
"hai sell." Sapa Chaterine ketika sampai ditempat adik kelasnya itu berdiri.
"Hai kak." Ucapnya seperti biasa, polos.
"Lo ada hubungan yah sama kak Saga?" Tanya Chaterine penasaran kenapa Selly bisa ada disini.
"Gk juga, ini gw cuman nemenin papa. Hubungan kerja doang." Jelas Selly tersenyum manis ke arah Chaterine.
"Owh gitu yah. Btw lo cantik banget. Iri rasanya. Hehehe." Puji Chaterine melihat penampilan gadis itu dari atas hingga bawah.
"Yeee, lu malah lebih cantik." Ujarnya. Lalu kedua wanita itu tertawa bersamaan.
"Minum yuk." Ajak Selly mengambil dua gelas anggur beralkohol tinggi. "Nih." Ia menyodorkan segelas pada Chaterine.
Chaterine nampak ragu menerima gelasnya. "Kayaknya gk deh. Gw udah minum tadi. Lagian Reano gk ngijinin minum banyak-banyak." Ucapnya jujur dengan jawaban yang seadanya.
'Ck sial'
"ayo dong Ket. Temenin gw minum yahhh... Please...." Rengek selly kepada Chaterine.
Chaterine yang tak enak dengannya hanya bisa menerima permintaan gadis tersebut. "Oke deh segelas aja yah." Ucap chaterine.
'hehehe, dasar idiot.' batin Selly.
Chaterine mulai meneguk anggur yang Selly berikan. Mulutnya seperti kesetrum ketika anggur itu mengalir di kerongkongan nya. Pahit bercampur manis yang pas membuat siapa yang mencicipinya akan ketagihan.
"Gimana? Enak kan?" Tanya Selly tersenyum aneh.
"Mayan, tapi alkoholnya tinggi banget." Ucap Chaterine sedikit pelan karena kepalanya terasa pusing.
Efek alkoholnya mungkin.
Berselang 5 menit, segelas anggur sudah habis di teguk Chaterine. Dengan smirknya Selly mengambil segelas lagi anggur lalu diberikan pada Chaterine. Begitu terus hingga Chaterine sudah masuk dalam fase mabuk berat.
"Mau lagi gk?"
"Hmm, boleh." Ucap Chaterine dengan kesadaran yang separuhnya hilang. Bahkan setengah badannya sudah menumpu pada meja.
Selly tertawa jijik menatap Chaterine. "Boleh sih, tapi..." Gadis itu menarik dagu Chaterine yang sudah mabuk. "Puasin dulu bos-bos disini." Bisiknya horror di telinga Chaterine.
Setelahnya datang beberapa pria tua, lalu membawa Chaterine ke tempat sepi. Sedangkan Chaterine yang sudah lemas dan kesadaran nya kurang baik hanya bisa memberi perlawanan kecil.
Selly menatap Chaterine dari belakang. "Bye-bye kesayangannya Reano. Hahahaha."
Reano POV
"Hahaha, iya-iya betul banget." Tawa kak Saga seketika setelah gw di bully oleh kerabat-kerabat yang lain.
Saga mendekat ke arah Reano lalu berbisik di telinganya. "Cewe lo mana? Ajak kesini dong." Ucap kak saga.
"Lagi gw suruh nunggu di sana kak." Ucap gw menunjuk tempat gw ninggalin Chaterine tadi.
Sialan.
Gw terkejut melihat Chaterine hilang dari tempat tadi.
"Permisi dulu ya kak, ma, pa, gw mau cari Chaterine dulu." Pamit gw lalu segera mencari Chaterine ke seluruh aula.
Sudah 2 kali gw keliling aula, dan gw sama sekali belum menemukan Chaterine.
"Sial! Nih anak kemana lagi sih?!" Ucap gw frustasi.
Gw terus mencari hingga ke gudang belakang.
"Lepasin gw sialan!" Teriak seseorang dari dalam sana.
Mata gw terbelalak. "Chaterine!"
Chaterine POV
"Lepasin gw gk?!" Bentak Chaterine kala dua orang pria tua itu mengikat kedua tangan dan kakinya dengan sabuk yang mereka pakai.
"Nanti yah sayang, puasin Daddy dulu baru boleh pergi." Pria tua tersebut mengelus pipi chaterine.
"GA USAH MEGANG GW *****! DASAR TUA BANGKA!" Chaterine memberontak kala tangan kotor pria tersebut menyapu pipinya.
Bukannya pergi kedua pria genit itu malah semakin mendekat kearah Chaterine.
"JANGAN DEKAT-DEKAT **** TUA!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi chaterine.
"Diam!" Bentak tua Bangka tersebut.
Air mata Chaterine terus mengalir. Menghasilkan aliran sungai deras di pipinya.
"Papa, mama, Abang maafin chaterine. Hiks.. Chaterine bakalan jadi perempuan kotor. Please forgive me."
"Reano tolongin gw..."
BRAKK!
pintu gudang terbuka paksa dari luar.
Chaterine mendongak perlahan. Bibirnya melengkungkan senyum tipis kala melihat pria yang ia nantikan kedatangannya.
Mata Reano terbelalak.
"Hey bocah! Apa orang tua mu tidak mengajari mu sopan santun?! Sembarangan saja masuk tanpa ijin!" Marah lelaki tua berkacamata.
Reano berjalan mendekati kedua pria tersebut. "Sopan santun?" Tanya Reano dengan smirknya.
BUGHH
"SIALAN ANJING!" Seketika tinju Reano melayang mengenai tepat diwajah dua pria tersebut.
"LO SIAPA BERANI NYENTUH CEWE GW! DASAR BEJAT! TIDAK TAHU MALU! SIALAN!" Reano terus memukuli kedua pria itu membabi-buta. Tidak peduli sudah seberapa banyak luka yang ia hasilkan di tubuh kedua manusia tersebut.
"Reano-" ucap Chaterine lemah.
Reano menghentikan gerak tangannya, lalu menoleh kearah chaterine.
"Chaterine?! Kamu gpp?!" Reano meninggalkan kedua pria tersebut dan beralih kepada Chaterine.
"Maafin gw. Semuanya salah gw. Kalau gw gk ninggalin Lo semuanya ga bakalan jadi begini." Reano menatap Chaterine dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah, benci, dan senang bercampur satu didalamnya.
Sesak rasanya melihat orang yang disayang diperlakukan dengan tanpa bermoral seperti itu.
Reano memberanikan diri untuk memegang pundak Chaterine dan mendekapnya erat.
"Hiks... Maaf." Segelintir kristal bening mengalir dari mata pria tersebut.
Chaterine dengan kekuatan lemahnya berusaha membalas dekapan Reano. Tangannya mengusap lembut rambut Reano, bermaksud menghibur pria itu. "Makasih."