
"Asalkan ada dia, gue mau." Ucap Reano.
"Dia siapa?" Tanya Netter penasaran.
"Chaterine. Calon pacar gue." Jawab Reano enteng.
"Ngarep lo!" Sinis Chaterine melipat tangan di dada tanda ia mulai kesal. Siapa sih yang gak kesal kalau sedari tadi cowok yang baru beberapa jam kalian kenal mengaku-ngaku menjadi calon pacar kalian. Hal itu yang gadis itu tengah rasakan, bahkan hal yang paling menyebalkannya saat pria tengil itu meneriaki nama Chaterine berulangkali tanpa ada tujuan. Tentu hal itu mengundang tatapan dan gosip-gosip aneh dari murid yang mendengarnya.
"Kok gitu sih Alexayang." Goda Reano mencolek lengan Chaterine yang membuat gadis itu ingin menendang cowok itu dari atas jurang yang di bawahnya ada batu-batu tajam yang siap menancap pada tubuh manusia Kepedean itu.
"Pa'an sih lo." Kesal gadis bermata hazel itu.
"Kantin yuk. Gue yang bayarin." Ajak Reano kepada sahabat-sahabat barunya itu.
"YUK!" Sahut yang lainnya bersemangat sambil berlari kocar-kacir menuju kantin.
Bocah memang.
*****
"Kalian mau makan apa? Baso, atau apa? Pesen aja sana. Nanti gue yang bayarin." Ucap Reano mempersilahkan teman-temannya memesan sepuasnya.
"Nggak baso. Istirahat pertama tadi, gue sama yang lain udah habisin baso satu gerobak. Pesen yang lain aja." Ujar Aditya menolak untuk memesan baso.
"Gimana kalau batagor." Tawar Laly.
"Boleh tuh." Sahut Raka.
"Minumnya?" Tanya Reano.
"Air mineral dingin aja." Jawab Flora cepat.
"Oke. Gue pesenin dulu, ya." Reano berjalan menuju gerobak batagor milik kang usep. Mulutnya nampak komat-kamit menyebut pesanan sahabatnya dari kejauhan. Setelah itu ia kembali ke area berpenghuni anak-anak iblis.
Sambil menunggu, anak-anak lainnya memulai pembicaraan unfaedah mereka tanpa memperdulikan orang-orang sekitar yang merasa risih dengan suara yang bocah-bocah itu tengah buat.
"Eh, kalian pada tau gak MV BTS yang War Of Hormone?" Tanya Chaterine antusias.
Yang ditanyai hanya mengangguk meresponi pertanyaan itu.
"Gila! Taehyung ganteng banget di situ!" Pekik Chaterine tak tertahankan.
Chaterine memang sangat menyukai BTS terutama Kim Taehyung, salah satu vokalis dengan nama panggung V. Sebenarnya Chaterine baru satu tahun terakhir ini mengenal grup band asal Korea Selatan itu. Awalnya gadis itu mendengar lagu BTS saat sahabat-sahabatnya memutarnya saat di kelas, lama kelamaan ia mulai menyukai BTS.
"Suga juga ganteng banget!" Ucap Chelsy kegirangan.
"Bener lo! Mereka pada ganteng semua sumpah!" Teriak cewek lainnya.
Mereka kemudian membicarakan keistimewaan para idola mereka tanpa henti, bahkan hingga melupakan jika Reano dan cowok lainnya masih berada di situ.
"Mereka kok semangat banget ngomongin banci?" Bisik Reano pada Hugo.
"Gak tau. Heran juga gue." Bisik Hugo.
"Banci kok dibanggain." Ejek Krisman tetap dengan suara kecil, takut jika kumpulan singa itu mendengarnya.
"Gue saranin nih, ya. Jangan pernah lo jelek-jelekkin banci itu didepan mereka." Ucap Hugo menyarankan.
"Napa emang ?" Tanya Reano.
"Lo bisa masuk rumah sakit hari itu juga, tapi kalau Tuhan lagi baik lo hanya dapat lebam ditubuh." Reano menatap pria tampan dihadapannya tidak percaya.
"Makasih sarannya." Hugo hanya membalas dengan memberi simbol 'oke' dengan tangannya.
Makanan datang, dan para monyet-monyet lapar dengan tak sabaran memakan batagor tersebut.
"Kayak monyet lo kalau makan." Ejek Raka pada Aditya.
"Lo juga !" Balas Aditya tak terima.
"Sesama monyet kok berantem." Ejek Netter setelah mengunyah sendokan ketiga dari batagornya.
"Diam lo Julianto !" Teriak Raka dan Aditya bersamaan.
"Yaelah, bapak gue kok dibawa-bawa." Kesal Netter.
"Gak ada yang bawa-bawa bapak lo, orang bapak lo berat." Chaterine menyahuti sambil terkekeh kecil.
"Gak nyambung !"
Reano terkekeh melihat kelakuan gila sahabat barunya itu, benar-benar bertolak belakang dengan sahabatnya dulu. Ralat. Mantan sahabatnya yang pernah merebut kebahagiaannya.
"Lucu. Lo lucu." Reano mencubit gemas pipi Chaterine yang tengah tertawa.
Chaterine berhenti tertawa, sorot matanya tertuju pada pria dihadapannya.
"Lepas !" Ketus Chaterine melepas paksa tangan Reano dari pipinya, dan jangan lupakan dengan semburat merah dipipinya. Yap ! Chaterine blushing diperlakukan seperti itu.
"Cieee" sorak yang lainnya.
Chaterine tidak terima diejek seperti itu. Tiba-tiba terlintas ide jahat dalam otak gadis itu.
"Kamu tau gak, bedanya kamu sama kotoran ?" Tanya Chaterine memasang senyum manisnya. Bahkan sekarang gadis itu memanggil cowok Kepedean itu dengan 'kamu'.
Sedangkan Reano yang ditanyakan seperti itu berusaha menahan rasa senang yang bergejolak dalam dirinya. Reano jelas sangat senang karena gadis yang ia incar memanggilnya dengan 'kamu', dan yang paling membahagiakan gadis itu mulai berani menggombalinya.
"Yaelah ket, masa lo gak tau. Kotoran itu bau dan menjijikan, kalau dia lo tau sendiri, kan." Siska dengan bodohnya malah menjawab pertanyaan Chaterine.
Chaterine menatap gadis pendek itu sinis "Gue gak tanya lo."
"Lo tau gak ?" Tanya Chaterine mengulangi.
"Gak tau. Emang apa ?" Tanya Reano dengan senyum yang terpampang jelas diwajah tampannya, berharap gadis itu melontarkan kalimat-kalimat manis.
"GAK ADA BEDANYA ! HAHAHAHA." Jawab Chaterine diakhiri tawanya.
"HAHAHAHA KASIAN LO !" Tawa yang lainnya.
"Berharap banget gue gombalin."
Pupus sudah harapan Reano. Bukannya mendapat gombalan ia malah mendapat hinaan. Sungguh ter-la-lu kalau kata bang Roma.
Sedangkan Chaterine, gadis itu tak henti-hentinya tertawa mengejek Reano.
*****
"Semua gara-gara lo !" Tuduh Nuel.
"Kok gue ?!" Tanya Raka tak terima.
"Lo yang duluan gombalin bu Ian." Jelas Netter.
"Kalian juga setan !" Jelas Raka tak terima dituduh seperti itu. Memang Raka yang memulai, tetapi bukan berarti dia penyebab mereka bertiga dikeluarkan dari kelas, sangat jelas jika Nuel dan Netter ikut andil dalam misi menggombali guru prakarya itu.
Flashback on
Kini geng 'bucin sejagad' yang Riski buat tengah duduk manis di dalam kelas. Entah apa yang merasuki bocah-bocah itu, mereka nampak lebih tenang dari biasanya. Tentu hal itu membuat penghuni kelas kebingungan.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar memasuki kelas XI-2. Sipembuat suara adalah ibu Ian, guru prakarya yang bohay abis.
"Pagi !" Sapa bu Ian. "Pagi bu !" Balas para murid serentak.
"Hari ini kita akan membuat pahatan hewan dari kayu. Kalian semua sudah membawa bahan ?"
"Sudah bu."
Raka nampak mengacungkan tangannya ke atas.
Bu Ian yang melihat, memutar bola matanya malas. "Ada apa ?" Tanya guru cantik itu sedikit ketus.
"Ngomong-ngomong soal hewan, ibu tau gak bedanya ikan dengan saya ?" Tanya Raka antusias.
Guru cantik itu memutar bola matanya malas, ia sungguh jengah dengan gombalan dari murid laknat itu. "Ibu tidak tahu, dan sama sekali tidak ingin tahu."
"Bagus kalau ibu penasaran. Saya beritahu kalau begitu." Sahabat-sahabat Raka mati-matian menahan tawa melihat Bu Ian yang mulai kesal.
"Kalau ikan tidak bisa hidup tanpa air, kalau saya tidak bisa hidup tanpa ibu. Eeaaa."
Riuh piuh teriakan siswa memenuhi kelas XI-2. "LANJOT TROSS." Begitulah penggalan dari teriakan para siswa kelas tersebut.
"Ok sekarang gue. Masih tentang hewan. Ibu tau gak hewan yang bisa ngungkapin perasaan." Kini giliran Netter.
"GAK TAU." Teriak siswa kelas itu.
Netter menyapu pandangan keseluruhan kelas dibarengi senyum manisnya. "Kucing."
Penghuni kelas nampak bingung dengan jawaban Netter. "Kucingta kamu." Lanjut pria jakung tersebut.
"EEAAA" Heboh yang lainnya.
"Sekarang gue." Nuel berdiri di tempat ingin lanjut menggombali bu Ian.
"Gak, gue sekarang !" Larang Raka.
"Kok lo, sekarang gue kali !" Ucap Netter menyolot.
"Gak, gue sekarang !" Nuel hendak menarik kerah baju Raka tetapi terhenti oleh teriakan seseorang.
"Nuel, Raka, Netter ! Keluar dari kelas saya !" Emosi Bu Ian sepertinya sudah benar-benar meledak. Tidak biasanya ia menyuruh keluar sahabat Chaterine saat menggombali dirinya. Biasanya guru berbody goals itu hanya akan mendiami bocah-bocah perusak suasana itu.
Flashback off