
Sebuah mobil hitam melintas sedikit terburu di antara
padatnya lalulintas, membuat pengendara lain merasa kesal. Tapi pengemudi mobil
tersebut sama sekali tidak peduli dengan pengendara lain, fokusnya hanya pada
gadis yang tertidur nyenyak di kursi sebelahnya.
“Maaf.” Sedari tadi kata itu terus yang terlontar dari mulut
Reano. Selagi tangannya yang satu memegang kemudi tangan yang satunya lagi
mengelus lembut pipi Chaterine. “Gw janji, ini ga bakalan terulang lagi, okay?”
Ucapnya dengan senyum sejuta maknanya. Sedangkan gadis itu tak merespon sama
sekali.
Setelah hampir setengah jam berkemudi, mobil pria tersebut
berbelok ke arah apartemen mewah. Ini dia, apartemen yang dulu sempat
ditinggali keluarga Reano sebelum rumah utama mereka selesai dibangun. Meski
begitu sudah pindah ke rumah yang lebih mewah dari apartemen ini, pria tersebut
masih saja lebih suka sendirian disana.
Reano memarkirkan mobilnya,lalu menggendong Chaterine yang
terlelap ke dalam. “Dasar ngerepotin.” Ejeknya dengan senyum tipis. Dari
parkiran Reano menggendong Chaterine hingga ke dalam kamar yang sering ia
tiduri. Dengan pelan tapi pasti, pria satu itu menidurkan Chaterine di atas
ranjang besarnya, tak lupa menyelimuti gadis itu sebatas dagu.
Reano mendudukkan dirinya di pinggir ranjang yang ditiduri
Chaterine kemudian meraih ponsel dari
saku celananya lalu menghubungi seseorang.
Tut-tut-tut
“Haish, mama kemana sih, anaknya nelpon gk diangkat.” Gerutu
Reano hampir ingin membanting poselnya di lantai.
Jari panjang kembali menari-nari ria di atas layar ponsel
tipisnya, bermaksud kembali menghubungi ibunya. “hallo mama.” Ucap reano cepat
kala panggilannya di angkat.
“hallo sayang. Kamu kemana aja, ini acaranya belum kelar loh.
Sini-.” Ucap ibunya Reano cerewet di ponsel. Pria itu menepuk jidat frustasi
kala mendengar hal itu.
“aku lagi di apartemen ma.” Ucap Reano memotong pembicaraan
ibunya.
“ngapain kesana?” tanya ibu Reano bingung.
Reano membuang nafas berat. Ia mulai menceritakan apa yang
terjadi dengan Chaterine tadi saat di aula. Dari nada bicaranya sudah Reano
ketahui bahwa ibunya terkejut mendengar ceritanya.
“yaudah, kamu jagain Chaterine yah. Nanti mama telepon
orangtuanya Chaterine, kasih tau kalau Chaterine nginap di apartemen. Kirimin
mama nomor orangtuanya juga.” Ucap ibunya khawatir.
Reano menatap chaterine sendu. “iya ma, nanti aku kirim
nomornya.”
“iya sayang. Teleponnya mama tutup dulu yah.”
Tut-
Pria yang masih menggunakan pakaian pestanya itu memandang
Chaterine yang begitu tidak malunya tidur dengan liur menetes. “pfft, dasar
bocah.” Reano terus menatap tubuh Chaterine intens, sesekali menggaruk kepala
merasa ada yang salah dengan Chaterine. “hmm, kok gw ngerasa ada yang aneh ?”
Monolognya tanpa mau beralih pandang dari tubuh chaterine.
Reano merangkak keatas kasur lalu menatap seluruh wajah
Chaterine yang belum tertutup selimut. Pria itu menegakkan badannya, “Bukan
mukanya, trus apaan?” Ucapnya pada diri sendiri layaknya orang gila.
Tangannya kemudian menyikap selimut Chaterine.
Pria itu memijit pelipisnya. “Haish, bajunya masih gaun yang
gw beli.” Reano semakin mendekat ke arah Chaterine lalu satu tagannya berniat
membuka baju Chaterine.
Baru ingin menarik resletingnya, Reano langsung terperanjat
terkejut dengan tindakannya. Wajah pria itu merah padam setelah sadar. “Anjir,
masa iya gw ganti bajunya. Gk sopan astaga.” Pria itu berjalan bolak-balik
dilantai kamar. Mukaya yang merah padam tidak dapat disembunyikan lagi, bahkan
daun telinganya ikut memerah.
Arghh!
Pria itu mengusap wajah kasar. “Tapi kalau gk diganti bisa
masuk angin. Huwaaa gila dah gw lama-lama.”
*****
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah-celah tirai,
dengan malu-malu cahayanya menyinari wajah seorang gadis yang masih setia
dengan kasur empuknya.
Matanya perlahan terbuka karena cahaya matahari yang menyapu
kelopak matanya. “Hoam...” Gadis itu kemudian bangun dari ranjang dan duduk di
pinggirnya.
Matanya yang masih enggan terbuka menangkap samar-samar postur
seorang pria di sofa panjang tak jauh dari tempatnya duduk.
Mendadak ia berdiri dari tempatnya. Matanya yang tadinya
masih belum mau terbuka kini terbuka lebar kala ia melihat yang tidur di sofa
itu adalah Reano. “Astaga, kok dia bisa tidur disini?!”
Tangan yang gemetar, mulut menganga, dan wajah memerah
terlihat dari Chaterine. Dengan ragu,
gadis itu berjalan kearah Reano yang masih tertidur. “Re... bangun...”
Tangannya dengan pelan mengguncang tubuh pria itu.
belum sepeneuhnya sadarkan diri itu.
“Eum, kemarin kamu gk aneh-aneh kan?” Tanya Chaterine
malu-malu. Semoga saja jawaban Reano sesuai ekspetasinya.
Sebelah matanya terbuka malas, lalu tak lama tertutup lagi.“hmm,
kemarin?” Ujarnya dengan senyum aneh di bibirnya, tidak lupa dengan nada
menggoda dari sana.
Wajah Chaterine semakin memerah, pipinya semakin panas. “Anu...iya,
kemarin.” Ucapnya pelan menahan untuk tidak teriak.
“Entahlah.”
Singkat. Cuman satu kata yang langsung membuat Chaterine mati
kutu.
‘Sialan!’ dengan cepat gadis itu berlari keluar kamar tidak
lupa dengan umpatan kerasnya.
Reano bangun kala Chaterine sudah lari kebawah. Bibirnya menyunggingkan
smirk. “pfft-Dasar tulalit, kalau iman gw ga kuat mungkin gw udah apa-apain lo
kemarin.”
“Lexa, Lexa.” Gumamnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Sedangkan dilain tempat...
Chaterine
POV
“Astaga, kemarin gk terjadi apa-apa kan. Gk mungkin kan.
HUAAAAAA!”
Gw membanting tubuh diatas sofa lalu berguling-guling tak
jelas.
Kruuutt...
Gw berhenti berguling-guling, lalu menatap kosong ke
sembarang arah.
Lapar.
Perut gw berbunyi nyaring. Bagaimana tidak, seingat gw
kemarin perut gw cuman diisi minuman doang. Makanan belum mengisi lambung gw
sejak kemarin, makanan sebesar upil pun tidak.
Gw berdiri lalu pergi ke dapur apartemen Reano. “Yes ada
roti.” Senang rasanya bisa menemukan roti tawar disaat genting seperti ini. Gw kemudian
membuka lemari es dan menemukan keju lembaran, telur, dan gaging tipis. “Uhuy! Lengkap
sudah.”
Dengan riang gembira gw membuat sandwich dengan bahan-bahan
seadanya. Olesan mentega di kedua sisi roti membuatnya semakin menggoda.
Hampir 15 menit sarapan ala Alexa Chaterine jadi. “yeayy...
tiga porsi cukup kayaknya.” Ucap gw menatap tiga sandwich yang sudah disusun
rapi datas piring.
Gw langsung melahap satu sandwichnya. Tak lama muncul Reano
yang sepertinya baru selesai mandi. Rambut dan lehernya yang masiih agak basah
membuat gw jadi salah tingkah.
‘Anjir, sengaja banget nih pasti mau godain gw.’ Umpatnya kesal
dengan suara kecil.
“Ngomong sendiri lagi lo. Gw takut dah lama-lama dekat lo.”
Uhukk!
Gw tersedak kala Reano berbicara. “Vangke lo!” Geram gw. Ingin
sekali rasanya menarik rambut pria itu sampai kulitnya ikut tertarik.
“astaga jangan galak-galak.” Ucapnya sembari duduk dihadapan
Chaterine.
Gw memanyunkan bibir cemberut.
Mata pria itu menatap sandwich gw penuh nafsu. “Bagi satu
yah.” Tanggannya kemudian terulur ke arah
sandwich. Belum sempat tangannya menyentuh sandwich, gw langsung menepis
tangannya kasar. “Ini semua punya gw. Kalau mau buat sendiri sana. Hush hush.” Usir
gw lalu menarik piringnya mendekat ke meja gw.
“Hilih, mau makan disini bayar tau gk. Anggap aja kalau lo
kasih gw satu utang lo lunas.” Ucap Reano menarik piring itu mendekat
kemejanya.
“iya ntar gw bayar. Hush hush jangan ganggu makanan gw.” Ucap
gw menarik kembali piring itu.
Pria dihadapan gw tersenyum konyol. “Bayarannya morning kiss
loh.”
Uhuk..Uhuk.. untuk dua
kalinya gw tersedak karna pria ini. Dengan tatapan kesal gw kembali mendorong
piring itu ke arah Reano.
“BWAHAHAHA... NGAKAK!” Reano yang sedari tadi menahan tawa
seketika mengeluarkannya sekaligus dengan suara keras, hampir berteriak.
Ck.
Pria tersebut mengambil sandwichnya lalu makan dengan
sesekali tertawa.
Sekarang gw lebih memiliih diam dari pada nanti dikerjai lagi
oleh manusia tidak punya akhlak itu.
“hmm, kalau dipikir-pikir kita kayak pengantin baru yah.” Ucap
pria itu santai.
“SIALAN KAUUUUUU!”
“HAHAHAHA!”