
“Bwahahaha! Ini acara apaan sih. Ngakak mulu!” Tawa cempreng
seorang gadis memenuhi satu apartemen besar, membuat pemilik apartemen di sebelahnya
sesekali mengecek apa yang terjadi di apartemen Reano.
Reano memandang Chaterine datar. Entah sejak kapan apartemen
ini serasa bukan miliknya tapi milik gadis yang tengah rebahan sambil menonton
acara lawak di televisi.
Kring...kring...
Chaterine berhenti tertawa kala bel berbunyi. “Re, ada tamu
lagi.” Ucap Chaterine polos.
“samperin gih.” Reano dengan malas beranjak dari sofa ke
pintu utama. Untuk kesekian kalinya ada orang yang memencet bel karena suara
tawa Chaterine yang nyaring.
Kriettt...
Di luar sudah berdiri seorang anak kecil dengan hoodie dan
celana panjangnya. Sudut bibir Reano tertarik ketika melihat anak laki-laki
yang berusia sekitar lima tahun tersebut.
“kakak.” Ucap bocah tersebut ramah, jangan lupakan dengan
senyum manisnya yang menampakkan gigi kelincinya.
Senyum Reano semakin merekah, setelahnya ia berjongkok lalu
mengecup lembut pipi gembulnya. “ivan adek kakak sayang.”
Reano melepas pelukannya. “mama kamu kemana ivan?” Tanya
Reano pada laki-laki kecil itu.
Anak tersebut memanyunkan bibir kesal. “mama ninggalin ivan
lagi. Mama bilang mau kerja buat cari uang.” Ucap bocah polos tersebut hampir
menangis.
Reano sebenarnya sangat kasihan dengan Ivan, anak tetangga
sebelahnya yang hidup tanpa kasih sayang seorang ayah dan ibunya pun hampir
setiap hari meninggalkan anak itu sendirian di apartemen. Untungnya Reano mau
menemani Ivan saat ibunya pergi.
“udah jangan sedih. Mama Ivan kerja karna sayang sama Ivan,
gk mau Ivan kekurangan dalam apapun.” Ucap Reano menghibur anak tersebut.
Ivan menatap Reano bingung, lalu setelahnya terkekeh. “Ivan
gk ngerti apa yang kakak bilang, hehehe.” Ucapnya tertawa lugu.
Reano mencium anak tersebut gemas. “Masuk yuk. Di luar
dingin.” Reano memegang tangan Ivan lembut lalu mengajaknya masuk ke dalam.
“ASTAGA, BWAHAHAHA, GADAK AKHLAK!”
Baru saja masuk ke ruang tamu, Ivan sudah disambut dengan
tawa besar seorang wanita. Anak itu menatap Reano bingung. Reano yang mengerti
raut anak itu kemudian memberitahunya kalau Chaterine sedang di apartemennya.
“itu temen kakak. Suaranya emang gede, jadi kamu jangan takut.”
Bocah itu terkekeh. “gk takut kak, Ivan cuman ngerasa aneh
aja, hehehe.”
“lexa.” Panggil Reano kepada Chaterine yang masih setia
dengan tontonannya.
Chaterine berpaling ke arah Reano, matanya membulat kala
melihat anak kecil yang dibawa Reano. Ia langsung melompat dari sofa, lalu
berlari ke arah anak kecil tersebut.
“ulululu... gemes banget. Namanya siapa?” Tanya Chaterine
mencubit pipi gembul Ivan gemas.
Ivan tersenyum manis. “Ivan kakak cantik. Panggil Ivan saja.”
Ucap anak itu ramah. “Kalau kakak?” Kata bocah tersebut balik bertanya.
“Alexa Chaterine. Terserah kamu mau panggil kak Alexa atau
kak Chaterine.” Jawab Chaterine balik tersenyum kepada Ivan.
Reano menatap jengkel kepada Chaterine. Kacang. Pria itu
merasa terkacangi dan terlupakan kala Ivan datang. Seluruh perhatian Chaterine
tertuju pada Ivan membuat pria itu merasa sedikit kesal.
“Kacangnya kakak.” Ucap Reano dengan suara yang sedikit
dibesarkan agar kedua orang tersebut mengingat kehadirannya.
“hahaha. Kesihan.” Ejek Chaterine di barengi tawa Ivan.
Reano memutar mata malas, lalu menatap Chaterine jorok.
“Mandi sana. Udah bau banget ihh jorok.” Ejek Reano sembari menutup hidungnya
dengan menjepitnya menggunakan jari.
Tolak Chaterine.
‘Astaga, nih anak susah banget dibilangin. Ivan aja gk pernah
senakal ini.’ Batin pria tersebut.
Sebuah ide melintas dipikiran Reano. Pria itu kemudian
berjongkok seperti Chaterine lalu berbisik di telinganya. “Lo ingat gk siapa
yang gantiin baju lo kemarin pas mabuk?” tanya pria tersebut dengan nada sejuta
makna.
Mata Chaterine membulat. “Astaga, bukan lo kan?!” Kaget gadis
itu. Betapa bodohnya dia baru menyadari sekarang, padahal sudah sedari ia
bangun pakaiannya sudah terganti.
Reano terkekeh geli. “Entahlah, gw baru mau kasih tau kalau
lo mandi dulu.” Ucapnya masih dengan senyum jahilnya.
Mendengar itu, Chaterine segera berlari ke kamar Reano. “GW
MANDI DULU! TUNGGU!” Teriaknya dari atas.
“Hmm, Ivan makan dulu gih.” Ajak Reano kepada bocah yang
sedari tadi menyaksikan percakapan kedua kakaknya itu.
“Hayuk.”
*****
Pukul 04.15, sudah sedari 30 menit yang lalu Chaterine mandi,
tapi sampai sekarang masih belum turun juga.
“Lexa! Lama amat mandinya! Turun cepat!” Teriak Reano sembari
menemani Ivan bermain lego.
.....
Tidak ada sahutan.
“Lexa!” Panggil pria itu sekali lagi.
“Iya sabar! Bentar lagi kelar!” Balas Chaterine berteriak
dari kamar Reano.
“Astaga, nih cewek mandi atau gimana sih, lama amat.” Ucap Reano
bingung.
Ivan tertawa mendengar itu.
Reano menoleh ke arah Ivan lalu mengecup pipinya sekali. “Kenapa
ketawa? Emang Ivan ngerti?” Tanya Reano pada bocah tersebut.
Anak itu menggeleng. “kakak Reano sama kakak Chaterine Ivan
perhatiin lucu banget. Dari tadi berantem mulu. Kakak Chatrine pacarnya kakak
Reano yah?” Ucapnya polos.
Reano terkejut dengan ucapan anak itu, lalu setelahnya
tertawa keras. “Hahaha aduh Ivan kamu dengar kalimat itu dari mana?” Tanya
Reano kurang percaya dengan apa yang dikatakan anak umur lima tahun tersebut.
Ivan balas tertawa. “Rahasia.” Ucapnya jahil, membuat Reano
semakin geram ingin mengigitnya.
“Cewek emes datang!” Teriak Chaterine berlarian ke tempat
Reano dan Ivan bermain.
“Yeay kakak Chaterine!” Girang Ivan kala Chaterine datang.
Reano tak berkutik, hanya matanya saja yang bergerak menatap
Chaterine. Hoddie putih milik Reano sudah melekat di tubuh mungil Chaterine,
membuat hoddie itu nampak seperti dress saat Chaterine yang memakainya. Tidak lupa
dengan poni nya yang diikat kebelakang membuatnya nampak seperti anak TK.
“Apaan liat-liat? Iri bilang.” Sinis Chaterine ketika tau
Reano menatapnya sedari tadi.
Reano tak menjawab. “Wey, dengar kagak?” Ulang Chaterine membuat
Reano tersadar dari lamunanya.
“eh, itu..” Ucap pria itu terbata-bata.
“Itu apaan?” Tanya Chaterine semakin penasaran.
“gk ada.” Ucap pria itu cepat.
Chaterine dibuat semakin ingin tau, gadis itu lalu mendekati
Reano. “Apaan hayo? Jangan bohong loh ya, itu telinga lo merah kenapa?” Ucap
Chaterine tersenyum geli.
“kepanasan.” Ucap pria itu beralih pandang ke arah lain.
Chaterine semakin geli melihat sikap pria itu. “ ah masa? AC
nya nyala dari tadi loh?” Goda Chaterine, membuat pria itu semakin memerah.
“Entahlah.” Ucap pria itu dengan sura kecil.