
Semua penghuni kelas terdiam melihat sang pemilik suara. Semua pada lari kocar-kacir kearah meja mereka melihat siapa yang datang.
"Hai pak Aldi." Sapa Netter setelah ia berhasil duduk di bangkunya.
"Hebat ya kalian." Tak memperdulikan Netter, pak Aldi malah meluncurkan pujian atas 'kehebatan' kelas XI-2.
"Emang hebat pak. Bapak kayak baru tau aja. Hehehe." Sambar Krisman dengan kekehan diakhir kalimatnya.
Sementara yang lain sedang menyelamatkan diri, Reano malah mematung di tempat ia berdiri. Karena tingkat kebucinan yang semakin menjadi membuat pria itu lupa segalanya. Tidak ada juga murid yang mau mengingatkan pria itu.
Pak Aldi menatap aneh kearah Reano yang mematung.
"Ehem." Pak Aldi berdehem dengan sengaja, membuat Reano sadar akan kehadiran guru matematika itu.
Reano tersenyum kikuk ke arah pak Aldi yang tengah melototi Reano. "Eh, sorry pak. Hehehe." Maaf Reano sembari melangkah kekursinya.
Belum sempat pantatnya mendarat, pak Aldi kembali berkicau. "Siapa yang suruh kamu duduk!?"
"Eh, itu, gk ada yang suruh pak." Jawab Reano tersenyum konyol.
Belum selesai berurusan dengan Reano pak Aldi meluncurkan pertanyaan kepada seluruh murid kelas XI-2. "Siapa saja yang buat rusuh kelas kayak gini?!"
"Chaterine sama Reano pak!!!!" Sorak seluruh penghuni kelas.
Chaterine mengangkat kepala spontan dihiasi mata bulatnya yang melotot sempurna bagaikan bulan purnama.
Ingin rasanya Chaterine memaki satu persatu teman kelasnya yang dengan mudahnya menuduh dirinya. Terutama tiga sohibnya, Ayu, Adit, dan Kristin yang suaranya paling besar. Tapi untuk sekarang, Chaterine masih menahan keinginan itu. Ia harus menunggu hingga tidak ada guru di kelas.
Pak Aldi menatap tajam kearah dua tersangka pembuat onar dikelasnya.
Menyadari hal itu, Chaterine langsung melalukan pembelaan terhadap dirinya. "Saya tidak salah pak. Dalam kasus ini saya hanya korban. Yang salah dia." Bela Chaterine lalu menuduh Reano.
Pak Aldi manggut-manggut mendengar pembelaan Chaterine. Setelahnya tatapannya diarahkan sepenuhnya pada Reano. "Masih ada pembelaan yang mau kamu sampaikan?" Tanya pak Aldi dengan gaya pengacaranya.
Reano melangkah selangkah kedepan."Saya tidak menerima tuduhan dari tersangka Chaterine. Sejujurnya yang menjadi korban adalah saya." Tegas Reano layaknya seorang korban dalam sebuah pengadilan.
Pak Aldi membenarkan kacamatanya yang melorot, kemudian bersiap mengungkapkan putusannya tentang kasus ini. "Saya rasa yang bersalah disini adalah...-" Pak Aldi menggantungkan kalimatnya membuat kedua tersangka penasaran setengah mati. "Kalian berdua. SEKARANG KELUAR DARI KELAS SAYA LALU BANTU BERBERES DI PANTRI SEBAGAI HUKUMAN!" Pak Aldi menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan napas.
Murid kelas XI-2 yang melihat adegan itu menatap jijik kearah tiga tokoh utama yang sedang memainkan drama yang mereka ciptakan sendiri.
"Tapi pak saya tidak bersalah." Kokoh Chaterine membela diri.
"TIDAK ADA ALASAN! CEPAT KELUAR!"
Chaterine dan Reano berjalan dengan lesu kearah pintu, lalu berjalan kearah pantri. Tidak lupa dengan umpatan saling menyalahkan satu sama lain.
...*****...
"Bang Faje, udah napa?! Pegel nih tangan!" Keluh Chaterine sedari tadi.
"Yaampun dek, baru lima menit juga. Masa udah capek aja?" Ucap seorang petugas kebersihan yang kerap di panggil dengan nama 'Faje'.
"Yaelah bang, dari tadi lima menit melulu. Capek tau!" Keluh Chaterine.
"Sabar dek, dikit lagi juga jendelanya bakalan bersih." Ucap bang Faje menyemangati.
"Kamu juga, yang disitu kurang bersih. Gosoknya yang kuatan dikit." Suruh bang Faje pada Reano. Sedangkan Reano memasang wajah masam menatap jendela besar disebelah pantri.
"Arghhh. Udah deh bang! Gue capek" kesal Chaterine sambil melempar kain lap yang ia gunakan kelantai.
Bang Faje menatap kain lap itu iba. Tidak pernah sekalipun ia memperlakukan kain lapnya sekasar itu.
"Gue pergi dulu ye bang." Pamit Chaterine meninggalkan bang Faje yg tengah terlarut dalam kesedihannya menatap kain lap yg Chaterine lempar tadi.
Reano menatap Chaterine yg semakin menjauh. "Tungguin woy! Gue ikut!"
Reano melempar kain lap yg ia pegang lalu berlari mengejar Chaterine.
Reano terus berlari hingga langkahnya sejajar dengan Chaterine. "Jalan lo cepat amat sih! Capek tau ngejar lo. Ditambah lagi lo gk ngerespon usaha gue." Reano berucap demikian dengan napas terengah-engah, ditambah lagi degan kalimat yang menyindir Chaterine di akhirnya.
Chaterine berhenti berjalan, begitupun dengan Reano. "Gue gk ada minta lo buat ngejar gue, jadi lo gk usah deh ngeluh ke gue. Kalau capek, mending gk usah ngejar." Setelah mengatakan yang seharusnya ia katakan Chaterine melanjutkan jalannya.
"kok nyesek ya?" Reano berkata demikian dengan kepalan tangannya yang menepuk-nepuk dadanya. Dua kalimat yang cukup tajam untuk menyayat hati seorang Reano memang, tapi apa daya jika ingin mendapatkan sesuatu, seseorang sudah harus siap mendapat perlakuan buruk didalam prosesnya.
"Gue cowok dan gue gk boleh cepat nyerah gitu aja!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri, lalu setelahnya berlari dengan kencang mencari Chaterine.
Kakinya terus bergerak hingga Reano menemukan Chaterine yang tengah duduk manis di lapak jualannya bi Siti sambil menyeruput es teh manis.
Reano datang menghampiri Chaterine, tapi Chaterine yang sibuk dengan ponselnya tidak mengetahui kedatangan Reano. Hingga gadis itu sadar akan kedatangan Reano ketika pria itu mengambil gelas es teh manis milik Chaterine, lalu menyeruputnya hingga tinggal es nya yang bersisa.
Chaterine menoleh keatas, menatap si pencuri es teh manisnya. "Lo lagi! Lo lagi! Gue bosan ngeliat lo setiap hari! Lo gk capek gangguin gue melulu?!" Kesal Chaterine setengah berteriak dihadapan Reano.
Reano mengeluarkan smirknya membuat Chaterine sedikit takut. " Lo nanya gue kalau gue capek gangguin lo?" Ucap Reano mengulang pertanyaan Chaterine, tapi dengan nada yang menyeramkan bagi Chaterine.
Shit!
Chaterine sungguh tidak tahan dengan situasi ini. Panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya ketika Reano berbisik di telinganya, membuat tubuhnya menegang bercampur geli karena tiupan nafas dari mulut Reano.
Tersadar dari itu, Chaterine segera mendorong Reano menjauh darinya, dengan wajah yang sudah merah padam tentunya.
"Ngapain bisik-bisik kalau bisa ngomong biasa aja?!" Ucap Chaterine kesal bercampur malu.
Reano terkekeh menyadari pipi Chaterine yang bersemu merah. "Hahaha, baru digituin aja pipinya udah pada merah-merah semua."
"Apaan sih?! Yang pipinya merah siapa?!" Chaterine mengelak sembari menundukkan kepalanya agar pria tinggi dihadapannya ini tidak bisa melihat wajahnya.
"Hahahaha... Lo gemesin deh, gue tambah sayang jadinya."
Chaterine terdiam. Pipi nya terasa semakin panas mendengar satu kalimat itu dari mulut Reano. Entah kenapa dadanya ikut merespon kalimat itu. Dadanya semakin cepat berdetak rasanya, membuat Chaterine semakin tidak mengerti dengan dirinya yang sekarang.
"Udah deh. Gue mau pergi." Ucapnya bermaksud untuk pergi namun langsung ditahan Reano.
"Mau kemana?" Tanya Reano dengan dahi mengerut.
"Bukan urusan lo." Sarkas Chaterine mulai melangkah.
Belum sempat Chaterine melangkah untuk yang kedua kalinya, tidak ada angin tidak ada hujan, ia sudah berada di dalam gendongan Reano.
Chaterine terkejut bukan main. Dengan semangat Reano menggendong Chaterine kearah parkiran. Namun cukup sulit untuk menggendong gadis itu hingga sampai ke parkiran, beratnya yang lumayan ditambah lagi dengan setiap gerakan memberontak yang Chaterine luncurkan membuat Reano kesusahan
Chaterine menggerak-gerakkan kakinya serta memukul dada bidang Reano dengan kepalan tangan kecil miliknya.
"Huaaaa... Turunin gue! Gue aduin bunda gue kalau gk lo turunin!"
Begitulah kira-kira penggalan teriakan yang Chaterine luncurkan kepada Reano, membuat sang pria hampir tuli.
Setelah perjuangan yang cukup berat, Reano akhirnya sampai di parkiran dan berhasil mendudukkan Chaterine diatas motor maticnya. "Udah gue turunin ya. Sekarang tenang, budeg gue lama-lama, untung sayang."
Chaterine membuang pandangan kearah lain, tidak mau menatap Reano. "Humph!"
"Ngambek melulu deh kerjaan lo, gue cium baru tau rasa lo."
Chaterine membulatkan matanya terkejut, dengan cekatan ia menutup mulutnya dengan tangan kecilnya. "Jangan macam-macam sama gue."
"Makanya turutin apa yang gue bilang." Ucap pria itu bergegas naik keatas motor lalu menyalakan motornya.
"Kita mau kemana?" Tanya Chaterine bingung ketika Reano mulai mengeluarkan motornya dari parkiran.
"Rahasia. Pokoknya ini tempat spesial. Lo bakalan suka deh." Jawab Reano santai dan dengan cekatan menancap gas hingga Chaterine dan dirinya melesat diantara ramainya pengendara lalulintas.
Baru 5 menit mereka di perjalanan, gadis di boncengan Reano sudah merasa bosan saja. Ditambah lagi Reano yang tidak membuka percakapan sedari tadi membuat rasa bosannya semakin menjadi.
Akhirnya Chaterine memutuskan bernyanyi saja untuk menghilangkan rasa bosannya.
"Aku kesal dengan jarak, yang sering memisahkan kita, hingga aku hanya bisa berbincang dengan mu di WhatsApp~~" Nyanyi Chaterine dengan suara imutnya.
"Aku kesal dengan waktu,yang tak pernah berhenti bergerak, barang sejenak agar ku bisa menikmati tawa mu~~" Lanjut seseorang dengan suara beratnya, membuat Chaterine berhenti bernyanyi. Reano, pria itu yang melanjutkan nyanyian Chaterine.
Sura yang berat tapi enak untuk didengar. "Ingin ku berdiri disebelah mu, menggenggam erat jari-jarimu, mendengarkan lagu Sheila On Seven seperti watu itu, saat kau disisiku~~" Lanjut Reano bernyanyi sambil menatap Chaterine dari kaca spion motornya. Chaterine yang dibonceng balik menatap pria yang tengah tersenyum menatapnya di kaca spion membuat sudut bibirnya tertarik membalas senyum itu.
"Dan tunggulah aku disana, memecahkan celengan rinduku, berboncengan dengan mu, mengelilingi kota, menikmati Surya perlahan menghilang, hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukku, lalu kita kembali menabung rasa rindu, saling mengirim doa, sampai nanti sayang ku..." Dan akhirnya satu bagian dari lagu 'Celengan Rindu' berhasil diselesaikan oleh dua orang remaja yang tengah berkendara itu.
Suara imut milik Chaterine berpadu sempurna dengan nada berat milik Reano, membuat lagu yang telah mereka nyanyikan terdengar lebih merdu.
"Suara lo bagus ya." Ucap Chaterine memuji Reano.
Reano seakan membeku mendengar itu. "Lo, lo muji gue?!" Tidak bisa dipercaya, seorang Chaterine mengklaim suara Reano bagus.
Menangkap gerak-gerik Reano, Chaterine segera meluruskan ucapannya. "Gk usah kegeeran ya. Gue muji lo karna gue itu gk suka bohong sama orang."
Reano mendelik didalam hati. 'Gk suka bohong? Nih cewek aneh bener, perasaan tiap hari kerjaannya boongin gue melulu. Gue gk habis pikir bisa suka sama nih cewek.'
"Iyain deh." Pasrah Reano.
"Masih jauh gk?" Tanya Chaterine memandang kesekitar.
"Hampir sampai kok."
Setelah 15 menit, akhirnya mereka sampai di tempat yang pria itu maksud.
"Turun gih. Udah sampai."
"WAHHHHHH!"