
Chaterine berjalan bolak balik dilantai kamarnya. Selagi kakinya berjalan tak tentu arah, otaknya berusaha
mengambil sebuah keputusan yang sulit baginya. Hampir 10 menit lebih gadis yang masih menggenakan baju tidur itu melakukan hal yang sama. Apakah dia tidak capek berjalan bolak-balik seperti itu?
Diremasnya ujung baju tidurnya untuk menyalurkan rasa bimbang yang mengisi kepalanya saat ini. gadis itu mengigit bibir bawahnya bingung mencoba memilih salah satu dari dua pilihan yang ada. Masih tidak menentukan pilihan, ia kemudian melemparkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. “Argghh! Ya kali gw ikut jenguk Reano setelah kejadian kemarin siang. Tapi kalau gk ikut jadi gk enak sama yang lain yang usahain buat datang. Hhh...”
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Chaterine.
“Iya masuk.” Ucapnya masih mempertahankan posisi tidurnya di ranjang.
Tak lama dari balik pintu muncul seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat diwajahnya.
“Sayang kok masih belum mandi? bukannya kamu sama temen-temen kamu mau kerumah temen kamu ya?” Tanya Lena duduk di sebelah Chaterine.
“Hhhh... itu dia bun, aku lagi bingung. Lebih baik ikut kesana atau enggak?” Keluh Chaterine pada ibunya.
Lena mengelus lembut surai putri kesayangannya itu, ditatapnya anaknya itu dengan cinta. “Pergi aja gih. Lagian temen kamu sakit kamu gk ikut?”
Chaterine menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Bagaimanapun juga Reano sudah menolongnya beberapa
kali, tidak mungkin dia akan mencueki pria itu saat dia dalam keadaan sulit. Chaterine beralih menatap ibunya, “Oke deh, aku mandi dulu ya bun, mau pergi ke rumah Reano.” Ucap gadis itu segera berjalan ke arah kamar mandi.
Lena tersenyum, “Ingat dandan yang cantik biar mamanya temen kamu gk ilfeel.”
“Bunda ihh!” Kesal gadis itu setengah berteriak. Lena tertawa senang bisa mengerjai putrinya itu.
20 menit berlalu dan Chaterine sudah selesai dengan mandinya. Gadis itu keluar dari kamar mandi hanya dengan tertutup handuk sebatas dada saja. Dilihatnya ranjangnya yang kosong yang berarti ibunya telah pergi. Segera ia ambil segala perlengkapan yang ia butuhkan mulai dari pakaian dalam hingga blus dan rok yang akan ia kenakan.
Selesai mengenakan pakaian, langkah terakhir adalah memberi sedikit polesan diwajahnya agar terlihat lebih segar
namun tidak norak. Liptin berwarna soft dengan bedak bayi saja sudah cukup untuk membuat Chaterine bertambah cantik. Sebelum keluar kamar, gadis itu sempat melirik kalung di atas nakasnya. Kalung emas yang bertuliskan namanya, terlihat simpel namun elegan. “gw pake aja kali kalungnya?” tanya nya pada diri sendiri. Tanpa berlama ia segera mengambil kalung tersebut dan mengenakannya di leher jenjangnya.
Chaterine berjalan terburu kebawah dengan tas slempang kecil yang meggantung dibahunya. “Bun! Aku pergi yah!”
Teriaknya dari tangga.
Lena yang berada tak jauh dari sana memberi sebuah isyarat kepada putrinya. “Itu di dapur mama udh siapin buah, dibawa gih.” Ucap Lena.
Segera Chaterine mengubah haluan kedapur lalu buru-buru membawa buah tersebut. “Ya udah aku pamit yah! Bye!”
“Tunggu!” Tahan Lena.
Chaterine spontan berhenti membuatnya hampir terjungkal. “kenapa lagi bun?”
“Kamu pergi di anter abang aja ya.” Ucap Lena.
Chaterine mendesah. “Gk usah bun, aku naik bus aja, lagian juga haltenya dekat komplek.” Ucap Chaterine berusaha menolak dengan halus. Dia sudah dewasa, tidak seperti dulu lagi yang kemana-mana harus diawasi pikirnya.
“Iya deh. Hati-hati dijalan! Ingat jangan lupa pulang!”
Chaterine terkekeh, “Ya kali aku tinggal disana, hahaha! Ya udah, bye bunda!”
“Bye sayang!”
*****
Disinilah Chaterine sekarang, didepan pintu salah satu apartemen mewah di kotanya. Sebenarnya sudah sedari 3 menit yang lalu ia disana, tetapi tidak berani untuk masuk.
“Kakak Chaterine!”
Teriakan nyaring seseorang membuyarkan lamunannya.
“Eh ivan?!” kaget Chaterine melihat anak itu berlari ke arahnya.
“Kakak ngapain ke rumah kak Reano? Kangen yah, xixixixi...” Ucap bocah itu spontan membuat pipi Chaterine memerah.
“G- gk kok. Ini aku mau jenguk bareng teman-temannya yang lain.” Ucap Chaterine gugup.
“ivan juga mau jenguk kak Reano loh. Ini ivan bawa kue buatan mama.” Ucapnya sembari mengacungkan kotak bekal bermotif spongebob diatasnya. Chaterine berusaha menahan tawa melihat tingkah manis bocah dihadapannya ini. ingin sekali rasanya ia mengarungi Ivan dan membawanya pulang kerumah sangking gemasnya.
“Sini, kita masuk bareng.” Ucap Ivan meraih tangan Chaterine. Seketika hati gadis itu menjadi hangat berkat Ivan.
“Halo semua!”
Semua fokus orang-orang yang ada didalam sana teralihkan kala mendengar suara anak-anak.
“Astaga ket?! Lu culik anak orang dimana?! Balikin oy, kasihan mamanya nyariin.” Ucap Hugo terkejut melihat bocah disebelah Chaterine.
Gadis itu menghampiri Hugo dan memberikan sedikit timpukkan di kepalanya. “Lo ngomong di filter dulu uy, gw tikam juga lo lama-lama.” Ucap Chaterine galak.
“Etdah garang bet. Pms nih pasti.” Ucap pria itu kelewatan. Masa iya dia mengatakan hal seperti itu di sini, apakabar dengan Ivan yang masih polos?
“Gw gebuk lo yah kalau masih berani ngomong yang aneh-aneh.” Ancam Chaterine.
“Iya-iya maap.”
“Sepupu lo ket?” Tanya Bless yang duduk disebelah Hugo.
“Bukan. Tapi adek gw.” Ucap Chaterine mendudukkan dirinya di sofa kosong disebelah Bless.
“Eh? Perasaan lo anak terakhir deh.” Heran Hugo bertanya.
“Mau gw jelasin pun lo gk bakalan ngerti.” Ketus Chaterine membuang pandang ke arah lain.
Hugo menggerutkan dahi heran dengan betina satu itu, sedangkan Bless hanya terkekeh menyaksikan pertengkaran kekanakan itu. Hugo beralih ke arah Ivan lalu menariknya ke hadapannya.
“Kamu siapanya Chaterine hayo? Ayo yang jujur, kalau bohong entar di culik hantu loh.” Tanya Hugo pada Ivan.
Ivan memutar bola matanya malas. “Om pikir ivan percaya kalau berbohong itu bakalan diculik hantu? Ivan udah gede gk percaya sama yang begituan.” Ucapnya terlihat kesal kepada Hugo.
“Weh! Gw setua itu kah sampai dipanggil om-om?!” Tanya Hugo pada dua orang disebelahnya, di lain sisi Chaterine dan Bless berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.
“Biasanya anak kecil itu jujur loh. Berarti yang dia bilang bener-pfft.” Ejek Bless membuat Hugo semakin geram.
“Huh! Ya udah kita gk temenan! Sana-sana balik ke Chaterine.” Kesal hugo pada Ivan.
“Biarin aja! Ivan juga gk mau temenan sama om jelek, huh!” Segera anak itu meninggalkan Hugo dan beralih kepangkuan Chaterine. “Kakak, kakak jangan mau temenan yah sama om jelek itu. Orangnya aneh.” Ucap Ivan berbisik di telinga Chaterine.
“Ngomong apaan bocah?!”
“Om tua gk bakalan ngerti, ini cuman omongan anak muda, wleekkk.”
Wajah Chaterine memerah karena tertawa. Perutnya seperti digelitiki membuatnya tak tahan. “Bwahahaha! Kalian
kenapa sih ngakak gw liatnya, hahaha!”
Tanpa sadar Bless tersenyum melihat perempuan disebelahnya, andai saja dirinya bisa seberani pria-pria lain dalam mengungkapkan perasaannya.
“Eh, cuman bertiga nih? Yg lain mana?” Tanya Chaterine setelah mengakhiri tawanya.
“Yang lain masih pada dijalan, mereka pasti datang kok.” Ucap Bless dibalas anggukan oleh Chaterine.
Tidak lama suara langkah kaki mengalihkan perhatian keempat orang itu. Segera Ivan berlari ke arah tangga
sambil merentangkan kedua tangan. “Nenek!” Soraknya setelah berada didalam pelukan wanita paruh baya yang baru datang.
“Hallo Ivan. Kamu kapan datang sayang?” Tanya wanita itu manis kepada Ivan.
“Ivan barusan datang, bareng kakak Chaterine.” Ucap bocah tersebut menunjuk kearah Chaterine membuat Chaterine gugup karena ditatap oleh wanita itu.
“Ha-halo tante.” Sapa Chaterine gugup.
“Hallo juga. Kamu perempuan yang diajak Reano waktu acara nikahannya Saga ya?”
Chaterine terkejut, begitu juga dengan Hugo dan Bless yang sama sekali tidak mengerti hubungan Chaterine dan wanita tersebut.
“Iya tante.” Balas Chaterine berusaha meredam rasa malunya setelah kejadiaan yang terjadi saat di acara pernikahan tersebut.
Perempuan itu tersenyum ramah, “Kalian mau jenguk Reano kan? Langsung keatas aja gih, Reano lagi malas turun kamar.” Suruh perempuan tersebut.
“Iya tante, permisi ya.” Ucap ketiganya hampir bersamaan lalu langsung ke kamar Reano.
“Nenek, Ivan ikut kakak Chaterine ke atas ya. Sekalian mau kasih kakak Reano kue yang mama buat.” Ucap Ivan turun dari gendongan wanita tersebut. “Ya udah, hati-hati naiknya nanti jatuh.”
Peringat Wanita tersebut melihat Ivan yang berlari di tangga.
“Siap komandan!”
Bless, Hugo dan Chaterine sudah sampai didepan pintu kamar Reano. Tanpa mengetuk terlebih dahulu Hugo langsung saja menerobos kedalam sana, membuat Reano kaget hampir terjatuh.
“Holla bebeb kyuh!” Ucapnya berlari menghampiri Reano dengan wajah menjijikannya. Segera Reano menghindar dengan estetik membuat Hugo terjatuh karena tidak bisa menahan keseimbangan. “Bjir, sakit jir.” Keluh Hugo mengelus jidatnya yang terbentur.
“Dasar laki-laki belok.” Sinis Reano membuat Hugo berdecak kesal.
“Bwahahaha om jelek jatuh! Rasain!” Ejek Ivan sambil tertawa keras.
“Hey kau bocah!”
Chaterine terkekeh melihat tingkah mereka, lalu perhatiannya tertuju kepada Reano yang tersenyum. Entah mengapa disaat yang sama Reano juga menoleh ke arah Chaterine membuat keduanya saling memerah.
Bless yang memperhatikan gelagat Chaterine dan Reano mengepalkan tangan kesal. Apa-apaan maksud dari tatapan itu?! Membuat kesal saja! Pikir Bless. Segera Bless menarik Chaterine masuk kedalam, membuat Reano melemparkan tatapn sengit kepada Bless.
“Eum, ini buah titipan dari bunda.” Chaterine menyodorkan kantung plastik itu yang langsung diterima Reano. “Bilang makasih ke tante Lena.” Ucap Reano menaruh buah tersebut ke nakas disebelah ranjangnya. “It’s oke, gk perlu sungkan.”
“Ivan juga bawa kue loh buat kak Reano, ayo diambil.” Ucap anak itu menyodorkan kotak bekalnya yang disambut hangat oleh Reano. “Makasih Ivan sayang.” Ujar Reano mengecup pipi Ivan.
Bless semakin geram melihat drama di depannya, ingin sekali segera meninggalkan tempat itu karena sesak yang dirasakan.
“Kalian duduk dulu, gw mau keringin rambut bentar.” Suruh Reano kepada teman-temannya, lalu beranjak mengambil handuk kecil dilemarinya.
“Memar di punggung lo masih ada?” Tanya Chaterine malu-malu.
“Belum. Bisa bantuin gw pasangin gk?” Ucap Reano sama meronanya dengan Chaterine.
“Bo-“
“Gw aja yang masang.”
Belum sempat Chaterine menyelesaikan kalimatnya, Bless segera menyela dengan cepat.
Chaterine menatap Bless bingung, jarang sekali pria itu menawarkan diri untuk melakukan hal-hal semacam itu. Berbeda dengan Chaterine, Reano malah menatap Bless sengit.
‘oh shit! Jangan bilang saingan gw nambah sebiji?!’ Rutuknya dalam hati.
“Di obatin gk nih?” Tanya Bless tersenyum. Jelas sekali senyuman itu sangat dipaksakaan.
‘What? Okay gw ikutin permainan lo.’ Batin Reano.
Segera ia melemparkan salep kepada Bless di sertai senyum manisnya. “Sorry ngerepotin bro.” Ucapnya dengan nada mencekam.
Dari kejauhan Ivan dan Hugo menyaksikan dua pria yang beradu disana. “Eh bocil, lu ngerasa ada hawa mengerikan gk?” Tanya Hugo tanpa menatap Ivan.
“Iya om, Ivan ngerasain.” Jawab Ivan fokus dengan kedua pria dihadapannya.
“Etdah, manggil gw om mulu?! Gw pok mau?!” Galak Hugo sembari mengangkat sendalnya.
“Pok aja kalau berani?! Nanti Iva aduin ke mama sama nenek, huh!” Balas Ivan menantang.
Dilain sisi Chaterine merasa sangat canggung dengan suasananya. Dirinya bingung mau melakukan apa, alhasil dia lebih memilih duduk tenang di tempatnya.