
"BUNDA!"
"Anak bunda kok teriak-teriak. Udah malam, gk malu sama tetangga?"
"Hehehe."
Disinilah Chaterine, berdiri di teras rumahnya yang cukup besar. Chaterine baru saja sampai di rumah dengan diantar Reano, tapi sekarang Reano sudah pulang, di usir Chaterine tentunya.
"Pulangnya bareng siapa?" Tanya bunda Lena mencium pipi anak gadis satu-satunya.
Chaterine menghela napas panjang. "Bareng anak bagong, bun." Jawabnya malas.
Lena mengerutkan kening. "Anak bagong?" Tanya Lena bingung.
Chaterine kembali membuang napas panjang. "Bareng Reano loh bunnn." Jawab Chaterine gemas sendiri. "Mending gk usah ngomongin tuh bocah deh bun. Chaterine bisa cepet mati karena hipertensi kalau ngomongin dia terus. Kesel banget." Oceh Chaterine dengan umpatan diakhirnya.
Lena tersenyum sembari tangannya mengelus rambut pendek Chaterine. "Jangan terlalu cepat nge-cap orang. Nanti kalau Chaterine jatuh hati ke Reano entar nyesal loh." Goda sang bunda.
"No. Big NO. Chaterine gk bakalan suka sama dia." Kokohnya.
"Hhhh... Yaudah, masuk yuk. Masa mau di teras terus." Ajak Lena.
"He'em. Yuk, Catherine mau tidur juga. Udah capek." Ujar Chaterine berjalan mengekori sang bunda.
Chaterine mengunci pintu rumah lalu melangkah ke arah sarang kebanggaannya. Sesampai di kamar, Chaterine langsung mandi, pakai baju tidur motif kuda pony lalu tidur pulas setelahnya.
...*****...
"Bang, cepet dikit napa!? Telat nih!"
Teriakan di pagi hari sudah biasa terdengar di komplek Jaya Baru, bahkan semua orang yang tinggal disekitarnya biasa saja saat mendengarnya. Jika komplek itu sunyi sehari saja, itu pasti mukjizat dari Tuhan.
Jonathan turun dari kamarnya dengan menenteng ranselnya. "Napa ribut amat sih lo? Baru pagi-pagi juga." Oceh Jonathan menyesap susu yang sudah Lena sediakan di atas meja hingga habis.
"Anterin gue ke sekul." Ucap Chaterine mengedip-ngedipkan mata agar terlihat lucu.
"Gk." Balas Nathan singkat.
"Kok gk mau sih! Terus buat apa gue nunggu lo selama ini!?" Chaterine berteriak tidak terima. Sedari tadi ia hanya menunggu untuk ini? Tidak bisa dibiarkan.
"Gk mau tau! Pokoknya antar gue ke sekolah!" Rengek Chaterine mengguncang-guncang bahu abangnya.
Dengan sekuat tenaga Jonathan berjalan kearah pintu dengan menyeret Chaterine yang masih berkgelantung di lengannya. "Ihhh... Antarin gue bang Nathan." Rengek Chaterine masih bergelantung.
"Gk. Pokoknya gk." Tegas Jonathan sembari membuka pintu.
Kriettt
Jonathan berhenti menyeret Chaterine lalu melemparkan tatapan bingung kepada pria dihadapannya.
"Siapa lo?" Tanya Jonathan pada pria yang tersenyum kearahnya.
"Reano bang. Calon iparnya abang."
Chaterine mematung. Segera ia turun dari lengan abangnya dan melemparkan tatapan sinis pada pria dihadapannya.
Lagi-lagi Reano datang ke rumah Chaterine pagi-pagi seperti ini. Jika kemarin ia bertemu dengan calon mertua, pagi ini ia bertemu dengan calon kakak iparnya. Sungguh beruntung.
"Ngapain lagi lo kesini!? Rumah Lo kerendem banjir lagi ya!?" Chaterine menatap sengit Reano.
"Datang kerumah calon mertua emang gk boleh?" Tanya Reano tanpa mengkondisikan ucapannya, padahal disana ada Jonathan.
"Waittt. Lo mau jadi calon mantu di rumah ini?" Tanya Jonathan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya bang." Jawab Reano sopan.
Jonathan manggut-manggut, entah bocah itu paham atau tidak.
'kayaknya bang Nathan bakalan marahin tuh Kutil deh. Terus, bang Nathan bakalan usir Reano, lalu gk ngijinin dia datang kerumah lagi. Yeayy.' Batin Chaterine.
'Chaterine percaya bang Nathan pasti sayang Chaterine.' lanjut Chaterine membatin.
"Kalau mau restu dari gue..." Jonathan memanggungkan kalimatnya lalu beralih menatap Chaterine dengan seringai. "Antar dulu nih bocah ke sekolah."
Chaterine melongo tak percaya dengan apa yang baru saja abang nya katakan.
Hancur.
Kepercayaan Chaterine telah di hancurkan oleh Abang satu-satunya. Tapi, dari insiden ini Chaterine mendapat pelajaran baru, 'JANGAN PERCAYA SAMA BANG NATHAN.'
"Gitu aja bang?" Tanya Reano memastikan.
Jonathan mengangguk pasti meresponi pertanyaan Reano.
Dengan wajah berseri, jiwa yang gembira dan tingkat kebucinan yang mulai melampaui batas sewajarnya, Reano menarik Chaterine hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.
"JAHAT LU BANG!!"
"BANG! BANG NATHAN!!"
"Lepasin gue nyet!!" Chaterine meronta dalam tarikan Reano. Tapi apa daya, Chaterine hanya seorang gadis yang tenaganya lebih kecil dari Reano.
"Shhuttt... Nurut sekali aja susah amat." Bukannya melepas tarikannya pria satu itu malah mengoceh.
Dengan sekuat tenaga, akhirnya Reano bisa menarik Chaterine hingga ketempat dimana Reano memarkirkan motor metic kesayangannya. Pria itu kemudian melepas genggamannya dari tangan mungil milik Chaterine yang sekarang memasang wajah cemberut.
"Naik gih, keburu telat nanti." Suruh Reano pada Chaterine, tentu dibarengi dengan senyum bahagia.
"Gk mau." Tolak Chaterine tidak mau menatap Reano.
Reano menghela napas dengan sifat kekanakan gadis dihadapannya. "Naik keatas motor atau gue naikin lo."
Chaterine terbelalak. "Mesum banget sih lo." Dengan kekuatan ajaib paginya, Chaterine memukul lengan pria itu hingga membuat sang korban meringis kesakitan. "Mending gue di naikin sama Taehyung atau gk sama Baekhyun." Ucap Chaterine dengan suara kecil, namun masih bisa didengar oleh telinga super milik Reano.
"Bilang apa lo?" Tanya Reano pura-pura tidak mendengar apa yang barusan Chaterine katakan.
"Gk. Gk ngomong apa-apa." Bohong Chaterine. Kalau saja ia mengatakan yang sebenarnya, pasti Reano akan mengatainya cewek mesum.
"Gk usah bohong deh, gue udah denger." Beber Reano. "Ternyata lo mesum juga ya." Lanjut Reano, tapi dengan berbisik ditelinga Chateriene.
Fix, Chaterine malu banget. Bahkan sekarang wajahnya sudah merah padam. Ia menyesal telah mengatakan hal itu.
"Udah ah, antar gue ke sekolah."
Menghindar menjadi satu satunya cara agar terlepas dari situasi ini. Memang bukan caranya seorang bad girl, tapi jika kondisinya sudah seperti ini lebih baik Chaterine menyerah saja.
Tanpa berlama-lama, Reano naik ke motor dan langsung tancap gas ke sekolah. Jarak rumah Chaterine ke sekolah menghabiskan waktu 25 menit, dan Reano menghabiskan waktu 25 itu dalam diam. Chaterine tak bersuara sama sekali walau Reano sudah mengajaknya ngobrol.
'ngambek mungkin.' Pikir Reano.
...*****...
Setelah 25 menit akhirnya kedua remaja itu sampai diparkiran sekolah. Dengan pelan, Reano memarkirkan motornya di tempat yang memungkinkan motornya muat dan sang gadis dapat turun dari motor dengan leluasa.
Klek...
Baru saja Reano menurunkan standar motor, Chaterine langsung mempraktekkan cara kabur yang sudah ia pikirkan selama di jalan. Cara yang cukup sederhana, hanya tinggal langsung kabur meninggalkan Reano.
Namun, Tuhan sedang tak berpihak padanya, Reano yang tau paham gerak-gerik Chaterine dengan cekatan menahan pergelangan tangan Chaterine.
"Mau kabur kemana?" Tanya Reano santai sembari turun dari motor tapi masih mencekat pergelangan tangan Chaterine.
"Yang mau kabur siapa?!" Kesal Chaterine.
"Lepasin deh Re, gue mau ke kelas!" Perintah Chaterine berusaha melepas cekalan Reano namun sama sekali tidak membuahkan hasil.
"No. Kita barengan dari rumah, ke kelas juga harus barengan." Ucap Reano mulai berjalan tanpa melepas cekalan tangannya.
"Lepas deh Re! Malu tahu, dilihat banyak orang!" Chaterine masih bersikeras melepaskan tangan Reano.
"Malu?" Reano bingung, selama ini memangnya Chaterine tidak sering membuat malu? Bahkan yang Reano tahu, Chaterine bukan hanya sering membuat malu diri sendiri tapi juga seringkali mengikut sertakan banyak orang dalam misi memalukannya.
"Iya! Makanya lepas!" Usaha Chaterine menarik tangannya. Bukannya berhasil, hal ini malah membuat lengannya sakit.
Sedangkan Reano, pria menyebalkan itu malah bergumam tak jelas. "Malu ya, hmmm..."
Untuk beberapa saat Reano mengantikan senyum manisnya dengan senyum jahil yang tercetak jelas diwajahnya, bahkan matanta seakan sedang tersenyum juga. Chaterine bingung dengan perubahan Reano, ia kira Reano sedang mempertimbangkan untuk melepaskan dirinya atau tidak.
Beberapa saat selanjutnya...
"WOY! SEMUA LIHAT KESINI! GUE SAMA CHATERINE KE KELAS BARENG SAMBIL PEGANGAN TANGAN!"
Chaterine terkejut bukan main. Ditambah lagi suara berat Reano yang jelas terdengar telinga Siwa lain. Mungkin bukan hanya siswa, sepertinya akan ada guru yang akan mendengarnya.
'Shittt! Nih cowok ngeselin banget.' maki Chaterine di dalam hati.
Banyak pasang mata tertuju pada kedua remaja itu. Ada tatapan kagum, tatapan biasa saja seakan mengabaikan dunia sekitar dan tatapan i-r-i. Jenis tatapan yang terakhir ini lebih banyak di tunjukkan oleh adik kelas 10 dan beberapa saja dari kelas 12. Siapa lagi kalau bukan anak toxic. Geng yang beranggotakan 3 orang perempuan yang merasa diri paling hebat di sekolah. Menindas dan menghancurkan siapa-siapa saja siswa yang tidak mereka sukai adalah tujuan utama geng ini dibuat. Tapi hebatnya, tidak ada satupun guru yang tahu soal ini, dan tidak ada juga korban yang berani melaporkan. Apa mungkin Chaterine akan menjadi korban selanjutnya?
Chaterine malu setengah mati. Tanpa aba-aba gadis itu menarik Reano hingga hampir membuat Reano terjungkal kebelakang. Chaterine terus menarik Reano hingga sampai di dalam kelas.
Brakkk
Seisi kelas terkejut bukan main. Terkejut karena suara itu, tentu bukan. Anak-anak XI-2 terkejut karena tindakan Chaterine yang tidak terduga. Bagaimana tidak terkejut, tangan Chaterine yang tadinya Reano cekal kini berganti menjadi Chaterine yang menggenggam tangan Reano.
Seisi kelas berteriak menyoraki sepasang remaja itu. "PJ! PJ! PJ!" Sayangnya Chaterine tidak sadar sedikitpun dengan apa yang ia lakukan. Ia malah menatap aneh kearah teman-teman sekelasnya.
"Pj apaan sih?" Tanya Chaterine kearah Ayu.
Dengan wajah berseri Ayu menunjuk kearah tangan Chaterine dan Chaterine mengikuti arah jari Ayu yang mengarah ke tangannya.
'What The Hell' Chaterine mengumpat seraya menghempaskan tangan Reano kuat. Dengan cepat Chaterine berjalan ke arah mejanya dan duduk dengan tergesa-gesa. Saat ini ia sedang menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangannya, meredam rasa malunya.
Apa kabar dengan Reano? Pria itu tengah dalam kondisi kejang-kejang mendapat perlakuan istimewa dari Chaterine. Jiwa kebucinan nya seakan berteriak 'Gila! Gila! Gila! Gue gk kuat makkk! Kuatkan hamba ya Lorddd! Tahan Re! Tahan!'
"Acieee... Swett banget sih." Ucap seseorang dengan suara berat, jangan lupakan dengan senyum yang ia berikan, senyum yang memiliki arti yang buruk.
Semua Penghuni kelas terdiam menatap sang pemilik suara. Semua pada lari kocar-kacir kearah meja mereka melihat siapa yang datang.