
Chaterine dengan lesu berjalan turun ke ruang tamu sambil menyeret bantal unicorn miliknya. Dari kejauhan Chaterine dan melihat dua orang yang hampir setiap hari ia lihat dan satu orang yang sudah cukup lama berpisah darinya.
“Anak gemesnya ayah...” Panggil pria berumur itu kepada Chaterine yang baru datang.
“Kapan pulang yah?” Tanya Chaterine kepada yang ia panggil ‘ayah’ tersebut.
Chaterine menidurkan diri di sofa kosong di sebelah ayahnya, tidak lupa menjadikan paha ayahnya sebagai bantal.
“Tadi, pas kamu masih tidur.” Ucap pria tersebut mengelus surai lembut milik putri kesayangannya itu. “Oh iya, ayah sudah beli cokelat buat kamu loh.” Lanjut ayahnya bersemangat. Namun semangatnya tidak setimpal dengan respon yang diberikan Chaterine, “Hmm.. makasih.” Ucap Chaterine singkat.
“kamu kenapa sayang?” Tanya Lena melihat respon lemas dari putrinya itu, padahal biasanya jika ayahnya pulang dan membawa banyak cokelat, Chaterinelah yang paling antusias.
Gilang selaku ayah Chaterine dan Nathan mengerutkan dahi bingung. “Kamu gk senang ayah pulang ya?” Tanya Gilang sendu.
Chaterine spontan berdiri, “Enggak kok, Chaterine malah senang ayah pulang.” Jawab Chaterine berusaha terlihat riang. “Hanya saja Chaterine lagi ada masalah.” Sambung gadis itu merasa tida enak.
Lena dan Gilang tersenyum bersamaan, ayahnya itu menarik Chaterine lalu memeluknya erat. “kamu sudah gede ya, udah bisa hadapi problem sendiri.” Ujar ayahnya sambil menggelikiti perit Chaterine. “Padahal kalau dulu, semua masalahnya dikasih ke bunda, hahaha...” Lanjut Lena membuat Chaterine kesal karena mengungkit masalah yang sudah berlalu.
Ting...ting...
Suara dentingan sendok dengan sesuatu yang keras mengalihkan perhatian ketiga orang itu. Pria itu menatap ketiga orang dihadapannya sengit.
“Kenapa diberhentiin, lanjut aja dramanya. Anggap aja aku gk ada disini.”
Lena, Gilang dan Chaterine menatap satu sama lain, “Hahahaha!” Tawa ketiganya pecah bersamaan.
“Hahaha... sini Nathan sama bunda.” Ucap Lena masih belum berhenti tertawa.
Nathan mempoutkan bibir kesal, “Gk ah, males.” Ucapnya jual mahal.
“Dih, sok banget lu bang.” Cibir Chaterine yang mana langsung membuat Nathan terganggu.
“Bocah diam aja.” Ketus Nathan menatap tajam Chaterine.
“Hilih, kalau masih pake boxer spongebob jangan sok keras. Hahaha.” Lanjut Chaterine mengejek diakhiri tawanya
yang besar.
“Eh, abang masih pake boxer yang itu? Lain kali bunda beliin yang motif spongebob lagi deh.” Ucap Lena berusaha
menahan tawa.
“ALEXA CHATERINE!!!!!”
*****
Angin berhembus kencang, gelapnya langit ditambah kilatan petir membuat bumi kelihatan sangat menyeramkan, pagi yang cukup berbeda dari yang sebelumnya. Dengan berbungkus jaket tebal, Chaterine dan Nathan berangkat kesekolah diantar Gilang, ayahnya. Lena sendiri yang meminta Gilang untuk mengantar kedua anaknya itu karena takut akan terjadi apa-apa jika Nathan yang berkendara di cuaca se ekstrim ini.
Suasana didalam mobil sedan berwarna silver itu cukup berisik, namun Chaterine sama sekali tidak memusingkannya. Berisiknya celotehan Nathan ditelan habis oleh lamunan Chaterine. Gadis itu menyenderkan kepala dikaca jendela mobil sembari menatap sendu keluar, sesekali senyum kecut keluar dari bibirnya.
“Kayaknya alam tau kalau gw lagi sedih.” Ucapnya lirih. Setelahnya rintikan hujan menjadi semakin banyak dan semakin keras menghantam bumi, mengharuskan siapapun yang ada diluar berteduh sejenak.
10 menit sebelum sekolah ditutup barulah Chaterine dan Nathan sampai. “Ayah, aku kekelas dulu ya, bye!” Pamit
Chaterine tepat setelah membuka pintu mobil dan berlari kedalam sekolah dengan berlindungkan payung pink yang selalu ia siapkan di tasnya.
“Huftt... untung gk basah.” Monolognya setelah memastikan tasnya tidak basah terkena hujan.
Pandangannya menyapu pelan kesekeliling, banyaknya siswa di lobby membuat keadaan semakin sesak, namun di lain sisi dengan begitu rasa dingin akan menghilang. Chaterine yang sudah merasa cukup dengan acara melamunnya segera bergegas ke kelas, namun gerakan berbaliknya yang cukup tiba-tiba membuatnya hilang kendali dan menabrak seseorang dibaliknya.
menjadi datar, mata bulatnya seakan tak berkespresi melihat sosok pria dihadapannya. Diremasnya ujung roknya lalu setelahnya berlalu meninggalkan orang tersebut tanpa sepatah kata.
“Ck! Lo ngejauhin gw sekarang.” Ucap pria itu dengan suara kecil.
------
Chaterine berjalan kekelasnya dengan air muka masam, bibirnya mengerucut kesal. Rambutnya yang tadi terikat rapi dengan karet rambut kini terayun bebas karena ikatannya dibuka gadis itu. Kakinya terus melangkah, tak ayal tempat yang dituju adalah kelasnya.
“Pagi!”
Seisi kelas terkejut mendengar hentakan itu, sama sekali tidak terdengar seperti sapaan malah seperti orang
yang sedang mengajak ribut.
“Etdah ket, slow dong.” Tegur Ayu sembari menatap sahabatnya jengkel.
Chaterine tak bergeming sama sekali tidak memperdulikan protes sahabatnya itu. Ayu melongo heran, tumben saja gadis itu tak membalas ucapannya.
Langkah Chaterine terhenti, tanpa berbalik dirinya berjalan mundur ke meja yang Ayu duduki. “Gw duduk disini.”
Tunjuk Chaterine tepat di bangku di sebelah Ayu. Gadis itu memiringkan kepalanya bingung, “Boleh kok, boleh. But, tumben banget?” Heran Ayu segera meluncurkan pertanyaan.
“Gpp, pengen aja.” Ucap Chaterine singkat lalu segera mengambil posisi di sebelah Ayu.
Baru saja Chataerine duduk, dari luar datang pria dengan seragam dan rambutnya yang sedikit basah. Pria tersebut
sedikit tertegun melihat Chaterine, namun kemudian membuang mukanya ke arah lain dan mengambil tempat di meja yang biasa ia duduki.
“Oy Ra, duduk di sebelah gw!” Panggil pria tersebut membuat sang empunya nama langsung menoleh, tak lupa dengan tanda tanya besar di wajahnya. Tanpa menunggu lama, pria yang bernama Raka itu segera menghampiri pemuda yang memanggilnya tadi.
Raka mengambil tempat di meja yang biasanya di duduki Chaterine. “Knp Re? Salah minum obat kah?” Tanya Raka penasaran.
“Gpp.” Jawabnya datar. Yup, dia adalah Reano.
Raka yang merasa telah terjadi sesuatu mencari-cari sesuatu yang menjadi sumber ‘pengambekkan’ dari pria disebelahnya. Pria itu menghela nafas kasar setelah pandangannya jatuh pada Chaterine yang duduk di sebelah Ayu.
“Oke, gw ngerti sekarang.” Ucapnya beralih pandang ke Reano.
Reano menatapnya datar, lalu menenggelamkan kepalanya di atas meja.
Raka memutar bola matanya malas, “Lu ngambek kek cewek aja. Kalau misalkan lu ada masalah sama si ket-ket, langsung ngomongin aja. Kalau diem-dieman gini mah gk bakalan kelar masalahnya.” Ucap Raka memberi saran sebagai seorang sahabat yang pengertian.
“Bukan urusan lo.” Sarkas Reano membuat Raka langsung malas melanjutkan omongannya. Tak lama ia beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ayu.
“Knp?” tanya Raka berbisik.
“Gk tau, Chaterine gk mau cerita.” Jawab Ayu mengerti arah pertanyaan pria itu.
Raka mengangguk faham lalu kembali ke sebelah Reano.
Pelajaran di mulai dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya, hawa mencekam dari dua orang tersebut membuat seluruh yang di kelas ikut merasakannya.
“Ekhm... bapak rasa di kelas kalian ada penunggu, dari tadi bapak merasa tidak enak mengajar di kelas kalian.” Ucap pak Aldi yang baru selesai mengajar, kemudian guru berkepala botak itu berjalan keluar dari kelas.
Ayu dan Raka saling bertatapan. ‘Bukan karna ada penunggu, tapi karna ada pasangan yang sedang bertengkar’ Ucap ~~~~keduanya dalam hati.