
"Babang ku yang buluknya gak ketulungan!"
"Adek gue yang galaknya kebangetan!"
Hal biasa bagi pengunjung kantin SMA Budi Sakti jika mendengar teriakan bersahut-sahutan seperti itu. Bagi warga SMA Budi Sakti, bukan kantin namanya jika tidak terdengar teriakan heboh dari anak 'bucin sejagad'.
Sama seperti yang dilakukan Chaterine dan Jonathan saat ini. Dua bayi Anoa itu tanpa ragu mengeluarkan suara perak yang mereka miliki sejak lahir. Kenapa perak? Karena 'emas' sudah sering di gunakan. Oke next...
"Bang, gue denger tadi pagi lo jemput gebetan, ya?" Bisik Chaterine yang mana masih dapat didengar oleh teman-teman Nathan.
"Gile! Udah punya gebetan aja lo!" Elon, selaku sahabat Jonathan menepuk keras bahu Nathan. Kabar ini tentunya membuat teman-teman Jonathan gaduh, secara Jonathan itu sulit sekali membuka hati pada wanita. Sekali membuka hati, wanita yang diincar justru tak mau. Sungguh kasihan.
"Akhirnya sahabat gue laku juga." Sama dengan Elon, Satria juga menepuk keras tubuh Nathan. Bedanya, kalau Elon memukul keras di bahu Nathan dengan tangan kosong, Satria malah menepuk keras kepala Nathan dengan piring siomay nya.
"***! Pala gue!" Maki Nathan balik memukul kepala Satria dengan tutup panci siomay kang Gunawan.
"Eh Ferguso! Pala nih,pala!" Satria menunjuk-nunjuk kepalanya yang di pukul.
"Siapa suruh ganggu singa!" Ketus Nathan melipat tangan di dada.
"Lo gak cocok jadi singa, cocokkan jadi ****." Balas Satria tak kalah pedas.
"Ngehina gue, lo!" Jonathan mengangkat kepalan tangannya berniat memberi bogeman di wajah tampan Satria.
"Gak seneng, bilang!" Lanjut Satria menendang Meja.
"Gelut woy! Gelut! Yang menang anjing gue yang kalah **** gue!" Diantara Nathan dan Satria, Elon berdiri sambil memanas manasi.
"Bacot!" Teriak Jonathan dan Satria bersamaan sambil melempar botol air mineral yang masih berisi penuh.
Dari sisi lain, Chaterine tersenyum senang bisa mengadu domba abang plus Satria, sahabat abang nya sendiri. Anggap saja, ia melakukan itu sebagai pembalasan karena Jonathan tidak mengantar dirinya kesekolah.
"Udah puas buat rusuh kantin?" Tanya Flora menatap Chaterine yang berjalan kearah anak bucin sejagad berkumpul.
"Udah." Jawab gadis itu santai lalu mendaratkan bokongnya di kursi kosong disebelah Siska.
"Cewek gue emang sering gitu, ya?" Tanya Reano menatap Chaterine.
Chaterine sudah capek. Chaterine tidak akan melarang Reano lagi untuk mengatakan bahwa dirinya adalah milik pria batu itu. Walau dilarang sampai mulut berbusa pun, sepertinya Reano tidak akan mau menurut.
"Gak sering-sering amat." Jawab Nuel mencuri keripik singkong milik Chelsy.
"Keripik gue!" Chelsy menarik paksa Cemilannya kembali dari tangan berdosa Nuel. Bukan hanya itu, gadis berambut panjang itu menghadiahi Nuel dengan tampol-an dahsyatnya.
Reano dan anak-anak lainnya melanjutkan perbincangan mereka hingga seorang datang kearah mereka. Ralat. Lebih tepatnya kearah Chaterine.
"Chaterine." Sapa pria tersebut tersenyum manis kerah Chaterine.
"Eh, kak Hans. Ada apa kak? tumben nyariin Chaterine?" Chaterine penasaran tentunya, tumben sekali kakak kelasnya sekaligus seniornya di ekstrakurikuler seni mencarinya.
"Gue mau ngajak lo ke taman hiburan nanti malam." Ujar kakak kelasnya itu tetap dengan senyum manisnya.
Chaterine menatap sahabatnya satu persatu. Pandangannya terhenti pada Siska yang menunduk tak mau melihat adegan yang sangat-sangat ia benci.
"Eh, itu.... kakak ajak Siska aja, gimana? Siska orang nya lebih seru dari pada Chaterine. Kalau bareng Siska-" Ucapan Chaterine dipotong cepat oleh Hans.
"Gue pengennya bareng lo." Potongnya singkat dengan sorot mata memaksa. "Sekalian buat cari ide buat ekstrakurikuler." Lanjut nya kembali tersenyum manis.
"Oke." Pasrah Chaterine.
"Gak boleh! Gue main bareng Chaterine malam ini!" Tolak seseorang tegas.
"Emang lo siapa nya Chaterine?!" Tanya Hans dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Lo gak perlu tau gue punya hubungan apa sama Chaterine!" Lanjut Reano dengan tatapan membunuhnya. Yaa, orang yang menolak tegas tadi adalah Reano.
"Udah, udah. Lagian, kak Hans cuman ngajak gue malam ini doang. Lain kali lo boleh main ke rumah gue." Lerai Chaterine.
Tunggu dulu, Chaterine sepertinya sedang menjaga perasaan Reano. Tapi, entahlah, hal itu masih belum tentu. Karena ini berhubungan dengan perasaan yang hanya Chaterine dan Tuhan yang tau.
"Nanti gue jemput jam tujuh." Ujar Hans.
"Iya, kak." Hans pergi menjauh dari kerumunan Reano setelah mendengar jawaban memuaskan dari Chaterine.
"Kita sampai mana tadi ceritanya?" Tanya Kristin mencairkan suasana yang sedikit canggung.
"Gue ke toilet bentar." Ucap Siska tiba-tiba. Gadis bertubuh mungil itu nampak tergesa-gesa ke toilet.
Sebenarnya tujuannya bukan untuk buang air, tetapi untuk melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan dengan menangis.
"Gue nyusul Siska." Sambung Flora menatap Chaterine dingin, lalu berlari mengejar Siska yang sudah berjalan jauh.
"Arghh... Gue gak punya maksud buat Siska sakit hati." Setelah kepergian Siska dan Flora, Chaterine menenggelamkan wajahnya di meja sambil menarik rambut Frustasi.
Gadis itu benar-benar tahu apa yang saat ini sedang Siska Rasakan. Sakit hati melihat sahabatnya dekat dengan pria idaman nya.
Sungguh, Chaterine tidak bermaksud membuat sahabatnya itu menanggung sakit akibat dirinya.
"Kami ngerti, kok." Hibur Ayu memeluk Chaterine.
"Tapi, gue udah hikss buat Siska sakit." Tangis Chaterine di dalam pelukan Ayu.
"Udah, udah. Gak usah nangis lagi." Ucap Aditya.
"Udah jelek, jadi tambah jelek lo." Ejek Raka bermaksud menghibur Chaterine.
Beginilah cara anak bucin sejagad menghibur seseorang yang sedang sedih. Dengan mengejek. Tapi lucunya, orang yang diejek malah merasa terhibur dengan ejekan tersebut. Seperti Chaterine saat ini, yang kembali memunculkan tawa manisnya.
"Hehehe, iya...iya... Gak nangis lagi nih." Ucap gadis itu mengusap lelehan ingus miliknya di jaket kulit Reano.
"Eh, ket, itu Jaket gue bukan?" Tanya Reano menunjuk Jaket hitam yang Chaterine pakai untuk mengelap ingusnya.
"Iya." Jawab Chaterine polos.
Mendengar jawaban tersebut, Reano diam membisu meratapi nasibnya.
"Makasih jaketnya." Ucap Chaterine mengembalikan Jaket milik Reano.
"Sama-sama." Jawab Pria tersebut menatap Jaketnya iba.
Siska POV
Sakit
Satu kata yang menggambarkan perasaan gue saat ini.
Menyaksikan kedekatan sahabat dan pria idaman bagaikan hati di tusuk seribu pisau.
"Apa ini jalan hidup yang sudah Tuhan tentukan buat gue." Siska menatap dirinya yang sungguh kacau di depan cermin.
"Hahaha, Lucu. Sangat lucu." Tawa kecut keluar dari mulut si gadis, menandakan raga dan hati yang mulai frustasi.
"Lo itu memang gak pantas di cintai!" Siska berteriak kencang menunjuk pantulan dirinya di cermin. Untung saja saat ini tidak ada orang di toilet.
Siska memukul kepalanya kuat.
"Lo bodoh! Bodoh! Bodoh!bo-"
"Jangan ngelukain diri sendiri." Bisik seseorang memeluk Siska dari belakang.
"Gue benci Chaterine! Gue benci!" Siska meronta dalam pelukan orang tersebut. Bukannya melepas pelukannya, ia semakin mengeratkan nya.
"Lo boleh benci dia, tapi lo gak boleh sakitin diri lo karena dia." Ucap orang tersebut.
Siska membalikkan badan menghadap orang tersebut lalu memeluknya erat. "Makasih karena udah ada buat gue. Lo emang sahabat gue yang terbaik, Flora." Bisik gadis itu di dalam pelukan Flora.