REANO

REANO
Episode 25



“Chaterine lo gk kenapa-napa?”


Baru saja kaki Chaterine mendarat di lantai kelas, seorang gadis dengan kucir dua menghampiri dirinya. Nampak dengan sangat jelas raut khawatir dari wajah perempuan tersebut.


“Eh, maksudnya?” Tanya Chaterine tidak mengerti dengan maksud gadis dihadapannya itu. Jika yang dia maksud adalah kejadian saat di gudang aula, pertanyaannya sekarang dia tau dari mana?


“Kejadian di gudang aula.” Ujarnya singkat.


Chaterine mematung, entah mengapa tiba-tiba dadanya sesak. “Eum gpp kok. Btw lo tau dari mana Siska?”


Yap! Siska. Gadis tersebut tersentak mendengar pertanyaan itu, gelisah tersirat jelas dari wajahnya. “Gw ke toilet dulu bye!” Dengan tergesa Siska berlari ke luar kelas, meninggalkan Chaterine dengan banyak pertanyaan yang ingin ia ketahui kepastiannya.


Matanya hampir tak berkedip, kakinya berjalan ke arah bangku nya dengan gemetar. Entah mengapa Chaterine merasa ada hal yang Siska sembunyikan darinya. Gadis itu merasa Siska ada hubungannya dengan kejadian dua hari yang lalu saat di gudang aula. Tidak mungkin Siska kan?! Jelas-jelas Chaterine melihat Sella yang menjebaknya. Tapi perasaan apa ini?! Apakah tidak salah jika Chaterine mulai mencurigai Siska? Apakah tidak salah jika ia harus berhati-hati? Ini kata hatinya, Chaterine percaya pada perkataan hatinya, tapi bagaimana jika hatinya keliru memilih keputusan? “Huftt semoga bukan dia.” Chaterine menundukan  kepalanya yang mulai pusing, tanggannya yang menumpu di meja menopang berat kepalanya.


“Lo kenapa? Sakit?” Seseorang menepuk pundaknya membuat gadis itu mendongak secara tiba-tiba.


“Gw ngagetin kah?” Ucap pria yang baru datang itu.


Chaterine tersenyum tipis padanya, sangat tipis, bahkan mungkin tidak bisa disebut sebagai sebuah senyuman. “Eh, Reano. Gpp kok.” Bohong gadis itu menatap kosong ke arah papan tulis.


Reano tau Chaterine berbohong, tapi ia lebih memilih memberi waktu sendiri bagi gadis tersebut. “Kalau butuh teman cerita, gw bisa dengerin kok.” Tangan pria itu mengelus kepala Chaterine lembut. Nyaman. Nyaman rasanya kala tangan besar itu menyapu pucuk kepalanya, entah mengapa Chaterine merasa itu yang ia butuhkan sekarang.


Tak lama setelahnya, tangan Reano berhenti mengelus kepala Chaterine membuat Chaterine menatapnya kesal. Pria disebelahya yang melihat tatapan Chaterine binggung akan tatapn tersebut.


“Lanjutin.” Ujar Chaterine dengan semburat malu dari pipinya, tak lupa dengan bibir yang di manyunkan. Sedangkan Reano masih bingung dengan maksud gadis itu.


Chaterine menghembus nafas kesal. “Hmph!” Dengan cepat Chaterine menarik tangan Reano lalu meletakkannya di atas kepalanya. “Elus lagi.” Ucapnya malu, bahkan kini dirinya tidak berani melihat ke arah Reano.


“Pfftt-“


“Huwaaa, jangan ejek ihh.” Rajuk Chaterine menenggelamkan wajah dengan rambutnya karena malu.


“Iya gw gk ngejek nih. Hahaha.” Pria itu mulai mengelus kepala Chaterine lagi. Terkadang mulutnya mengeluarkan nada-nada yang menenangkan membuat Chaterine semakin dibuat terlena. Ditambah lagi dengan suasana kelas yang sepi membuat dunia serasa hanya miliknya sekarang.


“Bebek kecil tidurlah, tidur yang nyenyak lalalala~” Lagu karangan pria itu membuat Chaterine yang mendengarnya merasa geli. Suaranya memang bagus hanya saja lagu karangannya itu. Bagi Chaterine, pria di sebelahnya ini seperti seorang anak kecil saja. Jika Chaterine tidak sedang badmood, mungkin sudah sedari tadi gadis itu mencubit ginjal Reano sangking gemasnya.


“Tidurlah bebek kecil ku lalala~”


Tanpa Reano sadari gadis di sebelahnya tersenyum dalam diam. “Pfft, makasih bodoh.”


*****


Kringgg.... Kringg....


“Baik, tugasnya kita lanjutkan pada pertemuan selanjutnya. Ingat untuk membawa buku tugasnya. Sekarang kalian boleh istrahat.”


Bel berbunyi tanda istrahat. Siswa siswi berbondong-bondong keluar kelas, ada yang berebut meja di kantin, ada yang terburu- buru ke toilet, ada yang ke perpustakaan, dan masih ada yang setia di dalam kelas. Seperti Chaterine dan teman-temannya yang lain, yang masih setia di dalam kelas.


“Hmm, enaknya kemana nih? Gw udah bosan ke kantin mulu.” Ucap Aditya yang terlihat  terlihat sangat malas.


“Njir, jangan bilang ini hari gabut sedunia?!” Teriak Chelsy dengan suara melengkingnya. Membuat yang lain kaget, hampir terjungkal dari tempat duduknya.


“Suara lo kurang gede Chel, gedein lagi sampai bangunan sekolah ambruk.” Ketus Ayu menatap Chelsy jengkel.


“Lah lo tau kan kalau dari lahir suara gw udah kenceng, emang ga bisa dikecilin.” Sambung Chelsy membuat Ayu semakin kesal. Ingin sekali gadis itu menggunting pita suara Chelsy agar tidak bisa bersuara nyaring lagi.


Gubrak!


Meja yang terdorong kuat menghasilkan bunyi gaduh, membuat penghuni kelas terkeejut untuk kedua kalinya. Semua orang menatap ke arah si pembuat gaduh dengan tajam.


“Hihihi, maapkeun. Tadi gw tendang mejanya kekencangan.” Kekeh Chaterine yang adalah pelaku kegaduhan tersebut.


“Hilih.”


“Eum, kalian lanjutin malas-malasan dikelas aja, gw mau pergi bentar.” Pamit gadis itu kala teringat akan sesuatu.


Reano dengan sigap menarik tangan Chaterine membuat gadis itu tidak jadi pergi. “Mau kemana?” Tanya Reano menyelidiki.


“Ke ruang Kepsek.” Jawabnya singkat lalu kembali mengambil ancang-ancang untuk pergi, tapi apa daya tangannya kembali di tarik Reano. “Apaan lagi elah, cepet lepasin keburu bel bunyi.” Kesal Chaterine berusaha melepaskan diri. Tangannya yang kurus, dan kepalan tanggannya yang tidak bertenaga memukul-mukul jeratan tangan Reano.


Reano terkekeh, “Lo pikir pukulan lo sakit? Pfft-“ Sialan. Pria itu mengejeknya lagi. “Udah napa, lepasin gw nanti ga sempat.” Rengek Chaterine.


“Gw ikut.” Ucap Reano berdiri dari kursinya. Chaterine menatapnya datar, “Ngapain ikut astaga.” Ucap gadis itu dengan wajah masam.


“Lo mau bahas masalah dua hari yang lalu kan? Gw juga ada hubungannya disitu, jadi gw boleh ikut.” Jelas Reano kemudian menarik Chaterine keluar kelas.


“CHATERINE GW JUGA IKUT!” Teriak Ayu dan Aditya bersamaan.


“NGIKUT GW, SEMUA BAJU KALIAN YANG ADA DI LEMARI GW BAKAR!” Balas Chaterine berteriak dari luar


Mendengar balasan tersebut Ayu dan Aditya tak berkutik lagi. Pas sekali juga ada banyak baju kedua gadis itu yang tertinggal dirumah Chaterine, jika menginap disana. “Dasar rubah licik.” Kesal Kedua gadis tersebut.


“Gw permisi ke kantin bentar yah.” Ucap gadis berkucir dua berjalan keluar dari kelas. “Ck, sialan.”


*****


“lo bodoh atau gimana sih? Mau lapor ke pihak sekolah tapi gk punya bukti sama sekali.” Marah Reano kepada Chaterine sepanjang corridor menuju ruang kepala sekolah. “Lah mana gw tau kalau harus ada bukti, palingan lo jadi saksinya, kan gampang.” Bela Chaterine tidak mau kalah. “Haish, gw sebagai saksi mata aja gk cukup, harus ada bukti kuat yang lain.” Pusing Reano dengan cara berpikir gadis ini. Reano bingung, antara Chataerine yang masih polos atau memang otaknya yang bermasalah, sempit sekali.


Chaterine menghela nafas kasar, lalu berhenti berjalan, membuat pria disebelahnya terpaksa mengikutinya berhenti. “Trus gimana? Gk jadi lapor kah?” Tanya Chaterine lesu. Padahal tadi ia sudah sangat bersemangat ingin melihat Sella mendapat disiplin atas hal tidak senonoh yang ia lakukan pada Chaterine. Tapi sekarang? Sepertinya tidak ada kesempatan lagi untuk melaporkannya karena tidak ada bukti kuat. “Ya sudah, balik kekelas.” Ucap Chaterine lesu.


 “Siapa yang bilang gk ada bukti?”


Chaterine menoleh bingung kebelakang. “Hah? Kan emang ga ada.” Ujar gadis itu kebingungan.


“Bukan berarti kalau lo ga punya gw juga ga punya.” Ucap Reano santai dengan senyumnya. “Maksudnya? Kok gw gk mudeg yah?”


“Otak kecil lo gk perlu tau.”-