REANO

REANO
Episode 26



“Huftt... kok deg-deg yah?” Chaterine gugup kala dirinya dan Reano sampai di depan ruang Pak Hendra, kepala sekolah di SMA Budi Sakti.


Reano meraih tangan Chaterine lalu menggenggamnya erat bermaksud menenangkan Chaterine. “Ga usah gugup, percaya sama gw.” Ucapnya lembut, membuat rasa gugup gadis tersebut perlahan memudar.


“Semangat Chaterine!” Monolognya menyemangati diri sendiri. Pria di sebelahnya sembunyi-sembunyi mengulum senyum melihat tingkah kekanakan Chaterine.


Kedua remaja tersebut kemudian masuk ke dalam sana dengan keberanian yang sudah terkumpul cukup banyak. Didalam ada guru-guru lain yang sedang mengobrol ria di ruangan depan, dengan sopan kedua Siswa-Siswi tersebut menyapa hormat para guru tersebut.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari luar.


“Masuk.”


Masuklah kedua orang tersebut ke tempat yang mana hampir setiap hari mereka dan yang lainnya masuki, tapi kali ini dalam konteks yang berbeda. “Permisi pak.” Ucap Reano membuat pak Hendra yang sedang sibuk membaca dokumen menoleh ke arah mereka.


“Ada apa cari bapak?” Tanya pak Hendra kepada kedua murid nya tersebut. “Silakan duduk kalian berdua.” Suruh Pak Hendra kepada Chaterine dan Reano yang masih berdiri di tempatnya.


“Pak, kami mau melaporkan sesuatu. Ini tentang teman saya yang hampir di lecehkan beberapa hari yang lalu.”  Ucap Reano serius. Pak Hendra menatap intens wajah Reano, tidak ada wajah jahil disana. Lalu beralih menatap Chaterine yang di wajahnya tersirat rasa takut.


“Di lecehkan? Korbannya kamu?” Tanya Pak Hendra bertanya pada Chaterine.


Chaterine mengangguk.


“Boleh ceritakan kejadiannya dengan lengkap?” Tanya Pak Hendra memperbarui posisi duduknya menjadi lebih serius.


Sedangkan Chaterine menggigit bibir bawahnya, tak ingin lagi rasanya mengingat kejadian di hari itu. tiba-tiba ada tangan yang mengelus lembut kepalanya. “Gpp, ceritain aja semuanya.”


Chaterine menatap Reano dengan pandangan yang sulit di artikan, Reano membalas tatapan tersebut dengan senyum. Senyum yang membuat hati Chaterine luluh. “Oke saya akan ceritakan.” Ucap Chaterine mantap kepada pak Hendra disambut anggukan oleh pria tersebut.


Chaterine bercerita selama hampir 15 menit. Gadis itu menceritakan dari awal hingga akhir tanpa melewatkan sedikit kejadian. Mulai dari saat sampai ke aula, kemudian bertemu dan di paksa minum oleh Sella hingga kejadian puncak saat kedua pria tua bejat itu berniat menyentuhnya.


Wajah pak Hendra kelihatan merah karena menahan amarah. “SIAPA SAJA DI LUAR SANA PANGGILKAN SELLA SEKARANG!”


Chaterine dan Reano kaget kala suara besar itu menghantam telinganya. Sepertinya Pak Hendra sudah tidak mampu menahan amarahnya. Suaranya yang besar membuat seluruh guru-guru dan para staff yang berada di luar ruangan saja terkejut.


“Ba-baik pak kepala, akan saya panggilkan!” Ucap sang sekretaris yang muncul di balik pintu ruangan pak Hendra.


Selang lima menit tersengar suara ketukan dari luar. “MASUK!”


Seseorang datang dari sana. Betapa terkejutnya dia melihat Chaterine disana. “Eh, ada kak Chaterine. Halo kakak.” Ucap gadis yang baru datang tersebut bermaksud merangkul bahu Chaterine, tapi langsung di tepis kasar oleh Reano. “Jauhin tangan kotor lo dari Chaterine.” Pria itu menatap Sella tajam, membuat Gadis itu segera menjauhkan tanggannya dari Chaterine.


“Sella, apakah betul kamu menjebak Chaterine beberapa hari yang lalu?” Tanya Pak Hendra berusaha untuk tidak berteriak.


Sella tak berkutik, tubuhnya menegang saat mendengar itu. “Saya ulangi, Grisella Amanda! Apakah kamu sudah menjebak Chaterine?!” Teriak pemimpin sekolah tersebut marah.


“Mana mungkin saya melakukannya?!” Bantah Sella.


Tangannya mencengkram erat kerah seragam Chaterine. “Lo kalau gk suka sama gw jangan pake cara ini yah! Gk usah asal nuduh gw!”


“GW BILANG JAUHIN TANGAN KOTOR LO DARI CHATERINE!” Bentak Reano ke pada Sella.


Bukannya takut gadis itu malah tertawa. “Hahahaha... eh Chaterine, tuh cowo belain lo sampai segitunya, lo kasih apaan ke dia? Jangan-jangan lo udah tidur sama dia”-


PLAKK!


“KENAPA LO MUKUL GW BANGS*T?!”


“Lo boleh ngehina gw sesuka lo, tapi jangan sampai ngerusak harga diri gw dan orang yang sayang ke gw.” Setelah sedari tadi diam akhirnya Chaterine meluncurkan sebuah tamparan kuat di wajah Sella. Sakit dari tamparan itu masih tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan Chaterine. Gadis itu memang pantas menerimanya, bahkan tidak cukup untuk menggantikan sakit hati yang ia rasakan.


“Sella silakan keluar dari ruangan saya. Kamu saya skors selama tiga minggu.” Ucap pak Hendra mencoba meredam amarahnya.


“Gw ada bukti.”


Sella menatap Reano tajam. ‘tidak mungkin! Tidak mungkin ada bukti!’ Tidak mungkin ada bukti pikir Sella. Itu pasti hanya akal-akalan untuk membuatnya takut.


Reano mengambil ponsel dari sakunya. Agak retak, tapi masih bisa dinyalakan. Reano menyerahkan ponsel itu kepada pak Hendra. “Di sana bapak bisa lihat percakapan antara Sella dan salah satu laki-lagi bejat suruhannya. Saat itu saya diam-diam mengambil ponsel salah satu pelakunya.”


‘Sial! Jangan-jangan pesannya belum di hapus si tua bangka itu!’


“Gw harap lo bisa pergi setelah ini.” Ucap Reano dingin kepada Sella.


“Sella, bapak tidak jadi men- skors kamu dari sekolah.” Ucap pak Hendra masih menatap ponsel di tangannya.


Reano dan Chaterine terkejut tak percaya. Akankah mereka akan gagal?


“Hahahaha! Lo kalah j*lang!” Tawa Sella membuncah, kala mendengar putusan pak Hendra. Reano menggertakkan gigi melihat tingkah kurang hajar Sella. Ingin rasanya pria itu memukul iblis di depannya. Sedangkan Chaterine, gadis itu tetap diam ditempat dengan pandangan kosongnya. Ingin sekali Chaterine menangis, tapi ia tahan. Jangan sampai Sella melihatChaterine dalam kondisi yang menyedihkan, itu sama saja dengan jatuhnya harga diri Chaterine.


“Saya tidak jadi men-skors kamu, tapi saya akan mengeluarkan kamu dari sekolah. Saya tidak mau menampung murid tidak tahu malu seperti kamu.” Lanjut pak Hendra membuat kesenangan Sella lenyap.


“HAH?! APAAN LAGI INI?! SAYA TIDAK TERIMA!”


“SIAPAPUN DI LUAR SANA TOLONG BAWA SELLA KELUAR DARI RUANGAN SAYA!” Tak lama masuklah dua orang guru lalu menarik Sella dari dalam sana.


“SIALAN LO ALEXA CHATERINE!”


“Eumm... ya sudah saya ijin pamit dulu pak, mau ke kelas.” Ucap Chaterine lesu lalu membungkuk hormat kepada pak Hendra.


“iya silakan, lain kali kalau ada masalah beritahu bapak.” Ucap kepala sekolah tersebut.


“Baik pak. Kami permisi dulu.”


Dua pasang kaki tersebut berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah, banyak pasang mata  yang menatap keduanya penasaran. Ingin bertanya, tapi tidak ada di antara mereka yang berani bertanya.


“Hufft... akhirnya selesai juga. Gimana? Sekarang lega kan?” Ucap Reano senang, namun pertanyaannya sama sekali tidak di respon gadis yang berjalan gontai disebelahnya. Reano berhenti berjalan,


dipandangnya Chaterine yang terlihat aneh. Tubuhnya gemetar dan kepalanya di tundukkan.


“Chaterine?” Segera pria itu menarik pelan dagu Chaterine agar melihat ke arahnya. Hidung serta pipinya memerah, matanya dengan deras mengalirkan cairan bening yang sudah siap meluncur di pipi.


Reano terkejut. “Chaterine lo kenapa?! Sakit? Sekarang kita ke UKS!” Sebelum Reano sempat menarik tangan Chaterine, gadis itu sudah terlebih dahulu berhambur memeluk Reano erat, membuat pria tersebut terkejut. “Takut.”


Sudut bibir Reano terangkat kala mendengar kata tersebut dari mulut Chaterine, senang, lucu, bercampur kasihan ia rasakan saat ini. Tangannya dengan lembut membalas pelukan itu, tak lupa dengan elusan lembut di kepala Chaterine. Untung saja corridor sedang sepi, kalau tidak mungkin mereka akan segera menjadi trending topik di madding sekolah.“Kalau mau nangis, nangis aja, ga masalah. Kapan lagi gw bisa lihat lo nangis kayak bocah kalau bukan sekarang.” Ucap Reano antara ingin menghibur dan mengejek.


Chaterine menjauhkan kepalanya yang tadinya tertempel kuat di dada Reano kemudian menatap pria itu jengkel tapi masih dalam keadaan menangis.


Reano mencubit kedua bongkahan pipi yang gembul itu gemas melihat ekspresi Chaterine barusan. “Hahaha... dasar gemesin.”


*****


“SIALAN LO SISKA!”


Gadis bernama siska itu tertawa mendengar terikan adek kelas lugunya itu.


“DASAR LO J*LANG! LO UDAH JANJIIN KE GW KALAU MASALAH INI GA BAKALAN BERDAMPAK KE GW! DASAR IBLIS!”


PLAK!


“LO PUNYA OTAK DI PAKE! KALAU LO GK BODOH DAN GK NGEBIARIN ORANG LAIN DAPAT BUKTI, LO GK BAKALAN DIKELUARIN DARI SEKOLAH! DASAR SELLA!” Sebuah tamparan diikuti bentakkan spontan membuat Sella menitikkan air matanya. Tapi Siska? Tangisan menjijikan itu tidak akan membuatnya kasihan.


“Ingat, jangan kasih tau kalau gw yang nyuruh lo, atau... karir ayah lo yang bodoh itu yang jadi taruhannya.