
"Lo gimana? Udah mulai baikan?" Tanya Chaterine lembut sambil mengelus kepala pria yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Pria tersebut tersenyum lembut kearahnya. "Udah kok, gw malah ngerasa sehat banget karna ada Lo yang selalu nemenin gw." Ucap pria tersebut mencubit pipi chaterine gemas.
"Tuhkan, apa juga gw bilang. Lo bakalan sembuh." Lanjut Chaterine.
"Hmm, gw ngantuk Ket. Gw tidur dulu yah." Ujar pria tersebut sayu.
Chaterine menarik selimut pria tersebut hingga sebatas dagu. "Oke deh, jangan lama-lama tidurnya gw ga mau sendirian, hehehe."
Pria tersebut tersenyum kecut. "Chaterine." Panggil pria tersebut.
"Kenapa? Ada yang sakit? Atau mau sesuatu?" Tanya Chaterine khawatir.
"Gw cuma mau satu hal." Pria tersebut meraih pipi chaterine lalu mengelusnya degan sayang. "Selama gw tidur Lo harus selalu senyum yah, Lo harus selalu bahagia." Ucapnya menatap lekat manik Chaterine.
Chaterine yang merasa aneh dengan kalimat pria tersebut langsung panik.
"Lo kenapa?! Maksud Lo ngomong gitu apaan?!" Suara Chaterine bergetar, tangannya menggenggam erat tangan pria tersebut.
"Pfft lucu deh Lo. Gw ga papa kok, sakit dikit aja." Lanjut pria tersebut menghapus air mata Chaterine yang sedari tadi mengalir tanpa henti. "Udah yah, gw ngantuk banget nih. Bye, Chaterine jangan lupa pesan gw yah." Ucap pria tersebut. Setelahnya matanya perlahan tertutup.
"Bagun ihhh!! Gk lucu tau!" Teriak Chaterine tak tertahan.
Tangan Chaterine menggoyang-goyangkan tubuh pria tersebut, sedangkan tangan yang lainnya masih setia menggenggam tangan pria tersebut. "Hiks... Kev! Kevin! Please jangan tinggalin gw!" Chaterine terus meracau tak jelas ketika pria yang terbaring itu tak merespon panggilannya.
"Gk! Gk boleh gini! Jangan bercanda please!" Sesak rasanya. Chaterine memukul-mukul dadanya yang sakit. "Kevin! Kevin! Kevin bangun!"
"KEVIN!"
tubuh Chaterine menegang. Keringat bercucuran deras dari tubuhnya. Matanya mulai mengabur dan cairan bening mengalir deras dari sana.
Mimpi ini lagi. Mimpi yang terus-terusan menghantui Chaterine sejak 2 tahun terakhir ini.
"Hiks... Kevin. Gw kangen." Lirih Chaterine tertahan.
Drttt... Drttt...
Ponsel cahterine berdering. Segera Chaterine mengelap air matanya dan menormalkan nada bicaranya
"hallo." Ujar Chaterine sedikit lemas.
Sedangkan di sebrang telepon sana merasa khawatir mendengar nada suara Chaterine. "Lo kenapa? Nangis kah?" Tanya pria tersebut.
"Gk kok Re, ini cuman pilek biasa doang. Tiap pagi juga gini." Bohong Chaterine.
"Owh yaudah, nangi malam gw jemput, jangan lupa jam 7." Ucap reano.
"Oke"
...*****...
"Hmm, Alexa Chaterine."
"Pfft hahahaHAHAHAHAHA." bukan tawa mengejek, bukan juga tawa bahagia. Ini lebih mirip tawa seseorang yang sudah kehilangan akal.
Gadis tersebut mengelus foto Chaterine tepat diwajahnya. "Humm, Hanya karna wajah sialan ini, semua hancur! Hahaha!"
Gadis itu terus memandangi foto Chaterine dengan sangat bernafsu. Bernafsu ingin segera menyingkirkan gadis didalam foto itu.
"Lo tau gk seberapa sakit yang gw rasakan selama Lo hidup?!" Tanya nya pada gambar tersebut.
"Hehehe, banyak tau gk. Dasar kau ******! Tidak tau malu!" Makian demi makian ia luncurkan, seakan semua emosinya ia curahkan pada gambar tersebut.
Gadis itu mengambil pisau kecil diatas meja kamarnya dan membuat goresan goresan kecil pada foto tersebut.
"HAHAHAHA GW GILA LAMA-LAMA. HANYA KARNA LO! ALEXA CHATERINE!"
Gadis itu melempar asal pisau yang ia genggam lalu beralih memegang ponselnya.
Dirinya mencari kontak seseorang didalamnya. Ia kemudian menghubungi nomor tersebut.
"Halo Ket, ini gw Siska."
Siska. Gadis itu adalah siska. Gadis menyeramkan itu adalah teman Chaterine sendiri.
"Halo Siska, eumm kenapa yah?" Tanya Chaterine yang tidak tau apa-apa disebrang sana.
"Maaf mengganggu yah. Btw lo ada acara gk nanti malam, gw mau ajak lo makan berdua."
Hebat. Hebat sekali gadis ini merubah watak. Seakan-akan dirinya yang tadi adalah orang yang berbeda dengan yang sekarang.
"Owh oke deh."
Siska mematikan ponselnya.
"Shit. Lidah gw kotor selesai bicara dengan manusia kotor. Eh, lebih cocok hewan kotor, hewan menjijikan! Hahaha!" Monolognya
"Hmm, mungkin gw gk ada kesempatan buat singkirin Lo sekarang, tapi mungkin orang lain bisa." Ucapnya dengan senyum mengerikan diwajahnya.
Siska kembali mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Gw ada tugas. Lo tau Alexa Chaterine kan?"
"...."
"Iya si ****** itu. Hahaha iya iya serah Lo mau apain."
"...."
Siska berjalan mendekati jendela kamarnya. "Mau bunuh juga boleh kok."
...*****...
Jam menunjukan pukul 18.30. waktu sudah hampir menunjukan jam 7 tapi Chaterine masih setia rebahan dikasur empuknya.
"Sayanggg! Udah mandi belum?! Ini teman kamu udah datang!" Teriak bunda Lena dari bawah.
Chaterine terkejut. "*****, gw telat."
"Iya Bun!! Ini bentar lagi kelar!" Teriaknya lebih keras dari suara bundanya.
Dengan secepat mungkin Chaterine mandi dan mengenakan gaun pestanya. Gaun yang reano beli Minggu lalu untuknya.
Sedangkan di ruang tamu...
"Maaf yah, Chaterine emang lelet orangnya." Ujar bunda Chaterine kepada reano yang sudah rapi dengan kemeja biru dongkernya.
"Eh, gpp kok Tante." Sambung reano tidak mempermasalahkan hal itu.
"Chaterine udh belum?!" Lagi-lagi bundanya Chaterine berteriak menanyakan perkembangan putri satu-satunya itu.
Tak ada sahutan dari atas membuat kedua orang itu bingung.
"Kamu cek aja gih ke kamarnya Chaterine. Tante mau pergi dulu ada kerjaan yang mau diselesaikan." Ucap Lena menepuk pundak reano pelan lalu segera meninggalkan rumah.
"Iya Tante. Hati-hati dijalan." Ucap reano menjawab perkataan bunda dari sekarang Alexa Chaterine itu.
Ketika bundanya Chaterine sudah benar-benar pergi, barulah reano mengambil langkah menuju kamar Chaterine. Selama di perjalanan ada banyak sekali hal aneh yang pria itu pikirkan saat akan masuk kamar chaterine.
Pria tersebut menggelangkan kepalanya bermakasud menghilangkan pikiran-pikiran sedikit kotor terssbut dari dalam otaknya. "Hhhh."
Sampailah reano didepan kamar Chaterine. Kamarnya sangat mudah dikenali dari hiasan pintunya yang mencolok.
Dengan tangan bergetar pria itu mengetuk pintu kamar Chaterine.
Tok tok tok...
Dari dalam kedengaran suara langkah kaki mendekat kebalik pintu tersebut lalu...
Kriet...
"Eh kamvret! Ngapain lo kesini?! Mau ngintip?!!"
Chaterine terperangah melihat siapa yang datang.
Sedangkan reano dengan wajah memerah memandang kearah lain.
"Itu.. anu.. kan Lo udah pake baju ngapin masih malu." Ucapnya sedikit tertahan.
"Tapi tetep aja menurut gw ga sopan. Turun aja gih, gw juga udh mau selesai." Ucap Chaterine memerintahkan reano untuk turun.
"Iya-iya." Dengan perasaan malu reano turun dari sana. Wajahnya dan telinganya yang memerah menandakan bahwa dirinya sangat malu saat ini.
"Aish bodoh lu Re!" Umpatnya pada diri sendiri. Mengatai kebodohannya sendiri karna berani kekamar Chaterine.
"Eh tapi bundanya Chaterine yang suruh jadi gpp kan?" Tanyanya pada diri sendiri berharap kejadian itu bukan salahnya sepenuhnya.
Pria tersebut menghempaskan tubuhnya keatas sofa."Huaaa bodolah."