
"Asalamualaikum," Perempuan dengan gamis hijau botol yang selaras dengan kerudung dan cadar bandana warna hitam menyapa Razeta, yang di sapa tak
langsung menjawab, bingung siapa yang
menyapa dia melirik mata yang tidak asing itu.
"Aurora!"
"Kenapa sih lo kayak ngeliat setan?"
"Seriusan ini loh?"
"Ya serius lah."
"Lo ngapain kayak kura-kura ninja
aja loh."
"Haha kurang ngajar banget lo, ini tuh cadar."
"Iya gue tau, tapi lo mirip kura-kura
ninja. Coba deh liat." Aurora mencari gambar kura-kura ninja dan menunjukkan nya pada Aurora, wajahnya sangat serius
tidak seperti Aurora yang menanggapi dengan candaan.
"Hahaha ngawur, udah lah ayo." Aurora mengajak Razeta segera masuk sebelum lebih panjang lagi celotehannya. Tidak lama sopir dan pembantu Razeta menyusul ke dalam supermarket membawa masing-masing satu troli
padahal Razeta sudah membawa satu."
"Buset lo mau ngapain sih? Buka warung kelontong?" Aurora sampai geleng-geleng melihat troli yang mereka bawa itu.
"Ya enggak lah, gue mau belanja persiapan buat di rumah selama virus corona ini. Yuk mba," Ajak Razeta dengan asisten rumah tangganya.
Razeta mulai dari sayuran dan bumbu-bumbu, hampir penuh troli nya
dengan sayuran, mulai dari bayem, wortel, kentang, kangkung, kubis, brokoli,
dan yang lainnya semua dalam jumlah banyak.
"Ta, lo udah gila ya? Buset se RT atau gimana?"
"Gak lah, ya buat di rumah."
"Busuk kalik!" Aurora sedikit terbawa suasana melihat Razeta sangat berlebihan.
"Ya gak papa, yang penting dirumah
gak sampe kekurangan."
"Elo nggak kekurangan, orang lain yang jadi kurang."
Kedua asisten Razeta itu menunduk
tak enak hati, mereka juga tidak menyetujui perilaku Razeta namun tak bisa melawan.
"Karna gak semua orang hidupnya
serba lebih kayak lo, ada yang ketar-ketir
nunggu tanggal gajian sedangkan bahan
pokok sudah mulai susah karna di borong para orang kaya, semuanya juga
jadi serba mahal. Saat kaya gini kita harusnya membantu sesama, jangan lah jadi manusia yang gak ber kemanusiaan.
manusia sendiri malah lebih mengerikan
dibandingkan virusnya sendiri."
"Buset, malah ceramah. Iya iya terus
gue harus gimana emang?" Razeta gerah
juga mendengar cerocohan Aurora,
dan yang di ucapkan sahabatnya itu ada benar nya."
"Beli secukupnya, kalau habis nanti
baru beli lagi. Jangan berlebihan, gak baik."
"Iya-iya. Mamang sama mba balikin
deh sayurnya, beli secukupnya kayak biasa mba belanja." Perintah Razeta
pada ARTnya. "Emm, mba agak lebihin
dikit deh dari yang biasa," Ralat Razeta
lagi. Aurora tersenyum sambil geleng-geleng melihat Razeta yang dia tau sebenarnya masih berat menuruti
perkataannya.
"Ta, itu bukannya William ya?" Mata Aurora menyipit melihat lelaki di daratan makanan ringan sedang sibuk memasukkan coklat.
"Iya, samperin yuk. Tadi katanya mau nyicil lanjutin tesis." Razeta agak kesel
melihat ada William disana.
"Will." Panggil Razeta, yang di panggil
menoleh, wajahnya mendadak pucat
mendapati Razeta ada di hadapannya
sekarang."
"Kenapa lo kayak ngeliat setan aja,
udah tobat gue."
"Razeta..... Gu-gue."
"Papih, ini ciapa?" Tanya anak perempuan dengan rambut yang dikepang dia itu, Aurora menaksir usia anak itu sekitar 3-4tahun.
"What? Papi?"
"Lo udah punya anak, Will?"
Dua wanita itu sangat kaget mendengar panggilan dari gadis mungil yang sangat lucu itu.
"Gue bisa jelasin, Ta." William yang
biasanya lucu di mata Razeta kali ini terlihat begitu tegang, pucat."
"Jelasin apa?"
William berjongkok, menyamakan tinggi
dengan gadis kecilnya." Mita, ikut
tante ini dulu ya, sebentar. Papih ada urusan, nanti kita makan es cream."
Bujuk William agar Mita mau ikut Aurora dulu.
Gadis kecil itu menggeleng "dak mau,
Bunda bilang mita harus jagain papih teyus." Tolaknya sambil berkacak pinggang.
Razeta dan Aurora saling pandang,
sama-sama bingung harus bereaksi
mereka ada anak kecil ini.
"Gak ngerti gue sama lo!" Bisik Razeta
tepat di telinga kanan William dengan penuh penekanan.
Razeta pergi diikuti oleh Aurora. William
ingin mengejar namun tangan kecil
Mita memegangi ujung kaos
putihnya. "Papih mita mau es cream."
dengan sangat terpaksa William mengikuti ke inginan putri kecil itu.
Sebenarnya William tidak ingin pergi dengan mita, apa lagi kondisi sedang tidak baik seperti ini, namun William
tidak punya cara lain untuk mengalihkan
Mita sementara dari kondisi ibunya
yang tidak pantas untuk dilihatnya.
.........
Razeta dan Aurora berdiri di depan
pintu utama supermarket, menunggu Fauzan yang akan menjemput Razeta.
"Bodoh sekali kamu! Gak pernah becus
ngelakuin apapun!" Teriak seseorang
Perempuan pada lelaki paruh baya
yang nampak seperti sopir.
Laki-laki itu nampak kerepotan memindahkan belanjaan dari empat troli
ke dalam Alphard hitam, namun satu keresek terlepas dari tangannya, hal h itu menyebabkan majikannya marah.
"PUNGUT! " Bentaknya lagi.
Jarak antara Razeta dan mereka
agak jauh, namun suara perempuan
itu sangat nyaring sampai ke telinga
Razeta dan Aurora. Razeta tidak tahan
dia sudah melangkah maju ke sana namun Aurora menahannya.
"Lepasin, gak tahan gue liatnya!
Udeh gila kalik itu cewe tega banget bentak bapak-bapak di tempat umum,
walaupun supir dia sekalipun tetap saja itu orang tua, gerah banget gue liatnya"
Omel Razeta.
"Jangan cari masalah, inget lo lagi
hamil, kalau dia sampe dorong lo kan bahaya."
"Gue gak suka liatnya."
"Sabar, do'ain aja bapaknya dapet kerjaan yang lain."
Razeta dan Aurora terus memperhatikan si bapak yang tengah memungut buah satu persatu yang berceceran di jalanan."
"Cihh! Laga nya kayak orang kaya tapi nyuruh mungut buah reject."
Razeta masih saja mengomel. Hati nya benar-benar tak bisa terima, Razeta membayangkan jika ayahnya yang di perlakukan seperti itu sudah pasti akan habis perempuan itu di makinya.
Ponsel wanita itu berdering heboh
sampai membuat semua orang menoleh,
termasuk Razeta dan Aurora juga kembali menoleh.
"APA? GAK BISA! GAK BISA BEGITU,
HALLO! HALLO! AARGHHH."
Perempuan itu berteriak-teriak lalu
membanting ponselnya yang mahal itu.
Tak sampai satu menit, dia terjatuh sambil memegang dada kiri, suaranya tidak terdengar lagi, kini berganti si sopir nya yang berteriak kaget.
Refleks semua orang mendekati,
namun beberapa sadar kemudian
mundur di ikuti yang lain. Di tengah wabah yang ada, tentu orang-orang
merasa khawatir perempuan itu terkena
tiba-tiba jatuh terkena virus.
"Razeta! Jangan bahaya!" Cegah
Aurora, namun Razeta berlari, mendekati wanita itu.
Dia masih hidup, napasnya nampak
sesak, dia seperti mengatakan sesuatu
namuk tersendat hingga sulit Razeta pahami.
"I-in...."
"Pak, bantu saya bawa ke rumah sakit,
ayo!" Ajakan Razeta tidak mendapat respon, pria itu masih kebingungan,
dia takut akan terkena virus corona.
"Mba pergi dari situ, jangan mendekat!"
Teriakan demi teriakan dari orang
tidak di pedulikan Razeta.
"Mba mau bilang apa?" Razeta berusaha mendengarkan apa yg wanita itu
katakan, Razeta berjongkok mendekati nya."
"Inhhhh.... " Napasnya sudah satu dia,
sulit untuk dia mengucapkan itu.
"Inhaler?" Tanya Razeta meyakinkan,
Perempuan itu mengangguk dengan susah payah. Dengan sigap RazetaRazet
mengambil tas yang terjatuh lalundia rogohnya mencari inhaler yang wanita itu maksudkan namun tidak dia temukan,
Razeta benar-benar di buat panik.