
“Ini uangnya pak, maaf karena terlambat mengembalikan.”
“Hhhh... ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kalian sudah bertanggung jawab menggantinya.”
“Iya pak, saya permisi dulu.”
Dengan wajah berseri Chaterine keluar dari ruangan pak Hendrik setelah mengembalikan uang yang sempat mereka pakai waktu itu. Karena uangnya sudah terkumpul jadi Chaterine dan yang lainnya memutuskan untuk langsung membayarkannya pada Pak Hendrik saat pulang sekolah.
“Gimana Ket? Di terima gk?” Tanya Aditya yang sedari tadi menunggu di luar bersama Ayu dan Kristin.
Chaterine terkekeh lalu mengacungkan kedua jempolnya senang. “Diterima dong, hahaha.”
“Btw uang sisanya berapa?” Tanya Ayu dengan mata berlinang.
“Tiga ratus lebih beb. Besok ajak yang lain keluar buat makan, pake uang ini.” Ucap Chaterine setelah mengeluarkan uang dari dalam sakunya.
Kristin tiba-tiba tertawa. “BHAHAHAHA! Masih ngakak oy!” Tawanya yang besar dan aneh membuat yang lainnya ikut tertawa.
“Hahahaha, cara lo ketawa lebih ngukuk. Idung lo goyang-goyang, Bwahahahaha.” Ejek Aditya dalam tawanya.
Kristin berhenti tertawa lalu mempoutkan bibir. “Auk ah.”
“Cowo-cowo kemana yah?” Tanya Ayu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Chaterine, Aditya, dan Kristin berdehem bergantian. “Ekhem... mencium bau –bau kangen.” Ucap Chaterine menggoda sahabatnya itu.
Ayu terbelalak, wajahnya seketika memerah. “Apaan sih?! Gaje bet, huh.” Kesalnya disertai rasa malu.
“Tjiee.... Tjiee.... cariin Raka yeu? Hmm...” Lanjut Kristin menggoda Ayu.
“AYU!”
Suara berat seseorang mengejutkan sekumpulan perempuan yang sedang berbincang tersebut. Sang empunya nama menoleh kebelakang melihat siapa gerangan yang memanggilnya dengan keras.
“Astaga!” Ayu terkejut kala melihat siapa yang datang menghampirinya.
Chaterine, Aditya dan Kristin semakin girang menggoda Ayu setelah mengetahui siapa yang datang. “Uhuk! Tuh di panggilin doi lo.” Ucap Kristin menyenggol lengan Ayu membuat gadis itu semakin malu.
Raka beserta rombongannya berjalan ke arah sekelompok gadis-gadis tersebut, lalu berhenti tidak jauh dari sana.
“Mau apaan lo kesini?!” Tanya Ayu takut-takut.
Raka mengeluarkan smirknya. “Lo pikir setelah lo jual gw, gw gk ada niatan buat minta pertanggungjawaban?” Ucap pria tersebut semakin mendekat kepada Ayu.
“Ihhh... apaan sih, tanggung jawab apaan?! Minta tanggung jawab sama Chaterine sono! Dia yang buat rencananya.” Ucap Ayu berjalan mundur beriringan dengan langkah maju Raka.
Chaterine terbelalak setelah sahabat lucknutnya itu melemparkan kesalahan padanya. “Hilih, gk setia kawan amat lu.” Kesal Chaterine melipat tangan di depan dada.
“Bodoamat mau Chaterine yang buat rencana, atau apalah yang penting gw hanya mau minta tanggung jawab ke lo.” Ucap Raka tersenyum miring.
‘Sialan! Nih bocah bikin kesel mulu!’ Batin Ayu dalam hati.
“Udah cepet tanggung jawab.” Suruh Raka kini berhenti berjalan mendekati Ayu.
“Tanggung jawab gimana elah?! Pusing dah gw.” Keluh gadis itu.
“Minta kiss aja Ra, lebih seru!” Hugo menyahut dari belakang membuat Ayu menatapnya tajam.
“Gk ada yah, gw gk mau yang begituan.” Ucap Ayu was-was.
Raka memegangi dagunya, seperti orang yang sedang berpikir. “Kiss? Bagus juga, tapi lo masih belum boleh di kiss, hhh...” Ucap pria itu menghela nafas kecewa.
‘Kamplet lu! Sini gelud kalau berani!!!’ Didalam hati, Ayu sudah sangat ingin beradu jotos dengan pria
dihadapannya itu.
“Yodah kalau gitu ikut gw aja.” Ucap Raka setelah berpikir cukup singkat.
“Kemana?” Tanya Ayu takut-takut.
“Huaaaaaa lepasin gw tuyullll!” Teriakan demi teriakan terdengar ditelinga anak Bucin Sejagad, namun suaranya
berangsung-angsur menghilang kala kedua orang tersebut telah pergi jauh.
“Hhhh serasa nonton drama gw.” Ucap Chaterine menatap kepergian sahabatnya itu.
“Eh, lo kesini dulu.” Ucap seorang pria yang engalihkan perhatian Chaterine. Gadis itu terbelalak lalu segera
mengambil ancang-ancang untuk kabur.
“Papay, gw pulang duluan.” Dengan buru-buru Chaterine berjalan ke arah lobby, namun pergerakannya tertahan kala kerah belakang bajunya di cegat seseorang.
“Mau kabur kemana lagi alexayang, hmmm?” Reano dengan smirknya menarik Chaterine pergi bersamanya. Cheterine meronta-ronta berusaha melepaskan kuncian Reano, namun percuma saja, tenaga gadis itu tidak sebesar tenaga pria di depannya.
Reano meenghentikan langkahnya, lalu mengikis jarak diantaranya dan Chaterine. “Kucing nakal harus di hukum.” Ucap pria tersebut berbisik ditelinga Chaterine menambah kesan horror yang membuat Chaterine merinding.
Chaterine menelan ludahnya takut, habis sudah dirinya hari ini. Pria itu pasti tidak akan membiarkan dirinya
lepas karena sudah mengerjainya hbis-habisan tadi.
“HUWAAAAA AMPUN!”
“Elah, nonton drama lagi gw. Auk ah mending pulang.” Kristin yang menatap kepergian Chaterine dan Reano ikut
beranjak dari tempatnya berdiri.
Aditya yang melihat Kristin pergi bergegas mengejarnya. “Tungguin ogeb!”
“Hhhh... kita yang jomblo ngapain?” Hugo menoleh ke arah segerombolan pria yang berdiri di belakangnya.
“Entah lah bro, gw juga kagak ngerti.” Nuel menyaut dari belakang membuat suasana semakin melow. Untuk kesekian kalinya sekumpulan laki-laki itu kembali merenungi status mereka saat ini, merenungi dosa apa yang pernah mereka lakukan sampai-sampai sampai sekarang tidak menemukan kekasih yang tepat.
****
“Udah jangan narik-narik gw napa.” Seorang gadis dengan kuat memukul-mukul tangan besar yang mencengkram kerah seragamnya.
Si pemilik tangan melepas cengkramannya lalu melempar tatapan kesal kepada gadis itu. Chaterine balik menatapnya geli.
“Pfftt...”
“Kenapa ketawa?!” Tanya Reano saat melihat Chaterine yang menertawakannya.
Gadis itu membungkam mulutnya. “Gk apa-apa. Hehehe.”
Reano memutar bola matanya malas, lalu segera naik ke atas motor matic nya. “Naik gih.” Suruh pria tersebut sembari menepuk-nepuk jok belakang motor.
Tanpa menunggu lama Chaterine segera duduk menyenjang di belakang Reano. Pria itu menoleh kebelakang, melemparkan pandangan bertanya pada gadis itu. Chaterine yang bingung mengangkat sebelah alis nya. “Knp?” Tanya Chaterine memiringkan kepala.
“Bisa duduk hadap depan gk?” Tanya Reano sesaat melihat posisi duduk Chaterine.
“ngangkang ke depan gitu? Emang kenapa kalau nyenjang?” Ucap Chaterine balik bertanya.
“Gw gk nyaman bawa motornya, berat sebelah.” Sambung pria itu menggerak-gerakkan stang motornya ke kiri dan ke kanan.
“owh oke deh.” Gadis itu turun lalu kembali naik lagi ke atas motor, tetapi kali ini menghadap ke depan. “Udah,
gaskeun!”
Reano menyalakan motornya, bersiap-siap untuk tancap gas. Namun niatnya terhenti kala melihat sesuatu di kaca spionnya. Dari kaca spion yang sedikit miring terpampang jelas paha putih Chaterine, segera Reano kembali mematikan motornya.
“Kenapa gk jalan nih?” Tanya Chaterine menyembulkan kepalanya di balik punggung besar pria dihadapannya.
Reano berdecak, segera ia melepaskan jaket yang ia kenakan lalu melemparnya asal kepada Chaterine. “Huh! Sopan dikit napa?” Chaterine mengambil jaket yang mendarat kasar di wajah nya. “Udah gk usah banyak omong, pake jaketnya buat nutupin paha lo.” Suruh Reano galak.
Chaterine memutar bola matanya malas “Yang suruh gw ngangkang siapa? Yang marahin gw balik siapa? Aneh bener jadi cowok.” Chaterine dengan kasar menutupi pahanya dengan jaket Reano. Reano yang melihat tingkah kekanakan gadis itu dari spion motornya terkekeh geli. Sangat mirip seperti bocah, bahkan kelakuannya kadang-kadang seperti Ivan. “Hmp, bocah.”