
Aula super besar dengan dominan properti berwarna putih terlihat sangat elegan. Bunga-bunga hidup menghiasi setiap sudut aula membuatnya semakin enak dipandang. Disinilah mereka sekarang, tempat dimana pernikahan sepupu reano digelar.
Jika terus diperhatikan dari segi dekor hingga para tamu undangan yang hadir disana dapat disimpulkan bahwa sepupunya tergolong orang sukses. Sepengetahuan Chaterine disana ada beberapa para pemimpin perusahaan yang pernah ia temui bersama ayahnya.
"Wow, megah banget." Ucap Chaterine menatap seluruh penjuru ruangan.
"Pastilah, namanya juga acara nikahan pasti megah. Gw juga bentar kalau nikah bakalan buat acaranya megah kayak gini, lebih megah kalau bisa." Ucap Reano menghela napas panjang.
Chaterine terkekeh. "Emang ada yang mau nikah sama lu?" Goda Chaterine yang dimana langsung membuat Reano geram ingin menggigit pipi gadis disebelahnya itu.
Pria itu mencoba merapalkan doa dalam hati, berharap sang mahakuasa memberinya kesabaran khusus malam ini saja. "Udah-udah, masuk gih." Reano menyodorkan tangannya kehadapan Chaterine.
Gadis itu menatapnya bingung. "Knp?"
Reano menghela napas berat, lalu setelahnya merebut paksa tangan gadis itu dan menggenggam nya.
Gadis yang rambutnya terurai itu menatap Reano jengkel.
"Udah nurut aja hari ini." Ucap Reano menarik Chaterine kedalam aula.
Banyak pasang mata yang menatap kedua remaja itu ketika berjalan masuk kedalam. Bagaimana tidak, mereka berdua terlihat sangat serasi malam ini. Reano degan kemeja dongkernya, tak lupa celana panjang hitamnya dan sebagai tambahan sepatu pantofel serta jam silver ditangan kiri.
Sedangkan Chaterine terlihat sangat anggun sekaligus menggemaskan dengan gaun dongkernya, kalung dan gelang senada ditambah sepatu hak hitam miliknya. Tidak lupa dengan anting cantik yang menggantung di telinganya.
Keduanya terus berjalan menuju tempat sepupunya Reano berada, sesekali menyapa dan melempar senyum kepada orang-orang yang menatap mereka.
"Hello kak saga." Spa Reano merangkul pria yang diketahui adalah sepupunya itu.
"Eh, datang juga Lo, kirain kagak datang." Saga di ust terkejut dengan kehadiran Reano, kerja sedari dulu ia tau betul kalau Reano sama sekali tidak suka saat diajak ke acara seperti ini. Buang-buang waktu katanya.
"Hehehe." Bukanya menjawab Reano malah terkekeh.
"Kenalin ini calon istri gw." Ucap Saga merangkul mesra perempuan cantik yang berdiri disebelahnya.
Reano membungkuk hormat kearah wanita disebelah. "Makasih ya kak udah mau jadi istrinya kak Saga. Dulu gw pernah mikir gimana kalau kak Saga ngebujang sampai mati, kan lucu. Makasih banyak loh." Ucap Reano dramatis.
Saga menatap Reano kesal. "Kamvret Lo." Ucapnya pada Reano.
"Hahaha, bisa aja kamu." Tawa sang perempuan itu mendengar penuturan Reano.
"Hihihi."
Sedangkan Reano sedang tertawa ria, dilain situasi Chaterine merasa sangat akward dalam kondisi sekarang ini. Canggung rasanya bertemu orang tua serta kerabat dekat Reano ditempat ini.
"Hallo cantik." Sapa Saga yang sadar akan keberadaan Chaterine.
Chaterine yang merasa aneh melihat kebelakang melihat apakah yang disapa sepupunya itu adalah orang lain.
"Ngapain tengik kebelakang, gw panggil Lo kok." Lanjut pria bertuxedo putih itu.
"Eh, hallo kak." Jawab chaterine gugup.
Reano menatap kesal kearah Saga. "Udah deh bang jangan gangguin Chaterine, udah mau nikah juga masih berani ganggu pacar sepupu sendiri." Ucapnya tanpa memperdulikan akibat dari kalimat yang ia lontarkan.
Dalam hati Chaterine mengumpat. Tunggu saja, setelah pulang dari acara ini ia akan memukuli Reano habis-habisan.
Saga menepuk pundak Reano cukup keras. "*****, udah punya pacar aja Lo ternyata Re?! Gila! Kaget gw."
"Eh, kamu udah punya pacar yah sayang? Kok gk bilang-bilang ke mama?" Ucap wanita paruhbaya yang diketahui adalah ibunya Reano.
Reano tersenyum konyol kearah ibunya. "Hehehe, anak mama kan ganteng, jadi bisa punya pacal sendiri." Ucapnya dengan pelafalan kata yang dibuat-buat agar terlihat imut.
Mendengar hal itu ibunya ikut tersenyum melihat putra satu-satunya bahagia.
Habis sudah. Semua keluarga Reano sudahendengar hal tersebut. Chaterine bisa apa jika kondisinya seperti ini. Ia hanya bisa mengikuti permainan yang Reano mulai.
Chaterine merasa aneh, ini semua terlalu mendadak baginya, dirinya belum siap dipersiapkan untuk hal-hal seperti ini. "Alexa Chaterine Tante." Jawab chaterine berusaha tersenyum ramah kearah ibunya Reano.
Wanita tersebut meraih pipi chaterine lalu memegang-meganggnya. 'Aaaa gemes banget kamu."
Reanosberta kerabat lainnya menatap aneh kearah dua perempuan tersebut. "Hmm itu emak gw yah bang?" Tanya Reano menatap kedua wanita itu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Hooh, emak lu tuh. Semangat yah." Jawab saga dengan tatapan yang sama dengan Reano.
Seluruh lampu seketika padam. Tapi tak lama kemudian lampu sorot bergeser kearah panggung dan disana telah berdiri seorang pembawa acara.
"Welcome all, bla bla bla..." MC mulai berbicara tanda resepsi akan segera dimulai.
Chaterine Reano dan yang lainnya segera mengambil tempat sedangkan kedua pengantin tersebut berjalan mesra keatas pelaminan yang sangat mewah dan elegan.
Acara terus berlangsung dengan Chaterine yang duduk disebelah Reano.
Chaterine dan yang lainnya fokus ke acara sedangkan Reano fokus kepada Chaterine. Dengan sigap Reano mendekatkan kursinya dengan Chaterine lalu merangkul pinggang gadis tersebut.
Chaterine kaget, seketika mata bulatnya menatap Reano jengkel. "Lepasin ihh." Ucapnya sambil berbisik.
Bukannya melepas, Reano malah mempererat rangkulannya. "Ga mau wlee." Ejeknya sambil berbisik tepat di telinga Chaterine.
Shit.
Tubuh Chaterine menegang kala tiupan nafas reano meyapu lembut leher jenjangnya.
Chaterine melototi Reano, bukannya takut pria itu malah menyunggingkan senyumnya pada Chaterine membuat gadis itu salah tingkah.
"Au ah."
Hampir pukul 10 seluruh acara inti dalam pernikahan telah selesai, kini saga dan Dinda sudah resmi menjadi suami istri. Dan waktu-waktu ini juga saat yang paling dinanti-nantikan banyak orang. Party.
Party bukan sembarang party. Bukan party yang biasanya dilakukan anak muda seperti saat ke club malam, tetapi party yang berkelas. Dimana musik yang diputar bukanlah musik keras dan minumannya hanya dengan anggur mahal dan beberapa puluh botol alkohol saja.
"Yeayy akhirnya bisa minum anggur banyak-banyak!" Mata Chaterine berlinang melihat puluhan bahkan ratusan botol anggur mahal di atas meja.
Pletak!
Reano menyentil dahi Chaterine sedikit keras. "Jangan nakal. Minumnya segelas aja, pilih anggur yang kadar alkoholnya rendah aja." Tegurnya panjang lebar.
Cahterine memutar bola matanya malas. "Emang gw anak kecil apa. Gw juga bisa minum banyak." Ujarnya melipat tangan di dada.
Reano membuang nafas kasar. "Udah dengerin kata gw aja. Tunggu disini, jangan kemana-mana. Gw mau kesana dulu." Pria itu kemudian beranjak pergi setelah mengelus pucuk gadis itu.
"Bodoamat."
Jari lentiknya kemudian meraih segelas anggur merah, meneguknya sedikit demi sedikit.
"Hmm.. enak."
Selagi mulut Chaterine mengecap minuman tersebut, matanya tetap fokus menatap orang-orang disekitarnya, sesekali menyapa orang yang tersenyum ke arahnya juga. Hingga pandangannya jatuh pada seorang gadis.
Gadis itu mengerutkan kening. "Kayaknya gw kenal?" Monolognya.
Matanya terus memandang gadis tersebut, hingga sang gadis menoleh ke arah Chaterine.
"Chaterine!"
"Selly!"
Pekik keduanya saat mata mereka saling bertemu.
Chaterine berdiri dari tempatnya lalu berjalan riang ke arah Selly, adik kelasnya di SMA Budi Sakti. Sedangkan Selly, menyambut kedatangan Chaterine dengan smirk di wajah lugunya itu.
"Kena kau!'