
Waktu mulai menunjukkan siang hari, sinar mentari tanpa segan-segan menyengat kulit siapa saja yang berada di luar ruangan.
“Haish... panas banget.” Ucap Kristin sembari tangannya di kibas-kibaskan di depan muka.
Flora menatapnya datar. “Udah siang.” Lanjutnya singkat membuat Kristin menatap aneh ke arahnya.
“Iya gw tau ini siang, gk perlu kasih tau lagi.” Ucap Kristin memutar bola matanya malas. “Lagian bicara sama lo udah buat hawanya jadi dingin.” Lanjut gadis tersebut.
Flora tak menanggapi ucapan Kristin, ia lebih memilih diam. Sebenarnya bukan pilihan karena hobinya memang berdiam diri. Sangat jarang banyak bicara, tidak seperti gadis-gadis lain yang cenderung cerewet.
“Air... air...” Seseorang dengan keringat yang bercucuran deras, terduduk tak berdaya di antara gadis-gadis yang lain.
“Astaga, lo kayak orang yang mau mati aja.” Ujar Aditya dramatis kala melihat Chaterine yang kepanasan.
Chaterine meraba-raba tempat di sekitarnya berharap menemukan sebotol air. “Huaaaa... gk ada yang punya air kah?!” Jerit Chaterine memukul-mukul lantai yang ia duduki.
Gadis-gadis yang lain menatapnya datar. “Botol lo mana?” Tanya Ayu merangkak mendekati Chaterine.
“Ketinggalan di kelas.” Ujarnya lemah, seperti sudah hampir memasuki ajalnya.
Ayu menggeleng tak percaya melihat sahabatnya satu ini. Pandangannya kemudian beralih kepada cowok-cowok yang sedang berolahraga. “REEEEEE! AMBILIN AIR BINI LO DI KELAS!” Ayu berteriak saat matanya menemukan target incaran.
Reano yang tadinya sedang asik menggiring bola tiba-tiba terhenti kala mendengar suara dahsyat tersebut, bahkan bukan hanya Reano, hampir semua yang berada di lapangan berhenti dari aktivitasnya mendengar teriakan Ayu.
Semua menatap dingin ke arah Ayu. “Hehehe. Peace.” Ucapnya memberi simbol peace dengan jarinya.
Reano yang di panggil segera berlari ke arah kerumunan cewek-cewek tersebut. Dirinya kaget melihat Chaterine yang terbujur kaku layaknya ikan yang sedang di jemur.
“Noh bini lo butuh air.” Ucap Ayu menunjuk ke arah Chaterine.
Reano tersenyum tipis. “Bentar gw ambilin dulu.” Segera pria tersebut berlari ke luar lapangan.
“iya! Cepeten!” Teriak Ayu dari jauh.
Reano POV
“Permisi pak, saya ijin ke kelas bentar.” Ucap gw kala melihat pak Nando yang berdiri di pinggir lapangan dekat pintu keluar.
Guru itu menatap tajam ke arah gw. “Hmm.” Hanya deheman, membuat gw semakin kikuk, tidak tahu harus mengatakan apa.
“Anu, pak... mau ngambil botol minuman.” Ucap gw.
Seketika wajah garangnya tadi menghilang di gantikan dengan senyum ramah. “Oke silakan.”
Segera gw langsung meninggalkan tempat itu kala di beri izin untuk keluar.
Dengan langkah besar gw berjalan ke kelas, harus cepat kalau tidak Lexa bisa jadi ikan asin jika terlalu lama, pikir gw. Langkah gw terhenti kala melihat seseorang keluar dari kelas gw.
Gadis tersebut nampak terkejut melihat kedatangan gw, namun setelahnya ekspresinya segera berubah dengan sangat cepat. ‘Ck, apa lagi yang dilakuin cewek ini.’ Batin gw kala melihat perubahan ekspresi tersebut. Sangat palsu.
Gadis itu berjalan ke arah gw tak lupa dengan wajah sok polosnya membuat gw semakin jijik. “Hai kakak, habis olahraga ya? Sini biar aku temani beli air di bawah.” Ujar gadis tersebut merangkul lengan gw.
“Lepasin.” Ucap gw dingin.
Gadis itu seakan tak mendengar ucapan yang barusan gw bilang, bahkan gadis menjijikan itu malah bergelayut manja di sana.
“Gw bilang lepasin!” Bentak gw sudah muak dengan tingkah murahan gadis tersebut. Gadis itu melepas rangkulannya dari lengan gw. Tersirat jelas jika gadis itu sangat kesal.
“Kakak kenapa selalu ngejauh dari aku?! Aku kurang apa dari si Chaterine sialan itu!” Ucap gadis itu tanpa rasa malu di hadapan gw. Mulut liar itu, tidak pantas menyebut nama Alexa Chaterine.
Gw tersenyum miring ke arah gadis tersebut, di tambah tatapan tajamnya. “Karna lo murahan.” Ucap gw singkat.
Reano POV end
*****
“Nilai lo berapa Dit?”
Aditya tersenyum angkuh. “Delapan puluh tiga.” Ucap nya sombong, tangannya menepuk dada bangga.
“Wih, hebat lo.” Puji Laly.
“Lo berapa ket?” Tanya Ayu kepada Chaterine yang berjalan disebelahnya.
Gadis itu menghela nafas berat. “Empat puluh enam.”
“pufft-.”
“Bangkek lo ngejek gw! Huaaaaa!!!”
Begitulah Chaterine, gadis yang sangat payah dalam olahraga, mungkin bisa di bilang yang paling buruk di kelasnya, sedangkan yang paling hebat dari antara perempuan lainnya adalah Flora.
Gerombolan siswi tersebut berjalan beriringan menuju kelas karena jam olahraga telah usai.
“Oy Yu! Setelah ini ada pelajaran apaan?” Tanya Chatrine kepada Ayu yang duduk bangku sebrang.
Matanya menatap jam biru di tangan kirinya. “Break beb. Gk ada kelas.” Ucap Ayu
“Owh, oke makasih.”
Kelas masih terlihat sepi karena laki-laki masih belum masuk ke kelas, hanya beberapa saja yang sudah duduk di dalam. Mungkin mereka langsung ke kantin. Di saat yang lain sedang keluar menikmati waktu break mereka, Chaterine malah lebih memilih bermalas-malasan di atas mejanya, melepas penat setelah berolahraga. Andai dirinya punya alasan ke UKS, mungkin sedari dati dia sudah izin untuk tidur di sana, ranjangnya empuk tidak seperti meja kayu yang ada di kelasnya.
“Ket! Ada yang cariin lo!” Teriakan seseorang dari pintu membuat Chaterine mendongak melihatnya.
Di depan sudah berdiri seorang pria tinggi yang melambai manis kepada Chaterine. Gadis itu kemudian menghampirinya. “Kenapa kak Hans?” Tanya nya tersenyum ramah.
“Gambar lo udah di kumpul belum? Kalau belum kuy kumpulin bareng, gw mau ke bawah juga nih.” Ucapnya mengangkat kanvas berukuran sedang di tangannya.
“Bentar gw mau ambil gambarnya dulu.” Chaterine berjalan kembali ke mejanya, kepalanya sedikit di tundukkan kala melihat isi laci. Satu-satu Chaterine mengeluarkan barang di dalam lacinya. Gelisah. Rasa gelisah menyeruak kala Chaterine tak melihat kanvas di dalam lacinya. Wajahnya terlihat panik. ‘Gambar gw kemana nih?’ Batinnya. Dengan tergesa ia mengecek laci Reano, namun hasilnya nihil.
“Astaga gambar gw kemana?”
Gadis itu mulai mengecek seluruh laci murid yang ada di dalam kelasnya, rak buku, meja guru hingga sudut ruangan ia cek tapi tidak ketemu sama sekali.
Pandangannya mulai buram, ada yang ingin keluar dari matanya namun di tahan. Gambar ini sangat penting, gambar yang akan menjadi penentu nilai raportnya. Jangan sampai bundanya merasa kecewa kali ini.
“Kenapa?” Tanya Hans menghampiri Chaterine dari belakang. Pria tersebut dapat menangkap raut panik dari wajahnya.
“Gambar gw hilang kak.” Keluh Chaterine meremas rambut frustasi.
“Hah kok bisa? Nilai lo gimana dong?” Tanya Hans kaget.
Chaterine menggigit bibir bawahnya, otaknya bekerja berusaha mencari cara agar nilainya tetap masuk.
‘Itu dia! Gw masih punya salinanya!’ Benar saja, kemarin malam Chaterine membuat salinan dari gambar yang ia bawa hari ini.
“Kakak kumpul duluan aja! Gw ada urusan!” Chaterine dengan cekatan berlari keluar kelas.
Kakinya berlari kencang melewati belasan kelas, hingga akhirnya sampai di pagar belakang sekolah. Gadis itu menginjakkan kakinya satu-satu di lubang-lubang yang terbentuk di pagar dinding tersebut, hingga dirinya berhasil melewatinya. Gadis itu lanjut berlari menuju halte bis terdekat.
“Ck. Sialan!” Chaterine baru ingat kalau jam segini bis sudah jarang muncul karena jam sibuk sudah berlalu. Begitupun dengan taksi, tidak ada satu pun taksi yang lewat di sana. Pelupuk matanya sudah tidak sanggup membendung air matanya. Tanpa malu, cairan tersebut mengalir dengan deras. “Sialan! Ini hari tersial buat gw!”