
Jalanan kota hari ini begitu lenggang, atau karna belum waktunya berangkat kerja? Mata Razeta terfokus ke jalan raya. Namun pikirannya melayang entah kemana, semua perilaku buruknya begitu saja terputar memenuhi penglihatannya.
"Woy jangan bengong dong!" ujar Aurora sambil menepuk bahu Razeta.
"Ehhh.. I.. Yaa sorry." ucap Razeta tergagap.
"Bentar lagi udah mau sampe, lo tidur aja gih kasihan gua lihat lo! " ucap Aurora.
"Okk..!! " jawab Razeta sambil mencari posisi yang nyaman untuk tidur nya.
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
Kalimat itu begitu saja keluar dari mulut Aurora saat tersedu Razeta memeluknya sambil berulang kali, "Please jangan tinggalin gue, lo harus bertahan."
Dia tersenyum, mengulurkan tangannya menyentuh pipi Razeta yang terkena noda darah aliran dari luka di dahinya yang sudah mulai mengering.
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, " kalimat yang di ucapkan Aurora sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Razeta shock saat tangan Aurora yang menyentuh pipi Razeta terjatuh dan dokter sudah melihat jam kematian, setelahnya Aurora tidak sadarkan diri.
............
"Aaaaaaaaaaa! "
Razeta berteriak menggelengkan kepalanya dan menutup mata, Aurora yang kaget melihat tingkah langsung membanggakannya.
"Razeta, lo kenapa?"
"Gapapa."
"Ya udah, lo tidur lagi aja makanya kalau mau tidur baca do'a dulu!"
" Iya maaf " jawab Razeta dengan bersedih.
"Woy lo kenapa nangis?" tanya Aurora yang kaget melihat Razeta menangis.
"Untung nya lo masih hidup? Gue takut lo mati." lirih Razeta sambil memuluk Aurora.
"Woy gue lagi nyetir mobil nih, mau kita kecelakaan terus mati gitu?" jawab Aurora sambil melepaskan pelukan.
"Gaboleh ngomong gitu, nanti kejadian loh. Gua takut loh mati. " tukas Razeta sambil menangis.
" Iyah dah, maaf gua ngomong begitu. Udahlah loh tidur lagi aja! "
" Iyaaa... "
..........
Kurang dari satu jam mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Tujuan mereka adalah pulang ke kampung halamannya Aurora. Sebernarnya Aurora sangat malas untuk pulang ke kampung halamannya itu. Dikarenakan paksaan Razeta yang selalu merengek seperti bayi mencari ibunya itu. Jadi Aurora menyetujui itu walaupun dengan tidak ikhlas nya dia menyetujui di karenakan tugas kuliah yang bagaikan gunung itu.
"Asalamualaikum......" ucap Aurora dan Razeta secara bersamaan.
"Walaikumsalam Warohmatulohi..... " jawab sang pemilik rumah. Rupanya yang menjawab itu adalah tantenya Aurora. Sosok wanita yang lembut, itulah kesan pertama yang Razeta sadari saat melihat tantenya Aurora.
Setelah agak lama berbicara akhirnya Razeta tahu bahwa tantenya Aurora bernama Dilla. Nama yang indah untuk sosok wanita parubaya yang masih awet muda ini. Razeta begitu kagum melihat sosok tante Dilla. Senyumannya tante Dilla sanggup meneduhkan hati Razeta, Razeta jadi paham sekarang dari mana Aurora mendapatkan gen lesung pipit itu. Pasti dari keluarganya ini, sudah dapat Razeta pastikan bahwa seruluh kelurga Aurora pasti memiliki lesung pipi yang menawan. Razeta jadi ingin mempunyai lesung pipi.
"Dia lagi ada acara di kampung sebelah,mungkin selesai lima hari atau tiga." jawab tante Dilla sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.
"Maaa..... "
Razeta yang terduduk di kursinya Sambil mendongakkan kepalanya dibuat membeku di tempat melihat lelaki itu dari dekat. Tanpa Razeta sadari mulutnya sudah terbuka melihat sosok itu. Razeta bahkan dapat mencium aroma wangi-wangian yang di pakai lelaki itu.
"Ya Allah ada apa dengan Razeta?"
"Azlan pergi sholat dulu ya, Maa. Nanti Azlan mau pergi ke rumah temen Azlan buat cari bahan kuliah."
Tante Dilla menganggukan kepalanya pada Azlan. Razeta masih terpaku pada sosok itu. Sosok yang diketahui menyebut dirinya Azlan.
"Mau sholat jum'at ya, biar ganteng?" goda Aurora pada Azlan.
"Sholat jum'at itu kewajiban laki-laki bukan cuma biar ganteng aja!" ketus Azlan sambil menatap sekilas Aurora.
Lalu pandangan Azlan teralih pada Razeta yang duduk di sebelah Aurora.
Itu bukanlah tatapan yang lama seolah Azlan terpesona pada Razeta atau sejenisnya, Azlan bahkan hanya menatap Razeta beberapa detik saja bahkan tak lebih dari 4 detik. Azlan menahan pandangannya pada yang bukan mahramnya.
Dia Azlan anak bungsu tante Dilla.
Dirinya memiliki kembaran bernama Aflan, itu berarti dia sepupuan dengan Aurora. Razeta masih bungkam tak berani membuka suara, lidahnya mendadak keluh terserang pesona seorang Azlan. Razeta terus memandangi Azlan tersenyum tipis.
"Azlan pergi dulu ya, Ma.
Asalamualaikum.... " Azlan pergi malah Razeta merasa ada bekas jejak Azlan yang tertinggal.
Razeta senyum-senyum sendiri membayangkan senyuman Azlan. Untuk pertama kalinya Razeta melihat sosok lelaki yang sangat idel untuk di jadikan imam dan rumah tangganya.
"Hayooo.... Kok senyum-senyum gitu?" goda tante Dilla sambil tersenyum jahil.
Ah, sama saja rupanya tante Dilla dengan Aurora, sama-sama suka menggoda Razeta. Mendadak kesadaran Razeta kembali lagi, sesegera mungkin dia beristighfar di dalam hati.
Astaghfirullah Ya Allah... Ampuni aku,
aku gagal menjaga pandanganku.
Razeta hanya menjawab pertanyaan tante Dilla dengan tertawa kecil menampilkan deretan giginya.
"Loh, makanannya ko gak di abisin, Eta?
Itu sayang loh teh manisnya dikit lagi juga."
"Ee.... Itu tante Eta ngantuk tante" Arum mengigit bibir bawahnya dengan kuat.
"Ya sudah, silahkan tidur aja kasihan kalian dari jakarta ke sini, tante beresin dulu tempat tidur buat kamu ya." ucap tante Dilla sambil bangkit dari kursi.
"Ohiya? Aduh maaf ya tante ngerepotin tante" jawab sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah kamu kan tamu disini sayang" ucap tante sambil pergi kekamar untuk membereskan tempat tidurnya.