
"Ck."
Suara decakan itu lagi lagi keluar dari mulut mungil seorang gadis.
"Bagusan yg mana nih, yang hitam atau yg Dongker?"
Gadis berambut pendek itu memutar bola matanya malas. "Pilih sendiri sana, cih."
"Lah kok marah?" Tanya pria dihadapannya yang masih setia memegangi kemeja hitam dan Dongker.
"Masa dari tadi belanja barang lu doang, gw belanjanya kapan, humph." Gadis itu cemberut.
Sedangkan sang pria terkekeh tertahan melihat tingkah gadis kekanankan dihadapannya. "Kan tugas lu emang nemenin gw, lexa."
FLASHBACK ON
"Fyuhh kenyang." Chaterine duduk santai sembari mengelus-ngelus perutnya yang barusan ia isi dengan nasgor hasil curian.
"Udh kenyang mbak?" Hugo menatap sinis kearah Chaterine.
Bukannya memberi jawaban gadis satu itu malah memberi cengiran tanpa dosanya.
"Dasar rakus, mirip **** aja lama-lama nih anak." Umpat pemuda itu.
Chaterine mencondongkan tubuhnya kedepan lalu meraih rambut Hugo. "Ulululu Abang Hugo udah bberani umpatin gw yahh. Gemes deh." Sembari mengatakan kalimat bernada mengerikan itu, tangan Chaterine yang tadinya hanya memegang rambut Hugo beralih meremas dan menarik rambut manusia dihadapannya.
"Njer sakitt!" Racau Hugo ketika Chaterine menarik rambutnya tanpa ada aba-aba.
"Makanya jangan pelit-pelit." Peringati Chaterine mengancam.
"Hmm, dari tadi gw sama yang lain cuman nonton drama kalian loh." Ucap ayu dengan nada menyindirnya.
"Serasa jadi nyamuk gw." Lanjut cahterine dramatis.
"Gw juga ngerasa jadi jentik." Lanjut nuel sama dramatisnya dengan chelsy.
"Enak aja jadi jentik, kalau lu jentik berarti gw emak lu dong." Chelsy menghempaskan rambut panjangnya kewajah nuel, menghasilkan rasa seperti barusan ditampar diwajah pria pendek tersebut. "Ogah." Lanjutnya menatap jijik ke arah nuel.
"Oke guys. Mari kita saksikan drama baru lagi. Judul dramanya kali ini adalah 'Derita jentik yang ditindas ibu kandungnya sendiri'." Kalimat itu sontak membuat anak-anak yang lain tertawa. Bahkan ada saja beberapa murid lainnya yang duduk di dekat mereka yang sedari tadi mencoba menahan tawa melihat percakapan unfaedah dari anak-anak bucin sejagad.
Nuel menatap yang lain kesal. "Hleh"
"Eum lexa." Panggil Reano.
"Apaan?" Tanya gadis itu menatap Reano.
"Masih ingat yg tadi gk? Janji lu." Terang reano dengan smirk diwajahnya.
"Owh iya, inget. Lu mau apa?" Tanya gadis itu sedikit curiga karena smirk yang sedari tadi terpampang jelas diwajah reano. "Jangan aneh-aneh loh ya, gw masih dibawah umur."
"Astaga Re, lu mau apain Chaterine." Aditya menatap reano jijik.
"Yaelah, lu mikirnya kejauhan. Gw mana mungkin begitu." Kesal reano. Entah kenapa sudah sedari tadi pagi ia terus disudutkan tentang hal itu.
Aditya terkekeh. "Iya deh, gw percaya."
Chaterine kembali bersuara. "Apaan? Lu mau apaan?' tanyanya tak sabar.
Reano menahan senyumnya. "Temenin gw ke mall."
FLASHBACK OFF
Disinilah mereka sekarang. Mall besar yang memang banyak dikunjungi anak muda akhir-akhir ini. Dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya membuat mereka berdua seakan-akan sedang bolos sekolah. Padahal mereka datang ke mall ini saat sekolah sudah selesai.
"Jadinya yang mana? Hitam atau Dongker?" Tanya reano sembari meletakkan kedua kemeja itu didepan dadanya bergantian.
"Dongker " jawab chaterine lesu.
'ngambek nih kayaknya. Hihihi' batin reano.
"Oke yg Dongker nih yah." Reano berjalan kearah kasir lalu membayarnya. Setelah selesai membayar, pria tersebut menghampiri tempat Chaterine berdiri.
"Yuk lanjut jalan." Reano menarik tangan Chaterine menuju toko berikutnya.
"Hmm kemana lagi nih? Sepatu udah, kemeja udah, celana juga udh, sekarang apaan lagi?" Tanya Chaterine lesu.
Reano menahan tawanya. "Udah ikut gw aja."
"Iyain."
"Pfft, lu laki atau cewe sih. Main kesini segala, hahaha." Tawa Chaterine ketika mengetahui tujuan reano.
"Gw laki-laki sejati elah."
"Gw kesini buat beli baju buat lu." Lanjutnya dengan senyum manisnya, senyuman yang menambah puluhan persen ketampanannya.
Chaterine terkejut. "Serius?!" Tanyanya, takut reano cuman prank saja.
"Hooh. Kuy masuk." Ajak reano ikutan senang melihat Chaterine senang.
"Hayuuuuuu!"
Kaki Chaterine melangkah mengelilingi toko tersebut mengikuti arah matanya tertuju. Semua pakaiannya sungguh cantik, ingin sekali rasanya Chaterine membawa semua pakaian disana.
"Eh Lex, gaun yang ini bagus deh. Cobain gih." Reano menunjuk gaun Dongker selutut yang memang sederhana tapi memberi kesan elegan jika dilihat.
"Huwaaa... Cantik banget. Pintar deh milihnya." Girang Chaterine mengambil gaun tersebut lalu membawanya ke ruag ganti sembari bersenandung ria.
Pria tersebut hanya bisa terkekeh melihat tingkah gadis satu ini.
Setelah 5 menunggu akhirnya Chaterine keluar dengan dibalut gaun yang reano pilihkan tadi.
Reano menganga, pandangannya seakan terkunci pada Chaterine seorang, seluruh fokus pria tersebut teralihkan kepada Chaterine. Bagaimana tidak, tubuh ramping Chaterine dan kulit putih miliknya membuat gaun tersebut semakin indah jika dilihat.
"Gimana? Cocok gk? Kalau gk mau gw ganti nih."
"Cantik." Ucap reano spontan.
Seketika Chaterine bersemu. Pipinya terasa panas lagi. "Ahh, gw kesana dulu." Gugup Chaterine berlari kearah ruang ganti.
"Cantik banget *****, nih cewek kalau dandan cantiknya nambah 100 kali."
Sedangkan di ruang ganti...
"Aish... Kok jadi panas gini yah." Monolog Chaterine sembari menatap dirinya di cermin besar.
"Bodolah."
Gadis itu kemudian menukar lagi pakaiannya menjadi seragam kebanggaannya. Lalu keluar dengan memegang gaun ditangan kanannya.
"Yang ini aja? Atau mau yang lain?" Tanya reano.
"Gw suka yang ini sih, tapi.." tanggung Chaterine.
"But why?"
"Too expensive. Hehehe." Ucapnya menyengir kuda.
"Hilih, udh ambil aja, gw yang bayar." Suruh reano kepada Chaterine.
"Lah, kan gk enak kalau gw Nerima ginian secara cuma-cuma." Tolak chaterine.
Reano menghela napas, lalu menarik tangan Chaterine menuju kasir.
"Ihh lepasin."
"Shhtt diam."
Reano menunjukan gaun yang tadi ia pilihkan kepada kasir dan langsung membayarnya.
"Makasih mas udh mau belanja disini." Ucap penjaga kasir tersebut.
"Masama. Permisi yah kak." Balas reano dengan santun.
"Ihh kok dibeli sih, kan mahal." Cerocos Chaterine.
"Hhhh, ini gw beli buat lu pake pas acara nikahan kakak sepupunya gw, jadi pengen couple bareng lu." Ujar reano menjelaskan.
"Lah ngapain couple coba." Chaterine memutar bola matanya malas.
"Biar ga keliatan jomblo, hahaha."
Chaterine menatap reano sinis.
"Udah-udah, kita pulang yah, udah sore nih entar bunda lu marah lagi." Ucap reano menyudahi jalan-jalan mereka hari ini.
"Gaskeuunnnn!"