
Pagi ini Reano bangun agak kesiangan. Setelah tidak kesekolah kemarin, akhirnya pria itu akan kembali bersekolah
mulai pagi ini, itupun karena diancam ibunya.
Setelah kejadian yang ia lihat beberapa malam lalu, dirinya terlihat tidak memiliki antusias untuk kesekolah karena mengharuskannya bertemu dengan Chaterine. entah bagaimana ia akan menghadapai gadis itu nanti.
“Sayang, udah bangun belum?!”Teriakan wanita pparuh baya mengakhiri lamunan Reano.
“Udah ma.” Jawabnya lemas, namun masih bisa terdengar sampai kebawah.
“Ya udah, cepet mandi! udah siang!
Segera ia bergegas ke kamar mandi setelahnya, sudah cukup dirinya diceramahai oleh ibunya perihal tidak masuk
sekolah kemarin jangan ada lagi ceramah pagi ini.
15 menit lagi jarum jam akan mendarat di angka 7, namun Reano masih belum turun dari kamarnya.
“Reano cepat turun! Jangan buat mama tambah jengkel ya!” Marah Monica yang notabene nya adalah ibunya.
Mendengar itu Reano mengacak rambutnya kesal. “Iya! Gw turun sekarang!” Balas pria itu tak kalah besar dari ibunya. Ini dia yang Reano tidak suka jika harus tinggal bersama orang tuanya, selalu di atur inilah-itulah, karena itu dia lebih memilih tinggal sendirian di apartemen nya.
Dengan langkah cepat ia menuruni anak tangga. Langkahnya yang terdengar sangat keras membuat ibunya kaget.
“Kamu kenapa sih nak?! Sikap kamu balik kayak dulu lagi!” Tanya Monica emosi.
Langkah Reano terhenti, diusapnya wajahnya dengan kasar. “Maaf kalau hari ini gw beda, gw lagi gk mood.” Ucapnya dingin kepada ibunya, lalu segera berjalan keluar meninggalkan ibunya sendirian.
Cukup 7 menitan lebih Reano sudah sampai di depan pagar sekolahnya, jika kalian tau Reano dulu sering dijuluki ‘Racun Jalanan’ oleh teman-teman lamanya karena sangat hobi mengebut dan ugal-ugalan jika sudah membawa motor.
Pria itu turun dari motornya, matanya menatap kesekeliling yang sepi. Bagaimana tidak sepi, pelajaran sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu. Dengan santai, pria dengan seragam acak-acakan itu melompati pagar sekolahnya .
Brukk!
Pendaratan yang cukup mulus pikirnya. Tas yang tadinya ia pegang kini ia gantungkan disalah satu pundaknya kemudian berjalan ke arah kelasnya tanpa merasa bersalah.
Tok...tok...tok...
“Silahkan masuk.” Ucap guru dari dalam kelas.
“Maaf telat.” Ujar Reano terlihat acuh tak acuh.
Mendengar suara itu Chaterine langsung dibuat kaget, senyumnya seketika merekah setelah mengetahui siapa pemilik suara itu.
“Kamu kenapa telat?!” Tanya guru seksi terpopuler di sekolahnya.
Bukannya menjawab, pria tersebut malah menoleh ke arah Chateriene. Merasa sedang dilihat Chaterine melambaikan tangan ke arah Reano. Ekspetasi tak sesuai dengan realitanya, bukannya membalas Reano malah membuang pandangannya ke luar kelas. “Kesiangan bu.” Lanjutnya Cepat kemudian kembali ke tempat duduknya.
“Hi!” Sapa Chaterine dengan suara yang dikecilkan agar tidak ketahuan oleh bu Ian dari depan.
Reano memberinya tatapn dingin membuat Chaterine spontan mengunci mulutnya rapat. Sapaan yang di berikan gadis disebelahnya seakan menjadi angin lalu saja dimata Reano. Chaterine terdiam, perlahan hatinya terasa perih. Rasa sakitnya semakin terasa ketika ia memanggilnya untuk kedua kalinya tapi tetap tidak dijawab, bahkan sangat kelihatan kalau itu menghindar yang disengaja.
“Kok sesak yah?” Tanya Chaterine didalam hati.
Chaterine menggeleng kuat sesekali menepuk kepalanya pelan. “Mungkin saja dia tidak dengar.” Batin Cahterine
berusaha berfikiran positif.
Pembelajaran kembali di lanjutkan, namun sedetik pun Chaterine tidak bisa fokus dengan pelajarannya. Di dalam
otaknya hanya ada Reano saja. Pikirannya dibuat berkecamuk hanya karena pria itu.
Rasa sesak itu semakin menjadi, hingga akhirnya istirahat tiba dan Chaterine terburu-buru ke atap untuk mencurahkan isi hatinya. Baru ampai di pintu atap, hembusan lembut angin sudah menyambutnya, kaki kecilnya berjalan mengikuti kemana arah angin membawanya. Tidak jauh dari sana Chaterine melihat bangku panjang yang tidak jauh dari pinggir gedung lalu mendudukkan diri disana sejenak.
“Gw kenapa ya? Sesak gitu rasanya.” Ucapnya lirih sambil meremas ujung roknya. Dirinya bingung harus bagaimana, sesak yang ia rasakan semakin terasa ketika mengingat nama Reano. “Gk mungkin gw ada perasaan sama Reano kan?” tanyanya pada diri sendiri.
Tatapannya kosong kedepan, perlahan air mata yang sudah ia tahan mendadak keluar dengan sangat deras. “Gw gk mungkin taruh perasaan sama dia! Gw Alexa Chaterine, dan hati gw cuman buat Kevin!” Air matanya semakin deras kala menyebut nama pria yang sudah sangat ia rindukan itu.
Bayang-bayang dirinya bersama Kevin muncul dipikirannya. Dirinya seakan kembali bernostalgia, mengingat kembali hari-hari indahnya bersama pria itu. Bayangan Reano mendadak muncul dalam pikirannya. Chaterine sontak berdiri karena kaget. Diremasnya rambutnya dengan sangat kuat hingga beberapa helainya rontok. “Gw bingung... hiks... Akhhh!” Chaterine yang hilang kontrol tak sengaja tersandung batu dan membuatnya oleng ke belakang.
“Chaterine!”
Seseorang dengan sigap menarik Chaterine sebelum gadis dihadapannya terjatuh dari atas gedung tinggi itu. Telat sedikit saja, mungkin Chaterine sudah di sambut oleh kerasnya tanah di bawah sana.
“Chaterine lo kenapa?!” Pria itu mendekap gadis di hadapannya erat.
Semakin ditanya, Chaterine malah semakin menangis. Menyadari itu, pria tersebut semakin mempererat dekapannya. “Gpp nangis aja, gw bakalan ada disini buat lo.”
“Hiks... hikss...” Chaterine menangis sejadi-jadinya didalam pelukan pria tersebut. Kebimbangan yang ia rasakan
selama ini ia keluarkan semuanya lewat tangisnya. Hanya dengan cara ini ia dapat meredakan sakit hati itu.
10 menit sudah Chaterine menangis, matanya terasa kering dan bengkak. Gadis itu memundurkan tubuhnya dari pria yang masih setia menunggunya. Tangannya ia usap-usapkan ke wajahnya untuk mengelap sisa air matanya.
“Maaf karena udah ngerepotin.” Ucap Chaterine kepada pria tersebut sambil sesekali terisak.
Tangan besar pria itu terulur ke kepala Chaterine lalu mengelusnya gemas. “Iya gpp.”
Chaterine tersenyum tipis. “Makasih ya Bless.”
Blusshh...
Seketika pria yang namanya disebut itu memanas, diikuti telinganya yang ikut-ikutan memerah.
“Kok malu-malu?”
Pertanyaan itu sontak membuat Bless salah tingkah. “Itu.. anu...” Ucapnya terbata-bata.
“Klau gw tambah mancung tanggung jawab ya lo.” Goda Bless yang langsung dibalas delikkan oleh Chaterine.
“Idihh... sok banget tuh idung di pamerin.” Geli Chaterine mengibas-ngibaskan tangannya lucu membuat keduanya tertawa bersamaan.
Reano POV
Hari ini gw masuk sekolah dengan mood yang kurang baik. Jujur, gw sendiri bingung kenapa sifat gw jadi seperti ini.
awalnya gw gk ada niatan uat cuekin Lexa, gw bahkan sebenarnya kangen gk ketemu dia sehari, tapi entah kenapa hati gw memutuskan untuk menghindar sementara waktu. Iya, gw tau gw salah, gw tau kalau sifat gw yang sekarang buat banyak orang sakit hati termasuk Lexa. Gw tau betul kalau dia marah, but you know hati gw juga sakit liat dia di cium sama cowo lain.
“Eh nying ngelamun mulu gw perhatiin.” Seseorang dengan suara besarnya membuyarkan lamunan gw.
“Kampret lah... datang-datang langsung ngegas aja.” Galak gw.
Pria itu dengan santai menyeret bangku di sebelah gw lalu duduk disana. Matanya terus memperhatikan gw dengan tatapan penuh selidik.
“Paan Raka, jangan bilang lo gay.” Ucap gw buka suara karena sudah mulai risih dengan tatapan pria itu. Amit-amit dirinya di lihat se-intens itu oleh pria, lebih baik Lexa yang melakukannya.
“Hahahaha... ya kali gw ngincer lo, gw lebih milih hole nya Ayu dari pada punya lo, hahaha...”
Gw menatapnya dingin, bercampur rasa jijik di sana. “Gila! Jangan sampai lo ngerusak anak orang anj*r.” Peringat gw serius namun malah di balas dengan tawa besarnya.
“Oke, gw mau serius sekarang. Lo ngehindar dari si Ket-Ket?” Pertanyaannya yang tiba-tiba membuat gw terdiam beberapa saat.
“Okay gw ngerti lo pasti ada masalah, gw juga gk maksa lo buat cerita ke gw karna gw tau yang lakuin itu cuman cewek. Tapi lo gk seharusnya ngehindar kayak gitu.” Dua kalimat itu membuat gw semakin bungkam, perasaan bersalah semakin menggerogoti hati gw.
Raka mengubah posisinya menjadi lebih serius. “You know, Chaterine sedih karna lo cuekin. Dari jauh aja udah keliatan kalau dia gelisah dari tadi. Dan lo cuman duduk disini dengan ego lo yang besar. Kalau bahasa kasarnya, lo kayak pecundang.”
Strettt...
Sebuah tamparan keras bagi gw ketika Raka berkata hal itu. “So? Gw harus gimana?” Tanya gw mencoba menanyakan pendapat pria itu.
Raka berdecak, “Lo cowok atau bukan sih?! Di kondisi gini aja lo gk tau harus gimana!”
Aura melow tadi mendadak hancur di buat pria bermulut pedas itu. “Anying! Gw bogem juga lo lama-lama!” kesal gw.
“Hahaha...” Tawanya terlihat sangat senang.
“Gw serius nanya, gw harus apa?” Tanya gw lagi.
“Lo kejar dong, cewek ngambek mah pengennya di bujuk-bujuk.” Beritahu Raka terlihat sudah sangat ahli dalam hal ini.
Gw langsung berdiri setelah mendengarkan itu, lalu berlari keluar kelas untuk mencari Chaterine. “Makasih bro! Gw cabut dulu!” teriak gw yang langsung dibalas ancungan Jempol oleh pria itu.
Segera gw mengelilingi setiap sudut sekolah untuk mencari Lexa namun tidak ketemu. Gw mencoba memutar otak, mencari tahu biasanya Chaterine pergi kemana.
Atap.
Satu tempat yang belum gw cek. Mengingat hal itu, gw langsung berlari ke atas. Anak tangga yang cukup banyak cukup menguras energi, ditambah lagi gw baru selesai mengelilingi satu sekolah. Tapi itu gk jadi masalah buat gw, karna gw yakin usaha gw gk akan sia-sia.
“Hahahaha!”
Langkah gw berhenti tepat di depan pintu atap.
Tawa yang sangat familiar, itu milik Lexa. Namun tawa pria yang satu?
Gw membuka pintu atap dengan tergesa membuat gw hampir terhuyung kedepan.
Baru sampai di atas gw merasa seluruh tubuh gw memanas, reflek gw mengepal sangat kuat. Diikuti dengan deru nafas gw yang tidak teratur karena baru selesai menaiki tangga dan karena sesak yang gw rasa melihat pemandangan yg gw lihat.
“Hehe... makasih karna udah ngehancurin harapan gw...”
Reano POV end
*****
Kringggg! Kringggg!
Bel berbunyi tanda sekolah usai. Para murid bergegas mengemas barang mereka lalu berlomba-lomba keluar dari kelas. Begitu juga dengan Chaterine yang begitu antusias untuk ke bawah.
Mood gadis itu sudah berubah menjadi sangat baik setelah mencurahkan semuanya di atap tadi.
Dengan berlari kecil, gadis itu menggendong tas nya sesekali bersenandung. Terlihat sangat bahagia, karena dirinya tidak sabar bertemu Reano dan akan memberitahu apa yang ia rasakan tentang Reano kepada pria itu sendiri. Memang hal ini membuat Chaterine sangat gugup, namun jika terus di tahan perasaan ini malah bisa semakin membuat menyesal.
Dari kejauhan Chaterine melihat pria tinggi di parkiran yang sudah dipastikan itu adalah Reano. Gadis itu melambai
penuh antusias sembari berlari ke arah pria itu.
“Re!” Panggil Chaterine yang langsung di sorot oleh Reano.
“Ya?” Tanya pria itu dingin, tanpa ekpresi sedikit pun.
“Emm... gw mau bilang sesuatu tentang-“
“Kak Reano! Kok lama!” Teriakan seorang gadis memotong pembicaraan Chaterine.
Reano menggeleng datar. “Gw gk ada waktu, gw mau ngantar Mira dulu.” Ucapnya dingin lalu meninggalkan Chaterine yang masih terpaku.
“Kak Reano anterin aku sampai rumah yah...” Rengek gadis itu manja kepada Reano.
“Iya-iya.” Balas pria itu menunjukkan kedekatannya dengan gadis itu.
Chaterine meremas ujung rok nya. “Padahal gw mau kasih tau kalau gw suka ke lo.” lirih Chaterine tertahan.