
“WOYYY!” Seseorang degan suara yang sangat kencang masuk kedalam kelas IX-2 dari jendela. Di tangan kanannya sudah ada selembar kertas yang bentuknya kusut. Mungkin bisa di bilang hampir menjadi sampah kertas. Tanpa ragu, pemuda tersebut berlari kencang ke segerombolan murid yang berkumpul di satu meja.
“Kampr*t telinga gue sakit woy!” Reano memegang telinganya berusaha menahan suara besar pria tersebut supaya tidak sepenuhnya menerobos ke dalam telinganya.
“Anj*m nih anak napa dah, teriak mulu.” Maki Aditya yang hanya di balas cengiran oleh pria itu.
“Kenapa?” Tanya Raka heran melihat kertas di genggaman pria itu.
“Oh iya. WOYYY!!!” Pria itu kembali berteriak kala dirinya teringat akan tujuannya datang kesana.
“Berisik!” Ucap Flora tegas, perempuan tersebut nampak sangat menyeramkan. Matanya seakan ingin membakar hidup-hidup pria itu.
“Huh, gw di marahin mulu perasaan.” Kesal Pria tersebut menatap sinis ke arah Flora.
Flora menatapnya dingin. “Serah.”
“Dasar kulkas karatan.” Ejeknya sembari menggoyang-goyangkan pantatnya di hadapan Flora.
“Anj*m jorok amat lu Hugo.” Ucap Chaterine mendelik jijik melihat tingkah bocah tengik tersebut, yang lain juga ikut-ikutan jijik melihatnya.
“Ck, serah kalian lah, cogan emang banyak hatersnya.” Ujar Pria itu dengan tingkat ke-pd an yang semakin
meningkat. Membuat teman-temannya semakin jijik dengan pria tersebut.
“Kenapa woy! Dari tadi di tanya gk dijawab, walah ribut sama ciwi-ciwi.” Ulang Raka menatapnya kesal. Ingin sekali
rasanya pria itu memberikan bogeman sesekali di wajah Hugo agar tingkat ke somplakkan nya sedikit menurun.
“Nih surat dari Pak Hendrik.” Hugo menyodorkan kertas yang tadi ia genggam kepada Raka, dengan cepat Raka
mengambilnya lalu membacanya.
Dengan Cepat Raka membaca isinya, tidak semuanya hanya hal yang penting saja. “Astaga! Uang kas!” Raka membuang kertas tersebut ngeri.
Yang lain menatapnya bingung. “Uang kas apaan Ra?” Tanya Reano bingung.
“Uang kas yang kita pake buat beli jajan di kantin waktu itu di tagihin sama pak Hendrik, wajib balikin hari ini
juga.” Ucapnya cepat.
Mendengar itu yang lainnya membelalakkan mata kaget. “Weh, seriusan tuh?!” Kaget Ayu hampir melempar botol
minum di mejanya. “Kamplet! Gw belum bawa uang! Lo ada Ket?!” Tanya nya pada Chaterine.
Chaterine memukul kepala Ayu dengan novelnya. “Harusnya gw yang tanya begituan geblek!”
“Jir, gimana dong nih, yang lain pada udah bawa uang kan?” Tanya Reano kepada semua temannya itu.
“Gk, gw lupa bawa uang jajan.”
“Gw udah habisin di kantin tadi.”
“Udah gw pake buat traktir ciwi-ciwi.”
“Uang gw udah keduluan kepake buat bayar utang enam bulan yang lalu di kantin.”
Mendengar jawaban-jawaban mengecewakan itu membuat semangat mereka perlahan-lahan menghilang. “Gimana dong?” Ucap Ayu sedih.
Chaterine mengetuk-ngetuk pulpennya di meja, gadis itu nampak sedang berpikir keras. “Kita ngabisin berapa rebu dari kas?” Tanya nya cepat.
“Dua ratus tiga puluh ribu ket.” Ucap Aditya.
Chaterine diam. Setelah beberapa detik berpikir dirinya memanggil teman-teman perempuannya untuk berkumpul di tempat yang agak jauhan dari para laki-laki. “Yang merasa betina ngumpul dulu sini. Gw ada ide.” Ucap Chaterine berjalan ke meja yang cukup jauh dari tempat cowok-cowok berada. Dengan cepat yang di panggill segera mengekori Chaterine.
“Rencana apaan Ket? Kabur?” Tanya Chelsy kepada Chaterine. Gadis itu terkekeh. “Yah enggak lah.” Ucapnya santai.
“Trus? Mukul pak Hendrik?” Ucap Flora membuat Chaterine dan gadis lainnya bergidik ngeri. Selalu saja saran-saran dari si gadis kulkas ini semuanya berhubungan dengan kekerasan.
“Gk juga. Kita bakalan tetep bayar uang yang kita pake.”
Siska menatap Chaterine bingung. “Caranya?”
“Sini-sini.” Chaterine menggoyang-goyangkan telunjuknya bermaksud menyuruh para gadis-gadis mendekat kearahnya. “Jadi gini...”
*****
“Krisman! Mejanya mana?!!!” Teriak Chelsy tidak sabaran.
“Yakin Ket gpp lakuin ini?” Tanya Siska terlihat khawatir. Chaterine terkekeh. “Udah tenang aja.”
Seseorang dengan sebuah meja yang cukup besar menghampiri tempat para gadis-gadis berkumpul. “Noh mejanya. Btw ngapain ngumpul di Aula. Ngeri tau gk, tiap kali ke aula gw keingat mulu sama muka pak Haru sama pak Hendra.” Ucap Krisman bergidik ngeri.
“Curhat yah? Ke mamah Dede aja curhatnya sono.” Sambar Chelsy ngegas.
Krisman memutar bola matanya malas. “Nih anak ngeselin mula perasaan, gw cium nih.” Krisman mendekat kearah Chlesy, sontak gadis itu mundur kebelakang. “Cabul.”
Selagi kedua manusia tersebut beradu mulut, Chaterine sibuk mencari kumpulan laki-laki lainnya. Matanya
kesana-kemari mencari keberadaan teman-temannya, namun hasilnya nihil hanya beberapa saja laki-laki yang ada disana. “Oy Bless!” Teriak Chaterine kala melihat Bless dengan meja di tagannya.
“Napa?” Tanya pria tersebut berhenti.
“Pangilin cowo-cowo yang lain!” Suruh Chaterine kepada Bless.
“Nih mejanya belum gw antar.” Jawab Bless dari kejauhan sambil menunjuk meja yang ia bawa.
“Udah tinggalin aja, ntar Krisman yang ngangkut.” Suruh Chaterine lagi.
Chaterine menoleh ke arah Krisman yang masih bertengkar dengan Chelsy. “Nanti lanjut gelud! Angkat dulu tuh meja!” Suruh Chaterine kepada Krisman.
Chelsy terkekeh. “Angkatin dulu tuh meja, babu.” Ejek Chelsy menekan kata terakhirnya, lalu setelahnya berlari
meninggalkna Krisman dengan tingkat kejengkelan yang semakin menjadi. “AWAS LO!”
Ayu menghampiri Chaterine lalu merangkul bahu sahabatnya itu. “Udah kelar Ket. Tinggal nunggu cowo-cowo.” Ucap Ayu terkekeh geli. Chaterine balik terkekeh. “Sip.”
Beberapa saat kemudian datanglah segerombolan pria dari arah yang sama. Raka, Hugo, Joseph, Reano, Netter, Nuel, Riski, dan Bless. Kedelapannya berjalan ke arah Chaterine dan yang lainnya berkumpul.
“Ada apa nih? Mau jualan?” Tanya Joseph setelah melihat meja besar di depannya.
“Ho’oh.” Jawab Aditya berusaha menahan Tawa.
Riski menatap aneh Aditya. “Gaje bet dah lo.”
“Nih talinya Ket.” Ucap Laly yang baru datang dengan tali tambang di tangannya. “Oke makasih.” Ucap Chaterine.
Hugo menatap tali itu heran. “Tali buat apa?” Tanya nya heran.
Reano menggosok leher belakangya yang terasa dingin. “Kok gw ngerasa gk enak yah?” Ucapnya aneh.
“Ngapain ke sini sih?! Cepetan gw mau lanjut mojok di kelas.” Ucap Netter tidak sabaran.
“Kita mau nangkap cicak.” Ucap Chaterine tertawa geli.
“Cicak?”
“Satu! Dua!” Teriak Chaterine.
“Nih anak ngapain ngitung.” Aneh Hugo.
“TIGA! TANGKAP!” Teriak Chaterine seperti memberi aba-aba. Dengan cepat Aditya mengambil tali di tangan Chaterine lalu berlari mengelilingi cowok-cowok tersebut.
“Jir, apaan sih ini. Lepasin.” Suruh Raka kala dirinya diikat dengan laki-laki yang lain.
“Woy maemunah! Lepasin!” Teriak Krisman terlihat tidak suka.
“Kan gw juga bilang apa.” Ucap Reano menatap kosong ke arah gadis-gadis tersebut.
“Hehehe... kali ini aja. Buat lunasin utang kita.” Ucap Aditya kala mengikat tali tersebut dengan kuat.
“Siska nih toa nya.” Ayu menyodorkan sebuah toa yang ia pinjam dari ruang kepala sekolah tadi. Dengan sigap, gadis mungil tersebut mengambilnya lalu mulai menyalakannya.
“Untuk semuanya! Dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas harap berkumpul di aula!” Teriak Siska dengan toa
tersebut.
Tidak perlu lama menunggu seluruh murid SMA sudah berkumpul disana. Mata gadis-gadis yang melihat anak Bucin Sejagad dalam ikatan yang besar langsung berkaca-kaca. Sebuah anugerah bisa melihat seluruh cowok idaman tersebut.
“Wey! Lo pada mau apain kita-kita?!” Tanya Riski kala melihat tatapan gadis-gadis kelas sepuluh hingga dua belas.
“Buat yang mau dating bareng cowo-cowo ganteng ini, boleh bayar lima puluh ribu per satu cowo! Buruan Pilih sebelum kehabisan!” Lanjut Siska semakin bersemangat mempromosikan sekumpulan laki-laki tersebut.
Mata mereka terbelalak. “Woy! Tega lo pada jual kita!” Teriak Bless tidak terima.
“Lexa lepasin gw!” Chaterine pura-pura tidak mendengar sekumpulan barang dagangan itu. Dalam hati Chaterine sudah tertawa habis-habisan.
Dengan gerakan cepat, sekumpulan gadis-gadis yang datang tersebut berjalan berhamburan mendekat ke arah meja yang bertuliskan ‘kasir.’
“Aku mau kak Raka!” Ucap seorang gadis yang pertama sekali datang ke tempat tersebut. Chaterine memberi kode pada Aditya, dengan cepat gadis itu melepaskan Raka, lalu membawanya kepada gadis tersebut.
“Anj*r! Lepasin gw Adit!”
“Yeayy makasih kak.” Segera setelah Raka sampai di sebelah gadis itu, ia langsung membawa Raka pergi dari sana.
“Anj*r! Kak Raka udah di ambil!!” Teriak seorang gadis yang melihatnya. Mendengar itu gadis-gadis dari kelas lain segera mendatangi ‘kasir’ tersebut.
“Aku mau kak Joseph!”
“Aku kak Krisman aja!”
“Kak Reano punya aku!”
“Gw yang sama kak Reano!”
“Mana ada orang gw yang duluan!”
Reano menganga melihat ke liar an gadis-gadis tersebut. Chaterine yang sedari tadi memperhatikan Reano berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Sebuah ide terlintas di otak Chaterine, dengan cepat gadis itu mengambil Toa dari tangan Siska.
“Buat yang mau kakak Reano kalian tercinta, gw bedain cara pembayarannya! Yang nawar lebih besar boleh bawa pergi Reano!” Teriak Chaterine bersemangat.
“Astaga! Lexa!” Teriak Reano yang masih terikat. “Gw mulai buka harga dari lima puluh ribu!” Lanjut Chaterine tanpa memperdulikan perkataan Reano.
“Enam puluh ribu kak!” Ucap seseorang gadis.
“Delapan puluh ribu!”
“Seratus sepuluh ribu!”
Tawaran harga semakin lama semakin meningkat, membuat Tawa Chaterine tak bisa ia bendung lagi. “Ayo-ayo! Masih ada waktu buat naikin tawarannya!”
“Awas lo Alexa Chaterine!”
“HAHAHAHA!”