
Hueekk...
Ini sudah ke tiga kalinya Chaterine muntah, dan hanya Reano yang ada di situ untuk menemaninya.
Reano sungguh pusing mengurus tingkah keras kepala Chaterine. Ditambah lagi sahabat Chaterine sudah pulang semua sejak setengah jam yang lalu.
Reano mengelus-ngelus punggung Chaterine lembut "Kan udah gue bilang, jangan naik rollercoaster. Keras kepala sih lo, jadinya muntah gini kan." Sedari tadi Reano mengoceh panjang lebar layaknya seorang emak-emak yang sedang memarahi anaknya karena pulang malam.
Pria itu berjongkok seperti yang Chaterine lakukan. Ia mengulurkan tangan ke dahi Chaterine lalu...
Pletakk...
Sebuah sentilan berhasil mengenai dahi Chaterine. "Dasar nakal." Ucap Reano menatap Chaterine.
Gadis di hadapan Reano itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan, bola mata bulat itu mengeluarkan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya sejak tadi, hingga akhirnya tumpah karena tidak tahan dengan ceramah Reano serta sentilan di akhirnya. "Huaaa... Bunda... Reano marahin Chaterine!"
Reano terkejut bukan main. "Shuttt... Jangan teriak-teriak dong, dikira gue apa-apain lo lagi."
Bukannya berhenti, gadis itu malah memperbesar suara tangisannya membuat banyak pasang mata menatap Chaterine kasihan dan menatap Reano sinis, jangan lupakan juga dengan bisikan-bisikan yang menyudutkan Reano. Hanya senyum kikuk yang Reano berikan sebagai respon dari tatapan orang-orang itu.
Orang-orang semakin banyak berkumpul di dekat kedua remaja itu, membuat Reano malu setengah mati.
"Udah dong Lexayang, Reano gk marahin Chaterine lagi." Pria berkaos hitam itu terus membujuk Chaterine agar mau berhenti menangis.
Benar kata orang-orang, usaha itu tidak menghianati hasil. Seperti Reano saat ini, segala usahanya akhirnya membuahkan hasil yang baik, Chaterine mau berhenti menangis.
Reano tersenyum bangga karena berhasil membujuk Chaterine, anggap saja ini sebagai simulasi untuk menghadapi Chaterine saat sudah menikah nantinya.
"Akhirnya berhenti nangis juga."
Reano mengelus puncuk kepala Chaterine dengan sayang. "Habis ini Chaterine minum teh hangat dulu, baru Reano ajak main lagi. Okay?" Dan sang gadis hanya membalas dengan anggukan.
"Yaudah, ayo." Reano dengan dipenuhi rasa malu menarik Chaterine keluar dari kerumunan banyak orang yang sempat mencibirnya tadi. Bukan hanya malu, tapi reputasinya juga rusak hanya karena Chaterine. Reano yakin, banyak orang yang telah men-capnya dengan lelaki jahat yang suka menyakiti kekasihnya sendiri, atau di-cap sebagai laki-laki cabul.
Akhirnya kedua remaja itu sampai disalah satu tenda penjualan. Dengan perlahan, Reano menuntun Chaterine duduk disalah satu kursi kosong lalu ikut duduk disebelah Chaterine.
Reano melambaikan tangan keatas bermaksud memanggil sang pemilik tenda. Gadis muda yang bekerja ditempat itu menghampiri tempat Reano dan Chaterine duduk. "Iya, mas? Mau pesan apa?" Tanya gadis itu.
"Teh hangatnya sa-" belum sempat Reano menyelesaikan pesanannya, Chaterine segera menarik lengan Reano.
Reano menatap Chaterine bingung, begitu juga Chaterine yang malah membalasnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mau cokelat panas."
Hanya satu kalimat. Satu kalimat yang menghangatkan hati pria yang kini duduk bersebelahan dengan Chaterine. Rasa gemas juga tak lupa menghiasi hati Reano, pria itu dengan kekehannya mengacak rambut Chaterine pelan lalu segera beralih kepada sang pelayan.
"Teh nya gk jadi, ganti jadi cokelat panasnya dua." Ucap Reano ramah.
"Oke."
Kedua Remaja itu menunggu pesanan tanpa ada satupun yang mau membuka suara untuk memulai percakapan. Hingga akhirnya, Reano yang tak tahan dengan suasana canggung mulai menanyai Chaterine.
"Lexa udah gk mual lagi?" Tanya Reano ber basa-basi.
"Gk"
"Makanya, kalau ditegur itu di....eh gk jadi." Reano tak jadi melanjutkan ceramahnya ketika melihat mata Chaterine yang mulai berair, sungguh pedih rasanya ketika tatapan itu dilihat langsung. Jiwa bucin Reano meronta-ronta tak ingin melihat tatapan itu, sungguh menyiksa baginya.
"Ini mas, pesanannya." Sang gadis pemberi pesanan akhirnya datang dengan dua gelas cokelat panas diatas nampan. Pelayan itu langsung berlalu pergi setelah meletakkan cokelat panas diatas meja.
Tanpa ragu, Chaterine dengan cepat mengambil salah satu gelas dan meneguk isinya dengan tenang. Gadis ini nampaknya tak ingin menghilangkan sedikitpun sensasi khas saat meminum cokelat panas.
Tenang.
Ketenangan jiwa muncul bersama nikmatnya cokelat panas, tapi ada satu hal yang lebih menenangkan, melihat dia bahagia dalam kesederhanaan.
Chaterine tak bersuara sama sekali, keheningan ini membuat Reano tak tahan. Karena pada dasarnya ia membenci kesunyian. Tak ingin diam lebih lama lagi, Reano memulai aksi jahilnya.
Pria itu menekan pipi Chaterine sekali, namun tidak direspon sama sekali. Kedua kali, Chaterine juga tak meresponi, hanya alis yang mengerut tanda mulai kesal yang ia berikan sebagai balasan. Reanoelakukan hal yang sama berulang kali hingga kekesalan Chaterine memuncak.
"Mau apa sih Lo?" Tanyanya kesal.
"Mau perhatian kamu." Balas Reano senyum-senyum.
Chaterine memalingkan wajah kesal sekaligus ada rasa senang ketika dimintai hal itu. "Ngegombal melulu. Gue gk suka."
"Gk suka gimana? Pipi lo tuh, merah-merah pas gue gomalin. Bilang aja kalau suka." Ejek Reano menekan pipi Chaterine yang memang bersemu merah.
"Pokoknya gue gk suka." Tekan gadis itu mempoutkan bibir karena kesal diejek terus-terusan oleh Reano.
"Bibirnya jangan gitu, entar gue gk tahan gimana?" Tanya Reano jahil.
"Dasar mesum."
Reano terkekeh mendengar dua kata itu. "Lo mau main lagi gk?" Tanya pria tersebut menyesap cokelat panasnya hingga habis.
"Gk. Mau pulang." Jawab Chaterine menghabiskan sisa cokelatnya yang tinggal seteguk.
"Kalau gitu biar gue antar ya." Pinta Reano menatap Chaterine dengan sangat berharap.
"Gk mau. Gue bisa pulang sendiri." Tolak Chaterine berdiri dari duduknya namun langsung ditarik kembali oleh Reano.
"Gk boleh pulang sendiri, udah malam. Kalau sekarang siang mungkin gue ijinin, tapi sekarang udah malam. Gue gk mau lo kenapa-napa." Nada ini. Nada tak ingin kehilangan lagi. khawatir serta takut bergetar dalam kalimatnya, membuat hati Chaterine melunak.
"Please, biar gue yang antar lo." Lirihnya lemah.
Chaterine bingung, ia sebenarnya biasa pulang sendiri tapi di lain sisi gadis itu merasa kasihan dengan Reano.
"Eumm... Iya deh, gue ikut."
Mata Reano terbuka lebar, senyum mengembang manis setelahnya. "Serius!?" Tanyanya memastikan.
"He'em."
Mendengar itu Reano menarik pergelangan tangan Chaterine keluar dari tenda. Chaterine menarik paksa tangannya.
"Kenapa?" Tanya Reano menatap Chaterine bingung.
"Bayar dulu cokelat panasnya Re." Tutur Chaterine.
"Oh iya, lupa gue."
Reano berjalan kearah si penjaga tenda lalu membayarnya dengan cepat. "Yuk!" Reano mengulurkan tangannya dihadapan Chaterine.
Chaterine menatap Reano bingung. "Pa'an?". Gadis itu menatap uluran tangan Reano.
Reano menarik tangan Chaterine lalu menggenggamnya sayang. "Gini yang gue maksud. Dasar gk peka."
"Ihhh main pegang-pegang aja."
"Dimulut nolak, dalam hati mau." Lanjut Reano menarik Chaterine kearah motornya.