REANO

REANO
Chapter 41



Hampir 10 menit kamar Reano dipenuhi hawa mencekam. Manusia-manusia yang ada didalam sana juga enggan untuk membuka mulut. Begitu juga dengan Chaterine, yang semakin tidak nyaman dengan dua pria yang menatapnya sekarang, seakan sedang beradu siapa yang paling lama menatap dirinya.


“Ekhem! Kalian kenapa sih?!” Tanya Chaterine mulai tak tahan.


“Gpp.” Jawab Reano masih enggan beralih pandang dari Chaterine.


Chaterine menggeram dalam hati, tidak apa bagaimana?! Sedari tadi mereka hanya menatapnya saja! Pikir gadis itu.


Chaterine berdiri dari tempatnya, segera diambilnya tas slempang nya lalu berjalan ke arah pintu. “Bye gw pulang!”


BRAK!


Belum sempat dirinya keluar dari kamar tersebut, tiba-tiba saja pintunya terbuka dengan sangat kuat membuat jidatnya beradu keras dengan pintu kayu itu.


“Arghhh jidat gw!” Keluhnya kesakitan.


“Astaga ket! Sorry gw gk sengaja!” Segera seorang gadis memeluk Chaterine dan meniup-niup jidatnya yang memerah. “Sorry ket. Gw gk tau kalau ada lo dibalik pintunya.” Ucap gadis itu terlihat sangat khawatir.


“Iya, iya. Gpp Dit...” Ucap Chaterine tidak mempermasalahkan hal tersebut.


“Tuh kan! Itu akibatnya kalau ninggalin kita-kita!” Teriak Hugo dari sofa.


Chaterine melempar pandang kesal padanya. Ingin sekali rasanya mengebiri pria yang mengejeknya itu. “Huh! Serah! Bodoamat!”


“lo udah mau pergi aja dugong? Gw sama yang lain baru datang loh.” Tanya Ayu menghampiri Chaterine.


“Lo pergi sekarang, sama aja dengan ngehianati hubungan yang udah kita jalin selama ini zheyenk...” Ucap Ayu kelewat menjijikan.


Chaterine dan yang lainnya menatap wanita itu dingin, bahkan Ivan pun ikut-ikutan.


“Alay lo! Alay!” Ucap Hugo masih dengan suara besarnya.


“Ayok dong Lexa, tinggal bentar lagi. Kasihan yang lain pada canggung kalau lo nya gk ada.” Pinta Reano dengan puppy eyesnya.


Chaterine menghela nafas panjang. “Oke.” Ucapnya singkat.


Jadilah malam itu mereka menghabiskan banyak waktu dengan berbincang banyak hal, tidak lupa dengan melahap banyak cemilan yang sudah disediakan ibunya Reano. Jarum jam terus berputar tanpa kenal lelah, hingga saat jarumnya berhenti di angka 9 mengalihkan perhatian Chaterine dan teman-teman.


“Udah malam, gw pulang dulu. Entar gw di gebuk sama emak lagi.” Ucap Ayu pamit kepada Reano dan yang lainnya.


Chaterine menatap jam di dinding kamar Reano. “Gw juga pulang deh, nanti bunda khawatir lagi.” Pamitnya sama seperti Ayu.


“Tadi lo kesini bareng siapa?” Tanya Reano menyelidiki Chaterine.


“sendirian doang, naik taksi.” Jawab gadis itu lugu.


“Kamu cewek loh yah, gk baik pulang sendirian. Mending nebeng sama temen kamu gih.” Suruh ibunya Reano buka suara.


Reano mendadak bangun dari tempat tidurnya. “Biar aku yang anterin aja ma.” Ucap Reano bersemangat. Namun semangatnya itu langsung hilang ketika ibunya mencubit keras di perutnyna. “Masih sakit udah mau berkeliaran aja. Balik ke tempat tidur sana!”


Ibunya dengan garang memerintahkan Reano untuk tidur kembali. Reano yang tidak mampu mengalahkan kegarangan ibunya itu dengan patuh kembali ke ranjangnya.


“Biar saya saja yang anterin deh tante.” Ucap Bless tiba-tiba, membuat seluruh perhatian teralihkan padanya. Termasuk Reano yang menatapnya geram.


“Ya udah, anterin Chaterine nya sampai rumah ya. Jangan keluyuran lagi.” Peringat wanita paruh baya itu menyetujui.


“Eh, gk ngerepotin nih Bless? Lagian rumah kita gk searah loh yah.” Tanya Chaterine ragu-ragu.


Bless mengacak rambut gadis dihadapannya gemas. “Iya gpp. Sini yok, gw anterin.” Segera ia tarik tangan mungil dihadapannya. Membawanya pergi keluar bersamanya.


“Saya juga pulang ya tante cantik, byee.” Pamit Hugo juga, karna memang waktu yang sudah malam juga memaksakan mereka untuk segera pulang.


“Tante saya pamit dulu yah! Makasih cemilannya!” suara Chaterine terdengar cukup besar membuat yg lainnya terkekeh. But, hal itu tidak berlaku pada Reano, kecemburuan tersirat jelas dari wajahnya.


“Ma, kenapa tadi larang gw buat anterin Chaterine?! huh!” Kesal Reano setelah tinggal ibunya yang ada disana.


“Hhhh... serah lah.” Pasrah Reano.


Reano beranjak dari ranjangnya, bermaksud pergi ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti kala sesuatu yang keras menusuk kakinya.


“Etdah, ini pasti kerjaannya Hugo.”


Pria itu berjongkok lalu mengambil benda tersebut, matanya bersinar-sinar melihat benda keemasan itu.


Sebuah kalung emas, yg membuat Reano bahagia adalah karena nama yang tertera di atas kalung tersebut.


Di genggamnya kalung tersebut lalu di ciumnya dengan bersemangat. Segera ia ambil jaket dan kunci mobilnya bermaksud mengejar wanita yang tak sengaja menjatuhkan kalungnya itu. “Ma! Gw keluar dulu, nganterin barangnya Chaterine!”


“Besok bisa kan na- HEY KAU! MAMA BELUM SELESAI BICARA!” Belum sempat mendengar ucapan ibunya, Reano langsung saja meninggalkan wanita yang sedang mengomel itu.


“Wkwkwk, maaf ma, kalau gw gk bertindak sekarang Lexa gw bisa diambil orang lain.” Gumamnya tersenyum geli dengan kebucinannya sendiri.


Bless POV


Setelah mendapat izin dari ibunya Reano gw langsung narik Chaterine buat pergi. Kalau menunggu lebih lama, pasti laki-laki sakitsakitan itu akan menentangnya dan mengganggu acara pulbar (pulang bareng) gw malam ini.


Gw menarik Chaterine dengan sangat bersemangat, tanpa memberinya jeda untuk beristirahat. Akhirnya gw sama Chaterine sampai di lobby bawah, terlihat sangat sepi, mungkin karna sudah malam.


“Bless stop please! Gw capek!” Kesal Chaterine memaksa melepaskan genggaman Bless.


Gw menoleh kearah gadis itu. Lehernya penuh dengan keringat, begitu juga dengan pelipisnya yang tak kalah basah oleh keringat. Gw sedikit kasihan dengan gadis itu, andai saja gw tidak seegois itu, pasti Chaterine tidak akan kelelahan dalam permainan bodohnya ini. “Sorry ket.” Ucap gw meminta maaf namun sepertinya permintamaafan itu tidak diterima olehnya.


“Terserah lo kalau gk maafin, berarti gw gk perlu habis-habis duit buat beliin lo es krim nanti di perjalanan.” Ucap


gw dengan sangat sengaja membawa-bawa nama ice cream, karna gw tau itu makanan yang sangat disukai Chaterine.


Gadis itu segera menoleh mendengar hal itu. “Oke gw maafin. Dua cup tapi yah?” Ucapnya segera merubah pendapat seperti seorang anak kecil.


“Hahaha, iya-iya. Apa aja buat lo.” Karena gemas, tanpa sadar gw spontan mencium pipi Chaterine.


‘Oh shit! Gw kelepasan!’


Segera gw menjauhkan tubuh gw dari Chaterine yang sama terkejutnya dengan gw. Betapa bodohnya gw bisa-bisanya tidak dapat mengontrol diri. I’ts oke, gw pasrah sekarang. Terserah Chaterine mau perlakuin gw seperti apa, itu kebebesannya dia karna memang gw sadar gw yang salah.


Chaterine sama sekali tak berkutik, tatapannya kosong ke bawah.


“Ket, itu... arghh lo bisa pukul gw deh, atau apa kek pokoknya jangan marah.” Tawar gw segera setelah melihat Chaterine yang tak berkutik.


“Anterin gw.” Ucap Chaterine dingin.


“Tapi soal itu?” Tanya gw gugup.


“Gk usah di pikirin, lagian lo gk bisa balikin ciuman yang lo ambil.” Cecarnya.


Tanpa berdebat lagi, segera gw mengambil mobil dan mengantar Chaterine pulang.


Reano POV


Gw dengan langkah semangat berjalan ke bawah untuk bertemu Chaterine. sesekali bersenandu ria sembari terus menatap kalung di genggaman gw, mungkin orang-orang berpikiran kalau gw sudah gila. But, i’ts power of love. Walau memang sedikit dibumbui dengan kebucinan gw.


Bayang-bayang bertemu dengan Chaterine dan pulang bersamanya sudah gw angan-angan diatas kepala. Atau seperti kisah-kisah romantis yang sering di tonton Saga bersama isterinya saat masih pacaran dulu.


Namun angan itu seketika sirna. Dengan mengepal kuat kalung itu gw mencoba menahan emosi saat ini. cemburu, marah, kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu.


Lelaki itu mencium gadis yang gw suka.


“F*ck!” Umpat gw tak tertahan.


Segera gw meninggalkan tempat it dengan amarah yang sudah memuncak, sama sekali tidak peduli lagi dengan orang sekitar yang menatap gw aneh.