
“Bisa lepasin gk? Gw masih ada urusan.” Ucap Chaterine mulai menaikkan nada bicaranya.
Pria yang tadi menggodanya itu berjalan selangkah lebih dekat dengan Chaterine. “Udah punya pacar belum? Kalau gk, mending sama kita bertiga aja.”
Seseorang merangkul Chaterine dari belakang. “Dia pacar gw.”
Chaterine kaget, spontan ia menoleh ke belakang melihat siapa orang tersebut. “Bless?”
Yup! Dia adalah Bless. Pria itu tersenyum manis ke arah Chaterine, membutnya merasa canggung.
Bless kembali menoleh ke arah ketiga pria tadi. “Udah puas lo bertiga gangguin pacar gw?” Ucapnya dengan smirk di wajahnya. Matanya menatap tajam ketiga pria tersebut, seakan ingin menelannya satu-persatu.
“Eh, gk kok, kita gk gangguin pacar lo. Permisi kami ada urusan.” Ucap salah satu dari ketiga pria tersebut. Setelahnya ketiganya langsung berlari meninggalkan Chaterine dan Bless.
Chaterine menghela nafas lega. “Hufft... untung mereka udah pergi.” Ucap Chaterine lega.
Sebuah sentilan mendarat mulus di dahi Chaterine. “Lo ngapain ke sini sendirian? Gimana kalau gk ada gw? Mungkin lo udah di apa-apain.” Sembur Bless membuat Chaterine menutup kedua telinganya.
“Iya, iya, gw salah. Maapkeun hamba.” Ucap Chaterine dramatis di akhir kalimatnya.
Bless terkekeh, sesekali mengacak rambut Chaterine gemas.
“Eh, btw lo tumben keluar rumah? Biasanya kerjaan lo baca buku mulu di rumah.” Tanya Chaterine penasaran. Memang benar jika Bless kebiasaannya di rumah terus, jarang sekali berjalan-jalan ke mall seperti saat ini.
Bless membuang nafas berat. “Gw di paksa sama yang lain, bahkan sampai samperin rumah gw. Pake acara ancam-ancam segala lagi.” Ujar pria tersebut kesal. Chaterine yang memperhatikan wajah pria di sebelahnya itu terkekeh karena merasa ekspresi Bless sangat menggemaskan.
“Pfftt...” Tawa Chaterine tertahan. Bless yang sempat mendengarnya melototi Chaterine membuat Chaterine menutup mulutnya lalu menggeleng.
“Gw cium baru tau rasa.”
Chaterine mundur selangkah. “Cabul.” Ucapnya pura-pura jijik.
“Hahahaha.”
“Eh, tadi lo bilang jalan bareng yang lain, mereka mana?” Tanya Chaterine.
Bless membungkuk hormat di depan Chaterine. “Biar gw anter nona muda.” Ujar pria tersebut dengan jahil membuat Chaterine tak kuasa menahan senyum lebar.
“Aposeh hahaha.”
Kedua remaja itu berjalan beriringan, mengelilingi mall. Kebahagiaan terlihat sangat jelas, bukan hanya mereka yang merasa begitu, orang lain yang melihat mereka bahkan beranggapan kalau mereka adalah sepasang kekasih. Namun tenang saja, itu hanya anggapan semata, bukan sebuah kenyataan. Tapi siapa yang tahu bagaimana kedepannya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
“Ngomong-ngomong kenapa lo ngaku pacar gw tadi?” Tanya Chaterine menoleh kepada Bless.
Pria itu tersenyum geli melihat Chaterine. “Kenapa hayo?” Ujar Bless balik bertanya membuat Chaterine malu.
“Apaan sih. Tuh mukanya pengen gw robek.” Kesal Chaterine membuat Bless terkekeh.
Pria itu memasukkan tangan di saku celananya. “Yah gpp. Pengen aja bilang gitu. Lagian kalau gw bilang cuman teman lo, tuh cowo bertiga mana mau berhenti ganggu lo.” Jelas Bless tersenyum tipis.
Chaterine menatap pria di sebelahnya, raut bingung terlihat jelas dari wajahnya. Jawaban akhirnya memang masuk akal, tapi jawaban sebelumnya? “Hah? Gw gk mudeg.” Tanya gadis itu.
Tangan besar bless mengacak pucuk kepala Chaterine. “Otak kecil lo emang gk bisa nangkep hal begituan.” Ejek Bless.
Chaterine yang merasa terhina langsung mendaratkan cubitan mautnya di perut Bless membuat sang empunya meringis kesakitan.
“Woy Bless! Anak saha tuh yang lo bawa?!” Teriak seseorang dari kejauhan.
Chaterine menyipitkan mata. “Itu Hugo?” Tanya kepada Bless.
“Hooh.”
“Astoje gw kirain siapa, ternyata anak dugong.” Ucap Hugo mendelik ngeri kala mengetahui siapa gadis yang tadi ia lihat bersama Bless.
“Hilih, gw gigit lo ya.” Ancam Chaterine memamerkan gigi kelincinya.
“Pufft- gigit aja kalau bisa.” Lanjut Hugo mengejek Chaterine.
Fokus Hugo teralih kala matanya tak sengaja menoleh ke arah tangan Chaterine. “Anzim! Mereka gandengan! PJ WOY! PJ!”
Mata Chaterine terbelalak, ia lupa kalau Bless belum melepas genggamannya. Buru-buru Chaterine melepas tangan Bless. “Ihhh gk, gk ada yang jadian.” Ucap Chaterine cepat.
“Ululululu.... bohong dosa loh.” Goda Hugo membuat rasa ingin memukul Chaterine meningkat.
“Gw sama Chaterine gk jadian. Gw gk sengaja gandeng tangan dia tadi.” Ucap Bless segera mengklarifikasi hal tersebut.
Hugo berdecak kesal. “Ck, padahal gw berharap banget dapat pj.” Ucapnya murung.
“Hmm, gw kesana, laper.” Suara berat seseorang mengalihkan perhatian ketiga orang yang sedang berdebat itu.
“Iy-“ Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung saja meninggalkan mereka acuh tak acuh.
“Bangkek! Gw lupa kalau ada Reano.” Ucap Hugo menepuk jidatnya.
“Lo sih, ngebacot tapi gk kira-kira dulu.” Ucap Raka memutar bola matanya malas.
Hugo menatap kepergian Reano. Dapat pria itu rasakan dengan jelas jika ada aura menyeramkan di dalam diri Reano saat ini. ‘Astaga... habislah gw.’ Batin Hugo panik.
“Eumm... dia kenapa?” Tanya Chaterine tiba-tiba.
Raka menatap gadis itu datar. “Dasar kagak peka.”
*****
Hening.
Sama sekali tidak ada yang berbicara, bahkan aura nya pun ikut menjadi menyeramkan.
Disinilah mereka sekarang, salah satu cafe dari banyaknya cafe di mall ini. Seperti yang Reano katakan tadi, mau tak mau yang lainnya mengikuti pria tersebut.
Yang lain tak berkutik, tidak ada yang berani membuka suara dengan keadaan seperti ini. Dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring membuat suasana semakin bergemuruh. Yap! Sedari tadi Reano sama sekali belum menikmati makanannya, hanya suara sendok nya yang terdengar keras karena memang sengaja di banting kuat.
“Eum... anu... gw pergi dulu yah, Ayu, Kristin sama Aditya masih mungguin gw di cafe lain.” Ucap Chaterine bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.
Prang!
Dentingan sendok yang semakin keras membuat Chaterine berhenti. Pelan-pelan gadis itu kembali ke tempatnya tadi duduk, kemudian menaruh tas slempangnya di atas meja.
“Hehehe... gk jadi deh.” Ucap Chaterine kikuk. Sepertinya Reano sedang marah, akan sangat ribet urusannya jika Chaterine harus melawan.
“Hmm pergi.” Ucap Reano dingin. Chaterine melongo tak percaya. “Serius?” Ulang Chaterine bertanya. “Cepat pergi sebelum gw berubah pikiran.” Lanjut Reano dengan wajah masam.
“Oke, bye all.” Buru-buru Chaterine mengambil tasnya lalu berangsur-angsur menghilang dari tempat itu.
“Gw pergi juga, ada urusan.” Ucap Yang lain beranjak pergi. “Eh, gw juga.” Ucap Hugo cepat.
“Lo tetap disini.” Ucap Reano tersenyum miring.
‘Anj*r, mati gw.’ Batin Hugo.