REANO

REANO
Chapter 49



Seorang pria yang sudah melekat dengan baju tidurnya terlihat sedang memikirkan banyak hal yang membuatnya tidak tenang. Pikirannya sedari tadi tidak bisa berpaling dari Chaterine, bagaimana tidak sepertinya gadis itu sedang marah kepadanya. Mungkin karena perempuan yang tiba-tiba mendekati dirinya.


“Hhhh... gw telepon aja kali.” Pria itu bergegas mengambil posel dan mencari kontak Chaterine disana.


Tut... tut... “Hallo.” Ucap reano ketika panggilan nya sudah diangkat.


“...” Tidak ada jawaban dari si lawan telepon, namun tak lama gadis diseberang sana membuka suara.


“Nomor yang anda tuju sedang malas berbicara, mohon pengertiannya.”


Reano sempat bingung dengan jawaban tersebut, namun tak lama pria itu terkekeh geli menyadari  maksud gadis tersebut. “Apasih, hahaha...”


“Error-“ Ucapnya singkat membuat Reano semakin geli.


Pria itu membalikkan badannya untuk mendapat posisi yang nyaman saat berbicara dengan Chaterine. “Lu kenapa hmm? Dari tadi di mobil sampai rumah lu gk ada ngomong sama sekali.” Tanya nya mulai serius.


“Entah.”


“Karna cewek tadi?”


Chaterine terdiam, meninggalkan suasana hening ditempat Reano.


“Kalau karena cewek tadi, gw juga bingung mau ngejelasinnya gimana ke lu.”


“Tuh kan! Lu aja bingung mau ngejelasin apaan ke gw! Cepet kirim alamat tuh cewek, biar gw tenggelamkan dia di segitiga bermuda!” Ucap Chaterine bertubi-tubi  karena kesal.


Reano tersenyum tipis mendengar penuturan gadis yang sudah sangat jelas sedang cemburu itu. Sebuah ide terpikirkan di kepala Reano untuk mengerjai gadis tersebut. “Hmm... gimana ya. Sebenarnya ini salah lu sih, ngapain juga masih gantungin gw gini, jadinya cewek lain masih ada celah buat masuk kan?” Ucap Reano membuat gadis di seberang sana semakin meluap kecemburuannya.


“Ngomong gitu lagi lu, gw tenggelamkan juga lu bareng tuh cewek ganjen!”


Reano tertawa terbahak sampai air matanya ikut keluar. Sungguh puas rasanya bisa membuat gadis kesayangannya itu cemburu. “Iya-iya, gw gk ngomong gitu lagi. Ututut gemesnya masa depan gw.”


“Ekhm, iyain. Gw mau tidur bye.” Tut-.


Panggilan telepon diakhiri oleh Chaterine membuat Reano bingung lagi dengan kesalahan nya. Tapi tidak masalah, setidaknya Chaterine sudah tidak semarah tadi dan sudah mau berbicara dengannya.


Reano menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang empuknya, melepas penat yang ia rasa setelah bermain seharian.“Hhhh... tapi jujur, gw masih bingung tuh cewek siapa.” Ucapnya dalam hati. Dari pada memperdulikan masalah gadis tadi, Reano lebih memilih untuk segera tidur karena memikirkan sesuatu yang tidak jelas bukanlah cara nya menyelesaikan masalah.


Disaat Reano sedang tertidur pulas, Chaterine di balik selimutnya malah memikirkan gadis tadi. Gadis itu sesekali memukul dan meremas boneka pony nya untuk menyalurkan kekesalan. Apa yang seharusnya tidak ia pikirkan malah ia pikirkan hingga tidak bisa tidur.


“Sialan! Gw gk mau punya saingan, huwaaa bunda...”


Ucapnya tidak terima sambil menggeliat tak jelas diatas ranjang.


Sebenarnya yang Chaterine kesalkan adalah bagaimana harga diri nya kedepan. Dengan adanya parasit satu itu pasti memaksakan Chaterine untuk berusaha meyakinkan pria yang ia suka bahwa hanya dirinya yang cocok menjadi pasangannya kedepan. Tidak masalah jika Chaterine hanya murid biasa di sekolah nya, mengejar pria yang disukai tidak masalah, namun karena dia sudah dikenal dengan ke ‘anti-an’ nya kepada laki-laki oleh satu sekolah. Takutnya ia malah di ejek oleh murid lainnya, dan seketika dirinya yang dulu ditakuti banyak kalangan disekolah nya akan direndahkan. No, no besar. Hal itu tidak boleh terjadi, gengsi dan harga diri adalah kekuatan yang Chaterine miliki.


“Huh bodoamat dah!”


*****


Chaterine terbangun kala jam beker nya berbunyi tepat di pukul 05.30. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya berusaha bangkit dari atas kasur. Kantung matanya yang menghitam menandakan bahwa gadis tersebut tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Setelah segala kekuatannya terkumpul, barulah chaterine bersiap-siap ke sekolah, padahal rencananya hari ini ia tidak akan masuk karena masih mengantuk tapi jika mengingat kembali ocehan bunda karna bolos sehari sudah membuatnya ngeri-ngeri sedap.


Pakai seragam sudah, kini tinggal berangkat. Dengan malas gadis itu menyeret tas yang di isi sebuah buku dan pulpen saja.


“Pagi.” Ucap Chaterine setelah mengetahui keberadaan buunda dan ayahnya di ruang keluarga.


“Pagi sayang, tumben cepat bangun?” Tanya Lena terheran-heran.


“Sarapan dulu baru pergi!” Teriak nya melihat putri nya yang berlaluu begitu saja.


“Chaterine minum susu moo-moo aja di jalan.” Ucapnya sebelum menghilang dari balik pintu.


“Haish anak itu...” Keluh lena mencemaskan putri nya.


“Udah tenang saja, anak kita udah tau mana yang baik buat dia.” Ucap gilang mencoba menenangkan istri nya.


Pagi ini Chaterine memutuskan untuk naik bus ke sekolah, selain untuk mengurangi emisi bahan bakar juga untuk menghemat energi nya. Coba saja jika ia menunggu diantar Nathan, pasti energi nya akan habis terpakai untuk berperang melawan Nathan.


Tidak perlu menunggu lama di halte, bus nomor 02 yang tujuannya dekat SMA Budi Sakti tiba. Di dalam cukup banyak orang karena memang jam berangkat orang kantoran dan anak-anak sekolah. Chaterine duduk di kursi paling belakang di dekat jendela, disana cukup sepi memudahkannya untuk leluasa berlengak-lengok. Dikeluarkannya susu moo-moo rasa cokelat dari dalam tas nya, bulir air dari luar kotak susu yang dingin membuat tas dan rok nya sedikit basah.


“Ck! Ngundang emosi nih susu, untung rasa cokelat kalau bukan pasti udah gw buang lu!” gerutu Chaterine.


“Ekhm! Gw boleh duduk disini?” Suara seorang gadis mengalihkan perhatian Chaterine.


Chaterine terpaku, seketika tatapannya menjadi dingin, “Gk boleh!” Ucap nya ketus.


Gadis tersebut tersenyum miring, tanpa persetujuan Chaterine ia dengan santai duduk di kursi kosong disebelah Chaterine.


“Lu punya telinga gk? Atau perlu gw minta ayah buat beliin alat bantu pendengaran buat lu, hah?!” Cerocos Chaterine ketika mendapati manusia itu duduk di sebelahnya.


“Gw karin, salam kenal.” Bukannya menjawab pertanyaan Chaterine, ia malah memperkenalkan siapa diri nya.


Chaterine merutuki gadis disebelahnya, lebih baik saja ia menunggu Nathan tadi walau harus perang urat dulu. Seaneh-aneh nya Chaterine, gadis di sebelahnya ini jauh lebih aneh bahkan terkesan gila bagi Chaterine.


Chaterine menyesap susu nya tenang tanpa memperdulikan gadis di sebelah nya.


“Lu cewek yang kemarin bareng Reano gw kan?” Tanya nya seakan-akan lupa dengan pertemuan mereka kemarin.


Chaterine pura-pura tak mendengar, cukup membayangkan itu suara kentut bang Sat saja yang tidak perlu di ambil pusing.


“Yah gpp sih kalau lu jalan bareng cowok gw, karna ujungnya Reano bakalan tetap jadi milik gw.” Lanjut nya angkuh.


Chaterine membalasnya dengan tatapan tak peduli. Tapi tidak lama Chaterine tersenyum manis kepada perempuan yang diketahui namanya Karin itu, bahkan lebih manis dari gula pasir bahkan gula aren sekalipun. “Baka.” Ucap Chaterine masih dibarengi senyum manis nya.


Karin mengernyitkan dahi tak mengerti dengan apa yang baru Chaterine ucapkan. “Lu ngomong apaan?!” Tanya nya penasaran.


Chaterine mengedikkan bahu tak peduli. Raut geram terlihat jelas dari wajah karin, membuat Chaterine bahagia karena berhasil mengejek gadis itu, yahh... walau si gadis gila itu tidak mengerti  arti ejekaan nya.


Untung saja Chaterine menggunakan bahasa Jepang, kalau bahas Korea mungkin sudah ketahuan. Ya mau bagaimana lagi dijaman sekarang anak muda mana yang tidak mengerti beberapa kata dalam bahasa Korea, terutama para cewek-cewek. Sebuah keberuntungan besar bagi Chaterine menjadikan streaming anime sebagai hobi baru nya selain menonton MV dari idol grup yang disukai nya.


20 menit lamanya Karin mengoceh tak jelas tentang siapa dirinya dan tekad nya untuk mendapatkan Reano, namun Chaterine sama sekali tidak memperdulikannya sampai-sampai Karin emosi.


“Lu dengar gk sih gw ngomong dari tadi?!” Sentak nya membuat Chaterine reflek mengelus dada kaget.


“Kagak lah.” Balas Chaterine acuh tak acuh membuat gadis itu semakin marah.


“Lu-,” “Pemberhentian kedua!” Ucap sang supir memotong kalimat karin.


Chaterine melempar senyum konyol kepada karin. “Yah tujuan gw udah sampai. Pay-pay cewek gila!” Setelah mengucapkan itu Chaterine segera berlari keluar bus, tak lupa memeletkan lidah kepada Karin.


“Arghh sialan!” Umpat Karin.