
"Dasar bocah." Orang tersebut mulai bersuara lalu membuka topi dan maskernya yang membuat Chaterine mematung.
"Ngapain ngikutin gue sih?!" Gerutu Chaterine pada sosok di hadapannya. Nampaknya, Chaterine sudah agak dekat dengan sosok tersebut, terlihat dari gaya bahasanya.
"Yahh, udah kebongkar." Ucap sosok tersebut membuka jaket hitamnya.
"Raka!" Yapss. Sosok yang mengikuti Chaterine adalah Raka.
Tak lama, Hans datang dengan deru napas memburu karena capek mengejar Chaterine. "Lo hah... cepat banget hah... hah... larinya."
Chaterine tak menjawab hans, sorot tajam matanya masih tertuju pada Raka yang membalasnya dengan cengiran tanpa dosanya.
Hans mengikuti arah pandang Chaterine. "Eitss... ngapain bocah ngikutin gue sama Chaterine. Kurang kerjaan ya lo, sampai ngikutin kita-kita." Hans mencibir Raka dengan nada ketus.
Raka memutar bola matanya malas. "Heh, kambing tua, lo pikir gue mau apa buntutin lo pada. Gue ngikutin lo berdua karna di suruh."
"Kurangajar lo ya ngatain gue kambing tua!" Kesal Hans hendak memberi bogeman pada Raka namun langsung di hindari pria tersebut.
"Lagian ya, mendingan gue ngedate bareng Nia malam ini. Dari pada jadi penguntit kayak gini." Lanjut pria itu ogah ogahan.
"Siapa yang nyuruh lo!" Tegas Chaterine bertanya dengan sorot mata tajam yang sama sekali tidak menyeramkan, malahan sangat imut jika di lihat.
"Woy! Keluar semua!" Teriak Raka membuatnya menjadi pusat perhatian, secara mereka masih berada di daerah yang ramai pengunjung.
Ada banyak sorot mata yang mengarah pada Raka, tatapan tidak suka lebih banyak dilemparkan pada pria tersebut. Tak ayal, ada juga tatapan kagum dari orang-orang terutama para cewek.
Krrkk... krrkk...
Semak-semak di sekitaran tempat Chaterine berdiri bergerak menghasilkan suara gesekan.
Tak lama, keluar lah 13 orang dari dalam semak yang berpakaian serba hitam seperti yang Raka gunakan. Hans ternganga melihat penampakkan itu, ini memang pengalaman pertama bagi pria itu. Mungkin dari yang kalian ketahui Hans adalah seorang pria yang kelihatannya bad, dan cool saat di luar sekolah, tapi tak ada yang tahu jika tempat tongkrongan pria tersebut hanyalah cafe dan tempat elit lainnya. Benar-benar sangat berbeda dengan cowok bad yang biasanya memilih tempat menyeramkan dan aneh sebagai tempat tongkrongan.
Singkatnya, Hans terkejut karena belum terbiasa melihat perkumpulan orang-orang Kurang waras dalam satu tempat yang sama. Ralat, lebih tepatnya orang-orang yang sudah tidak memiliki yang namanya kewarasan.
Ke-13 orang tersebut membuka topi dan masker mereka secara bersamaan. Melihat semua wajah-wajah itu, Chaterine rasanya ingin mengakar wajah mereka satu persatu, terutama wajah terakhir dari barisan ke-13.
Kristin, Ayu, Aditya, Laly, Chelsy, Flora, Raka, Bless, Netter, Hugo, Krisman, Nuel and the last R.E.A.N.O.
"Siapa yang nyuruh ngikutin gue?!" Tanya Chaterine menatap ke-13 sahabatnya.
"Itu tuh! Babang tamvan lo!" Ketus Nuel melempar topi hitamnya pada Reano.
Chaterine beralih menatap Reano seorang saja. Bukannya takut, pria di hadapan Chaterine ini malah senang mendapat pelototan dari gadis pujaannya. Memang, jika seseorang sudah jatuh hati maka dunia serasa menjadi tempat dimana otak dan dirinya berfantasi liar. Upsss... bukan untuk orang yang sedang jatuh hati, lebih tepatnya untuk Reano seorang. Karena makhluk yang satu spesies dengan Reano sangat terbatas jumlahnya.
"Hai Alexayang. Kita ketemu lagi ya, jangan-jangan kita tuh berjodoh." Reano menyapa Chaterine dengan senyum lebarnya bak tak melakukan kesalahan. "Hehehe... Terkejut ya gue ikutin? Bareng rombongan haji lagi." Lanjut pria itu bertanya dengan santai.
Sedangkan Chaterine, gadis itu tengah merapalkan kata sabar dalam hati. Jika saja Chaterine tidak melakukannya, sewaktu-waktu ia bisa saja menyeret Reano ke kincir ria lalu menggantungnya di puncak tertinggi dari wahana itu.
Tidak ada lagi cara lain agar masalah ini cepat selesai selain mengalah dan mengikuti kemauan teman-teman Chaterine. Gadis berbalut Hoodie putih itu menghela nafas lelah. "Hhhh... Gue capek marah-marah ke lo Re, ke kalian semua juga."
"Kalau kalian pengen ikut jalan bareng, ikut aja. Gue gk ngelarang." Lanjutnya.
Mendengar penuturan dari sang adik kelas tersayang membuat Hans terkejut. "No, no, no... kok lo ngijinin parasit ini ngikutin kita!"
Chaterine ingin menjelaskan betapa keras kepalanya teman-temannya itu tetapi tak jadi karena lidahnya kalah cepat dengan lidah milik Laly.
"Sirik ae lo kak! Kalau gk seneng pulang aja sono!" Sewot Laly pada Hans.
"Berani ya lo sama kakak kelas!" Lawan Hans tak terima.
Adu mulut pun tak terelakkan, selagi kedua manusia itu beradu bacot, Ayu, Kristin dan Aditya menghampiri Chaterine dengan sumringah.
"Malam Ket-Ket... ku!" Sapa Ayu nyengir kuda.
"Apa?!" Ketus Chaterine.
"Ulluhh...ulluuhh... Lexa gue ngambek, ya?" Goda Aditya mencolek-colek dagu Chaterine.
"Dia Lexa gue, bukan Lexa lo!" Teriak seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Reano.
Mendengar itu, si empat serangkai yang adalah Kristin, Aditya, Ayu, dan Chaterine memutar bola matanya malas mendengar celotehan si bayi anoa.
"Iya, iya, dia Lexa lo Re. Serah lo aja." Ralat Aditya tak mau memperpanjang masalah.
"Eh, BTW lo tulus kan ngajak kita-kita?" Tanya Kristin pada Chaterine akan tetapi hanya di balas deheman oleh orang yang di tanyai.
"Yang tulus dong bilangnya." Paksa Kristin.
"Iya, iya, tulus nih." Ucap Chaterine gemas sendiri, Sangking gemasnya ingin sekali ia mencabik-cabik wajah sahabat karibnya satu ini.
"Kalau tulus senyum dulu dong." Pinta Ayu.
"Noh, makan tuh senyum." Chaterine menunjukkan senyum terburuknya membuat keempatnya terkekeh.
"Hahaha, senyumnya buluk banget, kayak orangnya." Ejek Aditya.
"Hahaha. Buluk-buluk gini banyak yang naksir loh." Sombong Chaterine.
"Gue termasuk!" Teriak Reano tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Entahlah, Chaterine merasa sesuatu yang hangat menjalar di pipinya ketika mendengar teriakan itu. Sebuah pernyataan konyol namun tulus dimata Chaterine.
"Iya, iya, serah lo aja." Balas Chaterine.
"SEMUANYA PERHATIAN!" Teriak seseorang dengan suara cemprengnya.
"KAK HANS SAMA LALY BISA BERHENTI BERANTAM DULU GK, GUE MAU NGEJELASIN SESUATU YANG PENTING!" Lanjutnya berteriak.
Semua mata tertuju pada sang pemilik suara. Sorot mata sinis semua orang sepenuhnya diarahkan pada Ayu, gadis yang punya suara keras nan dahsyat.
"Pa'an lagi lo?" Tanya Nuel sinis.
"Ganggu aja. kita lagi asik-asiknya nonton adu bacot, tiba-tiba anaknya tante Ferda nongol. Mau apa sih lo?" Sambung Krisman sewot.
"Shuttt. Gk usah banyak bacot deh."
"Dengerin gue baik-baik, jangan nyesal kalau gk sempet denger."Oceh Ayu yang membuat sahabat-sahabatnya kesal setengah mati.
"Bilang cepet! Gue mau lanjut ngebacot bareng kakak kelas yang songong ini." Suruh Laly agar Ayu segera menyelesaikan pidatonya.
"Gue mau bilang.......GUE ........MAU..........
NAIK ...........
SEMUA WAHANA!"
Semuanya cengo mendengar penuturan Ayu. Inikah hal penting yang gadis itu maksud? Sungguh diluar dugaan.
Semua mencoba meredam rasa kesal yang hampir melewati batasnya.
"Kalau mau main, main aja sono!" Suruh Raka dengan wajah yang sangat mengesalkan jika di lihat.
"Temenin gue kek. Masa gue main sendiri trus ketawa plus teriak-teriak sendiri kayak orang-"
Belum selesai Ayu menyempurnakan kalimatnya, sebuah jari mendarat halus di bibirnya. "Shutt... ngebacot melulu kerjaan lo. Telinga gue sakit dengernya." Ucap Raka tepat di telinga Ayu.
Raka Glen Andhika, satu-satunya cowok di SMA Budi Sakti yang berani melakukan hal agresif pada Risa Ayunda yang terkenal di kalangan anak-anak kelas 10. Wajah mulus bagaikan masih anak-anak membuat dirinya di gemari oleh adik kelas. Tapi, tidak mudah untuk mendekati seorang Ayu. Latar belakang keluarga yang kaya membuat para lelaki enggan untuk mendekatinya. Namun, dari semua hal itu hanya Raka yang berani mendekati Ayu secara terang-terangan.
Semuanya tertegun hampir tak berkedip, begitu juga dengan Ayu yang bahkan untuk bernapas pun sangat sulit ia lakukan dalam keadaan seperti ini. Hanya pipi yang bersemu merah yang meresponi tindakan agresif Raka.
Tersadar dari lamunannya, Ayu segera menjauhi Raka karena jarak yang terpaut lumayan dekat.
"Suitt.... suitt...." siulan menggoda dari anak bucin Sejagad tak dapat dihindari sepasang remaja itu.
"Panas nih! Panas!" Teriak Netter sambil mengipas-ngipasi tubuhnya dengan topi hitam yang pria itu kenakan.
"Wahh... bahaya lu pada!" Sorak Chelsy tak tertahan.
"Terkam aja Ka, gue dipihak lo!" Sambung Hugo yang langsung dihadiahi pukulan dahsyat dari Flora.
Flora menatap Hugo sinis. "Laki-laki Cabul." Satu kalimat singkat yang cukup tajam untuk menyayat hati.
Melihat adegan panas itu, Reano dengan cepat menutup mata Chaterine dengan jaket hitamnya. "Woy! Jangan di sini kalau mau gitu-gituan! Lexa gue masih kecil, gk boleh lihat yang begituan!"
Chaterine menarik paksa jaket yang menutupi wajahnya. "Ihhh! Gue udah besar tau."
"Besar mananya? Orang rata gitu." Tutur Reano menatap Chaterine dengan tatapan jahilnya.
"Reano!" Chaterine mulai hilang kesabarannya. Tanpa aba-aba, Chaterine langsung menarik rambut Reano kuat hingga beberapa helai rontok.
"Aduh.. Sakit Lexayaaaa!" Reano menjerit tak karuan ketika tarikan Chaterine pada rambutnya semakin menguat.
"Woy! Tolongin gue..." Reano berteriak kearah sahabat-sahabatnya disertai tatapan memohon.
Namun, percuma saja pria satu ini berteriak minta tolong. Tidak akan ada yang berani melerai Chaterine saat sedang bergelut. Hanya gelengan kepala serta tatapan iba yang sahabat-sahabatnya itu mampu lemparkan.
Reano mengerti maksud tatapan itu, ia sudah menduga tidak akan ada yang mau menolongnya. Karena tak tahan dengan tarikan dahsyat nan mengguncang milik Chaterine, dengan terpaksa Reano mengeluarkan jurus terakhir miliknya yang belum banyak orang ketahui.
"Aduh! Beneran sakit nih... Pelan-pelan dong, jangan agresif gini. Gue... gk... kuat..." Lirih pria itu dengan nada menjijikan khas suara seorang gadis yang tengah dilecehkan oleh pacarnya.
Mendengar lirihan jorok itu, Chaterine langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rambut panjang Reano dengan kasar. "Dasar cowok mesum!"
Reano tersenyum menatap Chaterine, tak lupa dengan tangan yang mengusap-mengusap kulit kepala yang hampir terlepas dari tempatnya.
"Apa liat-liat." Ketus Chaterine.
Reano berjalan mendekati Chaterine. Chaterine yang mengerti arah langkah Reano bermaksud menghindar. Tapi apa daya tangannya berhasil dicekal pria yang beberapa hari ini berani mengusik hidupnya. Chaterine mencoba berontak, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melepas cekalan milik Reano.
Reano menarik Chaterine agar semakin dekat dengannya. Kemudian tangan satunya lagi mulai terangkat menuju kepala Chaterine dan....
Mengelusnya dengan sayang. "Jangan kasar-kasar, ya. Lexa gue harus jadi cewek manis, juga nurut sama Reano."
"Woy! Jauh-jauh lo dari Chaterine." Teriak Hans yang lehernya sudah dipiting oleh Laly agar tidak mendekat kearah Chaterine dan Reano, secara semuanya telah direncanakan, kecuali tidakan Raka dan Reano yang memang tiba-tiba muncul.
Pria itu tak memperdulikan larangan Hans. Tangan Reano berhenti mengelus surai milik Chaterine namun tatapan itu tetap ia pusatkan pada manik Chaterine. Tatapan teduh yang seketika membuat segelintir masalah dalam hidup Chaterine menghilang untuk sesaat.
"Tapi... nurutnya sama Reano aja, gk boleh sama cowok lain."
Plakk...
Sebuah pukulan keras dikepala berhasil membuat fokus Reano teralihkan.
"Anying! Dosa apa gue sama lo?" Tanya Reano kesal dengan tindakan mendadak yang berhasil Raka luncurkan.
"Lo gk ngijinin gue mesra-mesraan di depan Chaterine lo tadi. Lah, sekarang malah lo yang mesra-mesraan sama Chaterine. Dunia memang tidak adil." Ucap Raka mengungkapkan alasan nya dengan nada yang mendramatisir di kalimat terakhirnya, membuat siapapun. Yang mendengar ingin terjun ke jurang sesegera mungkin.
"Serah gue dong." Satu kalimat pendek yang membuat semua bola mata berputar dengan malasnya.
Namun, tidak untuk Chaterine dan Ayu. Kedua gadis itu masih sibuk memikirkan kejadian yang membuat ratusan kupu-kupu seakan sedang beterbangan didalam perutnya, menghasilkan rasa yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.