
^^^**sebelum baca jangan lupa like dan rate😐 jangan jadi silent reader 😐🙂😗😗🍼^^^
...HAPPY READING🍼🍼🍼**...
Jam break tiba, awalnya Reano sangat ingin mampir ke kantin namun entah mengapa perasaanya kurang enak, jadi ia memutuskan kembali ke kelas saja.
“Bwahahaha! Bisa ae lo kutil!” Hugo tertawa terbahak-bahak mendengar cerita yang Raka ceritakan barusan.
“Jir, suara lo gede amat Jenudin.” Reano memukul kepala Hugo membuat pria itu meringis kesakitan.
“Sakit, pe’a.” Umpatnya.
“Eh tunggu, itu Chaterine kan?”
Langkah Reano terhenti kala mendengar nama Chaterine. Benar saja Chaterine lewat di depan rombongan Reano dengan tergesa-gesa.
Reano menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari terus menatap kepergian Chaterine. “Gw duluan.” Ucap Reano lalu segera berlari ke arah kelas.
Larinya di rem mendadak kala seorang pria keluar dari dalam kelasnya, hampir menabraknya. Reano mendesis setelah mengetahui siapa pria yang ada di hadapannya itu.
“Terburu banget gw perhatiin.” Ucap Hans melayangkan tatapan menghina kepada Reano.
Pria itu menatapnya dingin. “Lexa kemana?” Tanyanya to the point.
Hans terkekeh. “Urusan lo sama Chaterine apaan? Kalaupun gw tau, belum tentu gw mau kasih tau ke lo.”
“Sialan.” Tanpa sadar Reano mencengkram kuat kerah Hans.
Semua perhatian tertuju pada mereka berdua, bisik-bisikan terdengar samar-samar dari mulut siswa-siswi penggosip.
“Kasih tau atau sekarang gw bisa saja rusak citra lo di sekolah ini.” Ucap Reano tersenyum miring. Hans menatap ke sekeliling, benar saja ada banyak orang yang melihat mereka. Jangan sampai citra yang sudah pria itu buat akan hancur mendekati waktu kelulusannya.
Hans mendesis. “Mau ngambil salinan gambarnya.” Ucap Hans dingin.
Reano melepas cengkraman tadi, meninggalkan bekas disana. Pria itu berjalan tergesa ke meja Chaterine lalu mengecek lacinya dengan teliti. Hasilnya nihil, tidak ada kanvas yang tadi ia simpan di dalam sana. ‘Gk mungkin bisa hilang begitu saja.’ Batinnya berkata bahwa ada yang sengaja menghilangkan gambar Chaterine, tapi siapa?
Sebuah wajah terlintas di pikirannya. Gadis yang tadi siang keluar dari kelasnya. Tanpa sengaja pandangan Reano mendarat pada tempat sampah yang berada di pojok kelas, nampak kacau. Reano mendekatinya lalu menumpahkan seluruh isinya. Dirinya menatap geram sebuah kanvas yang keluar dari tong sampah tersebut. Tangannya meraih kanvasnya lalu menggenggamnya erat. “Gadis sialan.” Umpatnya.
Segera Reano keluar dari kelas dan memberikan kanvas tersebut pada Hans yang masih berdiri di depan kelasnya. “Lo kumpulin punya Lexa.” Ucapnya singkat lalu berlari meninggalkan Hans di sana.
“Semoga Lexa masih gk jauh dari sini.”
*****
Sudah di putuskan, Chaterine akan berlari saja menuju rumahnya. Selama dua hari ini, ia sudah memberi yang terbaik untuk mengejar nilainya yang tertinggal melalui gambar ini. Tidak mungkin dengan begitu bodohnya dia menyerah begitu saja.
15 menit sudah Chaterine berlari, namun dirinya masih belum sampai, setengah jalan pun masih belum. “Sial! Kaki gw keseleo!” Chaterine mengerem langkahnya mendadak, membuat kakinya yang keseleo semakin sakit. “Arghh!” Air matanya turun dengan deras, capek, sakit, serta gelisah tersalur melalui tangisannya itu. Dengan sekuat tenaga, dirinya berusaha berdiri. Masih dengan air mata yang mengalir deras gadis itu melanjutkan larinya. “Paksa!” Gadis itu memukul-mukul kakinya agar terus berlari.
Sakit.
Chaterine meringis kala kakinya di paksa berlari. Nyeri terasa sangat nyata, ingin berhenti berlari untuk rehat sejenak namun tidak bisa. Langit menggelap, tanda akan hujan. Jika dirinya berhenti sekarang pasti pergerakannya akan semakin melambat jika menuggu hingga hujan turun.
Tes. Tes. Tes.
Sudah tidak sempat. Langit tanpa segan menjatuhkan setetes demi setetes air, membasahi pipi Chaterine. Hujan semakin deras, air matanya bercampur dengan air hujan, seakan-akan alam ikut menangis bersamanya.
Chaterine terjatuh lagi, sakit di kakinya bertambah parah membuat dirinya tidak bisa bangkit lagi. “Kaki sialan!”
Tangannya memukul-mukul kakinya keras. “Dasar kaki tidak berguna!” Dirinya merutuki kakinya sendiri, sengsaranya bertambah kala dinginnya air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Angin yang cukup kuat serta air hujan yang sangat deras membuatnya hampir beku, bibir serta ujung jarinya memucat sangking dinginnya.
“Hikss... sakit...” Lirihnya tertahan.
*****
Reano POV
“Astaga nih anak kemana?!” Gw mengacak rambut frustasi. Seluruh bagian sekolah sudah gw periksa namun Lexa sama sekali tidak bisa gw temukan.
“Arghhh!” Gw menendang kursi yang berada tidak jauh dari tempat gw berdiri. Otak gw terus berpikir, mengingat tempat mana yang belum gw cek.
“Atau Lexa keluar sekolah?”
Tanpa berpikir panjang gw langsung berjalan ke parkiran dan membawa motor dengan kecepatan diatas rata-rata. Makian yang diluncurkan pengemudi lain karna mengemudi ugal-ugalan sama sekali tidak gw hiraukan. Tidak lama hujan turun, hujan yang semakin deras nampak jelas pada kaca helm yang mulai di penuhi bulir-bulir air.
Gw mengigit bibir bawah gelisah. “Sial, hujan turun.” Gw semakin mempercepat laju motor yang gw kendarai. “Tungguin gw Lexa.”
Dari jauh terlihat samar-samar seorang gadis yang meringkuk di atas aspal. Gw memperlambat laju motor, mencoba memastikan apakah itu Lexa atau bukan.
“Lexa...” Spontan gw menyebut nama gadis tersebut setelah memastikan bahwa itu adalah dia. Gw meninggalkan motor tak jauh dari gadis tersebut. Gw segera berlari menghampiri Lexa yang meringkuk memeluk kedua lututnya.
Gw berdiri tepat di belakangnya, tubuh gw di condongkan kedepan beruaha menahan air hujan agar tidak membasahi gadis malang itu.
Lexa yang sadar ada yang berbeda mendongak ke atas, menatap tepat ke wajah gw. Jarak wajahnya dan dan wajah gw yang sangat dekat membuat gw bisa dengan jelas merasakan hembusan nafas dingin darinya.
Gadis itu tersenyum tipis. “Haish, lo lagi.” Ucapnya pelan.
“Bodoh. Gadis bodoh.” Gw mengetuk pelan dahi gadis itu. Bukannya merasa sedih ia malah terkekeh.
Hujan yang semakin deras membasahi rambut gw seluruhnya, membuat beberapa tetes air mengalir ke wajah gw dan kembali menetes lagi tepat di wajah Lexa. Mata gw menatap intens wajahnya dari dekat, satu pun tak luput dari pandangan gw. Dan bibirnya...
Rasa tenang gw karena bisa menemukan Lexa kembali memudar. Bibirnya terlihat sangat biru karena kedinginan. “Lexa kita pulang sekarang.” Ucap gw khawatir.
Gadis itu menunduk kemudian menggeleng pelan. “Gk, kanvas gw belum ketemu.” Ucapnya singkat.
“Gw bilang pulang sekarang! Masalah nilai lo biar gw yang urus!” Hujan yang semakin deras memaksakan gw harus bersaing dengan kerasnya suara air yang jatuh ke bumi.
Gadis itu kembali mendongak memandang gw. “Really?” Tanyanya gemetar.
“Iya.” Ucap gw tegas. “Sekarang kita pulang.” Gw manarik tangan Chaterine namun langsung di tepis olehnya.
“Aww! Jangan tarik, kaki gw sakit.” Ringisnya kala rasa sakit di kakinya kembali merespon.
Gw memegang kakinya pelan. “Sttt.... sakit... pelan-pelan...” Lirihnya berusaha tidak menangis.
“Gk bisa jalan?” Tanya gw menoleh ke arahnya, dan langsung di jawab dengan gelengen.
Tanpa ragu gw menggendong tubuh gadis tersebut, membopongnya hingga sampai ke atas motor.
“Eh, turunin gw...”