
"Astaghfirullah, gua ada dimana?" Teriak Razeta dalam tidurnya.
"Di rumah sakit." Jawab Aurora santai.
"Lah ko gua di rumah sakit? Kenapa gua bisa disini coba? " Ucap Razeta penuh dengan tanda tanya.
"Lo tadi pingsan Eta, pas loh lagi nunggu pesanan kamu."
"Rujak bebeg gua gimana dong?" Ucap Razeta sedih.
"Udah-udah mending lo minum dulu nih." Jawab Aurora sambil menyodorkan segelas air putih.
"Ka... Kakak?"
Yang di sapa malah acuh tak peduli.
Razeta beralih ke sahabatnya
menuntut jawab karna Farzan membantu Aurora berdiri, tentu saja saling bersentuhan, padahal Razeta sangat tau Aurora tidak mau di sentuh laki-laki mana pun.
"Gimana kondisi kalian?" Giliran dokter
yang masuk mengalihkan perhatian semua orang.
"Alhamdulillah baik, dok," Jawab Aurora
"Kamu?"Tanya dokter itu pada Razeta yang malah terlihat seperti orang bingung.
"Iya saya," jawab Razeta.
"Kamu, gimana kondisinya?"
"Oh itu, dokter saya baik-baik saja."
"Kalian bersahabat? " Tanya dokter yang terlihat ramah itu.
"Iya dong, Razeta tanpa saya kaya anak ayam cari induknya. Kita makan bareng, di kampus bareng, ngerjain tugas bareng skripsi pun bareng, tidur pun kadang bareng si, wisuda bareng....
"Punya anak bareng." Potong dokter menirukan suara Razeta.
"Waaahhhh kalau itu kayaknya nggak. Biar teman saya duluan aja kalau dia mau. Hehe. "
Dokter tersenyum mendengar perkataan Razeta.
"Saya bukan bertanya, tapi memberi tahu. Mbak Razeta dan Mbak Aurora sedang hamil dan akan segera mempunyai anak."
Dunia seakan berhenti berputar,
razeta tak bisa mempercayai hal itu.
Sementara di brangkar sebelahnya Aurora menangis bahagia. Farzan mengenggam erat tangannya.
"Yang bener, dok? Aurora hamil? "
Tanya Farzan menuntut kepastian,
dokter tersenyum dan mengangguk.
"Di jaga baik-baik istrinya, pak. Saya permisi dulu."
Lelaki itu bersujud syukur lalu bangun dan memeluk Aurora sangat erat.
Dikecupnya kening Aurora berulang kali, mengucapkan syukur dan terima kasih.
"Razeta, everything will be ok." Bujuk Aurora, Razeta bergeming. Aurora memeluknya.
"Gue hamil, Ra. Gue hamil anak b*j*n*a* itu! " Razeta histeris dia akan memukul-mukul perytnya, beruntung Aurora sigap menahan tangan Razeta.
"Istighfar, Eta. Jangan lakuin itu, anak lo ga salah."
"Gue gak mau hmmmpppp." Aurora tau apa yang akan di katakan Razeta
hingga terpaksa Aurora menutup mulu sahabatnya itu, jangan sampai kata yang tidak seharusnya terucap itu keluar dari mulut Razeta.
"Tenang, Eta. Tenang kita bicara baik-baik." Bujuk Aurora lagi.
"Gimana gue bisa tenang, gue hamil tanpa suami. Gue benci Alvin!" Razeta kembali menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Aurora.
" Apa yang harus gue lakuin sekarang, Ra? Gimana gue bisa hidup dengan aib ini? Hiks gue gak mau anak ini.... "
"Anak ini anugrah, bukan aib." Farzan buka suara. Razeta terdiam menyadari kehadiran farzan di tempat ini.
"Ka-kaka, " Razeta terbata, lidahnya kelu. Bagaimana bisa lelaki sholeh yang membuat dia jatuh cinta sekarang ada di sini melihat dengan mata sendirinya bahwa Razeta hamil di luar nikah, hancur sudah harapan Razeta.
"Jangan pernah berpikir buat gugurin kandungan lo, gue mohon. Kak Farzan akan jadi ayah dari anak itu!" Ucap Aurora tegas. Farzan benar-benar kager mendengar apa yang di katakan istrinya, sementara Razeta menatap ke arah Farzan dan Aurora secara bergantian.
"Kamu ngomong apa sih? Jangan bercanda, Ra! " Bentak Farzan tidak terima.
" Aku gak bercanda, tolong nikahi Razeta demi nyawa bayi itu, demi aku, demi anak kita, mas." Pinta Aurora memelas. Sementara Razeta shock.
"A-anak kita? Ka-kalian sudah menikah?"
"Razeta nanti kita bahas itu, yang jelas sekarang kita siapin pernikahan kamu dan mas Farzan dulu."
"Cukup, Ra! " Tanpa bicara lagi Razeta melepas infusnya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Aurora yang menangis ingin mengejar Razeta namun tertahan dalam pelukan Farzan.