
Setelah hampir 1 setengah jam di jalan, akhirnya Reano, Chaterine dan Ivan sampai di tempat tujuan. Melihat ada
lahan parkir yang kosong, pria itu segera menyelipkan mobil nya diantara mobil lain nya. Pria itu membuka seat belt nya lalu menoleh ke kursi sebelah. Seketika ujung bibirnya tertarik, membentuk senyum tipis ketika melihat Chaterine yang tertidur dengan Ivan yang ikut tertidur didalam pelukannya.
‘Jadi gini rasanya jadi suami?!’ Pikir nya tanpa enggan menoleh ke arah lain.
Perlahan tapi pasti, Reano membangunkan Chaterine. “Lexa, bangun. Udah sampai.” Ucapnya sedikit berbisik karena takut membuat sang gadis terkejut.
Mata Chaterine perlahan terbuka, samar-samar dilihat nya wajah seseorang tepat di depan wajah nya.
Plak!
“Argghhh... hidung gw.” Ringis Reano saat gadis didepan nya tiba-tiba menyundul hidungnya dengan keras. Entah apa lagi salah nya kali ini.
“Anu... Sorry. Gw kaget abisnya.” Ucap Chaterine polos membuat Reano antara geram dan tidak tega jika harus memarahinya.
“Iya-iya, lu keluar duluan bareng Ivan, gw mau ngambil barang dulu di belakang.” Ujar Reano yang langsung dibalas gelengan dari Chaterine.
“Gw gk tau yang lain pada nunggu dimana, hehehe. Barengan aja yah om...” Pinta Chaterine dengan manis.
“Om gundul lu. Gw cium tau rasa.”
Chaterine dan Reano keluar dari mobil bersamaan, selagi Reano mengambil barang di bagasi mobil, Chaterine mencoba membangunkan Ivan yang masih terlelap.
“Yuk!” Ajak Reano dengan ransel Ivan di punggung, tote bag Chaterine di tangn, dan tas kecilnya digantungkan di leher.
Chaterine terkekeh melihat ekspresi Reano yang kesusahan membawa barang-barang mereka yang banyak.
“Paan cengar-cengir?!” Ucap Reano nyolot.
“Gpp, yaudah jalan.” Balas Chaterine
berbohong.
Setelah percecokan yang cukup lama akhirnya mereka bertiga berjalan mencari keberadaan teman-temannya. Dari kejauhan Chaterine melihat teman-temannya sedang duduk santai diatas alas berwarna pink. Segera lah Chaterine membawa Ivan kesana, yah lebih terkesan seperti meninggalkan Reano dengan tas-tas mereka.
“Hai guys!” Teriak Chaterine antusias.
Bukannya balik membalas dengan semangat, teman nya malah menatap nya sinis.
“Kirain gk bakalan datang.” Sindir Ayu karena sudah terlalu lama menunggu Chaterine dan Reano.
“Xixixi kan tadi Reano udah bilang kalau macet.” Jawab Chaterine memamerkan gigi kelinci nya.
“Iyain.”
“Lexa, lu jahat baget ninggalin gw.” Ucap pria yang baru datang dengan terengah-engah.
“Dih, orang lu yang tawarin ngangkat barang.” Cibir Chaterine sembari menurunkan Ivan dari gendongannya.
“Eh Ivan ikut juga?! Sini-sini main sama Kenzo!” Panggil Kristin sembari mengangkat anjing kesayangannya ke langit-langit.
Ivan langsung berlari kearah Kristin. “Wah! Anjingnya mirip om Hugo.” Girang Ivan dengan memeluk geram Kenzo.
“Dih bocil laknat! Sini gelud sama gw!” Kesal Hugo datang menghampiri Ivan lalu menggendongnya pergi entah kemana.
“Hahaha! Berulah lagi tuh bocah berdua.” Tawa Chaterine terlihat geli.
Selagi yang lain sedang sibuk membahas Ivan, Siska dan Flora yang tidak mengerti apa-apa hanya diam memperhatikan. “Dia Ivan, anak tetangga nya Reano. Dia sering ditinggal jadi Reano ngajakin dia biar gk kesepian.” Chaterine yang peka langsung memperkenalkan Ivan ke mereka karena memang saat pergi menjenguk Reano beberapa minggu yang lalu, Siska dan Flora belum ikut.
Siska terkekeh menertawakan diri sendiri. “Gw kira adek lu, hahaha.”
Chaterine balik tertawa. “Hahaha... kagak lah. Bunda gw gk mau ngisi lagi.”
Telinga Reano dengan cepat menangkap pembicaraan itu. “Yaudah kita aja yang buat anak untuk bunda lu, xixixi.” Sosornya tanpa menyaring terlebih dahulu.
“Bejat.” Ucap Flora jijik tepat setelah Reano berucap demikian.
“Eh BTW lu bertiga kayak keluarga yang masih baru punya anak gitu.” Ucap Raka tiba-tiba.
Pipi Chaterine spontan memerah. “Paan sih, mirip dari mana nya.” Ucap Chaterine menolak pernyataan Pria itu.
Telunjuk ayu mengarah satu persatu ke arah Reano dan Chaterine bergantian. “Noh baju lu bertiga putih-putih kayak yang mau naik ke surga.” Tunjuk gadis itu.
Chaterine spontan melihat pakaian yang ia kenakan, benar saja warnanya sama dengan apa yang digunakan oleh Reano dan Ivan, ditambah lagi mode casual nya yang membuat mereka bertiga semakin serasi.
“Ihhh... lu ngikutin baju gw ya?!” Tanya Chaterine melotot kearah Reano.
Pria itu segera membentuk silang dengan tangannya. “Gk lah, ngapain juga gw ngikut-ngikut lu. Palingan lu sendiri yang ngikutin gw biar dibilang couple sama cogan kayak gw.” Balas Reano
tak kalah metototi Chaterine.
Chaterine menggeram kesal. “Orang waktu gw datang ke apartemen lu, lu nya masih belum selesai siap-siap. Berarti lu yang ngikut gw!”
“Lanjut lagi gw tendang.” Ucap seseorang dingin.
“Hehehe iya Flo, gk lanjut lagi nih.” Chaterine menciut kala Flora mulai berbicara.
OUTFIT REANO

OUTFIT CHATERINE

OUTFIT IVAN

“Oy semuanya perhatian!” Teriak Hugo dengan volume yang sangat besar, bahkan sampai pengunjung lain yang sedang berpiknik di sana ikut menoleh kearah mereka.
“Jir, suara lu kurang gede Udin. Bikin malu aja.” Sinis Aditya.
“Wkwkwk. Nanti kita lanjut gelud, gw mau buka acara dulu.” Ucap Hugo menyengir-ria.
Para Bucin sejagad langsung berhambur entah kemana. Ada yang betah duduk di rumput dengan ditemani cemilan seperti yang sedang dilakukan Chaterine, Ayu dan Aditya. Sedangkan yang lain melakukan aktivitas yang lebih energik. Siska dan Flora yang bermain-main di pinggir sungai yang memang dekat dengan tempat
mereka. Hugo, Kristin dan Ivan yang bermain bersama Kenzo dan sisanya bermain bola kaki.
Semuanya nampak bahagia, senyum-tawa tanpa henti bermuculan. Berlarian kesana-kemari menikmati hari libur mereka, ditemani hembusan angin yang membawa dedaunan menyapu kulit mereka. Sungguh ini nikmatnya bersahabat, saling bahagia disaat suasana hati mendukung, susah senang juga ditanggung bersama.
“Damai banget kalau hidup gw kayak gini terus.” Ucap Chaterine disela-sela pembicaraan Ayu dan Aditya.
Kedua gadis itu menoleh menampilkan raut bingung kepada Chaterine.
“Gk kayak dulu lagi.” Lanjutnya sambil menatap langit yang mulai berganti warna menjadi jingga. Tatapannya sayu, namun sejuta kebahagiaan terpancar dari sana.
“Bagus kalau lu bisa seneng kayak gini, kita-kita juga ikutan senang.” Ucap Ayu mendekat ke tempat Chaterine.
Chaterine menoleh Ayu yang sudah duduk anteng disebelah nya. “Beneran nih kalian seneng?” Tanya Chaterine menggoda.
Gadis itu menggangguk, “Hooh.”
“Em, tapi tuh bocah bikin gw ragu sama jawaban lu, hahaha.” Ucap Chaterine geli sambil menunjuk ke arah Aditya yang sedang kerasukan cemilan tanpa memperdulikan orang lain.
Ayu menggeleng tak percaya. “Hahaha...Gw tarik kata-kata gw kembali.”
“Woy beres-beres kuy! Udah sore!” Teriak Raka dengan peluh mengucur deras karena baru selesai bermain bola.
Tanpa berlama-lama, anak-anak itu segera membersihkan tempat sekitar yang mereka pakai tadi, tak lupa kembali merapikan barang yang mereka bawa.
“Kita pulang sekarang?” Tanya Reano kepada Chaterine yang baru saja selesai merapihkan barang-barangnya.
“Iya.” Balasnya mantap. “Eh tapi Ivan dimana?” Tanya Chaterine sambil mencari kesekeliling.
“Kakak!” Teriak Ivan Berlari kearah Chaterine.
Chaterine sedikit terkejut melihat Ivan. Pakaian yang penuh debu dan lumpur dimana-mana, membuat gadis tersebut ingin memarahi Ivan.
“Ihh kotor banget. Sini aku tukar dulu bajunya.” Ucap Chaterine membawa Ivan ke toilet.
“Lu ikut juga. Bawain tas nya Ivan.” Suruh Chaterine kepada Reano yang masih stand by disana.
Tanpa berlama-lama Pria itu mengikuti langkah Chaterine menuju toilet yang ada disana. Hampir 15 menit Chaterine dan Ivan di dalam sana, namun keduanya masih belum keluar.
“Masih lama gk?” Tanya Reano mengetuk-ngetuk pintu dari luar.
Dari dalam Chaterine membuka pintu toilet. “Ini baru kelar.”
“Kesiniin Ivan, biar gw gendong.” Ucap Reano menggambil Ivan dari gendongan Chaterine.
“Reano!” Ketika ketiga orang itu hendak pergi, seorang gadis memanggil Reano.
Reano dan Chaterine sontak berbalik kebelakang. Gadis tersebut dengan cepat berlari dan memeluk Reano.
Reano terkejut bukan main, apalagi Chaterine yang terkejut dicampur lagi dengan rasa cemburu. “Gw kangen sama lu Vin” Ucap Gadis itu memperdalam pelukannya.
Sadar akan tingkah kurang hajar gadis itu, Reano segera mendorongnya kasar. “Gw gk kenal lu.” Ucap Reano mencoba berusaha untuk tidak membentak gadis tersebut.
“Tapi gw kenal lu, lu Reano Calvin Putra, cowo yang udah gw tungguin selama ini. Jujur gw gk nyangka bisa ketemu lu disini, seneng banget!” Jelas gadis itu penuh semangat, matanya ikut berlinang saat menjelaskan hal tersebut.
“Gw minta maaf banget, tapi gw bener-bener gk kenal sama lu.” Ucap Reano berlalu pergi dengan membawa Chaterine dan Ivan meninggalkan gadis tak dikenali itu.
Gadis itu mengeluarkan smirk nya. “Gw pasti bisa dapatin lu.”