REANO

REANO
Episode 21



Sebuah mobil hitam melintas sedikit terburu di antara


padatnya lalulintas, membuat pengendara lain merasa kesal. Tapi pengemudi mobil


tersebut sama sekali tidak peduli dengan pengendara lain, fokusnya hanya pada


gadis yang tertidur nyenyak di kursi sebelahnya.


“Maaf.” Sedari tadi kata itu terus yang terlontar dari mulut


Reano. Selagi tangannya yang satu memegang kemudi tangan yang satunya lagi


mengelus lembut pipi Chaterine. “Gw janji, ini ga bakalan terulang lagi, okay?”


Ucapnya dengan senyum sejuta maknanya. Sedangkan gadis itu tak merespon sama


sekali.


Setelah hampir setengah jam berkemudi, mobil pria tersebut


berbelok ke arah apartemen mewah. Ini dia, apartemen yang dulu sempat


ditinggali keluarga Reano sebelum rumah utama mereka selesai dibangun. Meski


begitu sudah pindah ke rumah yang lebih mewah dari apartemen ini, pria tersebut


masih saja lebih suka sendirian disana.


Reano memarkirkan mobilnya,lalu menggendong Chaterine yang


terlelap ke dalam. “Dasar ngerepotin.” Ejeknya dengan senyum tipis. Dari


parkiran Reano menggendong Chaterine hingga ke dalam kamar yang sering ia


tiduri. Dengan pelan tapi pasti, pria satu itu menidurkan Chaterine di atas


ranjang besarnya, tak lupa menyelimuti gadis itu sebatas dagu.


Reano mendudukkan dirinya di pinggir ranjang yang ditiduri


Chaterine kemudian  meraih ponsel dari


saku celananya lalu menghubungi seseorang.


Tut-tut-tut


“Haish, mama kemana sih, anaknya nelpon gk diangkat.” Gerutu


Reano hampir ingin membanting poselnya di lantai.


Jari panjang kembali menari-nari ria di atas layar ponsel


tipisnya, bermaksud kembali menghubungi ibunya. “hallo mama.” Ucap reano cepat


kala panggilannya di angkat.


“hallo sayang. Kamu kemana aja, ini acaranya belum kelar loh.


Sini-.” Ucap ibunya Reano cerewet di ponsel. Pria itu menepuk jidat frustasi


kala mendengar hal itu.


“aku lagi di apartemen ma.” Ucap Reano memotong pembicaraan


ibunya.


“ngapain kesana?” tanya ibu Reano bingung.


Reano membuang nafas berat. Ia mulai menceritakan apa yang


terjadi dengan Chaterine tadi saat di aula. Dari nada bicaranya sudah Reano


ketahui bahwa ibunya terkejut mendengar ceritanya.


“yaudah, kamu jagain Chaterine yah. Nanti mama telepon


orangtuanya Chaterine, kasih tau kalau Chaterine nginap di apartemen. Kirimin


mama nomor orangtuanya juga.” Ucap ibunya khawatir.


Reano menatap chaterine sendu. “iya ma, nanti aku kirim


nomornya.”


“iya sayang. Teleponnya mama tutup dulu yah.”


Tut-


Pria yang masih menggunakan pakaian pestanya itu memandang


Chaterine yang begitu tidak malunya tidur dengan liur menetes. “pfft, dasar


bocah.” Reano terus menatap tubuh Chaterine intens, sesekali menggaruk kepala


merasa ada yang salah dengan Chaterine. “hmm, kok gw ngerasa ada yang aneh ?”


Monolognya tanpa mau beralih pandang dari tubuh chaterine.


Reano merangkak keatas kasur lalu menatap seluruh wajah


Chaterine yang belum tertutup selimut. Pria itu menegakkan badannya, “Bukan


mukanya, trus apaan?” Ucapnya pada diri sendiri layaknya orang gila.


Tangannya kemudian menyikap selimut Chaterine.


Pria itu memijit pelipisnya. “Haish, bajunya masih gaun yang


gw beli.” Reano semakin mendekat ke arah Chaterine lalu satu tagannya berniat


membuka baju Chaterine.


Baru ingin menarik resletingnya, Reano langsung terperanjat


terkejut dengan tindakannya. Wajah pria itu merah padam setelah sadar. “Anjir,


masa iya gw ganti bajunya. Gk sopan astaga.” Pria itu berjalan bolak-balik


dilantai kamar. Mukaya yang merah padam tidak dapat disembunyikan lagi, bahkan


daun telinganya ikut memerah.


Arghh!


Pria itu mengusap wajah kasar. “Tapi kalau gk diganti bisa


masuk angin. Huwaaa gila dah gw lama-lama.”


*****


Sinar matahari pagi menyusup melalui celah-celah tirai,


dengan malu-malu cahayanya menyinari wajah seorang gadis yang masih setia


dengan kasur empuknya.


Matanya perlahan terbuka karena cahaya matahari yang menyapu


kelopak matanya. “Hoam...” Gadis itu kemudian bangun dari ranjang dan duduk di


pinggirnya.


Matanya yang masih enggan terbuka menangkap samar-samar postur


seorang pria di sofa panjang tak jauh dari tempatnya duduk.


Mendadak ia berdiri dari tempatnya. Matanya yang tadinya


masih belum mau terbuka kini terbuka lebar kala ia melihat yang tidur di sofa


itu adalah Reano. “Astaga, kok dia bisa tidur disini?!”


Tangan yang gemetar, mulut menganga, dan wajah memerah


terlihat dari Chaterine.  Dengan ragu,


gadis itu berjalan kearah Reano yang masih tertidur. “Re... bangun...”


Tangannya dengan pelan mengguncang tubuh pria itu.


belum sepeneuhnya sadarkan diri itu.


“Eum, kemarin kamu gk aneh-aneh kan?” Tanya Chaterine


malu-malu. Semoga saja jawaban Reano sesuai ekspetasinya.


Sebelah matanya terbuka malas, lalu tak lama tertutup lagi.“hmm,


kemarin?” Ujarnya dengan senyum aneh di bibirnya, tidak lupa dengan nada


menggoda dari sana.


Wajah Chaterine semakin memerah, pipinya semakin panas. “Anu...iya,


kemarin.” Ucapnya pelan menahan untuk tidak teriak.


“Entahlah.”


Singkat. Cuman satu kata yang langsung membuat Chaterine mati


kutu.


‘Sialan!’ dengan cepat gadis itu berlari keluar kamar tidak


lupa dengan umpatan kerasnya.


Reano bangun kala Chaterine sudah lari kebawah. Bibirnya menyunggingkan


smirk. “pfft-Dasar tulalit, kalau iman gw ga kuat mungkin gw udah apa-apain lo


kemarin.”


“Lexa, Lexa.” Gumamnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Sedangkan dilain tempat...


Chaterine


POV


“Astaga, kemarin gk terjadi apa-apa kan. Gk mungkin kan.


HUAAAAAA!”


Gw membanting tubuh diatas sofa lalu berguling-guling tak


jelas.


Kruuutt...


Gw berhenti berguling-guling, lalu menatap kosong ke


sembarang arah.


Lapar.


Perut gw berbunyi nyaring. Bagaimana tidak, seingat gw


kemarin perut gw cuman diisi minuman doang. Makanan belum mengisi lambung gw


sejak kemarin, makanan sebesar upil pun tidak.


Gw berdiri lalu pergi ke dapur apartemen Reano. “Yes ada


roti.” Senang rasanya bisa menemukan roti tawar disaat genting seperti ini. Gw kemudian


membuka lemari es dan menemukan keju lembaran, telur, dan gaging tipis. “Uhuy! Lengkap


sudah.”


Dengan riang gembira gw membuat sandwich dengan bahan-bahan


seadanya. Olesan mentega di kedua sisi roti membuatnya semakin menggoda.


Hampir 15 menit sarapan ala Alexa Chaterine jadi. “yeayy...


tiga porsi cukup kayaknya.” Ucap gw menatap tiga sandwich yang sudah disusun


rapi datas piring.


Gw langsung melahap satu sandwichnya. Tak lama muncul Reano


yang sepertinya baru selesai mandi. Rambut dan lehernya yang masiih agak basah


membuat gw jadi salah tingkah.


‘Anjir, sengaja banget nih pasti mau godain gw.’ Umpatnya kesal


dengan suara kecil.


“Ngomong sendiri lagi lo. Gw takut dah lama-lama dekat lo.”


Uhukk!


Gw tersedak kala Reano berbicara. “Vangke lo!” Geram gw. Ingin


sekali rasanya menarik rambut pria itu sampai kulitnya ikut tertarik.


“astaga jangan galak-galak.” Ucapnya sembari duduk dihadapan


Chaterine.


Gw memanyunkan bibir cemberut.


Mata pria itu menatap sandwich gw penuh nafsu. “Bagi satu


yah.”  Tanggannya kemudian terulur ke arah


sandwich. Belum sempat tangannya menyentuh sandwich, gw langsung menepis


tangannya kasar. “Ini semua punya gw. Kalau mau buat sendiri sana. Hush hush.” Usir


gw lalu menarik piringnya mendekat ke meja gw.


“Hilih, mau makan disini bayar tau gk. Anggap aja kalau lo


kasih gw satu utang lo lunas.” Ucap Reano menarik piring itu mendekat


kemejanya.


“iya ntar gw bayar. Hush hush jangan ganggu makanan gw.” Ucap


gw menarik kembali piring itu.


Pria dihadapan gw tersenyum konyol. “Bayarannya morning kiss


loh.”


Uhuk..Uhuk..  untuk dua


kalinya gw tersedak karna pria ini. Dengan tatapan kesal gw kembali mendorong


piring itu ke arah Reano.


“BWAHAHAHA... NGAKAK!” Reano yang sedari tadi menahan tawa


seketika mengeluarkannya sekaligus dengan suara keras, hampir berteriak.


Ck.


Pria tersebut mengambil sandwichnya lalu makan dengan


sesekali tertawa.


Sekarang gw lebih memiliih diam dari pada nanti dikerjai lagi


oleh manusia tidak punya akhlak itu.


“hmm, kalau dipikir-pikir kita kayak pengantin baru yah.” Ucap


pria itu santai.


“SIALAN KAUUUUUU!”


“HAHAHAHA!”