REANO

REANO
chapter 16



Reano POV


"WAHHHH!"


"Gimana? Lo suka gk?" Tanya gue ke Chaterine. Melihat dari ekspresi gadis itu saja, gue yakin dia pasti suka.


Chaterine menatap gue dengan mata berbinar. "Gue sukaaaa!" Sorak gadis itu sembari mengguncang kuat lengan gue.


'pfftt- bocah emang' batin gue.


"Kesana yuk." Ajak gue ke Chaterine sambil menunjuk sebuah pohon besar  yg tertanam sempurna tepat di tengah-tengah lapangan hijau tersebut.


"Yuk!" Ujar gadis tersebut hendak berlari.


Reano dengan sigap menahan langkah Chaterine. "Eitss, sabar dulu napa." Ucap pria tersebut terlihat kesal.


"Paan lagi ihh." Tanya Chaterine dengan muka masam.


"Biar seru kita kesananya sambil lomba lari aja, yg kalah traktir yg menang di kantin." Ucap pria tersebut menjelaskan permainannya.


Chaterine mendecak kesal. "Ck, baru juga gw dari kantin."


Reano menatap Chaterine bingung. "Humm... Yodah deh. Kalau gw yang menang lu harus nurutin permintaan gw, kalau gw kalah lu bisa lakuin sebaliknya." Jelas reano lugas.


Chaterine nampak berpikir. "Oke deh, tapi janji yah harus dilakuin." Ucap Chaterine memastikan.


"Yo pastilah. Kuy mulai."


Chaterine mengambil posisinya, begitu juga dengan reano. "Satu! Dua! Tiga!"


WUSHHH


Chaterine langsung berlari dengan kencang begitu juga dengan Reano.


"Muahahaha! Lu lamban amat ket!" Ejek reano setengah berteriak karena sedang berlari dan jarak yang cukup jauh dari gadis dibelakangnya.


"Awas lu!" Teriak Chaterine semakin mempercepat tempo kakinya.


"Coba aja kalau bisa! Hahaha!" Ejek reano dengan sangat antusias, bahkan sedari tadi tidak berhenti tertawa.


"Yodah gw duluan dulu yah Ket, papay!" Lanjut pria tersebut berlari kencang meninggalkan Chaterine yang masih berada di tengah lapangan.


"HUWAAAA!" Chaterine menjerit membuat Reano yang mendengarnya semakin senang.


"Ck, ini kok masih jauh sih. Perasaan gw udah kenceng banget larinya. Reano udah hampir sampai lagi." Decak chaterine dalam hati.


...*****...


Hancur sudah


Sepertinya Chaterine tidak akan pernah menang dari Reano.


Tidak sampai semenit, laki laki tersebut sudah sampai dibawah pohon besar itu, sedangkan Chaterine tertinggal cukup jauh. Semangat Chaterine menurun, langkah kakinya mulai memelan, ditambah lagi dengan ekspresi seperti tidak punya harapan membuatnya kelihatan seperti orang yg butuh dikasihani. Rasa kesalnya semakin bertambah kala melihat reano yg menari-nari kegirangan seperti anak kecil dari kejauhan.


"Sudahlah, gw emang gk beruntung aja kali ini." Ucapnya dengan penuh drama.


"OY ALEXAYANGGG! CEPAT SINI!" teriak pria tersebut.


Chaterine menatapnya kesal. "Iya-iya! Sabar napa!" Chaterine melangkahkan kakinya perlahan diatas rumput hijau yang smrasanya empuk jika diinjak. Kakinya terus melangkah hingga ketempat reano kini berdiri sekarang.


"Akhirnya sampai juga. Gw lumutan nunggu Lo disini." Reano menatap Chaterine seakan-akan sedang marah, membuat Chaterine sedikit menciut.


Chaterine memalingkan wajah tidak mau menatap reano. "Serah deh."


"Hahahaha, jangan serius gitu dong. Gw canda doang." Kekeh pria tersebut sembari mengusap rambut Chaterine sayang.


Panas


Pipi chaterine panas rasanya, seluruh badan yang menegang hanya karena reano mengelus kepalanya. "Lepasin ihh. Jangan kira karna hanya kita berdua yang ada disini lu bisa seenaknya sama gw."


"Lah, gw cuman elus kepala lu elah, gk ngapa-ngapain lu." Kaget reano melihat reaksi Chaterine.


Chaterine menatap reano dari atas hingga kebawah membuat sekujur badannya semakin panas. "Au ah." Chaterine melangkah sedikit mendekat kearah pohon besar itu lalu duduk dibawahnya.


Reano membungkuk kearah Chaterine, lallu memasang pose imutnya. "Permisi saya mau duduk disini boleh kakak?" Ucapnya penuh santun layaknya anak-anak. Tentu hal ini membuat Chaterine yang melihatnya merasa lucu sekaligus jijik.


"Pfft.. apaan sih, jijik tau hahaha." Tawa Chaterine senang.


Pria tersebut mendaratkan bokongnya disebelah chaterine. "Menjijikan yah?" Tanyanya pura pura tidak tahu.


"Banget hihihihi"


Pria tersebut menatap lekat kearah Catherine, matanya seakan-akan tidak mau berpindah dari Chaterine. Chaterine yang sadar sedang diperhatikan memberanikan diri untuk bertanya. "Hmm, ada yang salah?"


"Ga ada."


"Jangan mikir macem macem yah, gw peringatan Lo." Was-was Chaterine takut pria tersebut berpikiran mesum tentangnya.


"Lah emang gw cowo apaan." Kesal reano


"Cowo mesum." Ucap Chaterine dengan suara kecil tapi masih bisa didengar pria disebelahnya.


"Enak aja ngatain gw mesum, gw cowo baik baik kali." Reano memutar bola matanya malas, kesal sekali rasanya diejek seperti itu, walau memang ada benarnya tapi tetap saja dia tidak mau perempuan yang ia sukai punya pemikiran seperti itu tentangnya.


"Iyain dah." Pasrah Chaterine.


Seketika hening.


Keduanya seakan termakan sejuknyavangin sepoi-sepoi ditambah lembutnya desiran rerumputan yg tertiup angin.


"Makasih." Tiba-tiba saja kata itu keluar dari mulut Chaterine.


"Hmm anu... Makasih udh ngajak gw kesini, jujur gw udah lama gk pergi ketempat seperti ini." Gadis tersebut nampak malu-malu mengatakannya, tangannya bahkan terasa dingin. Gugup rasanya mengatakan hal tersebut didepan Reano.


"Santai aja." Reano berdiri dari tempatnya lalu berjalan meninggalkan Chaterine.


"Mau kemana lu?!" Teriak Chaterine melihat reano dari belakang.


"Mau balik kesekolah lah, atau lu mau lanjut bolos biar bunda lu marah?!" Jawanya dengan teriakan.


"Tungguin gw kutilllll!!!!"


"Ga mau hahahaha!"


"Ihh awas lu!"


...*****...


"Kalian kemana saja tadi!" Teriakan lagi. Teriakan bernada dan beritme sama membuat hampir seluruh siswa SMA Budi Sakti mengenali siapa pemilik suaranya, dan dari mana asalnya.


"Bapak dengar kalian bolos lagi!" Pak Haru. Siapa lagi kalau bukan pak Haru pemilik teriakan khas itu.


"Maaf pak, lain kali gk diulangin lagi deh." Pinta Chaterine berlagak imut berharap pak Haru memaafkan dirinya.


"Iya pak maaf, kami khilaf."


Sial, ingin sekali Chaterine tertawa mendengar ucapan reano. Sangat tidak masuk akal.


Guru beranak satu itu menatap kedua muridnya tersebut jengkel. "Haish, kalian silakan keluar."


Chaterine dan reano kaget. "Eih, seriusan pak?" Tanya kedua remaja tersebut melongo tak percaya.


"Saya tidak mau mengulang apa yang sudah saya katakan." Tegas pak Haru.


Wajah Chaterine dan reano seketika berseri. "Ga ada hukumannya kan pak?" Tanya reano mencoba memastikan.


"Tidak ada." Dua kata ajaib. Seketika membuat kedua siswa tersebut berlari kegirangan keluar dari ruang BK.


"Bwahahaha... Percaya gk lu?" Tawa Chaterine terlihat kegirangan.


"Entahlah, gw juga kaget hahaha" sambung pria tersebut tertawa terbahak-bahak.


"Hmm sekarang jam istirahat kan?" Tanya reano kearah Chaterine.


"Hooh, mang napa?" Jawab chaterine balik bertanya.


"Langsung ke kantin aja yuk, kayaknya yang lain juga udah pada ngumpul disana." Ujar pria tersebut mencoba menebak nebak kegiatan teman temannya yang lain.


"Kuy."


Kedua Manusi ituberjalan menyusuri  setiap corridor hingga sampai ketujuan mereka. Kantin. Surga dunia bagi mereka pembenci pelajaran. Tempat diamana para pelajar berlabuh ketika amunisi materi menyerang mereka.


Dari jauh sudah kelihatan teman-teman Chaterine yang lain sedang merusuh seperti biasanya.


Reano dan Chaterine menghampiri mereka, tapi manusia manusia tersebut tidak sadar akan kehadiran Chaterine dan reano.


"EKHEMMM!" dehem reano yang langsung membuat teman temannya menatap kearah mereka.


"Hai Re, hai Ket." Sapa Hugo sambil menyengir ria.


"Too." Jawab mereka berdua terlihat sinis.


Raka membuka suara. "Dari mana aja sih lu berdua?"


"Hooh, main ngilang Mulu." Bingung siska dengan mulutpenuh makanan.


"Makannya habisin dulu neng." Sinis Riski pada Siska.


"Serah lu deh Bambang." Ketus Siska.


Reano mendudukkan bokongnya di kursi disamping Raka. "Biasalah bolos."


Aditya melempar garpu yang masih bersih kearah reano. "Gk ngajak lu nyet."


Pria tersebut meringis sakit. "Ck, sakit mbak."


Aditya memutar bola mata malas. "Banci, gitu aja sakit."


Jika saja Aditya itu seorang laki laki mungkin sudah sedari tadi reano memberinya Bogeman.


"Serah dah." Pasrah reano.


"Oy Ket, dari tadi diam Mulu." Ayu menghadap ekarah Chaterine, membuatnya langsung kaget.


"Vangke, lu manusia atau **** sih, makan Mulu perasaan." Ayu kaget melihat wajah Chaterine yang belepotan makanan.


"Laper." Ucapnya dengan mulut penuh makanan membuat bulir bulir nasi meluncur dan mendarat di wajah teman temannya.


"Jorok luuuu!" Sorak yang lain membaut Chaterine terkekeh.


"Btw tuh makanan punya siapa Ket, perasaan lu baru datang." Tanya reano merasa heran, tiba tiba saja Chaterine mendapat makanan.


"Hmm ntah, gw ngambil nasgor yg disini tadi." Ujarnya polos sembari menunjuk letak nasgornya berada tadi.


"Astaga Ket itu nasgor gwwww!" Geram Hugo yang baru sadar makanannya dicuri.


"Mana gw tau, lagian ga ada nama lu tuh di nasgornya, trus masih mulus juga belum dimakan." Chaterine meletakan lidahnya kearah temannya satu itu.


"ALEXA CHATERINEEEEEE!!"