
Jam istirahat tiba, Chaterine dan teman-temannya yang lain sudah stand by di meja kekuasaan mereka di kantin.
Begitu juga dengan Reano yang duduk berhadapan dengan Chaterine. Bukan tidak di sengaja, namun Raka dan Ayu lah yang merencanakan ini.
Dengan sengit Chaterine menatap pria di hadapannya, begitu juga dengan Reano yang balik menatapnya menantang. Yang lainnya hanya melihat aksi marah-marahan kedua anak alay itu.
“Dah lah, capek gw liatin lu berdua mulu. Gw mau ke gerobaknya bi Siti, ada yang numpang pesen?” Tanya Hugo sambil menunggu jawaban teman-temannya.
Satu persatu mereka menyebutkan pesanan mereka kepada Hugo, hingga tiba waktunya untuk Chaterine berbicara.
“Roti bakar satu.” Ucap Chaterine cepat.
“sandwich sama jus jeruk.” Ucap Reano tepat setelah Chaterine mengatakan pesanannya, tidak lupa melemparkan tatapan meremehkan kepada gadis itu.
Chaterine yang merasa geram kembali membuka suara. “Roti bakar, siomay, jus alpukat.” Sambung Chaterine cepat sambil balik menatap remeh keapada Reano.
“sandwich, jus jeruk, batagor, baso.” Lanjut Reano geram. Enak saja dirinya mau kalah dari gadis itu.
Chaterine yang merasa tidak mau kalah kembali membuka mulut, “Roti ba_”
“BISA JANGAN BERANTAM KAGAK?!”
Teriakan serta suara pukulan meja yang besar menghentikan Chaterine. tidak hanya Chaterine namun yang lain ikutan terdiam karena kaget. Memang jika Flora sudah marah, tidak akan ada lagi yang bisa membatahnya.
“Sorry...” Ucap Chaterine dengan suara kecil, sedangkan Flora hanya menatapnya dingin tanpa berekspresi.
“Ngapain masih disini hah?! Ambil makanan sono!” Lanjut Flora sarkas melihat Hugo yang masih tidak pergi memesan dan malah tertegun melihatnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu segera lari terbirit meninggalkan Flora dan yang lainnya. “IYA, GW KESANA ! JANGAN MARAHIN GW!” Teriaknya dalam larinya.
Selang beberapa menit makanannya datang. Bi Siti butuh berkali-kali mengantarkan pesanannya pelanggan setianya karena pesanan yang sangat banyak, terutama milik Chaterine dan Reano.
“Selamat menikmati.” Ucap bi Siti ramah setelah piring terakhir ia hantarkan.
“Makasih bi.” Ucap beberapa anak.
Dengan penuh hasrat, Chaterine mengambil pesanannya dan mengumpulkannya di depannya. Ayu yang duduk di sebelah Chaterine melongo tak percaya melihat tumpukan makanan itu.
“Ket lo yakin bisa abisin ini?” Tanya Ayu yang khawatir sahabatnya itu akan tepar jika memaksakan diri menghabisakan makanan tersebut.
Chaterine membusungkan dada angkuh. “Tenang aja, gw gk selemah bocah didepan, cuih!” Ujar Chaterine menyindir.
Reano menggeram, umpatan demi umpatan terdengar sangat kecil dari mulutnya. “Jangan kira gw gk bisa ngalahin lo, tubuh sekecil itu bakalan mudah gw kalahin!” Balas Reano dengan nada meremehkan.
Chaterine memukul meja keras, “Gk usah bacot deh, buktiin aja langsung biar yang lain percaya!”
“Oke siapa takut!”
Sepersekian detik mulut kedua orang itu sudah di penuhi makanan. Sedangkan anak-anak yang lain menatap keduanya jijik. Bagaimana tidak, meja yang seharusnya digunakan untuk makan dengan nyaman seketika berubah menjadi seperti kandang, dengan makanan berserakan disana-sini.
“Udahlah Yu, gw nyerah buat bikin mereka baikan.” Ucap Raka masih menaruh pandang pada kedua orang itu.
Plak!
“Awh sakit!” Raka meringis kala telapak tangan Ayu mendarat kencang di kepalanya.
Ayu mempoutkan bibir kesal. “Pokoknya gw mau mereka baikan! Bisa budeg gw tiap hari dengar mereka teriak-teriak gk jelas, kayak toa masjid aja.” Komplain Ayu tidak terima.
Raka mendengus kesal, sebenarnya ia malas membujuk kedua orang tersebut namun demi si kesayangan dirinya harus rela berkorban. “Oke-oke, selama lo senang.”
Blushh...
Seketika Ayu memerah.
“Lo demam?” Tanya Raka yang sadar akan perubahan warna muka Ayu.
Gadis itu segera memalingkan wajahnya dan menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. “Gpp Ra, gpp.”
*****
Seorang pria dengan serius mendengarkan dua bocah di depannya, sembari sesekali memberi anggukan tanda paham dengan apa yang dua orang itu katakan.
“Oke-oke, gw ngerti. Pantas adek gw gk mood mulu dari kemarin.” Ucapnya menggeleng-geleng.
“Iya nih bang Nathan, bantuin gw ya.” Lanjut salah seorang dari mereka sedikit memaksa Jonathan.
Nathan mengangguk sombong. “Mudah aja sih Ayu, tapi beliin gw batagor dulu. Laper, xixixi.”
Kedua orang dihadapan Nathan menatapnya jengkel.
“Minta Raka beliin bang! Uang gw habis!” Teriak Ayu lantas kabur dari hadapan Nathan dan Raka.
Raka melongo tak percaya melihat gadis yang ‘tidak bertanggungjawab’ itu, lebih baik ia tidak menyetujui permintaan Ayu jika ujungnya dia yang kena batunya. “Gk ah, uang gw juga habis. Bye!” Tolak Raka segera mengambil ancang-ancang untuk kabur, namun langkahnya terhenti kala Nathan berbicara.
“Gw ketua lo, jangan sampai gw tendang lo dari tim basketnya gw.” Ucap Nathan enteng dengan sedikit dibumbui nada mengancam.
“Jir, yodah gw beliin! Dasar lo iblis.” Sinisnya pada Nathan kemudian berlalu meninggalkan pria itu.
Tidak butuh waktu lama, Raka sudah kembali dengan piring batagor di tangannya.
Nathan yang melihatnya dari jauh tersenyum bangga dengan sikap bawahannya itu. “Gitu dong, respect sama gw.”
“Lo udah bisa pergi, nanti gw urus adek gw selesai gw makan.” Usir Nathan membuat Raka semakin kesal. Sama sekali tidak tahu terimakasih pikirnya.
“Jangan kecewain Ayu gw.” Ucap Raka memperingati yang mana langsung di balas anggukan dari Nathan.
Sembari makan Nathan mencoba memikirkan cara yang tepat untung menyelesaikan masalah adik perempuannya itu. Setiap sendokan batagornya menambah kuantitas dari ide yang sedang ia kumpulkan.
Pria itu segera mengambil ponselnya kala ide terlintas di dalam kepalanya. Dengan cepat jari-jarinya mengetik dengan lihai di ponsel smartnya. Smirk khas nya keluar kala jarinya berhenti mengetik. “Perfect.”
*****
Chaterine dengan penuh kecurigaan berjalan menuju gudang kecil di dekat kelas XII, kelasnya Nathan. Jarang sekali abangnya mengajaknya bertemu saat di sekolah, apalagi ia diminta untuk datang ke gudang, patut di curigai menurut Chaterine.
Sedangkan di depan pintu gudang, Nathan dan Reano sudah anteng mengobrol di sana.
“Kenapa bang?” Tanya Reano bingung. Aneh saja kakak kelasnya itu mengajaknya bertemu selain urusan tim basket.
“Lo lagi ada problem sama adek gw?” Tanya Jonathan menatap serius pria disebelahnya.
Mendengar pertanyaan itu, seketika air muka Reano berubah.
Jonathan langsung menangkap arti dari raut itu, itu sebabnya dia menghela nafas berat. “Selesaiin.”
Reano menatap Nathan bingung, wajahnya dipenuhi tanda tanya besar. Belum sempat ia bertanya maksudnya, panggilan seseorang mengalihkan perhatian mereka.
“Abang?”
Nathan yang melihat adiknya langsung menariknya ke dalam gudang, tangannya yang satu menarik kerah Reano dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Chaterine.
BRAKK!
“Abang buka! Huwaaa!”
Nathan mengurung kedua orang itu di dalam gudang.
“Nanti gw buka pintunya kalau kalian udah selesaiin masalah kalian. So, baek-baek di dalam adek plus calon adek ipar gw!” Ucap Nathan lalu berlalu pergi meninggalkan kedua orang itu.
“Sial!” Desis Reano memukul pintu gudang dari dalam.
Seketika ruangan gelap nan sempit itu hening. Kedua orang di dalamnya saling diam enggan untuk berbicara satu sama lain.
Chaterine yang mulai merasa takut di dalam sana mencoba mendobrak pintu dengan sapu tua yang tergeletak di lantai itu. “Siapa aja, tolong buka pintunya!” Teriaknya dengan suara sangat keras. Gadis itu berharap akan ada yang mendengar teriakannya dan membukakan pintu untuknya. “Tolong! Gw kekunci!”
“Percuma lo teriak kayak gitu, gk bakalan ada yang nolongin.” Sambar Reano yang mulai tidak tahan dengan suara Chaterine yang membengkakkan telinga.
Gadis itu spontan melihat tajam ke arah Reano. “Gw gk nanya pendapat lo, huh.” Ucap Chaterine seraya mendudukkan dirinya di lantai gudang.
Reano menghela nafas gusar, tubuhnya lalu beranjak mendekati Chaterine membuat gadis itu terperanjat kaget.
“Apaan nih?! Jangan pikir karna hanya ada lo sama gw di sini, lo bisa seenaknya!” Chaterine menyilangkan kedua
tangannya di depan dada karena takut dengan tindakan pria di depannya.
“dih, lo pikir gw selera sama dada rata lo hah?” Ejek pria itu membuat Chaterine semakin marah.
“Kurang hajar banget ya lo jadi orang!” Emosi Chaterine memuncak, tangannya sudah tak bisa di kendalikan lagi, dengan eluasa tangannya hendak melayangkan pukulan ke arah Reano.
Grep.
Reano menahannya. Di tatapnya mata Chaterine dalam-dalam. “Mending kita ikutin apa yang bang Nathan mau. Kita selesaiin semuanya and after that kita bisa keluar, okay?” Usul Reano serius pada Chaterine, karena memang hal itu juga yang ia inginkan.
“Iya.” Chaterine mau membicarakan semuanya sekarang karna memang hanya ini cara agar semua pertanyaan yang selama ini ia simpan dalam hati terjawab langsung oleh pria dihadapannya.
“Oke gw yang mulai, lo punya hubungan apa sama Bless?” Tanya Reano sedikit menekankan nama Bless disana.
Chaterine memperbaiki sikap duduknya menjadi lebih serius, “Cuman teman.” Jawabnya mantap.
Namun Reano masih belum puas dengan jawabannya. “Hmm...Kalau cuman teman kenapa waktu itu dia cium lo dan lo gk marah?” Lanjut Reano bertanya, pertanyaan yang cukup menyakitkan jika kembali di ingat menurutnya.
“Sebenarnya gw kaget, mungkin karna ini pertama kalinya buat gw, jadi gw bingung harus kasih respon apa waktu itu.” Jawab Chaterine dengan jawaban seadanya.
“Lo tau gk kalau gw cemburu, hmm?”
Chaterine tertegun, tubuhnya menegang sesaat.
Pria itu menggenggam tangan Chaterine lalu menatap tangan mungil itu intens. “Awalnya gw juga bingung untuk apa gw cemburu dengan cowok yang dekat dengan lo yang notabenennya gk ada hubungan apa-apa sama gw.” Ucap pria itu sendu.
“Gw sadar kalau gw udah kayak orang bodoh, yang mengharapkan sesuatu yang tidak seharusnya jadi milik gw.”
“Walau gw udah usaha keras, tapi tetap aja apa yang gw sayang gk bisa gw miliki, bahkan semakin menjauh. Semuanya sia-sia.” Lirihnya di tambah tawa sakit di akhirnya.
Pletak!
“Awh...” Pria itu meringis kala Seseorang menyentil dahinya dengan kuat.
“Siapa bilang usaha lo sia-sia?! Siapa yang bilang kalau apa yang lo sayang gkk bisa lo milikin?! Siapa yang bilang seperti itu kasih tau ke gw, biar gw patahin lehernya!”
Reano mendongak menatap Chaterine kaget. “What?”
Chaterine mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat dengan pria dihadapannya lalu memegang kedua pundak pria itu. “Dengerin gw baik-baik Reano Calvin Putra, Gw Alexa Chaterine suka sama lo!”