
"Gw Karin. Perasaan kemarin kita ketemu deh." Ucap gadis itu antusias.
"Eum... gk kenal." Ucap Reano dingin lalu berjalan meninggalkan Karin yang diselimuti kekesalan.
Karin berlari mengejar Reano, menarik tangan pria itu agar berhenti berjalan. "Ihhh! Jangan tinggalin gw Vin!"
"Mau lu apa hah?!" Bentak Reano membuat gadis itu sedikit terkejut. Namun ekspresi kagetnya seketika berubah menjadi senyum menggoda. "Gw mau lo." Ucapnya ingin menyentuk pipi Reano namun langsung ditepis kasar oleh pria itu.
"Jangan kurangajar lu." Ucap Reano dingin namun sama sekali tidak diambil pusing gadis itu.
"Beneran nih lu gk ingat gw?" Tanya Karin masih tak menyerah. "Ini gw yang kemarin meluk lu ditaman." Lanjutnya.
"Oh."
"Kok respon lu gitu amat?!" Teriak Karin kesal setengah mati, apa dirinya yang begitu seksi ini gampang dilupakan?!
Reano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seolah-olah tidak peduli dengan ocehan gadis itu. "Gw lupa bilang, gw punya masalah mengenali orang. So, wajar aja gw gk kenal orang yang tidak berkepentingan seperti lu." Ucap Reano membuat hati gadis itu tergores.
"Ekhm... Oke lah. Bagaimanapun juga lu bakalan jadi miliki gw." Sambar Karin penuh tekad.
"Re!" Teriakan familiar mengalihkan pandangan Reano.
"Yes baby?" Ucap Reano sengaja membuat panggilan mesra saat Chaterine datang.
"Hah?" Gumam Chaterine bingung dengan panggilan barusan.
"Kenapa hmm? Kangen?" Tanya Reano lebih mesra merangkul pundak Chaterine.
Baru saja ingin memberi headshoot pada lelaki genit itu, keinginannya untuk mengamuk menghilang kala melihat gadis dengan wajah suram didepannya. Chaterine memasang smirk, jika dirinya berperan didalam sebuah komik akan ada tanduk merah yang keluar dari kepalanya, tak lupa dengan ekor panjang ala-ala iblis.
Chaterine mulai melancarkan aksinya, dengan manja ia bergelayut di lengan berotot milik Reano. "Darling... aku kangen." Ucap Chaterine pura-pura kesal.
Reano mengeluarkan smirk, lalu mengikuti permainan kucing kecilnya itu. "Iya-iya, kita kekelas sekarang ya..." Ucap Reano membawa Chaterine meninggalkan Karin yang diselimuti emosi.
"Kalian berdua! Jangan kira gw bakalan nyerah begitu saja!" Teriak Karin menggebu-gebu, sampai-sampai murid yang sedang belajar mengecek keluar kelas.
Merasa menjadi bahan tontonan, Reano menatap tajam ke arah murid yang melihatnya.
"Udah lah... ngejar orang yang udah punya pacar dosa loh. Mau jadi undangan privat di neraka?" Ucap Chaterine angkuh membuat Karin semakin terpojok.
"Diam!"
"Disekolah ini gk ada aturan 'no speaking' so cewe gw bebas mau ngomong apa. Iya kan Darling." Ucap Chaterine langsung dibalas anggukan mantap dari Reano.
Karin menggeram, mengepalkan tangannya kuat untuk menyalurkan amarah. "Jangan kira hidup lu bakalan tenang selagi gw ada disini!" Ucapnya penuh keyakinan, setelah itu Karin berjalan pergi meninggalkan mereka.
Chaterine menghela nafas lega setelah kepergian Karin. "Hufftt... pergi juga tuh dajjal." Ucap Chaterine.
"Gimana darling? Seneng sekarang?" Bisik Reano tepat ditelinga Chaterine.
"Kenapa gk manggil gw 'darling' lagi hm? Hahaha!" Tanya Reano jahil, diakhiri tawa kerasnya.
Chaterine membuang pandangannya kearah lain karena malu. "Ingat, gw ngomong gitu cuman buat bantu lu! Jangan ngadi-ngadi."
Reano terkekeh geli melihat sikap gadisnya itu. "Ututut darling ku... Hahaha!"
"Udah serah lu aja! Ejek terus! Gw balik kekelas, humph!" Ucap Chaterine sambil menggembungkan pipinya karena kesal.
"Iya-iya gk gw ejek lagi." Ucap Reano lalu mengejar Chaterine, mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi buronan Reano, gadis itu mempercepat larinya mengetahui dirinya diikuti.
Namun pikiran Chaterine tak henti-henti memikirkan alasan mengapa karin ada disekolahnya.
*****
Bel berbunyi panjang, tanda sekolah telah usai. Chaterine seperti biasa mengemas barang-barangnya, ya walau hanya sebuah pulpen dan buku tetap saja disebut barang kan?
"Gw duluan ya, ada latihan basket soalnya." Ucap Reano tiba-tiba.
Chaterine mengangguk sebagai balasannya. Jika Reano ada latihan pasti abangnya ikut latihan, otomatis dia harus nebeng pulang kesahabatnya yang lain.
"Oy geb! Pulang bareng kuy!" Teriak Chaterine pada ketiga sahabatnya.
"Pulang dari sini gw mau main ke gramedia."
"Gw mah langsung nemenin mama belanja."
"Gw masih harus selesaikan tunggakan Ket."
Chaterine menatap sahabatnya tanpa harapan sedikit pun. "Syalan kalian teman-teman." Ucap Chaterine mengumpat secara halus.
"Gimana kalau gw temenin?" Ucap seseorang mengalihkan perhatian Chaterine.
Chaterine seketika tak berekspresi. "Kalian keluar dulu." Suruh Chaterine pada ketiga sahabatnya. mengerti situasinya sahabat-sahabatnya langsung keluar.
Merasa sahabatnya sudah jauh Chaterine mulai membuka suara. "Kenapa lu disini?" Tanya nya dingin.
Gadis itu tertawa. "Udah gw tebak kalau lu bakalan nanya begituan." Jawabnya seakan-akan memang benar menduga hal itu.
"..." Chaterine tak bergeming. Karin yang merasa Chaterine tak bisa diajak bercanda mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.
"Gw pindah kesini, ke sekolah ini." Ucap Karin tenang.
Chaterine terkejut bukan main, tak ada angin tak ada hujan perempuan yang tidak ia sukai malah bersekolah di SMA yang sama dengannya.
Chaterine tiba-tiba berdiri dari tempatnya lalu memukul meja di depannya. "Gw Chaterine dan gw gk akan pernah buat rencana lu selama sekolah disini berhasil." Jawab Chaterine setengah berteriak, kemudian meninggalkan ruang kelasnya hingga tinggal Karin seorang.