
Koridor panjang yang sunyi merupakan sebuah suasana yang menemani Chaterine saat ini. Gadis itu duduk selonjoran sembari menyenderkan punggung di dinding luar lapangan basket seolah tak punya semangat hidup. Dasi yang hilang entah kemana, ujung kemeja yang keluar acak-acakan, tas gepeng yang terlihat sama sekali tidak berisi apa-apa membuatnya semakin semakin terlihat seperti berandal sekolah.
Chaterine memutar bola matanya kala melihat jam yang akan segera menduduki angka 6. Sudah hampir pukul 18.00 namun latihan Nathan masih belum ada tanda-tanda akan selesai. Jika tahu akan selama ini lebih baik dirinya lebih baik naik bus saja.
"Hhh... ini lagi latihan basket atau ngurus KTP? Lama banget!" Gerutunya menendang-nendang angin.
10 menit setelahnya barulah anak basket keluar satu-persatu dari lapangan basket indoor di SMA itu. Chaterine yang masih anteng duduk di lantai menghadang satu-satu teman-teman abangnya itu.
"Bang, abang gw mana?"
'Masih didalam, samperin aja." Ucap salah satu teman Nathan yang gantengnya tidak ketulungan. Memang rata-rata anak basket di sekolah ini cetakannya bagus semua. Kalau saja Chaterine tidak bisa menahan godaan duniawi ini, sudah sedari dulu dia mendekati teman-teman abangnya, yah walau hanya sekedar 'main-main'.
"Sip bang. Gw nunggu disini aja." Balas Chaterine ramah. Dengan mengatasnamakan 'kemalasan' gadis itu rela lanjut menunggu Nathan.
'Dasar abang sialan, tidak kasihan apa adiknya ditelantarkan dengan isi perut yang sangat limit.' Batin Chaterine.
"Iya pak kedepan bakalan saya usahakan lagi."
Chaterine menoleh kearah pintu masuk lapangan, disana berdiri pak Eibel, bang Nathan dan Reano yang tengah membahas sesuatu.
"Bang!" Panggil Chaterine melambai kearah Nathan.
"Yaudah pak, makasih buat bimbingannya hari ini." Ucap Nathan lalu mendekati adiknya yang terduduk di lantai.
"Kenapa masih nungguin gw curuttt?!" Tanya Nathan geram, sudah tahu latihan basket akan selalu selesai lama anak nakal itu masih saja menunggu nya.
"Mana saya tau, saya kan fish." Balas Chaterine acuh tak acuh.
"Hadeh... sini cepet bangun, kita pulang sekarang." Ucap Nathan menarik Chaterine agar mau berjalan.
"Ekhm! Numpang lewat." Sosor Reano menerobos diantara kakak-beradik itu, sudah cukup dirinya menonton drama keluarga ini.
Setelah adu mulut yang cukup panjang, akhirnya ketiga orang itu sampai juga ke parkiran. Disana ternyata masih ada beberapa anak basket yang duduk anteng di atas motor.
"Than! Masih ada beberapa anak yang gk bisa ikut, ada urusan alasannya." Ucap Elon dari atas motor miliknya.
"Gpp, yang masih di sini langsung srepet ke rumah gw!" Suruh Nathan yang langsung dibalas anggukan teman-temannya.
"Ke rumah kita bang?" Tanya Chaterine heran.
Nathan mengangguk, "Biasalah gw sama anak-anak yang lain mau bahas strategi buat turnamen kedepan."bJawab Nathan yang langsung dimengerti Chaterine. Memang sudah biasa jika anak-anak dari ekskul basket datang ke rumahnya seenggaknya 2 kali dalam sebulan.
Nathan naik ke atas motor diikuti anak-anak yang lain, lalu bersama-sama melaju dipadatnya lalulintas.
Diatas motor yang sama dengan Nathan, Chaterine tertawa kencang.
"Kenapa?!" Tanya Nathan setengah berteriak.
"Rasanya gw lagi jadi putri yang dikawal sama anak buah yang good looking, Hahahaha!" Jawab Chaterine lanjut tertawa seperti orang bodoh.
Nathan tertawa melihat tingkah adiknya itu. "Jangan ngarep lu! Hahaha!" Balas Nathan diikuti tawanya dan Chaterine.
Chaterine patut sombong dalam situasi saat ini. bagaimana tidak, dirinya diiring-iringi oleh cogan-cogan dari ekskul basket. Kalian tahu sendiri bagaimana postur tubuh pemain basket, tinggi dan proposional. Ditambah lagi mereka hanya memakai seragam basket yang secara gamblang memperlihatkan lengan kekar mereka. Percayalah, gadis-gadis yang melihat ini pasti akan iri.
"Ahh...Enaknya lahir di antara cogan..." Gumam Chaterine.
*****
"Ayah! Bunda! Chaterine pulang!" Teriak Chaterine kala motor yang dinaikinya berhenti di halaman rumahnya.
Uhuk!
Reano mendadak tersedak mendengar teriakan Chaterine. Apa baru saja Chaterine memanggil 'ayah'?!
"Oy bang Sat! Ayahnya Lexa ada di rumah?!" Tanya Reano setengah berbisik kepada Satria.
Pria itu mengangguk, "Iya, udah lumayan lama om pulang." Ucap Satria enteng.
Bak disambar petir disiang bolong, Reano panik bukan main. 'Njir, gw gk sempat beli kerupuk buat buah tangan lagi!' Batinnya.
"Udah sans ae. Ayah gw gk gigit orang." Ucap Nathan menepuk pundak Reano pelan.
"Beneran bang?" Tanya Reano dengan gelagat ketakutannya.
"Yah... palingan ayah ngamuk pas ada yang deketin anaknya yang cewek." Jawab Nathan dengan smirk yang dibuat-buat.
"Gk ngebantu lu anak ngen!" Kesal Reano terus dipermainkan Nathan.
Nathan tertawa, "Udah-udah, masuk kuy." Ajak Ntahan pada teman-temannya, kalau Chaterine tidak usah disuruh masuk, saat sampai di rumah gadis itu langsung berlari kedalam.
"Halo om, tante." Ucap anak-anak itu sopan kala baru menginjakkan kaki di dalam rumah.
"Eh kalian? Sini masuk." Sambut Lena senang atas kehadiran teman-teman putranya itu.
"Iya tante. Eh ada om gilang? Halo om." Sapa Satria pura-pura tak tahu kalau ayah sahabatnya itu sudah pulang.
"Satria?! Gk lama ketemu kamu udah makin gede aja, hahaha." Ujar Gilang tertawa ala bapak-bapak komplek.
"Hehehe."
"Nathan sama yang lain langsung ke atas ya bun." Ucap Nathan pada sang ibu.
"Biar si curut yang ngantar keatas, daripada nganggur terus dia." Jawab Nathan lagi.
"GW DENGER LU BILANG APA!" Sahut Chaterine dari kamarnya di atas.
Tanpa memperdulikan ocehan Chaterine, Nathan dan teman-temannya langsung naik ke atas, tepatnya ke kamar Nathan. Sampai di sana sifat liar anak-anak itu langsung keluar. Ada yang langsung mengorek-ngorek isi lemari Nathan, tidur diranjangnya dan bahkan ada yang mandi dikamar mandinya.
"Chikinya gk ada di situ! Keran airnya jangan lupa matiin! Sat! Keringat lu nempel di sprei gw!" Cerewet Nathan layaknya seorang emak-emak. Masih mending kelakuan mereka hari ini tidak terlalu parah, kalau sampai Raka dan Hugo ada di sana dipastikan kamar Nathan akan seribu kali lebih berantakan dar kapal pecah.
Buk! Buk! Buk!
"Diem! Cecan mau istirahat!" Teriak Chaterine dar sebelah. yup, kamar Nathan dan Chaterine memang dibuat bersebelahan.
"Udah diem lu pada, ntar si bocil nanges." Lerai Elon selaku wakil ketua tim basket.
*****
Pukul 20.05, Chaterine yang sudah kehabisan ide agar dapat terlelap mengacak-ngacak rambut frustasi. "Huaaa! Ngantuk!"
"Sayang! Anterin cemilan ke kamar abang kamu!" Teriak bunda dari bawah.
Kalau bukan saja karena tidak bisa tidur ditambah gabut berlebih, gadis itu mana mau mengantar makanan ke sekumpulan babi itu.
Chaterine turun kebawah, tepatnya ke dapur. Gadis itu terkejut kala melihat cemilan dan minuman yang bejibun banyaknya.
"Astoge! Banyak banget bun, mana bisa Chaterine bawa sekaligus semuanya?!"
"Bolak-balik kan bisa." Ucap Lena tenang.
"Ihh... bunda mah, bantuin kek." Gerutu Chaterine yang langsung di balas gelengan bundanya.
"Bunda mau temani ayah makan malam klien. Jangan lupa bilang ke abang kamu juga." Ucap Lena lalu pergi meninggalkan Chaterine.
"Huh!'
Alhasil Chaterine mengantar cemilan tersebut ke kamar abangnya dengan penuh keterpaksaan.
"Bang buka!"
Kriett...
Chaterine berjalan sempoyongan membawa kresek berisi cemilan itu. "Noh buat babi-babi kesayangan gw." Ucap Chaterine kelewat sadis.
"Astaga, lu sanggup ngangkat ini semua kah?!" Sambar Satria segera mengambil beberapa kresek besar itu, dibantu Reano juga.
"Hufft... Daripada gw ngantarnya bolak-balik, kan repot." Alasan Chaterine. "Bang, bunda sama ayah pergi , mau nemenin klien makan malam."
"Serius?!"
Perhatian semoa orang teralihkan, jika seharusnya Nathan yang bertanya seperti itu kini malah orang lain.
"Srepet Re!" Sorak Satria.
"Tai lu! Jangan macem-macem sama adek gw!" Marah Nathan setelah sadar dengan yang dikatakan Reano.
"Awas lu, srepet dikit gw bacok!" Lanjut Nathan.
Didalam hati Chaterine merutukii abangnya agar berhenti berbicara seperti itu. Memikirkan hal-hal yang abangnya ucapkan sudah cukup membuat merah pipinya.
"Berisik! Re ikut gw sebentar, gw mau ngomong." Ucap Chaterine segera menarik Reano dari sana.
"Chaterine ingat, gw masih gk mau ada yang manggil gw om!"
"Bicit lu bang!" Ucap Chaterine terus menarik pria itu sampai ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar barulah Chaterine melepaskan genggamannya. "Hmm? Sesemangat itu pengen punya bayi?" Tya Reano menggoda.
"Hilih! Gw mau ngomongin sesuatu geblek!" Balas Chaterine menggebu.
"Iya-iya maap. Mau ngomong apa?" Tanya Reano mulai serius.
Chaterine berjalan ke pintu kaca besar yang mengarah langsung ke balkon kamarnya, gadis itu melambai ke arah Reano seakan menyuruhnya untuk mengikutinya.
Pria itu mengikuti Chaterine lalu duduk di sebelahnya.
"Karin mau sekolah di SMA kita." Ucap Chaterine langsung.
Reano mengeryitkan dahi, "Cewek gila tadi?" Tanya Reano.
Chaterine mengangguk.
Reano menatap intens ke arah Chaterine, kecemburuan tersirat jelas di wajahnya.
"Dengerin gw baik-baik, selama cewek itu ada disini gw bakalan tetap milih lu. Apa pun rencana dia ke depan, gw orang pertama yang bakalan ngelindungi lu. Okay?" Ucap Reano pelan, mencoba meyakinkan gadis itu.
Chaterine hanya diam, namun hatinya yang berbicara. Ganjalan di hatinya menghilang sudah.
Malam itu, di bawah ribuan bintang keduanya tersulut dalam pikirannya satu sama lain.