Razeta

Razeta
Jalan Hidayah



"Asalamualaikum," Perempuan dengan gamis hijau botol yang selaras dengan kerudung dan cadar bandana warna hitam menyapa Razeta, yang di sapa tak


langsung menjawab, bingung siapa yang


menyapa dia melirik mata yang tidak asing itu.


"Aurora!"


"Kenapa sih lo kayak ngeliat setan?"


"Seriusan ini loh?"


"Ya serius lah."


"Lo ngapain kayak kura-kura ninja


aja loh."


"Haha kurang ngajar banget lo, ini tuh cadar."


"Iya gue tau, tapi lo mirip kura-kura


ninja. Coba deh liat." Aurora mencari gambar kura-kura ninja dan menunjukkan nya pada Aurora, wajahnya sangat serius


tidak seperti Aurora yang menanggapi dengan candaan.


"Hahaha ngawur, udah lah ayo." Aurora mengajak Razeta segera masuk sebelum lebih panjang lagi celotehannya. Tidak lama sopir dan pembantu Razeta menyusul ke dalam supermarket membawa masing-masing satu troli


padahal Razeta sudah membawa satu."


"Buset lo mau ngapain sih? Buka warung kelontong?" Aurora sampai geleng-geleng melihat troli yang mereka bawa itu.


"Ya enggak lah, gue mau belanja persiapan buat di rumah selama virus corona ini. Yuk mba," Ajak Razeta dengan asisten rumah tangganya.


Razeta mulai dari sayuran dan bumbu-bumbu, hampir penuh troli nya


dengan sayuran, mulai dari bayem, wortel, kentang, kangkung, kubis, brokoli,


dan yang lainnya semua dalam jumlah banyak.


"Ta, lo udah gila ya? Buset se RT atau gimana?"


"Gak lah, ya buat di rumah."


"Busuk kalik!" Aurora sedikit terbawa suasana melihat Razeta sangat berlebihan.


"Ya gak papa, yang penting dirumah


gak sampe kekurangan."


"Elo nggak kekurangan, orang lain yang jadi kurang."


Kedua asisten Razeta itu menunduk


tak enak hati, mereka juga tidak menyetujui perilaku Razeta namun tak bisa melawan.


"Karna gak semua orang hidupnya


serba lebih kayak lo, ada yang ketar-ketir


nunggu tanggal gajian sedangkan bahan


pokok sudah mulai susah karna di borong para orang kaya, semuanya juga


jadi serba mahal. Saat kaya gini kita harusnya membantu sesama, jangan lah jadi manusia yang gak ber kemanusiaan.


manusia sendiri malah lebih mengerikan


dibandingkan virusnya sendiri."


"Buset, malah ceramah. Iya iya terus


gue harus gimana emang?" Razeta gerah


juga mendengar cerocohan Aurora,


dan yang di ucapkan sahabatnya itu ada benar nya."


"Beli secukupnya, kalau habis nanti


baru beli lagi. Jangan berlebihan, gak baik."


"Iya-iya. Mamang sama mba balikin


deh sayurnya, beli secukupnya kayak biasa mba belanja." Perintah Razeta


pada ARTnya. "Emm, mba agak lebihin


dikit deh dari yang biasa," Ralat Razeta


lagi. Aurora tersenyum sambil geleng-geleng melihat Razeta yang dia tau sebenarnya masih berat menuruti


perkataannya.


"Ta, itu bukannya William ya?" Mata Aurora menyipit melihat lelaki di daratan makanan ringan sedang sibuk memasukkan coklat.


"Iya, samperin yuk. Tadi katanya mau nyicil lanjutin tesis." Razeta agak kesel


melihat ada William disana.


"Will." Panggil Razeta, yang di panggil


menoleh, wajahnya mendadak pucat


mendapati Razeta ada di hadapannya


sekarang."


"Kenapa lo kayak ngeliat setan aja,


udah tobat gue."


"Razeta..... Gu-gue."


"Papih, ini ciapa?" Tanya anak perempuan dengan rambut yang dikepang dia itu, Aurora menaksir usia anak itu sekitar 3-4tahun.


"What? Papi?"


"Lo udah punya anak, Will?"


Dua wanita itu sangat kaget mendengar panggilan dari gadis mungil yang sangat lucu itu.


"Gue bisa jelasin, Ta." William yang


biasanya lucu di mata Razeta kali ini terlihat begitu tegang, pucat."


"Jelasin apa?"


William berjongkok, menyamakan tinggi


dengan gadis kecilnya." Mita, ikut


tante ini dulu ya, sebentar. Papih ada urusan, nanti kita makan es cream."


Bujuk William agar Mita mau ikut Aurora dulu.


Gadis kecil itu menggeleng "dak mau,


Bunda bilang mita harus jagain papih teyus." Tolaknya sambil berkacak pinggang.


Razeta dan Aurora saling pandang,


sama-sama bingung harus bereaksi


mereka ada anak kecil ini.


"Gak ngerti gue sama lo!" Bisik Razeta


tepat di telinga kanan William dengan penuh penekanan.


Razeta pergi diikuti oleh Aurora. William


ingin mengejar namun tangan kecil


Mita memegangi ujung kaos


putihnya. "Papih mita mau es cream."


dengan sangat terpaksa William mengikuti ke inginan putri kecil itu.


Sebenarnya William tidak ingin pergi dengan mita, apa lagi kondisi sedang tidak baik seperti ini, namun William


tidak punya cara lain untuk mengalihkan


Mita sementara dari kondisi ibunya


yang tidak pantas untuk dilihatnya.


.........


Razeta dan Aurora berdiri di depan


pintu utama supermarket, menunggu Fauzan yang akan menjemput Razeta.


"Bodoh sekali kamu! Gak pernah becus


ngelakuin apapun!" Teriak seseorang


Perempuan pada lelaki paruh baya


yang nampak seperti sopir.


Laki-laki itu nampak kerepotan memindahkan belanjaan dari empat troli


ke dalam Alphard hitam, namun satu keresek terlepas dari tangannya, hal h itu menyebabkan majikannya marah.


"PUNGUT! " Bentaknya lagi.


Jarak antara Razeta dan mereka


agak jauh, namun suara perempuan


itu sangat nyaring sampai ke telinga


Razeta dan Aurora. Razeta tidak tahan


dia sudah melangkah maju ke sana namun Aurora menahannya.


"Lepasin, gak tahan gue liatnya!


Udeh gila kalik itu cewe tega banget bentak bapak-bapak di tempat umum,


walaupun supir dia sekalipun tetap saja itu orang tua, gerah banget gue liatnya"


Omel Razeta.


"Jangan cari masalah, inget lo lagi


hamil, kalau dia sampe dorong lo kan bahaya."


"Gue gak suka liatnya."


"Sabar, do'ain aja bapaknya dapet kerjaan yang lain."


Razeta dan Aurora terus memperhatikan si bapak yang tengah memungut buah satu persatu yang berceceran di jalanan."


"Cihh! Laga nya kayak orang kaya tapi nyuruh mungut buah reject."


Razeta masih saja mengomel. Hati nya benar-benar tak bisa terima, Razeta membayangkan jika ayahnya yang di perlakukan seperti itu sudah pasti akan habis perempuan itu di makinya.


Ponsel wanita itu berdering heboh


sampai membuat semua orang menoleh,


termasuk Razeta dan Aurora juga kembali menoleh.


"APA? GAK BISA! GAK BISA BEGITU,


HALLO! HALLO! AARGHHH."


Perempuan itu berteriak-teriak lalu


membanting ponselnya yang mahal itu.


Tak sampai satu menit, dia terjatuh sambil memegang dada kiri, suaranya tidak terdengar lagi, kini berganti si sopir nya yang berteriak kaget.


Refleks semua orang mendekati,


namun beberapa sadar kemudian


mundur di ikuti yang lain. Di tengah wabah yang ada, tentu orang-orang


merasa khawatir perempuan itu terkena


tiba-tiba jatuh terkena virus.


"Razeta! Jangan bahaya!" Cegah


Aurora, namun Razeta berlari, mendekati wanita itu.


Dia masih hidup, napasnya nampak


sesak, dia seperti mengatakan sesuatu


namuk tersendat hingga sulit Razeta pahami.


"I-in...."


"Pak, bantu saya bawa ke rumah sakit,


ayo!" Ajakan Razeta tidak mendapat respon, pria itu masih kebingungan,


dia takut akan terkena virus corona.


"Mba pergi dari situ, jangan mendekat!"


Teriakan demi teriakan dari orang


tidak di pedulikan Razeta.


"Mba mau bilang apa?" Razeta berusaha mendengarkan apa yg wanita itu


katakan, Razeta berjongkok mendekati nya."


"Inhhhh.... " Napasnya sudah satu dia,


sulit untuk dia mengucapkan itu.


"Inhaler?" Tanya Razeta meyakinkan,


Perempuan itu mengangguk dengan susah payah. Dengan sigap RazetaRazet


mengambil tas yang terjatuh lalundia rogohnya mencari inhaler yang wanita itu maksudkan namun tidak dia temukan,


Razeta benar-benar di buat panik.