REANO

REANO
Chapter 53



Rumah besar yang didatangi banyak orang dengan nuansa pakaian warna hitam. Tangis dari bibir seorang wanita paruh baya yang sedari tadi tak berhenti. Tangannya yang mulai keriput tak mau lepas dari peti di hadapannya. Seorang gadis dengan mata sembab ikut merasa iba melihat wanita itu, seakan mengajaknya untuk ikut menangis.


Dia Chaterine, matanya menatap sendu ke arah sebuah peti yang diisi oleh seorang yang dia cintai. Matanya kering, sudah tidak bisa mengeluarkan air mata, namun rasa sakit hatinya tetap ada. Ingin menangis namun percuma, orang yang ada di dalam sana tak akan mendengarkannya. Ingin marah tapi tak tahu harus memarahi siapa.


Andai saja dia tidak pernah bertemu orang itu, sakitnya tidak akan separah ini.


“Chaterine? Chaterine?!”


Chaterine seketika membuka mata, keringat bercucuran deras berbarengan dengan air matanya.


"Kenapa dek?" Tanya Jonathan khawatir.


Chaterine yang lesu menoleh ke arah abangnya lalu berhambur memeluk pria itu sambil sesekali terisak.


"Kevin, hiks..." Ucap Chaterine tertahan.


Nathan membalas pelukan gadis kecilnya itu sembari mengelus pelan pucuk kepalanya. "Kevin udah tenang di sana, jangan buat dia sedih dengan cara lu nangis kayak gini. Okay?" Ucap Nathan mencoba menenangkan.


Chaterine melepas pelukannya lalu menyeka air matanya. "Chaterine janji gk nangis lagi." Ucapnya tersenyum.


Nathan ikut tersenyum, bisa juga adiknya menjadi semenggemaskan ini. "Rasanya punya adik bayi lagi gw." Goda Nathan di ikuti tawanya dan Chaterine.


*****


Chaterine dan Nathan berjalan beriringan di koridor, sesekali bersenda gurau sebelum mereka ke kelas masing-masing.


"Gw sampai sini aja ya bang." Ucap Chaterine setelah sampai di depan kelasnya.


Nathan mengangguk. "Gw juga lanjut ke atas ya." Jawab Nathan karena memang kelasnya masih satu lantai di atas kelas Chaterine.


Sebelum melangkah pergi Nathan terlebih dahulu mengecek isi kelas Chaterine. "Lu bertiga,, jagain adek gw!" Suruh Nathan galak pada 3 orang gadis yang ditunjukknya.


Sontak ketiganya berdiri dan memberi hormat. "Siap komandan!"


Chaterine menggeleng tak percaya, mau saja ketiga sahabatnya itu disuruh Nathan.


Setelah Nathan pergi barulah Chaterine masuk ke dalam kelasnya.


"Hadeuh... gk usah hirauin apa yang abang gw bilang, emang kadang kumat tuh anak." Ucap Chaterine yang mengarah ke ketiga sahabatnya.


"Tenang aja Ket, gw selaku sahabat yang baik bakalan jagain lu, mau disuruh atau enggak." Ucap Aditya sombong.


"Halah bicit lu dugong." Maki Kristin tak mau percaya dengan kebohongan itu.


Memangnya siapa yang akan percaya dengan omongan Aditya? Melihat ekspresi wajahnya saat mengatakan hal itu saja sudah membuat niat kalian untuk percaya padanya sirna.


"Cuih, diem lu pawang anjing!" Balas Adit tak mau kalah.


"Hooh lu anjingnya!" Sambar Kristin menggebu.


"Astaga, gelud lagi tuh bocah berdua." Ucap Chaterine geleng-geleng.


"Lu enak baru datang, lah gw dari tadi denger mereka berantam mulu." Tambah Ayu.


Chaterine tertawa, "Udah-udah, yang waras mengalah." Ucap Chaterine di ikuti tawa Ayu.


"Eh Raka sama Reano belum datang?" Tanya Chaterine mencoba mencari-cari keberadaan dua makhluk itu.


"Mereka bakalan telat kayaknya, soalnya semalam Raka bilang ke gw  kalau dia mau push rank bareng Reano sampai pagi." Ucap Ayu geleng-geleng mengingat kembali tingkah kekanakan mereka.


"Yakkk! Mana ada?!" Komplain Ayu merajuk.


"Udah jujur aja, jangan bohong sama perasaan sendiri. Tuh liat, muka lu aja sampai merah kayak kuah seblaknya kang Asep." Jelas Chaterine membawa-bawa seblaknya kang Asep, pemilik gerobak di sebelah lapaknya bi Sitti.


Ayu tersudut kan, sudah tidak ada lagi alasan untuk mengelak. "Anu... kalau itu..."


PLAK!


"Kalian pikir ini pasar?!"


Teriakan serta pukulan keras sontak membuat kelas yang tadinya kacau menjadi rapi seperti semula. Siapa yang tidak menciut jika sudah diperhadapkan dengan guru sejarah segalak bu Kiki, apalagi jika terdengar suara pukulan nyaring, sudah dipastikan ia membawa tongkat saktinya. Kalau berani melawan, wanita paruh baya itu tak akan segan-segan memukul betis seksi kalian.


"Sepertinya guru-guru disekolah ini masih kurang keras mengajari anak-anak nakal seperti kalian." Lanjut bu Kiki mengoceh.


"..." Tak ada satu pun dari kelas XI-2 yang berani berbicara.


"Sebelum  mulai belajar, saya bawa pesan dari kepala sekolah. Bulan depan kita akan ujian akhir, jadi mohon persiapkan diri kalian." Umum bu Kiki setelah membaca secarik kertas di tangannya.


"Sekarang buka buku kalian, kita akan melanjutkan materi sebelumnya."


Tak terasa 45 menit usai, 2 sesi pelajaran ditemani ketegangan akhirnya berakhir, kini tinggal melepas penat di kantin.


"Gk kerasa udah mau ujian aja, perasaan baru kemarin kita naik kelas sebelas." Ucap Siska kagum.


"Ujian?! Kapan?!"


"Gk usah ngegas mas, lu mah gk ada dikelas makanya gk tau." Cibir Kristin pada Raka dan Reano yang tadi mengeluarkan reaksi berlebih. "Masih bulan depan, waktu buat belajar masih banyak." Lanjut gadis itu menyendokkan pentolan baso ke dalam mulut.


"Eh gimana kalau belajar bareng?" Tanya Hugo. Seketika seluruh mata tertuju pada Bless.


Bless menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Jangan di rumah gw pokoknya." Ucapnya datar.


"Rumah Lexa aja!" Sekalian gw mau bawa kerupuk buat ayahnya!" Usul Reano.


"Sip! Di sana banyak chiki!" Sorak Aditya.


Chaterine hanya bisa pasrah dengan nasibnya kali ini.


*****


Pukul 17.15, Raka, Reano, Hugo, Bless, Kristin, Ayu dan Aditya sudah berkumpul dia kamar Chaterine. Flora dan Siska tidak bisa ikut karena Flora hanya ingin belajar berdua saja dengan Siska.


"Ket, ambil soda dong." Ucap Aditya yang tengah asyik menonton TV.


Chaterine menatap datar sekumpulan anak monyet dikamarnya. "Ini mau belajar atau main-main?!"


Anak-anak itu menghiraukan ucapan Chaterine.


"Gw juga ket, ambilin susu pisang biar sama kayak bang Juki." Lanjut Ayu.


"Haish, iya-iya..." Dengan terpaksa Chaterine mengiyakan permintaan anak-anak itu, lalu turun kebawah untuk meracuni minuman yang mereka pesan, eh maksudnya mengumpulkan minuman mereka.


Selagi menunggu, anak-anak yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Begitu juga dengan Reano yang kini melihat-lihat album foto yang ia temukan di rak Cgaterine.


Pria itu membuka album tersebut dan puluhan foto Chaterine ada disana. Dilembar pertama ada foto Chaterine saat masih bayi. Lanjut ke lembar kedua adalah saat dia pertama kali masuk sekolah. Selanjutnya hanya foto-foto saat mereka liburan. Namun perhatian Reano tertuju pada lembar terakhir dari albumnya. Senyum yang tadi menghilang diganti kegelisahan kala melihat seorang pria memeluk Chaterine dalam foto itu.