Razeta

Razeta
Coklat



Harusnya hari ini adalah hari yang


paling membahagiakan bagi Razeta,


dia telah melaksanakan sidang hasil


penelitiannya, tinggal satu tahap lagi untuk memindah tali toga. Namun tetap saja ada yang kurang dalam dirinya,


Aurora tak ada untuk memberi semangat


atau sekedar tersenyum di barisan audiens.


Setekah menerima banyak bingkisan dari teman-temannya di kampus dan berfoto-foto Razeta memilih duduk di bawah pohon, menunggu sopirnya datang menjemput karna Razeta sudah malas membawa mobil nya sendiri.


"Nih." Suara laki-laki dari sebelahnya dan coklat silverqueen sudah berada dipangkuan Razeta, di tengok nya sumber suara yang seperti tak asing itu.


"Elo?!" Razeta begitu kaget dengan kehadiran William di tempat ini.


"Iya gue. Lo ga kangen gitu sama calon pacar?"


" Najis! "


"Buset dah, emang gue guguk?


Jahat banget si kamu sama aku, padahal aku seganteng oppa-oppa Korea masih aja di sebut najis." Ujar William sambil menyilangkan telunjuknya di kedua pipi


beserta dengan senyuman yang cukup


untuk mengundang hinaan daei Razeta.


"Masih gantengan oppa Korea dong dari pada lo Will," Kata Razeta sambil berekspresi mual.


"Lo hamil Ta?" Tanya William bodoh.


"Apaan si lo! Udah deh lo pergi sana bikin mood gue jelek aja lo! "


"Santai sayang, gue cuman mau ngasih tuh coklat biar mood lo nggak jelek kaya orangnya."


"Buset dah, itu omongan lo nggak di saring dulu gitu."


"Udah ya sayang gue ada urusan dulu. Jangan lupa lo makan tuh coklat ya! Nggak di makan lo bakal gue ganggu. "


"Dasar William gilaaaa." Umpat Razeta


Dari balik kaca mobilnya, William


masih bisa melihat jelas Razeta


yang berdiri di sana dengan menegang coklat yang di berikannya tadi. Gue bajak dapetin hati lo Ta, walaupun gue harus pindah agama juga, gue bener-bener


jatuh cinta sama lo Ta.


.........


Razeta tiba di rumahnya dengan perasaan bahagia, di pegang nya coklat pemberian William itu. Sekarang moodnya terasa lebih baik.


Sebuah mobil asing terparkir dihalaman rumah mewahnya, dia tak pernah melihat mobil ini sebelumnya.


"Siapa pak?" Tanya Razeta pada sopirnya, namun sopirnya pun tidak tau


karna sebelum dia berangkat menjemput


Razeta mobil itu belum ada.


Dengan rasa penasarannya Razeta masuk ke rumah peninggalan ibunya itu, sepasang insan duduk di ruang tamunya


dengan saling mengenggam.


Aurora dan Farzan duduk, disana berusaha saling menguatkan padahal yang rapuh adakah Razeta.


Razeta menatap genggaman tangan mereka berdua dengan nanar, Razeta telah lupa bagaimana cara untuk ikut bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya, kini dia terluka. Ini telah terjadi cerita patah hati pertamanya.


"Ngapain kalian disini?" Tanya Razeta


"Kami datang untuk mendengar keputusan dari lo," Ucap Aurora to the point.


"Keluar dari rumah ini, gue gak sudi punya sahabat ke lo! Ini udah kelewatan banget, gue nggak sanggup lagi ngadepin sikap lo yang kaya bocah itu! "


"Ta, gue minta maaf karna mungkin itu menyinggung perasaan lo, tapi jujur gue gak ngerasa ada yang salah dari permintaan gue. Lo gabisa perlakuin


gue kayak gini, gue tau lo sayang sama gue dah gitu juga sebaliknya. Please kita bicarakan ini baik-baik."


"Gak ada yang salah kata lo? Lo udah bener-bener gak waras ya. Lo tau segimana gue bencinya sama Perselingkuhan, mendua, poligami atau apapun itu jenisnya tapi lo minta gue lakuin itu dan sekarang bilang bukan kesalahan! Keterlaluan lo! "


Razeta kehilangan kendalinya hingga memaki Razeta.


"Astaghfirullah, bisa-biasanya kamu berbicara seperti itu. Kamu sadar kalau perkataanmu itu berarti sudah menghina Rasullulah dah syariat islam? Poligami dan perselingkuhan itu berbeda. Kamu tak bisa menyamakannya." Fauzan angkat bicara karna geram dengan ucapan Razeta yang menurutnya sudah keterlaluan itu. "Poligami itu salah satu syariat yang harusnya dilakukan dengan cara yang baik dan benar serta mendapatkan pahala, kalau perselingkuhan sudah jelas di mulai dengan suatu kesalahan, zina, yang menghasilkan dosa basar. Sahabatmu


tidak meminta mu melakukan dosa,


justru dia begitu ingin ke surga bersamamu."


"Perselingkuhan dan poligami itu sama aja, semua menyakiti, merebut, menghancurkan kebahagiaan orang lain,


sebuah ketidakadilan bagi seorang perempuan. Hanya memuaskan nafsu bejat laki-laki saja! " Razeta tetap kekeh


dengan pendapatnya sendiri.


"Kamu boleh tidak menyetujui soal poligami, tapo kamu tidak bisa menghinanya jika memang kamu masih percaya bahwa Allah maha pengasih maha penyayang yang tidak akan mungkin menunjukkan jalan keburukan bagi hambanya. Jika sekedar untuk nafsu Rosulullah tidak akan menikahi janda, dengan ketampanan dan segala kesempurnaan Rosulullah akan sangat mudah beliau mendapatkan perawab muda belia. Tapi tidak kan?"


"Tetap saja, poligami itu menyakitkan.


Bukti nya Rosul melarang Ali untuk menikah lagi karna menyakiti anaknya Fatimah, " Jawab Razeta mengingat artikel yang pernah di baca.


" Kamu tau kalau wanita yang akan di nikahi Ali adalah wanita kafir?


apakah pantas wanita seperti itu bersandinf dengan putri Rosulullah?


Dalam surat annisa sudah jelas bahwa boleh menikah dua, tiga, empat,


Namun di akhir ayat disebutkan nikahi satu aja jika khawatir tidaj bisa berlaku adil, hal itu lebuh baik dan menghindari dari perbuatan dzolim. Dan di sini Fatimah tidak ridho di madu maka di teruskan berarti Ali mendzolimi Fatimah kan? Rosulullah melarang Ali untuk berbuat dzalim. Dimana salahnya?Bertakwalah sesuai batas kemampuanmu, jika kamu tidak mampu


di poligami maka jangan. Tapi jangan juga membenci syari'atNya.


Sesayang apapun kamu pada ibumu,


Allah lebih menyayangi hambaNya. "


Razeta dan Aurora terdiam seribu bahasa, apa yang di katakan oleh Fauzan


memang ada benar nya dan hati kecil Razeta mengakui itu namun egonya tetap menolak kebenarannya.


"Ta, sekali lagi gue yakinin ke lo bahwa


gue ridho bahkan sangat sangat senang


kalau lo bisa nikah sama mas Fauzan.


Jadi please menikah lah, demi anak kita.


Demi hidup anak lo kelak dimata hukum,


dimasyarakat, dia butuh sosok ayah . " Bujuk Aurora terus menerus.


"Sekali lagi enggak ya enggak! Kalau lo masih ngotot juga maka pergi dari rumah gue sekarang dan jangan pernah ketemu gue lagi. Lo egois! Lo gak mikirin perasaan gue, lo cuman anggap apa yang menurut lo baik tapi gak peduli sama gue! " Razeta tersedu, dia lelah dengan permasalahan yang ini-ini aja.


Fauzan mengenggam tangan istrinya,


mencoba mengatakan pada Aurora untuk tidak meneruskan lagi rencananya. Fauzan tidak pernah benar-benar menyetujui ini, dia tidak yakin bisa berlaku namun Aurora terus saja memaksanya.


Hidup tak harus sesuai dengan yang kita inginkan, banyak hal yang menurut kita baik tapi tidak dengan orang lain maka untuk keputusan hidup orang lain jangan terlalu banyak ambil peran, setiap orang mempunyai jalan dan alasan untuk hidupnya jadi temani lah tanpa menghakiminya.


"Razeta tunggu! " Suara yang sempat akrab di telinga Razeta, hari ini dia mulai mendengarnya, langkah kaki Razeta terhenti, dan tubuhnya bergetar, ingun sekali dia tidak percaya apa yang di telinganya dengar.