
Happy reading😇🙏
"Lo mau apa? Jangan main-main." Ucap Razeta yang sudah mulai gemetaran,
namun berusaha bersikap tenang.
"Lo pikir gue bercanda?"
"Jangan macam-macam, Wil. Kalau lo bunuh gue maka lo juga bakal bunuh bayi ini. Lo seorang ibu, lo gak akan tega kan?
Please turunin itu senjata lo." Razeta
memelih memelas supaya Willy luluh, dia
tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun untuk calon anaknya.
"Ibu? Gue gak pernah mau jadi ibu dari laki-laki sialan William. Ini semua palsu,
anak itu gak bisa buat gue jadi istri William." Willy kembali menangis.
"Gak ada yang bisa di bicarakan lagi,
gue udah lakuin segala cara tapi itu gak
membuat William tertarik sama gue
dan ninggalin lo. Liat, gue udahan dandan secantik ini narik perhatian dia,
tapi percuma dia malah ngatain gue
murahan, cowo kurang ajar."
"Please, Will anak ini gak punya salah
apapun sama lo. Jangan lakuin itu.
Gue janji bakal pergi dari hidup William."
Razeta sudah tidak tahan, kini dia terisak ketakutan.
"Lo harus mati." Ucap Willy dingin
sambil menarik pelatuknya.
"Willlyyyy... " Teriak Alvin dari arah pintu masuk membuat Willy gelapan, seorang wanita dan Alvin berlari ke arah dua gadis itu. Seorang wanita menarik tangan Willy namun malah mengarah pada Alvin yang sedang berusaha menjangkau Razeta.
Duaarrrr
"Alvinn!"
"Anakku."
Lelaki itu tersungkur di atas makam namanya Razeta, timah panas menembus dadanya, darah segar mengalir sangat deras.
Razeta berlari menghampiri lelaki itu bersama mamanya Alvin,
"Al, lo harus baik-baik aja. Tunggu
sebentar." Razeta merogoh saku gamisnya, mencari ponsel dan menelfon ambulance.
"Nak, kamu harus kuat. Ambulance sebentar dateng." Mamanya Alvin sudah menangis tersedu-sedu menyaksikan anaknya bersimbah darah di karenakan dirinya, namun laki-laki itu tersenyum ke arah nya dan Razeta.
"Gu-gue baik-baik aja, Ta. Jangan nangis lo besok bakal nikah nanti mata lo jelek pas acara nanti."
"Apasi lo, kenapa lo harus ngomong gitu lo bapak dari anak gue walaupun ngga secara agama."
"Makasih ya, udah anggep gue sebagai ayah dari anak yang lo kandung ini."
"Buat bunda, Alvin sudah takdirnya bun bakal ninggalin bunda. Bunda bisa kan hidup tanpa Al. Al bakal ketemu prank nanti Al bakal cerita semua yang pernah aku alami bersama bunda dan ayah."
Razeta tidak menanggapi, dia menutup dada Alvin yang berdarah menggunakan
khimarnya, berharap bisa membuat darahnya tidak mengalir terlalu banyak.
Air mata turun begitu saja bukan dia yang meminta padahal kemarin diartada benci kepadanya jadi dia pun tidak bisa
menahan nya.
"Gue ada permintaan satu aja, bisakah kamu kasih nama yang ku pilih untuk anak yang kamu kandung, Ta?"
"Apaan lo, emang lo mau kemana? Lo gak akan gitu pas acara gue nanti? Pas lihat anak lo lahir juga?"
"Mama jangan lupa jaga diri mamah
baik-baik jangan sering telat makan. Dan jagain ayah juga. Biar Alvin tenang ya ma, Alvin gak akan bandel lagi gak akan bikin ayah marah juga. Itu pesen aku untuk mamah."
"Buat kamu Ta. Calon ibu dari anak aku
Lo mau kan ngasih nama anak yang ada di dalam kandungan lo ini. Gue mau namanya 'Azka Pratama' itu wasiat gue buat lo. Selamat ya lo bakal bahagia sama William nanti gue lihat ko di atas sana." Lagi Alvin mengurai senyum,
bersamaan dengan matanya yang memejam.
"Alviiinnn... " Tangis sang mama semakin pecah, dia mengguncang pundak laki-laki itu namun tidak ada respon lagi." Al, ayo
gapapa lo bisa lihat gue nikah bareng William bisa gendong anak kita nanti Al
jangan diem! Maafin, gue."
Sia-sia sudah tidak ada jawaban lagi,
Razeta menoleh mencari bantuan
namun tidak ada satupun orang yang dia lihat, bahkan Willy tidak ada lagi disana.
Mobil ambulance datang bersamaan dengan William dan keluarganya,
Razeta ingin naik ambulance
menemani Alvin namun mamanya Alvin sudah terlebih dahulu.
"Razeta, biar saya saja ya. Besok kamu akan menikah kamu harus diam di rumah takut kondisi mu memburuk. Kamu lagi hamil juga ya." Pinta Mama nya Alvin
yang di setujui oleh William.
"Mas, Razeta mau nemenin Alvin
dia tolongin aku sama bayi aku. Alvin pasti senang lihat aku ada disana."
Perempuan dua puluh tahun itu merengek seperti anak kecil, kepala calon suaminya. Tetap saja William membawa nya masuk ke dalam mobil.
Razeta selama perjalanan tidak bebicara sedikitpun hanya menangis dan terus menangis.
"Wahai orang-orang yang beriman!
Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang sabar. Dan jangan lah kamu katakan pada orang yang terbunuh
di jalan Allah bahwa mereka itu mati, bahwa mereka hidup, akan tetapi kamu tidak merasa. Dan sesungguhnya
akan kami beri cobaan dari ketakutan kelaparan, dan kekurangan harta benda,
jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
( Yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpakan terhadap mereka suatu musibah, mereka berkata:
Sesungguhnya kita ini dari Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali.
Mereka itu akan di karuniakan anugrah
dan Rahmat dari Tuhan mereka, dah mereka itu lah orang-orang yang akan mendapatkan petunjuk." ( Al Baqarah:
153-157)
Dengan suara lembut, William
melantunkan beberapa ayat dari surat Al Baqarah tidak hanya dalam bahasa Arab
tapi juga terjemahannya. William percaya
selain sebagai petunjuk dan obat Al Quran turun membawa kabar bahagia
bagi siapa saja yang mau mengimani nya.
Jangan lupa untuk hadir ya🥳🖤