANO
Chapter 39



“Babak ke dua akan segera dimulai! Sepertinya sekolah Budi Sakti akan tukar pemain!”


“Huwaaaa!!! Kak Reano semangat!”


Teriakan demi teriakan datang silih berganti kala Reano berdiri dari duduknya. langkahnya dengan mantap berjalan ke tengah lapangan, namun sebelumnya menitipkan ponselnya terlebih dahulu kepada Chaterine yang tidak jauh duduk dari tempat pemain.


“Pegangin dulu ya, ntar gw ambil lagi.” Ucapnya mengusap puncuk gadis itu. Setelahnya berlalu meninggalkan Chaterine dan beralih ke pertandingan yang ia ikuti.


“Baik, pertandingannya akan segera dilanjutkan dalam hitungan tiga! Dua! Satu! MULAI!”


Pertandingan sengit antara SMA Budi Sakti dan SMA Raya membuat para penonton menjadi sangat tegang. Teriakan riuh dari setiap sekolah memenuhi ruangan besar tersebut. Bukan hanya pemainnya saja yang semangat para pendukung dari setiap sekolah pun tak kalah membara, bahkan lebih semangat dari pada pemain.


Hampir 15 menit pertandingan ketat berlangsung hingga akhirnya peluit berbunyi tanda pertandingan akan di


istirahatkan sementara. Skor yang sedari tadi seri memaksakan pihak penyelenggara menambahkan satu babak lagi. Namun untuk sekarang pemain di berikan waktu untuk beristirahat.


Dengan keringat bercucuran, Reano berjalan ke pinggir lapangan menemui Chaterine. “Ponsel gw mana?” Tanya Pria itu kepada Chaterine.


Chaterine mendongak ke arah suara. “Bentar Re, gw mau pake buat foto-foto dulu. Ponsel gw ketinggalan di kelas.” Jelas gadis itu memasang puppy eyesnya membuat Reano terkekeh.


“Ya udah, kalau udah selesai kasih ke gw. Gw nanti ada di sana.” Reano melayangkan telunjuknya ke arah pintu luar lapangan.


Chaterine memberi simbol oke dengan tangannya lalu setelahnya Reano berjalan pergi meninggalkan Chaterine.


Tanpa menunggu lama Chaterine segera mengambil banyak foto dengan ponsel itu, setelah merasa cukup gadis itu segera berjalan keluar lapangan, ke tempat yang Reano tunjuk tadi. Langkah Chaterine terhenti tidak jauh dari pintu. Dilihatnya Reano duduk menyender di tembok dengan keringat yang masih cukup deras.


Gadis itu berjalan mendekat lalu menyodorkan ponselnya kepada Reano.  “Nih, makasih ya.” Ucapnya hendak berlalu pergi namun sayangnya tangannya di cegat Reano.


Bugh!


Caterine yang tangannya di tarik tanpa aba-aba harus berbenturan dengan tubuh Reano karena terjatuh.


“Aww...” Chaterine meringis kesakitan kala tangannya menyentuh lututnya yang memerah karena menghantam lantai.


Gadis itu mematung kala menyadari posisinya saat ini. Saat ini Chaterine terduduk di atas Reano, kedua pasang


mata itu itu saling menjelajahi setiap inci wajah masing-masing. Wajahnya yang tampan di tambah keringat di leher dan dahinya membuat jangtung Chaterine berdegup dua kali lebih cepat. Wajah Chaterine ikut merespon dengan mengeluarkan semburat merah. Begitu juga dengan pria di bawahnya yang wajah serta telinganya ikut memerah.


Tersadar dari lamunannya Chaterine bergegas membenahi posisinya. Namun sayang usahanya gagal lagi, Reano menahan tangan gadis itu sebelum berhasil kabur.


“Re, lepasin.” Ucap Chaterine gugup.


Pria itu sama sekali tak menggubrish perkataan Chaterine. tangan besar nya dengan cepat melingkar di pinggang gadis itu, menekannya agar semakin dekat denganya.


“Lepasin, Re. Ini udah gk-“


Kalimatnya terhenti kala sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Reano mencium Chaterine pelan. Gadis itu berusaha berontak, namun semakin memberontak pria di bawahnya itu malah semakin


memperdalam ciumannya.


“Re, cukup...”


Tidak berhenti, pria itu sama sekali tidak berhenti. Ciumannya semakin panas, pria itu semakin mempererat rangkulannya mengikis jarak di antara mereka.


Chaterine sama sekali tidak tahan dengan situasi ini. pikirannya tidak bisa bekerja sama dengan tubuhnya. Kala


otaknya ingin hal ini segera berakhir tubuhnya malah memilih sebaliknya. Permainan Reano di mulutnya membuat Chaterine terlena, perlahan tangan gadis itu ia gantungkan di leher Reano, membuat jarak di antara mereka kini benar-benar habis. Gadis itu berusaha mengikuti permainan pria itu, namun tidak bisa karena ritme mulut Reano yang tidak menentu.


Tangan Reano perlahan menyusup di balik kemeja Chaterine. gadis itu menggeleng menolak, namun apa daya tangan pria itu malah semakin leluasa mengelus punggung mulus Chaterine menghasilkan rasa geli yang membuat ia menegang...


“Chaterine.”


“Chaterine bangun!”


“Chaterine udah pagi ayo ke sekolah!”


Gadis itu sontak terduduk, matanya terbuka lebar karena terkejut. Di tatapnya kesekelilingnya, ternyata ini hanya


mimpi! Chaterine memegang kedua pipinya yang panas, menyembunyikan warna merah itu dari bundanya.


“Iya bun, aku mandi dulu.” Chaterine dengan terbirit-birit berlari kedalam kamar mandi. dari luar Lena hanya bisa geleng-geleng dengan sikap putrinya itu.


*****


Dengan lesu Chaterine menyusuri corridor yang sangat ramai, gadis itu sama sekali tidak peduli dengan keributan disekitarnya, malah memikirkan hal yang tadi pagi ia impikan.


“Shit! Kok gw mikirin itu mulu?! Huwaaa...” Chaterine menghentak-hentakkan kakinya kelantai seperti anak-anak, tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya.


Setelah berjalan cukup lama, Chaterine akhirnya sampai di depan kelas nya. Dari luar Chaterine ragu untuk masuk


kesana. Bagaimana kalau ada Reano?! Jika memilih bolos bundanya akan marah, namun jika tetap masuk mungkin sepanjang hari ini Chaterine akan selalu memerah kala melihat Reano, sebuah dilema pikirnya.


Dengan was-was Chaterine menyembulkan kepala dibalik pintu kelasnya, melihat apakah Reano sudah sampai atau belum.


“Yes! Dia belum dateng!” Ucapnya kecil pada diri sendiri.


“ ‘dia’ siapa?”


Seseorang yang tiba-tiba bertanya di belakang Chaterine membuatnya terperanjat kaget. Rasa kagetnya bertambah menjadi 10.000 kali lipat saat mengetahui siapa orang tersebut.


“Eh sorry, gw ngagetin ya?” Tanya pria tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Chaterine dengan terbirit berjalan ke arah bangkunya sambil menutup pipinya yang memerah. “Gpp, gpp Re.” Ucapnya pada Reano dari jauh.


Pria itu memiringkan kepalanya melihat tingkah aneh Chaterine. “Gw ada salah ya?” monolognya bingung sambil menunjuk diri sendiri dengan telunjuknya.


Reano POV


Ada yang salah dengan Lexa hari ini, ke anehan yang mencolok menurut gw. Setiap kali gw ada di dekat Lexa, dia pasti langsung pergi. Begitu terus sampai sekolah akan usai. Jujur gw bingung dia kenapa, setiap kali gw tanya kenapa pasti gk di jawab. Gw heran, gw punya salah apa sampai-sampai dia ngehindar dari gw selama satu hari ini? cewek emang sulit dimengerti.


Pelajaran usai dan banyak murid segera berlarian menuju lapangan basket. Pertandingan antara SMA Budi Sakti dan SMA Raya akan segera di mulai, tentu para murid akan menyaksikannya sembari memberi dukungan kepada sekolahnya.


Dengan terburu Reano berlari menujubruang ganti untuk mengganti seragamnya menjadi pakaian basket tim nya. Dengan percaya diri pria itu memasuki lapangan di sambut sorakan dari para gadis-gadis SMA Budi Sakti dan SMA Raya. Sepertinya bukan hanya SMA nya yang tahu ketampanan Reano, sepertinya hal ini sudah di ketahui oleh SMA lain.


Pandangan Reano menyapu keseluruh kursi penonton, senyumnya merekah kala orang yang dia cari berhasil di temukan. Dengan girang pria satu itu berjalan ke arah gadis dengan kertas bertuliskan ‘SMA BUDI SAKTI’  di tangannya.


“Jangan lupa teriakin nama gw yang kencang, biar gw tambah semangat, oke.” Dengan gemas Reano mencubit pipi Chaterine yang duduk di kursi penonton paling depan.


Cubitan itu di lepas paksa oleh Chaterine, lalu membuang muka kesembarang arah, tidak mau melihat Reano. “Buat apa juga gw teriakin nama lo, huh!” Cemberutnya dengan bibir yang dimanyun kan membuat Reano terkekeh saja.


“ya udah, jangan salahkan gw kalau sekolah kita kalah.” Ucapnya terkekeh geli.


Chaterine masih tidak mau menatap Reano. “Emang lo doang yang bisa buat sekolah kita menang apa? Masih ada bang Nathan juga, wlekkk.”


“Gimana kalau gw bisa cetak banyak skor?” Tanya pria itu menantang.


“Gk akan mungkin.” Balas gadis itu acuh tak acuh.


“Kayaknya lagi ada yang berantem nih.” Seseorang datang dari belakang menepuk keras pundak Reano.


Pakaian yang tidak sama dengan Reano, sudah dipastikan pria tersebut adalah pemain dari SMA Raya.


Reano menepis kasar tangan itu. “Gk usah sok akrab.” Ucapya dingin.


Pria itu malah terkekeh melihat ekspresi wajah Reano. Tangannya lalu menepuk-nepuk pundak Reano berkali-kali. “Sabar bro, sabar.” Ucapnya dengan nada meremehkan membuat rahang Reano mengeras karena marah.


Tiba-tiba pria itu menunduk layaknya seorang prajurit di depan Chaterine lalu memeggang tangan Chaterine membuat Chaterine risih sekaligus jijik melihatnya.


“Arga lepasin Lexa!” Dengan rahang yang sudah mengeras, serta tangan yang dikepal kuat Reano membentak pria


tersebut. Sorot api amarah terlihat jelas dimatanya kala pria itu menyentuh Chaterine.


Dengan cepat pria yang diketahui bernama Arga itu melepaskan tangannya. “Jangan marah bro, gw takut hahaha!”


Pria itu berlalu meninggalkan Reano dan Chaterine dengan tawa besarnya.


Segera peluit berbunyi, memanggil para pemain untuk berkumpul menyusun strategi. “Ingat jangan pernah dekat sama dia.” Ucap Reano serius pada Chaterine lalu setelahnya berlari ke tim nya.


“Huh dasar tukang ngatur.”


Reano POV end


*****


“Bang Nathan ayo semangat!! Jangan sampai kalah!! Bang Sat! Ayo bang!!!! Kalau menang gw kasih dua rebu!


Semangat!!!!”


“Raka, Krisman, semangat!!!!”


Begitulah kira-kira teriakan semangat dari anak-anak di kelas Chaterine. dukungan yang sangat membara.


“Ket, dukung Reano tuh. Dari tadi dia perhatiin lo.” Ayu menyenggol lengan Chaterine yang duduk di sebelahnya.


Chaterine terkejut, “Buat apa ihh.”


gantungin mulu kayak jemuran.”


Chaterine menggigit bibir bawahnya, pikirannya berkecamuk dengan peryataan-pernyataan yang Ayu katakan tadi.


Sebenarnya Chaterine ingin menyemangatinya namun di lain sisi gengsinya lebih besar. Selagi Chaterine berpikir di lain situasi Reano sedang bergelut di lapangan.


“Kemampuan lo masih sama kayak dulu ya, lemah.” Ucap Arga dengan tatapan meremehkan kepada Reano.


Reano tertawa miring. “Gw bingung deh, lo yang kemampuannya rendah gitu doang bisa begitu sombongnya di depan gw? Gk salah nih? Hahaha”


“ck! Sial!”


Reano berlalu pergi sembari menggiring bolanya mendekati ring, namun usahanya untuk shooting bola gagal karena di hadang beberapa pemain dari SMA Raya.


“Ra! Tangkap!” dengan segera Reano mengubah lajuan bolanya menuju Raka yang sudah sedari tadi stand by menunggu kode dari Reano. Dengan sigap Raka menangkap bola tersebut lalu langsung menembaknya ke arah ring.


Riuh piuh menjadi semakin jelas terdengar kala bola itu masuk. Raka terkekeh lalu memberi dua jempol pada Reano. Melihat itu pria satu itu terkekeh geli.


Pertandingan di mulai dan bola berhasil di rebut oleh tim lawan. Reano dan yang lainnya berusaha menghadang


dan mengejar bola tersebut dengan tenaga ekstrak. Sepertinya SMA Raya sudah menargetkan Reano sebagai bahan permainan mereka, mengoper bola kesana-sini membuat tenaga Reano banyak terkuras. Bukan berarti yang lain tidak mau membantu tetapi sedari tadi di hadang oleh tim lawan.


Peluh mengucur deras dari tubuhnya, lelah tersirat jelas dari wajahnya serta langkahnya yang mulai melambat.


“Gw kira lo bakalan nyesal keluar dari tim gw hari ini. kalau mau gabung gw kasih kesempatan lagi buat lo.”


Reano mengumpat dalam hati. “Gk akan pernah gw balik ke tim busuk lo itu!” Ucapnya marah.


“Pfft lo malah betah di grup gk guna lo yang sekarang? Gk nyangka gw.”


Arga berlalu meninggalkan Reano yang mematung di tempat. Tatapannya kosong ke bawah. Tanya penonton datang silih berganti melihat Reano yang tidak berkutik sama sekali. “Re! Lo kenapa?!” Teriak Nathan dari kejauhan, namun sama sekali tidak di sahut.


“RE! AYO SEMANGAT! LO PASTI BISA!”


Reano kaget mendengar itu, sontak dirinya menoleh ke arah suara. Lengkungan manis perlahan terbentuk di wajahnya kala melihat seseorang yang ia sayangi berteriak untuknya.


“AYO RE! KALAU KALAH GW GK AKAN MAAFIN LO!” Lanjut gadis itu berteriak.


Reano semakin memperlebar senyumnya. Segera pria itu mengambil ancang-ancang lari untuk mengejar Arga yang akan menembak ring mereka. “Gw pinjam bentar bola nya ya, hahaha.”


Dengan gerakan tiba-tiba pria itu merebut bola dari tangan Arga membuat Arga hampir terjatuh.


“Sial! Yang lain kejar bolanya!” Perintah Arga emosi.


Dua teman Arga berhasil menghadang Reano. Namun segera Reano melemparkan bolanya kepada Nathan.


“hahaha... sorry bro, bolanya terbang ke Nathan.” Ejek Reano kepada dua orang itu.


Aksi berebut bola pun tak terelakkan, cukup lama mereka berebut bola hingga akhirnya bola berada di tangan Satria. Dengan usaha ekstrak pria itu berusaha agar bolanya tidak di ambil.  Melihat Reano dari Jauh Satria segera memberi kode dengan matanya yang mana langsung di mengerti Reano. Dengan Cepat Satria melemparkan bola kepada Reano yang berdiri tak jauh dari ring lawan.


Arga berdesis emosi. “Cepat woy kejar!”


Belum sempat anggota Arga sampai, Reano sudah berhasil memasukkan bolanya ke dalam ring. Seketika itu juga peluit berbunyi keras tanda permainan telah berakhir, yang artinya pemenang nya adalah SMA Budi Sakti.


“YEAYYY!! HIDUP SMA BUDI SAKTI! HIDUP!!!” Teriakan menggelegar dari para murid memenuhi seluruh ruangan, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merinding.


Para pemain dari SMA Budi Sakti sontak berlompat kegirangan, kemudian dilanjutkan dengan acara saling berpelukkan mereka. Tawa bahagia mereka seakan sedang bersanding dengan teriakan para murid yang


menonton. Reano tersenyum kecut melihat teman-temannya. Sungguh sangat jauh berbeda dari teman-temannya yang dulu, ralat, sampah-sampah yang dulu pernah ia anggap sebagai teman. Pria itu tampak sangat bahagia dengan teman-temannya yang sekarang, sangat hangat menurutnya.


“Re! Sini ikutan!” Dari jarak yang sedikit jauh Nathan memanggil Reano sembari merentangkan kedua tangannya bermaksud ingin memberi pelukan.


Mendengar itu Reano tertawa geli, segera ia berlari ke arah Nathan sambil ikut merentangkan tangan. “Peyuk gw


kakak iparrrr.” Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.


Belum sempat Reano memeluk Nathan, kakaknya Chaterine itu sudah terlebih dahulu memberi bogeman ringan pada pria yang berlari dengan genit ke arahnya. “Kampr*t lo! Lo kira gw belok apa?!” Galak Nathan memasang wajah seram.


“Bwahahaha!”


Nathan berjalan mendekat ke arah Reano lalu berbicara di telinganya. “Samperin adek gw gih, dari tadi dia liatin lo


mulu.”


Mendengarnya Reano langsung menoleh ke arah Chaterine, namun segera Chaterine memalingkan wajah saat Reano melihatnya. Pria itu terkekeh, lalu berjalan ke arah Chaterine sembari melambai kearah Chaterine.


Disaat Reano dan sekolahnya sedang berbahagia, disisi lain Arga serta anggota tim lainnya sedang menahan malu serta amarah. “Sialan lo Re!”


Pria itu memandang disekitar, matanya tertuju pada bola basket yang tidak jauh di sebelahnya. Segera ia ambil bola


itu lalu melemparnya dengan keras.


Bugh!


Langkah Reano terhenti, senyumnya yang tadi sangat lebar perlahan memudar. Perih yang menjalar di seluruh punggungnya membuat kakinya ikut lemas hampir terjatuh.


“Sialan lo Arga! Ngapain lo serang anak tim gw anj*ng!” Dengan emosi membara Nathan menghampiri Arga lalu memberinya sebuah bogeman kuat di pelipisnya.


Yup! Benar saja, Arga melempar bola tersebut ke punggung Reano dengan sangat kuat. Melihat itu Nathan yang sudah tidak tahan dengan sifat Arga segera memberinya sedikit pelajaran.


Di lain sisi, Chaterine yang melihat itu membungkam mulut terkejut. Matanya terbuka lebar hampir tak berkedip. Melihat tanda-tanda pria di depannya itu akan tumbang segera ia berlari lalu menangkap tubuh Reano.


“Re! Lo gpp kan?!” Tanya Chaterine panik.


Pria itu terkekeh pelan ditelinga Chaterine. “pfft- gw gk nyangka lo bakalan sepanik ini.”


Chaterine mengigit bibir bawahnya, tiba-tiba gengsinya kembali muncul, namun perlahan di hapuskan oleh perasaan aneh dari hatinya. “Gk usah banyak bacot! Sini ikut gw ke UKS!” Dengan sekuat tenaga Chaterine berusaha membantu Reano berjalan ke UKS. Bukannya teman-temannya yang lain tidak mau membantu, tetapi kebanyakan dari mereka sedang sibuk melerai perkelahian antara Nathan dan Arga.


Untung saja jarak UKS, dan lapangan basket cukup dekat, memudahkan Chaterine membopong pria di sebelahnya.


“Sini masuk.” Ucap Chaterine mengajak Reano masuk ke dalam UKS.


Ruangan yang lumayan besar, dengan lima ranjang serta tiga lemari obat.


Segera Chaterine menumpulkan barang-barang yang ia butuhkan untuk mengobati Reano.


“Buka.” Ucap Chaterine cepat.


Reano tersenyum miring. “Lo ganas juga ya. Baru sampai udah langsung nyuruh gw buka-buka.” Ucap Reno berusaha terkekeh.


Wajah Chaterine seketika memerah. “kalau gk buka baju gw obatinnya gimana?! Jangan mikir yang lain!” Ucap Chaterine sembari memukul punggung Reano.


“Arghh! Sakit oy!!” Pria itu sontak menjerit kuat saat Chaterine memukul punggungnya.


“Astaga kejam banget lo jadi cewek.” Sinis Reano saat perihnya mulai menghilang namun Chaterine sama sekali tidak mengubrishnya.


Segera Reano membuka kaosnya yang mana langsung memperlihatkan perut kotak-kotak miliknya. Keringat yang membuat kilatan di setiap inci tubuhnya membuatnya terlihat sangat seksi. Chaterine meneguk ludah melihat maha karya satu itu. Sadar dengan apa yang ia lakukan segera Chaterine membuang pemikiran itu lalu beralih mengobati punggung Reano.


Dengan pelan Chaterine menggosokkan handuk yang sudah ia rendam dengan air es ke punggung Reano. Reano tak bergeming, hanya desis yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Chaterine yang lenih memilih diam dan fokus mengobati punggung Reano, membuat suasanya menjadi sangat hening.


“Eum, Lexa, can i ask one question for you?” Tanya Pria itu memulai pembicaraan.


Chaterine mengangguk. “Sure. Kenapa enggak.” Jawabnya dengan mata yang masih fokus dengan punggung Reano.


“Kok lo ngehindarin gw satu hari ini?” Ucapan Reano menghentikan kegiatan Chaterine. “Kalau gw ada salah kasih tau gw, jangan malah ngehindar gini.” Lirih Reano pelan.


Chaterine menggigit bibir bawahnya gugup, tidak mungkin dirinya memberi tahu kalau dia memimpikan Reano. Bukankah itu akan sangat mengganggu?


“Ayo yang jujur. Gw bisa nerima semua yang lo ucapin.” Sambung Reano serius lalu megubah posisinya menjadi menghadap kearah Chaterine.


“Itu...” Chaterine menggantukan kalimatnya. Kepalanya ia tundukkan kebawah untuk menutupi semburat merah diwajahnya. “Gw mimpiin lo!” Ucap Chaterine keras dalam satu tarikan nafas.


Reano mematung. Segera raut keterkejutannya terganti dengan senyum lebar diwajahnya. “Mimpiin gw? Mimpi kayak apa?” Tanya Reano bertanya dengan sangat antusias. Berbeda dengannya Chaterine malah


semakin menunduk karena sudah dipastikan wajahnya akan semakin memerah jika menatap pria di hadapannya itu.


“Kiss.” Ucap Chaterine dengan suara yang sangat kecil, hampir tidak terdengar.


“Hah? Suara lo gk kedengeran.” Ucap Reano bingung.


“Kiss!” Ulang Chaterine sedikit berteriak setelahnya buru-buru mengambil bantal dan menenggelamkan seluruh wajahnya disana.


Reano menatap gadis dihadapannya terkejut. Digaruknya tengkuknya yang tidak gatal kemudian beralih mengelus


telinganya yang nampak merah saat ini.


Sama seperti Chaterie, Reano juga tidak berani melihat wajah gadis di hadapannya. Segera ia lemparkan wajahnya ke arah lain untuk meredam rasa malu yang ia rasakan.


Jadilah disiang hari ini menjadi hari terpanas bagi kedua remaja tersebut. Menjadi hari dimana keduanya bersemu


karena kejadian yang tak terduga.