
Jeans hitam dan hoodie putih melekat rapi ditubuh Chaterine malam ini. Gadis itu kini sudah siap menjalani malam yang sepertinya akan menjadi malam terberat bagi Chaterine. Seperti yang sudah Hans katakan disekolah tadi siang, mereka berdua akan berjalan-jalan bersama di taman hiburan.
Sebenarnya Chaterine berencana untuk tidak ikut tadinya dengan membuat alasan sedang tidak enak badan, tapi Chaterine juga merasa tidak enak jika membohongi kakak kelasnya itu. Kejadian di kantin siang tadi terus berputar dalam memorinya, membuat dirinya bimbang dengan keputusan yang ia ambil.
Ting...Ting
Mendengar suara klakson mobil, Chaterine segera berjalan kebawah.
Chaterine membuka pintu rumahnya lalu berjalan selangkah demi selangkah mendekat kerah mobil sedan hitam yang parkir di depan rumahnya.
Sungguh, Chaterine sangat gugup saat ini. Tangannya saja sudah sampai berkeringat dingin karena terlalu gugup.
"Lo pasti bisa, lagian ini cuma jalan biasa, gak lebih." Ucap Chaterine menyemangati diri sendiri agar tidak terlalu gugup.
Chaterine membuka pintu mobil dan terpampang lah penampakkan mengejutkan. Bagaimana tidak terkejut, di dalam mobil Hans sedang mengisap rokok. Jujur, sifat Hans di sekolah sangat bertolak belakang dengan sifat yang pria tunjukkan saat ini.
"Ka-kak Hans." Ucap Chaterine gagap karena terkejut dengan perubahan sifat kakak kelasnya ini.
"Masuk aja." Ucap Hans menciptakan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.
"T-tapi, gue gak suka asap rokok." Sungguh, Chaterine sangat membenci asap rokok. Entahlah, rasa ketidaksukaan nya ini sudah ada sejak dulu.
"Oh." Hans membuka jendela mobil lalu membuang rokok yang masih tersisa setengah.
Chaterine pun duduk di kursi disebelah Hans. "Jendelanya gue buka aja, boleh?" Tanya Chaterine takut-takut.
"Buka aja."
Mobil mulai dilajukan dengan kecepatan lambat oleh Hans.
"Gak kelamaan, kak?" Tanya Chaterine menoleh kearah Hans.
"Oh... jadi adik kelas gue yang lucu ini sukanya yang cepat, ya?" Tanya Hans balik dengan nada menggoda nya.
"Ihhh kak Hans! Bukan itu maksudnya." Chaterine membuang pandangan keluar jendela, malu dengan tatapan jahil Hans saat ini.
Hans mengacak rambut Chaterine gemas dengan sikap kekanakan yang gadis itu miliki."Hahaha... lo gemesin deh."
"Emang dari dulu." Balas Chaterine sombong.
Mobil terus melaju dan tanpa sadar, sedari tadi ada seseorang yang mengikuti mereka dengan penuh kebencian.
...*****...
Disinilah Chaterine saat ini, ditempat yang dipenuhi banyak orang yang tengah berjalan menikmati dinginnya angin malam.
Keluarga kecil yang sedang bermain bersama, banyak pasang kekasih, dan anak-anak yang dengan gembiranya mencoba satu-satu setiap wahana permainan, mampu menghangatkan hati setiap orang yang melihatnya.
Jangan lupakan juga dengan lampu warna-warni yang menghiasi seluruh taman. Kehangatan ini membuat gadis berbalut hoodie putih itu mengulang kenangan indah bersama seseorang yang amat Chaterine rindukan kehadirannya. Namun, rasa rindu itu tak akan bisa terobati, karena dia, seseorang yang sangat Chaterine rindukan tidak akan kembali lagi padanya.
"Ket... Chaterine..." Seseorang menggoyangkan bahu Chaterine membuat lamunannya buyar.
"Ehh, sorry kak."
"Mikirin apa, sih? Gue panggilin tiga kali gak lo tanggapin."
"Bukan apa-apa. Kita kemana dulu?" Tanya Chaterine mengalihkan pembicaraan.
"Makan dulu aja. Mau kan?" Tawar Hans.
"Boleh tuh. Lagian, gue juga belum makan. Hehehe." Jawab Chaterine menyetujui tawaran Hans.
"Yaudah, ayo!" Ucap Hans bersemangat.
"Tapi, kak Hans yang bayar, kan?"
Dasar Chaterine. Sifat tidak tahu malu itu masih saja melekat di tubuhnya. Bayangkan saja, seorang gadis cantik tanpa rasa malu menanyakan hal seperti itu. Kodrat wanita telah di jatuhkan oleh Chaterine, sungguh memalukan.
Tak ada lagi harapan untuk makan enak tanpa mengeluarkan uang. Jawaban singkat itu membuat semangat hidup seorang Chaterine berkurang. Padahal, ia sudah sangat berharap untuk menikmati semua jajanan dengan menggerogoti isi dompet Hans.
"Canda doang. Yuk, gue yang bayarin."
"Serius?!"
"Apa aja buat lo malam ini." Jawab Hans tersenyum tulus.
"Yeeay! Kak Hans yang terbaik!" Sorak Chaterine kegirangan. Sangking senangnya, gadis itu tak menyadari jika kini ia sedang memeluk Hans.
Hans mematung, hampir tak berkedip. Chaterine yang menyadari itu, segera melepaskan pelukannya.
Canggung. Itu lah yang tengah terjadi saat ini. Chaterine yang tak kuasa menahan malu hanya bisa menunduk meratapi kebodohannya.
"Sorry kak. Gue gak sengaja." Maaf Chaterine menggaruk tengkuknya yang pastinya tidak gatal.
"Eh, itu, gak apa-apa." Ujar Hans malu-malu. "Yaudah, yuk. Kalau gak, gue tinggalin." Canda Hans.
Kedua muda-mudi tersebut kemudian mencoba menikmati semua makanan yang ada di situ.
Hans nampak menikmati jalan malam mereka hari ini. Berbeda dengan Hans, Chaterine malah merasa kurang menikmati jalan-jalannya karena teringat dengan Siska. Di tambah lagi rasa was-was yang menyeruak dalam dirinya karena sudah menyadari ada seseorang yang mengikuti mereka sejak tadi.
Kini, Chaterine dan Hans tengah berada di salah satu tenda yang menjual jagung bakar. Chaterine nampak dengan lahap menikmati setiap bulir jagung bakar yang sungguh menggoda baginya. Hans yang berada di samping Chaterine terus-terusan tersenyum memandangi setiap inci wajah Chaterine.
Sungguh manis.
Mata bulat besar, rambut pendek lucu dengan poni yang menutupi kening membuat Hans gemas melihatnya. Jika saja Chaterine adalah miliknya, ia pastikan akan mencubit pipi gembul Chaterine dengan membabibuta Sangking lucunya.
Tapi untuk saat ini, gadis itu belum menjadi miliknya dan pastinya akan menjadi miliknya kedepan. Sungguh egois memang, tapi apa yang Hans inginkan harus ia dapatkan.
"Menurut lo, jagung nya gimana?" Tanya Hans masih memperhatikan Chaterine yang sedang makan.
"Enak, kayak biasanya." Jawab Chaterine cepat.
"Jadi lo sering kesini, ya?" Tanya Hans lagi.
"Eum, itu, gak kok." Bohong Chaterine.
Sungguh, Chaterine sangat anti jika di tanyai hal-hal yang berhubungan dengan kenangan masa lalunya. Sungguh sakit rasa nya jika kenangan-kenangan itu diingat lagi.
"Kak Hans ngerasain ada yang ngikutin kita gak?" Tanya Chaterine menatap seseorang dengan pakaian serba hitam yang memandangi mereka sejak tadi. Bukannya Chaterine mau menuduh, hanya saja sangat aneh jika sedari tadi seseorang selalu munc tak jauh dari mereka.
"Gak tuh. Emang siapa yang berani ikutin kita?"
Chaterine menunjuk seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat mereka saat ini. "Tuh." Hans mengikuti arah jari Chaterine.
"Gak mungkin dia, bisa saja tuh orang memang tujuannya sama kayak kita, jadi selalu ketemu deh." Ucap Hans berfikir positif. Hans memang sudah merasakan jika sedari tadi mereka diikuti, hanya saja ia tidak ingin memberitahu Chaterine karena takut jalan malam mereka yang pertama hancur total.
"Tapi gue Yakin, dia pasti penguntit." Kokoh Chaterine seraya berlari mendekat kearah orang tersebut.
"Chaterine!" Teriak Hans. Ia sudah lengah dalam menjaga Chaterine. Tanpa berpikir panjang, Hans lalu mengejar Chaterine.
Chaterine terus berlari hingga dirinya tinggal berjarak satu meter dari si penguntit tersebut. Chaterine sebenarnya takut kalau-kalau yang sedang berdiri dihadapannya ini adalah seorang penguntit, tetapi rasa penasarannya yang begitu melimpah menghilangkan semua rasa takut itu.
"Lo siapa?" Tanya Chaterine ketus.
"...." Orang tersebut tak bersuara, ditambah lagi topi dan masker hitam yang membuatnya semakin misterius.
"Kenapa lo ngikutin gue dan kak Hans? Emang gue ada salah apaan sama lo? Atau jangan-jangan lo itu orang suruhannya musuh ayah gue, biar gue di culik trus dijadiin bahan sandera, ia kan?" Tanya Chaterine bertubi-tubi.
Sama seperti yang tadi, orang tersebut tak menjawab. Hanya kekehan kecil yang keluar dari mulutnya membuat Chaterine merinding.
"Dasar bocah." Orang tersebut mulai bersuara lalu membuka topi dan maskernya yang membuat Chaterine mematung.