
Pukul 15.00, sekolah yang tadinya ramai berangsur-angsur sepi.
“Oy ket! Pulang bareng yuk!” Seorang gadis dengan semangat menghampiri Chaterine yang tengah berberes di bangkunya.
Chaterine menoleh ke arah sahabatnya tersebut. “Gk deh Yu, lain kali aja. Gw pulang sama abang hari ini.” Ucap Chaterine tidak enak karena menolak ajakan sahabatnya itu.
Ayu memanyunkan bibir cemberut. Sangat menggemaskan, sangking menggemaskannya Chaterine sampai-sampai mencekiknya hingga tak bernyawa. “Ulululu... gemesnya sahabat gw satu ini, jadi pengen cekik.” Geram Chaterine sembari mencubit-cubiti pipinya sendiri.
“Hilih, dasar kejam.” Sinis Ayu membuat Chaterine tertawa kecil. “Ya udah gw duluan dulu yah beb, papay!”
“Papay!” Ayu melangkah keluar kelas sesaat setelah mendengar jawaban dari Chaterine.
Gadis itu kembali fokus merapikan peralatan sekolahnya. Alat melukis yang terlalu banyak ia bawa dari rumah membuatnya kewalahan saat merapikan barang-barangnya, padahal banyak sekali peralatan yang tidak dibutuhkan dalam materi seni lukis kali ini, tapi Chaterine tetap saja ingin membawa semuanya yang ia punya. Untuk jaga-jaga katanya.
“Ekhem! Bisa cepat gk neng, gw mau pel tempat lu.” Ucap seseorang yang datang dengan kain pel di tangannya.
Chaterine mendongak. “Sabar napa Bless.” Ucap gadis itu terlihat masih santai merapikan barang-barangnya.
“Astaga, lamban amat sih nih anak.” Kesal Bless.
Chaterine terkekeh. “Btw gimana hasil olimpiadenya? Menang gk?” Tanya Chaterine berusaha mengulur-ngulur waktu.
“Entahlah, masih belum di umumin.” Jawab pria itu santai.
“Kalau menurut gw sih pasti menang .” Ucap Chaterine dengan kekehan di akhirnya.
Bless mengerutkan dahi. “Lo lagi semangati gw atau ngejek gw?” Tanya pria itu mendudukkan diri di atas meja disebelah Chaterine.
Chaterine berdiri dari bangkunya, tak lupa dengan tas yang menggantung di pundaknya. Gadis itu mendekat ke arah pria tersebut. “Dua-duanya.” Ucap Chaterine berbisik lalu setelahnya lari keluar kelas dengan tawa besarnya.
Pria itu memegang telinganya yang tadi dibisikkan gadis itu. Bless mengigit bibir bawahnya, “Jangan mancing gw.”
Ucapnya tersenyum tak karuan. Untung saja kelas telah sepi, tidak ada yang melihat hal ini. “Andai lo peka Ket.”
*****
“Sore bunda!” Teriak Chaterine berlarian dari halaman rumah ke dalam.
Tidak ada jawaban, Chaterine memasuki rumah besarnya. Didalam gelap, lampu yang dimatikan dan samar-samar cahaya di sore hari membuat rumah tersebut tampak menyeramkan, membuat Chaterine bergidik ngeri melihatnya. Chaterine kembali keluar dari rumah, bermaksud memanggil Nathan yang masi sibuk bercermin di kaca spion motornya
“Abang! Bunda mana?” Tanya Chaterine sedikit berteriak.
Nathan melihat ke arah adeknya itu sekilas, lalu kembali fokus dengan spion motor. “Bunda ada kerjaan bentar, nanti malam baru balek.” Ujar Nathan sambil memain-mainkan rambut panjangnya yang hampir menutupi kening jika di luruskan ke bawah.
Chaterine mengerutkan dahi, sangat aneh, biasannya bundanya akan selalu menghubunginya jika akan pergi. “Kok gw gk di kabari bang?” Tanya Chaterine bingung. Apakah bundanya merasa tidak penting lagi didalam hidupnya, atau bundanya tidak mau berurusan dengan Chaterine karena sangat nakal. Pikiran-pikiran tidak masuk akal itu membuat Chaterine gelisah.
Nathan yang melihat tingkah Chaterine terkekeh dari jauh. “Coba cek ponsel lo deh.” Ucap Nathan geli, lalu turun dari motornya.
Chaterine dengan cekatan merongoh ponsel dari kantong roknya. Kala melihat isinya, Chaterine tersenyum kikuk ke pada Nathan yang kini sudah berdiri disebelahnya. “Hehehe.” Hanya tawa bodoh yang bisa ia berikan kala melihat ternyata ada pesan dari bundanya di dalam ponsel.
Nathan mencapit kedua pipi adeknya itu gemas. “Lo kapan pintarnya sih bayi simpanse.” Gemas Nathan sembari meremas-remas bongkahan pipi itu.
Chaterine melepas paksa tangan abangnya. “Ihhh... jangan di cubit lagi, seharian di sekolah pipi gw di cubit mulu.”Ucapnya mengelus pipi yang abangnya cubit tadi.
“Siapa suruh punya pipi embul.” Ucap Nathan dengan nada mengejek di dalamnya.
“ABANGGGGGG!”
*****
Ruangan dengan perpaduan warna putih soft grey, meja putih dihiasi warna-warni buku dan pulpen, karpet pink berbulu dan ranjang besar empuk, begitulah rupa kamar Chaterine, terlihat sangat sederhana namun sangat manis jika dilihat. Bukan sekedari tempat Chaterine menyalurkan penat, namun juga tempat Chaterine melakukan hobi nya, tempat dimana ia bisa ngemil tanpa diketahui bundanya, dan tempat dimana ia bisa menengar gelak tawa teman-temannya saat bermain ke rumah Chaterine.
“CHATERINE! AMBILIN MINUMAN!”
Teriakan itu sontak membuat dirinya bangun. Gadis itu mengacak-acak rambutnya kesal. “Arghh... mau tidur aja susah.” Kesalnya lalu turun dengan kaki yang dihentak-hentakkan seperti anak kecil yang sedang marah. Tanpa memperdulikan apapun, gadis itu berjalan keluar lalu masuk kedalam kamar abangnya di seberang yang tidak jauh dari kamarnya.
“Apaan sih bang?”
Hening. Tadi kamar yang ramai seketika hening kala melihat Chaterine yang datang. Chaterine di buat bingung dengan pandangan orang-orang di dalam sana, bahkan kalau tidak salah lihat ada Reano juga disana.
“Astaga dek, balik ke kamar! Ganti baju dulu elah.” Usir Nathan cepat kala melihat Chaterine dari pintu. Chaterine menatap dirinya sendiri. “Huwaaaaaa!” Gadis itu menutup pintu kamar Nathan keras, kemudian berlari ke arah kamarnya.
Betapa bodohnya dirinya, sampai-sampai lupa mengganti pakaiannya. Tank top pendek yang memperlihatkan perut mulusnya kelihatan dan celana putih pendek. “Ck, mau ditaruh dimana nih muka.” Kesal Chaterine sambil berguling-guling di atas ranjang.
Sedangkan di kamar Nathan, orang-orang disana masih memproses isi otaknya. Nathan lupa memberi tahu adiknya itu jika sedang ada anak basket di kamarnya. “Weh, tuh otak jangan pada jalan-jalan!” Kesal Nathan melempar snack ke pada teman-temannya membuat yang lain sadar dari lamunannya. Nathan beralih pandang kearah Reano yang duduk di sebelahnya, pria itu masih menatap ke arah pintu tempat Chaterine berdiri tadi dengan wajah dan telinga yang memerah.
Plakk!
Sebuah bantal mendarat tepat diwajah Reano. “Anj*r.” Kagetnya.
“Anj*r-anj*r\, gw tabok lu yah kalau masih berani mikir yang macem-macem sama adek gw.” Peringat Nathan kepada Reano.
Reano terkekeh. “Ampun bang, gw khilaf. Ucapnya membuat Nathan menatapnya jengkel.
Kriettt....
“Permisi... ini minumannya.” Chaterine kembali datang dengan memegang nampan berisi minuman, namun kali ini dengan gaya berbeda, Tank top mini tadi kini sudah terganti dengan kaos lengan panjang oversize berwarna pink, membuat celana pendeknya hampir tidak terlihat.
Chaterine segera menaruhnya di atas meja lalu langsung pergi dari sana tanpa mau berlama-lama.
“Huh, gw pasti di godain nih besok sama Reano.” Pikir Chaterine kesal.
Kruuuttt...
Bunyi itu lagi, perut Chaterine berbunyi tanda ingin diisi. Chaterine dengan semangat berlarian ke bawah, ke dapur lebih tepatnya. Sesampainya disana, Chaterine memutuskan untuk memakan mie instan pedas saja. Dengan lihai gadis itu memasak mienya, tidak peduli dengan suara keras dari kamar abangnya. Mienya telah jadi, dan Chaterine membawa makanannya ke ruang tamu, dimana ada tv besar disana, padahal dikamarnya ada tv tapi Chaterine lebih suka menonton kartun kesukaannya disini, karena besar katanya.
Tak terasa hampir 30 menit Chaterine disana. Dalam kurun waktu tersebut juga sudah banyak sekali bungkusan snack kosong yang berceceran di sana.
Terdengar suara langkah kaki yang cukup keras dari atas. Chaterine sedikit mencondongkan kepala melihat siapa di tangga. Ternyata rombongan teman-teman basketnya Jonathan.
“Udah mau pulang yah?” Tanya Chaterine sopan.
“Napa? Gk tega gw pergi yah ket?” Tanya Satria kepedean.
“Njir, bangkek lu bang Sat.” Kesal Chaterine.
Yang lain tertawa mengejek Satria. “Stop manggil gw pake bang Sat.” Ucap Satria memutar bola mata malas.
Chaterine terkekeh. “Budu.”
“Hush-hush udah pergi sono, entar di cariin emak lo pada.” Usir Nathan pada teman-temannya.
“Ciee yang di usir.” Ejek Chaterine lalu berlari ke atas.
“Kamplet banget pacar lo Re.” Ucap Satria menyenggol bahu Reano yang sedari tadi diam.
“Gw bukan pacarnya bang, Lexa nya gk mau sama gw, hehehe.” Ucap Reano dengan tawa sedih di akhirnya.
“AAAAAAA SAD BOY LU TERNYATA! BWAHAHAHA!” Ejek Satria dan yang lainnya membuat Reano jengkel.
Reano balik membalas tatapan geli mereka dengan tatapan kesal.“Vangsat kalian semua.”