
"Ahh, pulang juga akhirnya. Pegel semua badan gue." Raka memijit-mijit bahunya yang nampak kelelahan.
"Serius deh, kalau pak Rahmat ngejelasin materi, gaje banget sumpah." Laly berdecak kesal.
Selama pelajaran pak Rahmat tadi, tidak ada satupun materi yang dapat otaknya cerna, bahkan sebesar upil Netter pun tidak. Dan yang paling menyebalkannya, guru berkepala botak itu terus menanyai laly dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya mampet.
"Bener lo." Sambar Chaterine.
"Kalian mau lihat karya seni yang sempat gue abadikan, gak?"
Reano nampak mengambil ponselnya di dalam saku celana, lalu menyodorkannya pada Chaterine.
Anak-anak lainnya mendekat kearah Chaterine lalu melihat isi ponsel tersebut.
Chaterine menatap Reano ragu. "Lo demen pak Rahmat?" Tanya gadis itu takut-takut.
Reano menghembuskan nafasnya panjang. "Alexayangggg, Reano tamvan demennya hanya sama kamu."
"Mulai lagi deh." Cemberut Chaterine.
"Lagian, gak mungkin gue demen pak Rahmat. Gue masih normal." Lanjut pria itu mengambil ponsel dari tangan Chaterine.
Tangannya dengan lihai menggeser-geser layar ponsel berlogo apel digigit kesayangannya.
"Ini yang gue maksud." Reano kembali menyodorkan ponselnya pada Chaterine.
"HAHAHAHA! Gile! Upil nya gede banget. HAHAHAHA!" Chaterine tak kuasa menahan tawanya melihat foto pak Rahmat yang di zoom tepat di hidung lebarnya.
"HAHAHAHA ! Ngakak bener!" Tawa Netter disusul tawa anak-anak bekicot lainnya.
"Hebat lo. Salut gue." Puji Kristin menepuk bahu Reano pelan.
"Ini masih belum hebat." Krisman berucap seakan memiliki rencana yang lebih hebat untuk mengerjai guru Bahasa Indonesia itu.
"Maksudnya?" Tanya Chelsy bingung.
"Kalian tenang aja, biar gue yang urus kali ini."
*****
"Bundaaaaa. Chaterine manis udah pulangggggg!" Chaterine sudah sampai di rumahnya dengan naik ojol dari sekolah. Jika kalian bertanya dimana Nathan, anak bebek itu lebih memilih pulang duluan dari pada menunggu adiknya. Sungguh kejam.
"Berisik!" Ketus seseorang yang tengah menonton diruang keluarga.
"Wahhh... bang Sat ada disini. Ngapain lo bang Sat. Tumben datang?" Dengan kurang ajarnya, Chaterine memanggil sahabat abangnya itu dengan makian.
Dia adalah Satria, sahabat kunyuknya Nathan.
"Bicaranya di jaga sayang." Tegur bunda Lena.
"Ia bun, maap."
Bukan Chaterine namanya jika tidak membuat orang kesal, dan persoalan mengenai cara gadis itu memanggil Satria sudah sangat sering diingatkan bunda sekaligus ayahnya. Tetapi apa daya, berbicara dengan Chaterine sama saja dengan berbicara dengan batu. Keras kepala.
Chaterine duduk bersila disamping Satria dan dalam waktu sepersekian detik, Chaterine merebut cemilan yang ada ditangan Satria.
Satria menatap adik sahabatnya itu kesal."Balikin Cemilan gue."
Mendengar perintah itu, Chaterine menatap Satria sekilas. "Bang Sat mau? Nih..." Chaterine menyodorkan cemilan itu di hadapan Satria dan langsung disambut ceria oleh pria yang satu tahun lebih tua dari nya itu.
Belum sempat Satria menyentuh bungkusan Cemilannya, Chaterine dengan cepat berlari ke kamar dengan membawa cemilan milik Satria tadi. Satu lagi, jangan lupakan tawa kerasnya yang bisa membuat orang tuli bisa kembali mendengar.
"DASAR PENCURI!" Teriak Satria kesal.
"Napa lo teriak-teriak dirumah gue! Kayak gak ada kerjaan aja." Nathan datang dengan dua botol soda di tangannya, yang satu untuknya dan yang satu lagi untuk Satria tentunya.
"Adek lo tuh, gangguin gue melulu." Adu Satria.
"Hhh. Tuh bocah gak ada kapok-kapoknya, ya?" Ucap Nathan seraya duduk disamping Satria. "Nonton kuy."
"Serah."
Kedua cowok tersebut akhirnya larut dalam film yang saat ini mereka tonton. Sesekali mereka tertawa receh ketika ada lawakan dari si aktor.
"Bang Nathannnn, bang Sattt, putri dari kerajaan pony datang." Chaterine berlari dari kamar menuju habitat abang nya.
"Mau ngapain lagi lo!" Sinis Satria menyembunyikan cemilan yang baru saja dia ambil. Kalau saja Chaterine tahu, bisa-bisa cemilan itu akan diambil paksa olehnya.
"Jangan dekat-dekat. Dasar pencuri cemilan!" Satria sedikit bergeser menjauhi Chaterine.
"Pencuri? Bang Sat sadar gak, kalau cemilan itu udah kadaluwarsa. Harusnya bang Sat tuh terimakasih ke gue karena sudah hindarin abang dari K.E.M.A.T.I.A.N." Chaterine berdiri dari duduknya sambil menepuk-nepuk dadanya bangga.
"Kadaluwarsa?" Tanya Satria.
"Ia babang kyuh." Jawab Chaterine dengan nada alay nya.
Satria menatap bungkusan cemilan yang ia pegang, tepatnya pada bagian tanggal kadaluwarsa nya. Alisnya nampak mengerut, tetapi tidak lama kemudian ia kembali memakan cemilannya dengan santai.
"Tuh cemilan gak kadaluwarsa bang?" Tanya Chaterine memerhatikan Satria yang sedang makan.
Satria menatap Chaterine sekilas, lalu pandangannya kembali pada layar tv. "Lebih dua hari doang." Jawab Satria santai.
Bukk...
Sebuah bantal mendarat keras tepat di wajah Satria. "Itu udah kadaluwarsa pe'a. Punya sahabat gini amat." Yap. Pelakunya adalah Nathan. Otak dari misi pelemparan bantal itu adalah Nathan.
"Yaelah, Than, sayang nih kalau dibuang." Ucap Satria kesal.
"Serah lo dah, mau lo mati karena keracunan, gue mah bodo amat." Nathan beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamarnya.
"Ehh, satu lagi. Kalau lo ngerasain ajal lo gak lama lagi, gue saranin keluar dari rumah gue. Gue gak mau dituduh bunuh lo." Sungguh menyakitkan. Setelah melontarkan kalimat kejamnya, Nathan kemudian melanjutkan perjalanan menuju sarang kebanggaan nya.
"Dasar! Tuh anak waktu kecil minum susu apa sih? Pedes amat omongannya
" Kesal Satria menatap kepergian Nathan.
"Dari info yang gue dengar sih, abang tuh waktu kecil dikasih susu kuda liar sama ayah. Benar atau enggak nya gue gak tau pasti." Jelas Chaterine mengikuti arah pandang Satria.
"Pantas aja omongannya liar."
"Eh Ket, hari ini lo cantik amat." Ucap Satria menatap Chaterine penuh maksud.
Sedangkan yang dipuji memutar bola matanya malas. "Mau apa lo?" Tanya Chaterine mengerti maksud dari Satria.
"Beliin gue cemilan dong..." pinta Satria memasang pupy eyes nya.
"Beli sendiri! Tangan sama kaki juga masih lengkap, ngapain masih nyuruh orang." Ketus Chaterine menolak.
"Yaelah Ket, jahat amat lo."
"Plisss, beliin gue cemilannn." Lanjut Satria berguling-guling di karpet.
"Iya, iya. Dasar pemalas." Gerutu Chaterine seraya pergi menuju mini market dekat komplek rumahnya.
"Minumnya juga ya!" Teriak Satria dari dalam rumah.
*****
Chaterine akhirnya sampai di mini market. Gadis itu langsung saja masuk kedalam dan mengambil beberapa snack berukuran besar dan juga soda serta susu Cokelat.
Selesai memilih, gadis itu membawa belanjaannya ke kasir.
"Berapa kak?" Tanya Chaterine membuka dompet.
"Tunggu bentar, biar saya hitung dulu." Penjaga kasir mulai menghitung nominal barang yang Chaterine beli.
"Semuanya pffttt." Penjaga kasir itu berusaha menahan tawanya melihat kelakuan aneh seseorang yang kini berdiri dibelakang Chaterine.
"Kakak napa ketawa?" Tanya Chaterine lugu.
"Itu dek..." Tunjuk penjaga kasir itu menunjuk seseorang yang berdiri dibelakang Chaterine.
Chaterine memutar badannya ke kiri dan diikuti si pria tersebut sehingga Chaterine tidak mengetahui keberadaannya.
Chaterine memutar badannya ke kanan dan lagi-lagi diikuti pria itu.
"Kakak jangan bercanda ,deh. Disini gak ada siapa-siapa selain saya." Kesal Chaterine masih memerhatikan sekitar.
"Yaampun dek, saya gak boong. Liat dulu tuh dibelakang kamu, ada orang." Jelas penjaga kasir itu.
Chaterine memutar badannya kebelakang. "Aaaaaa! Hantu!" Teriak gadis itu ketakutan melihat sosok mirip manusia tetapi dengan mata yang sepenuhnya putih, dan jangan lupakan mulut yang menganga lebar.
*****