REANO

REANO
Episode 29



Pagi di sekolah.


“Wow, kanvas lo kurang gede ket.” Ucap Raka bertepuk tangan takjub dengan Kanvas yang Chaterine pegang.


Pletak!


Sebuah sentilan mendarat mulus di dahi Raka. “Apaan sih Yu?! Gw ganteng gini lo sentil mulu bisa jadi jelek.” Kesal Raka kesal kepada Ayu yang tiba-tiba saja menyentil dahinya. Entah kenapa akhir-akhir ini Ayu sering sekali menyentilnya, sungguh gadis tidak jelas.


Ayu duduk di bangku di sebelah Raka. “Tuh mata burem, atau katarak sih? Jelas-jelas kanvasnya kecil lo bilang gede. Atau otak lo yang burem?” Ayu mengetuk-ngetuk dahi Raka dengan buku. Dalam bayangannya otak tersebut dapat bekerja dengan baik jika di ketuk-ketuk.


Raka mencengkram tangan Ayu cukup erat, kini gadis ini tidak bisa lagi bergerak. “Pedes amat sih omongan lo. Perasaan tiap hari gk pernah kata-kata yang baik yang lo ucapin ke gw.” Ucap Pria itu menatap tajam Ayu.


Ayu menepis kasar tangan Raka hingga terlepas. “Lepasin. Gk sudi lama-lama ngomong sama lo.” Setelahnya, gadis itu pergi meninggalkan Raka tidak lupa mengibaskan rambut panjangnya tepat di depan wajah Raka.


“Wey! Kemari lo, urusan kita belum kelar!” Pria itu kemudian berlari ke luar mengejar Ayu.


“Hmm... mules mata gw liat mereka berantam mulu tiap hari.” Ucap Kristin mengetuk-ngetukkan pulpen malas di atas meja.


“Ya udah, liatin gw aja dari pada liatin tuh bocah berdua.” Ucap Jaya, ketua kelas IX-2 yang duduk di sebelah Kristin.


Kristin menatap Jaya sinis. “Hilih, ganjen amat lo jadi orang.”


Pria tersebut terkekeh mendengar ucapan Kristin. “Selagi jalur kuning belum melengkung, gaskeun! Semongko! Bwahahaha!” Ucapnya tertawa keras sambil memukul meja kegirangan.


Selagi yang lain sibuk dengan urusan pribadi mereka, Chaterine malah sibuk mencari tempat yang bagus untuk meletakkan kanvasnya. Rak buku, pojokkan kelas, tas, semuanya tidak cocok untuk meyimpan kanvasnya.


“Dari tadi mondar-mandir mulu. Ngapain sih?” Seorang pria yang sedang bermalas-malasan di mejanya bertanya kepada gadis di hadapannya yang sedari tadi bolak-balik tak tentu arah.


Chaterine menatap Reano sekilas. “Nyari tempat buat nyimpan nih gambar.” Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus meletakkannya dimana agar tidak kotor ataupun rusak.


Reano berdiri dari tempatnya lalu merebut kanvas tersebut dari Chaterine.


“Ihhh... gambar gw, nanti rusak.” Rengek Chaterine berusaha mengambil Kanvas tersebut dari tangan Reano. Kalau saja gambar itu rusak, bisa-bisa nilai ekstrakurikulernya menurun dan pastinya akan menerima semburan rohani dari pak Haru dan Bundanya.


“Pufft... kalau dilihat-lihat gw emang ganteng yah, gk salah lo milih gw jadi model lo, hasilnya gk mengecewakan.” Reano berpose sok keren kala melihat wajah sempurnanya di atas kanvas yang ia rebut dari Chaterine tadi.


Chaterine mendelik jijik. “Percayalah, gw baru ketemu orang ke-PDan  kayak lo.”


“Budu.” Pria itu lalu kembali ke tempatnya dan meletakkan kanvas Chaterine di dalam laci meja Chaterine yang berada tepat di sebelahnya. “Disini kan muat, lebih aman juga.”


Chaterine mengikuti Reano lalu duduk di kursinya. “Benar juga yah. Tumben ide lo bagus.”


“Because i’m smart. Not like you, stupid girl.” Ucapnya menekan kedua pipi chaterine dengan telunjuknya.


Ekspresi Chaterine menjadi datar. “Annoying guy.”


*****


Bel berbunyi, tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Murid-murid yang tadi berada di luar membuat kebisingan saat memasuki kelas. Disaat kelas lain sedang mempersiapkan diri untuk belajar, kelas IX-2 masih sibuk dengan urusan pribadinya. Seperti sekumpulan cewek-cewek yang masih asik bergosip ria, ada yang kejar-kejaran tidak jelas membuat meja di kelas menjadi tidak teratur lagi, bahkan ada yang sedang makan, seperti Krisman, Hugo dan Riski yang sedang asyik makan Mie yang tadi sempat mereka beli di kantin, ada juga yang tetap diam di tempat duduk masing-masing, walau begitu hawa yang mereka pancarkan lebih kuat. Seperti Chaterine dan Reano yang saat ini sedang beradu mulut.


“Udahlah, malas gw ngomong sama lo.” Chaterine menghentak-hentakkan kakinya kesal. Sedari tadi dirinya tidak pernah bisa membuat pria di sebelahnya ini kalah lewat kata-katanya. Selalu saja ada jalan bagi Reano untuk keluar dari sana.


“Cup cup cup... nyerah nih?” Goda Reano mendekatkan kursinya ke sebelah Chaterine, lalu gadis itu langsung mengeser kursinya menjauh dari Reano. Begitu terus hingga kursi Chaterine mentok dengan kursi Ayu yang bersebrangan meja denganya.


“Kurang jauh mbak, lanjut aja sampai ke tempat satpam.” Sindir Ayu dengan ekpresi mengesalkan.


“Ini nih, si dugong deketin gw mulu.” Ucap Chaterine menunjuk malas Reano yang menempel disebelahnya.


“iya-iya.” Ucap Chaterine pasrah. “Geser sana lo dugong.” Suruh Chaterine lanjut menendang-nendang kursi Reano agar mau berpindah.


“SEMUANYA KEMBALI KE TEMPAT MASING-MASING!” Seseorang yang berdiri di pintu berteriak kala ingin memasuki kelas ini. Semuanya langsung belari ke tempat masing-masing. Begitu juga dengan Krisman, Hugo dan Rizki yang langsung menyimpan makanannya di dalam laci.


“Bapak telat beberapa menit saja, kelas ini sudah jadi sangat berantakan.” Pak Nando, guru Penjas yang saat ini memang sedang menjalankan jadwalnya di kelas IX-2.


Hening. Tidak ada yang menjawab ucapan guru tersebut membuat suasana di kelas sangat canggung. “Ekhem! Sudahlah, kalian langsung ganti baju saja.” Ucap guru itu memberi intruksi yang mana langung di lakukan murid-murid tersebut.


“Eh ket, lo ada bawa baju olahraga lebih gk? Gw lupa bawa.” Aditya merangkul Chaterine manja, berharap akan dipinjamkan baju lain.


Chaterine menghela nafas melihat gadi itu. “Sampai kapan sifat ceroboh lo bisa hilang?” Tanya Chaterine yang mulai resah. Bukan resah karena tidak ingin meminjamkan baju olahraganya kepada Aditya, hanya saja Chaterine khawatir dengan sahabat nya itu kedepan. Ceroboh sudah menjadi label dalam diri Aditya sedari dulu. Walau sudah diingatkan pun, tetap saja gadis itu akan ceroboh.


“Iya deh, janji gk ceroboh lagi.” Ucapnya memohon.


Chaterine menyodorkan baju yang sudah terlipat rapi kepada Aditya. “Noh, minggu depan jangan lupa lagi.”


Rombongan kelas IX-2 itu terus berjalan menuju ruang ganti, namun saat masih di daorah kelas 11 tiba-tiba saja seseorang mengalihkan perhatian Chaterine.


“Kak Chaterine!” Teriak gadis tersebut dari jauh, dari suaranya saja Chaterine bisa tahu kalau itu adalah seorang wanita tanpa harus melihatnya.


Chaterine berhenti lalu tersenyum ke arah gadis tersebut. “Kamu adek kelas yang kemarin kasih kue ke Reano kan?” Tanya Chaterine berharap jawabannya tidak salah.


Gadis itu tersenyum malu-malu. “Hehehe, iya kak.”


“Cepat ganti baju nanti pak Nando ngomel lagi.” Seseorang menghampiri Chaterine lalu mencubit pipinya, siapa lagi kalau bukan Reano.


Pemuda itu menatap dingin ke arah gadis yang sedang mengobrol dengan Chaterine tadi. “Permisi, gw sama Lexa masih ada kelas.” Ucapnya ketus lalu menarik Chaterine dari sana.


“Nanti kita lanjut ngobrol yahhh!” Teriak Chaterine yang masih berada dalam tarikannya Reano.


“Ck. Pura-pura akrab? Tunggu saja lo Alexa Chaterine.”


Reano terus menarik Chaterine hingga sampai di depan ruang ganti. “Lo tukar baju dulu, trus langsung balik ke sini. Gw mau ngomong sesuatu.” Ucap Reano serius.


Chaterine mengerutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang pria ini katakan.


“Udah, cepet ganti sana. Gw tunggu disini.”


Sudahlah, lebih baik ikuti saja yang pria itu katakan. Chaterine kemudian mengikuti perintah Reano, tidak sampai 5 menit gadis itu sudah keluar dari sana.


“Mau ngomong apaan?” Tanya Chaterine penasaran.


Reano memasang wajah seriusnya, kedua tangannya memegang kedua pundak Chaterine. “Gw harap lo jangan terlalu dekat dengan adek kelas yang tadi, entah mengapa gw merasa ada yang aneh setiap kali dia liat lo.” Ucapnya tegas.


Chaterine mundur selangkah. “Masa sih? Gw perhatiin dia orangnya baik, ramah kok.” Ucap Chaterine tidak mau menaruh praduga terhadap gadis tersebut.


Reano menghebuskan nafas kasar. “Yasudah, lo boleh percaya, boleh tidak, tapi gw minta lo jaga diri baik-baik, kalau bisa jangan terlalu sering ketemu dia. Okay?” Ujar Reano berusaha meyakinkan Chaterine. Gadis itu mengigit bibir bawahnya. “Okay.”


“YANG DI SANA! BERDUA YANG MASIH DI DEPAN RUANG GANTI, CEPAT KE LAPANGAN DAN LARI KELILING LIMA BELAS KALI!”


Reano menoleh ke arah sumber suara. “Kamplet, gw lupa kalau ini lagi jam pelajaran.”


“Kamplet-an lo, buat gw ikut-ikutan telat.” Chaterine mengambil ancang-ancang berlari. “IYA PAK, KAMI KESANA!”


"Ini yang buat lo menarik."