Razeta

Razeta
Lebay



Sekarang umur Azka 17 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMA.


"Azka mau sampai kapan kamu berangkat sekolah nya telat mulu?" Teriak Azzura sembari menjewer kuping Azka.


"Maaf sayang, Azka kesiangan tahu."


"Azka emang aku itu anak kecil yang kamu bisa bohongin, aku tanya onty Razeta, kamu udah berangkat sekolah dari shubuh. Kapan sekolah ini di buka jam 5 shubuh? Cepetan jelasin sebelum ku aduin kamu ke BK."


"Azka cari angin sambil nunggu jam 6 Zura ku sayang."


"Gausah ngomong sayang jijik tau."


"Sekarang aku maafin besok


mah ngga."


Begitulah pertengkaran setiap pagi di sekolah antara bu ketos dengan murid yang susah di atur contohnya Azka.


"Kulkas bilangin dong ke Zura kalau pagi jangan teriak-teriak gue takutnya pita suaranya rusak," ujar Azka sembari meminum susu coklat nya.


"Hmmmm." Azzam berdehem yang bertanda iyaa.


"Astaghfirullah, gak abang gak adeknya sama-sama gajelas. Untuk gue sabar punya saudara ke kalian semua." Jawab Azka sembari mengacak-acak rambutnya.


.............


"Siapa yang mau makan satu meja


sama Azka dan Azzam!!" Seru Vino


berdiri di atas meja dengan buku yang di gulung seperti toa.


Anak cewek kelas XI IPS 2 kompak berbondong-bondong mendatangi meja Azka dan Azzam. Kesempatan yang sangat langka bisa makan bersama


satu meja dengan seorang most wanted


sekolah ini. Jarang-jarang bisa seperti ini


apabila ada Azzura disana bisa-bisa semua fans berat Azka dan Azzam langsung bubar.


"Azka gue mau makan bareng lo." Teriak Putri sekretaris kelas nya itu.


"Gue duluan Putri! Gue maunya Azka sama Azzam dah gue di tengah-tengah nya." Jawab Selly membayangkan dia sedangkan makan di kantin bersama 2


cogan.


"Nggak bisa pokoknya gue dulu! Lo bareng sama Vino aja." Putri mendorong Selly kepada Vino.


"Idih jijik banget gue bareng Vino!!"


Keributan semakin tidak terkendali


mereka saling dorong mendorong berusaha mengambil kesempatan ini.


Azka memijat keningnya merasa


pusing, padahal dia sangat senang jadi


bahan perubatan ciwi-ciwi di kelasnya itu.


Azzam dan Vino menatap malas kepada Azka. Ok, sepertinya drama anak sekolahan yang merebutkan pangeran disekolah nya.


"Stop!" Teriak Azka keras.


Keributan pun berhenti, ajaibnya ituitu


mereka langsung patuh menuruti Azka. Tapi kenapa? Yang teriak untuk berhenti adalah Azzura tidak ada yang menuruti perintah nya itu.


"Gue tau ko lo semua pada berharap makan bareng sama gue dan Azzam kan? Tapi maaf banget sekarang gue mau makan bareng Zura," ujar Azka sembari bangkit dari duduknya. Dan melangkah keluar untuk menghampiri calon istrinya itu.


"Lo ngapain bawa-bawa nama adek gue? Awas aja lo ade gue dapet masalah gara-gara begenian." Ancaman Azzam sembari mengikuti langkah Azka untuk menemui Azzura yang berada di ruang OSIS itu.


"Kulkas tumben lo ngomong banyak? Nggak kesambet setan kan?"


"Kan setannya lo Azka Pratama


Wibowo."


"Nama gue nggak ada Wibowo nya. Sukinah."


Azka dan Azzam sudah berada di ruang OSIS tetapi dia tidak menemukan Azzura.


Azka mencari-cari keberadaan Azzura tapi hasilnya nihil dia tidak berada di sana.


"De, lihat kakak OSIS yang namanya Azzura nggak?" Tanya Azka kepada adik kelas nya.


"Ohh ka Azzura. Tadi dia di kantin bareng ka Rayhan." Jawab adik kelas itu sembari senyum-senyum kepada Azka.


"Okk, terimakasih ya."


"Azzura aktam wijaya." Teriak Azzam dingin yang membuat seluruh orang yang berada di kantin melihat kepada nya.


"Sepertinya gue kenal sama suara ini siapa ya?" Azzura berbicara di dalam hatinya sembari mengingat-ngingat suara itu.


"Azzura aktam wijaya!!" Panggil Azzam sekali lagi dengan dingin.


"Ehhh, Abang kenapa abang disini?" Jawab Azzura sembari gelapan.


"Kenapa Zam? Lo gak suka gue makan bareng sama Zura gitu?" Tanya Rayhan sembari berdiri.


Sebenarnya Azzam tidak menyukai dia mau makan dengan siapa saja. Asal jangan yang berbeda lawan jenis selain dirinya dan Azka. Karena dia dapat amanah dari orang tuanya supaya Azzura tidak berhubungan dengan lawan jenis nya.


"Gue gak nanya lo? Sekarang lo pergi jangan ganggu adek gue lagi." Perintah Azzam kepada Rayhan yang di angguki olehnya.


"Gue nggak nyangka seorang Azzam aktam wijaya. Berbicara panjang biasanya iya dan oh gak hilang dengan satu kata itu," ujar Azka sembari memakan bakso milik Zura.


"Azka Pratama Wibowo!! Lo kenapa makan bakso gue." Teriak Zura yang membuat semua orang yang berada menutup kuping nya. Karena suaranya itu melebihi toa masjid yang berada di sekolah nya itu.


"Gue laper Zura sayang. Gue dari tadi nyariin lo buat ngajakin lo makan, ternyata lo udah makan bareng Rayhan."


Ucap Azka sembari melanjutkan memakan bakso.


"Bang maafin Zura. Jangan bilang ke Moms ya," ujar Azzura memohon kepada Azzam yang sedari tadi bermain handphone nya.


"Iyaa asal lo jangan di ulangi lagi." Perintah Azzam singkat.