REANO

REANO
Chapter 42



Pagi ini Chaterine bangun pagi-pagi sekali, entah kenapa tetapi dirinya terlihat sedang bahagia. Seperti pagi-pagi


sebelumnya, gadis itu memulai harinya dengan mandi terlebih dahulu. Lanjut memakai seragam SMA kecintaannya.


Merasa sudah beres dengan seluruh perlengkapan sekolahnya, gadis itu berlajan setengah berlari menuju dapur.


Melihat keberadaan cokelat panas di meja makan, segera ia meluncur dan mengambil salah satu cokelat panasnya.


“Hmm... perfect morning.” Gumamya tersenyum sangat lebar.


Lena yang sedang merapihkan perlengkapan makan dari jauh tersenyum melihat Putri kesayangannya itu. “Bunda


perhatiin kamu keliatan senang banget hari ini. kenapa?”Tanyanya menyenggol lengan Chaterine.


Gadis itu menyeringai lebar, suasana yang tadinya ceria kini menjadi sangat menyeramkan. Aura yag dipancarkan gadis itu seakan-akan memperlihatkan jiwa iblisnya. “He he he...” kekehnya seram membuat Lena bergidik ngeri.


“I have a good  idea to ignore Reano, Bwahahaha!” Tawa gadis tersebut keras di akhir kalimatnya.


“Kek dajjal lo dek. Ngeri gw lama-lama.” Cercah Nathan yang langsung menusuk Chaterine.


“Idih, sok banget sih lu kutil.” Sinis Chaterine.


“Mulai dah! Mulai lagi nih anak!” Ucap Nathan tidak terima.


“Lu duluan yang mulai jaenudin! Gw remes juga empedu lo lama-lama.” Sarkas Chaterine membuat Nathan semakin emosi ingin memberi ‘sentuhan kasar’ di tubuh adek satu-satunya itu.


“Gw pok lu yah?!” Galak Nathan mengambil sendok kayu dari meja.


“Bun! Bang Nathan mau pok aku!” Adu Chaterine dengan suara yang dibuat-buat sedang tersiksa.


“Udah-udah jangan gangguin adek kamu lagi.” Tegur Lena yang mana membuat Nathan semakin jengkel. Dilain sisi, Chaterine malah sangat senang.


“Iya bun, iya.” Pasrah Nathan.


“Dasar pengadu.” Sinis Nathan di depan Chaterine. Chaterine yang merasa menang memeletkan lidah bermaksud mengejek abangnya yang selalu kalah darinya itu.


*****


“Abang, gw ke kelas duluan ya.”


Chaterine berjalan dengan sangat antusias, sesekali melompat kegirangan ketika mengingat kembali ide licik yang


sudah ia rancang sejak kemarin malam. “Bwahahaha! Gk sabar deh pengen liat reaksi dia.” Gemasnya sembari mengentak-hentakkan kaki di lantai.


“Ohayou semuanya!” Sapa Chaterine ketika sampai di mulut pintu kelasnya.


Hugo menatapnya sinis. “Sok amat lu pake bahasa Jepang.”


“Dari pada gk bisa sama sekali ya kan.” Ucap Chaterine menghempaskan rambutnya didepan wajah pria tersebut lalu berjalan angkuh ke tempat duduknya.


“Gini nih jadinya kalau kebanyakan makan micin. Gesreknya tak tertolong.” Umpat Hugo dengan suara lantang.


Tanpa memperdulikan ocehan pria itu segera Chaterine daratkan bokongnya di permukaan kursi miliknya. Dilihatnya kursi di sebelahnya yang masih kosong.


“Gw terlalu cepet datang kali ya, makanya dianya belum nyampe?” Monolog Chaterine menatap meja Reano.


“Dah lah, tunggu aja. Pasti juga nongol nanti.” Lanjutnya.


Selagi menunggu kedatangan pria itu, Chaterine menghabiskan waktunya dengan mengambar di bagian belakang bukunya, sesekali ketawa-ketiwi jika Ayu, Adit, dan Kristin melontarkan lawakan tentang guru-guru di sekolahnya. Memang termasuk dalam bully, tapi apa daya mereka tidak akan memperdulikannya. ‘Selagi hati senang hukuman tak masalah di tanggung’ begitulah kira-kira pedoman mereka.


Hampir 15 menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Reano. Sedari tadi batang hidungnya tidak terlihat oleh Chaterine. Lebih baik dirinya menanyakan kehadiran Reano kepada Raka yang notebene nya cukup dekat dengan pria itu. Belum sempat ia melangkah, niat yang tadi sudah ia buat segera ia buang jauh-jauh. “Udahlah, gk usah tanyain. Entar gw di ejek lagi.” Ucapnya dalam hati.


“mungkin dia datang telat. No problem to me.” Ucap berusaha tidak peduli dengan pria satu itu. Segera ia keluarkan buku dan alat tulisnya karena bel sekolah yang sudah berbunyi.


Pelajaran pertama usai, namun Reano sama sekali tidak datang. Padahal sudah sedari tadi Chaterine menunggunya. “Dia kemana sih?!” Geram gadis itu memukul meja dengan kepalannya.


“Lo kenapa ket? Gw perhatiin, lo kerjaannya melamun sama marah mulu dari tadi?” Tanya Kristin menepuk pundak


Chaterine.


“Gpp.” Jawabnya lemas.


Aditya tiba-tiba saja berdiri mendadak membuat yang lainnya terkejut. “Ahaaa! Gw tau! Lo pasti lagi laper, kuy ke kantin.” Ucapnya dengan suara besar.


Ayu memutar bola matanya malas. “Mau nya lo mah itu.” Sindirnya.


“Hehehe, ayolah gw laper.” Rengek gadis itu berguling-guling di lantai, ralat menghentak-hentakkann kaki di


lantai, karna kalau berguling-guling terlalu alay.


“Woke! Let’s Go!”


****


Berisiknya kantin seakan tidak mempengaruhi Chaterine. Dengan kebisingan itu, ia masih saja bisa melamun,


bahkan makanan yang tadinya ia pesan hanya dimain-mainkan saja, tidak dimakan olehnya. Sahabat-sahabatnya saja sampai dibuat bingung olehnya, sangat jarang sekali Chaterine terlihat tidak bersemangat seperti ini. Bahkan sedari tadi Aditya melawak di depannya namun sama sekali tidak di respon.


Ayu meletakkan sendoknya dengan sedikit di banting. “Lo kenapa sih Ket? Kalau ada masalah lo bisa ceritain ke kita-kita.” Marah Ayu mulai tak tahan.


“Gw, Adit, sama Kristin masih sahabat lo kan? Atau lo udah gk anggap kita lagi?” Lanjut Ayu tajam.


Chaterine terpaku. Dirinya menunduk kebawah mencoba meredam semuanya. Jujur, dirinya juga bingung mengapa ia menjadi seperti ini. Rasanya sangat kosong, seperti ada hal penting yang kurang.


Chaterine mendongak menatap ketiga sahabatnya. “Maaf. Gw gk maksud buat gk cerita ke kalian, tapi gw sendiri juga bingung gw kenapa.” Jelas Chaterine bingung. Ayu tersenyum, “It’s oke. Ada saatnya seseorang sedih karena sesuatu.” setelah mengatakan hal itu, Ayu segera berhambur memeluk Chaterine. “Utututt kasihannya Ket-Ket gw...”


“Huwaa gw mau peyuk juga...” Rengek Kristin ikut memeluk Chaterine.


Ayu menoleh ke arah Adit, masih saja betina satu itu fokus kepada makanannya. “Oy sapi! Makannya nanti lanjot, sini peyuk-peyuk dulu!” Panggil Ayu terlihat kesal.


“Idih, ogah! Gw mau habisin makan dulu!” Tolak Aditya mentah-mentah, membuat Ayu semakin geram.


“Awas lo Sapi!” Marah Ayu.


Chaterine terkekeh, setidaknya dirinya sudah menjadi lebih baik karna sahabat-sahabatnya. Sepertinya sekarang


Chaterine sudah mengerti dengan arti sahabat yang sesungguhnya.


“Makasih karna udah pertemuin gw dengan mereka...”


*****


Sekolah usai namun tidak ada satupun kabar tentang ketidak hadiran Reano hari ini. Tanpa ada yang tau, seseorang sedang gelisah karna pria itu.


“Eh ket, pulang bareng yuk.” Ajak Kristin sembari mengayun-ngayunkan tas pink nya.


Chaterine menggeleng. “Jangan hari ini gw masih ada urusan, besok aja.” Tolak Chaterine sedikit tidak enak.


Kristin mengangguk. “Seph! Yodah, gw pulang duluan yah... papay!” Pamit gadis itu yang mana langsung dibalas


anggukan oleh Chaterine.


Setelah kepergiannya Chaterine menghela nafas berat. Melepaskan seluruh kegelisahannya dengan itu. “Lebih baik


gw tanya ke pak Hendrik aja langsung.” Gumamnya sembari mengigit bibir bawah.


Dengan cepat gadis itu membereskan perlengkapan sekolahnya lalu berlari menuju ruang guru. Untung corridor sedang sepi, menguntungkannya untuk berlari dengan cepat.


“Permisi pak!”


“Ayam ayam ayam!”


Langkah Chaterine terhenti. “Eh, anu... maaf pak saya ngagetin.” Maaf Chaterine ketika tahu gurunya itu kaget.


Pak hendrik mengelus dada mencoba bersabar. “Lain kali ketuk dulu pintunya, jangan asal terobos aja.” Tegur guru


tersebut yang langsung dibalas anggukan kikuk dari Chaterine.


Datang kesini bukannya mendapat kabar tentang Reano, dirinya malah mendapat nasihat-nasihat dari wali kelas


tercintanya itu.


“Pak, kalau boleh tau murid yang namanya Reano hari ini gk datang, kenapa ya pak?” Tanya Chaterine takut-takut.


“Reano... bentar bapak cek dulu.”  Pria itu mengacak-ngacak isi mejanya. “Ohh.. Reano! Hari ini dia ijin, katanya masih belum pulih total.” Ucap guru tersebut cepat.


Chaterine terdiam untuk beberapa saat. “Ya udah pak, saya pamit dulu. Makasih infonya.” Lanjut Chaterine menunduk hormat.


Chaterine melangkah ke arah halte dengan perasaan yang sudah sedikit lebih baik, setidaknya dia sudah tau kenapa pria itu tidak datang hari ini.


“Eh, bentar...” Gadis itu menghentikan langkahnya.


“Kenapa gw jadi seneng pas tau kabarnya dia?!”


Gadis itu terperanjat kaget. “Huwaaaa!!!”