Razeta

Razeta
Covid -19



Lamaran atau menikah bukan berarti


semua masalah selesai, yang di lalui


kemarin adalah satu tahap awal untuk sampai ke tahap selanjutnya.


Sementara di sisi lain, ada tahapan yang lainnya yang harus segera Razeta


selesaikan yaitu ujian komprehensif


yang harus segera di kejar. Bicara tentang ujiannya Razeta jadi teringat


William yang mengatakan kuliahnya


berantakan.


Razeta merogoh laci tempat dia menyimpan ponsel selama dua hari ini.


Sejak Razeta memposting fotonya dengan William, memutuskan untuk


kembali lagi tidak menggunakan ponsel.


Begitu Razeta mengaktifkan ponselnya,


sangat banyak notifikasi yang masuk.


Dia memutuskan untuk mengabaikan semuanya dan menelfon kontak


"Orang gila."


Cukup lama panggilan tidak mendapatkan jawaban, namun Razeta terus mencoba menghubungi William,


dia ingin laki-laki itu kembali fokus pada tesisnya.


"Hallo," Sapa seorang perempuan di ujung telefon, Razeta agak kaget dia kembali melihat layar ponselnya untuk memastikannya itu nomor William atau bukan.


"Iya hallo, William ada?" Tanya Razeta coba memastikan ini nomor William


atau memang dia salah menyimpan nomor karna memang dia tak pernah berhubungan dengan William lewat ponsel.


"Ini siapa ya?" Perempuan itu malah bertanya balik.


"Razeta. Ini nomor William kan?"


"Oh Razeta, sebentar ya." Jawabannya


memang benar ini William, tapi siapa perempuan itu?"


"Willy." Gumam Razeta mengingat


suara itu tak asing.


"Iya, ada apa Ta?" Rupanya Willy


mendengar gumaman Razeta.


"Udah gue bilang jangan sentuh barang gue." Suara William masih jauh dari ponsel namun terdengar jelas oleh Razeta, suaranya sangat dingin, William tak pernah begitu berbicara padanya.


"Asalamualaikum," Sapa William.


"Emm, Walaikumsalam."


"Ngapain lo nelfon gue? Tumben


banget."


"Emang salah? Lo kan calon gue.


Suka-suka gue dong." Judes suara Razeta justru mengembangkan senyum


William di sebrang.


"Alhamdulillah gue di akuin calon


suami lo."


"Lah emang iya kan??"


"Iya, gue kira lo malu punya calon suami


kayak gue makanya muka gue lo tutup sticker, " Sindir William.


"Eh? lo tau postingan gue itu? Lo


stalkerin gue ya?"


"Haha, gue udah lama kali jadi


followers lo. Lo nya aja yang nggak pernah sadar bahwa gue ada di muka bumi ini."


"Lebay lo! Eh gue mau tanya, Willy itu sebenarnya siapa si?kok dia-"


"Benalu! Udah gausah bahas dia.


Lo ada perlu apa nelfon gue?" William memotong pertanyaan Razeta, dia tidak ingin membahas Willy.


" Tesis lo gimana kabarnya? Gue gak mau tau lo harus kelarin. Gue gak mau jadi tersangka penyabab lo gak wisuda.


"Siap! Mulai gue cicil lagi ntar, ada yang perlu gue revisi sedikit, tapi kendala corona gue nggak bisa bimbingan,


mungkin nanti setelah kita nikah kita


fokus lagi. Sekarang nyiapin pernikahan kita aja dulu, ya kan?"


Hanya satu kata tanpa basa-basi itu lagi telefon itu terputus.


William berjalan menuju dapur, tempat Willy berada saat ini, wajahnya merah padam menahan kesal.


"Gue udah pernah bilang jangan sentuh barang gue, dan lo malah ngangkat telefon dari Razeta. Gue udah bilang gausah ikut ke rumah Razeta lo tetep ngotot ikut. Mau lo apa si sebenarnya?"


Dadanya kembang kempis, William sangat ingin marah namun dia tidak bisa melakukannya.


"Dari dulu keinginan aku gak pernah berubah, Will. Kamu tau itu."


" Lo emang batu banget!"


William menuju kamar, meninggalkan Willy yang mulia mendung dimatanya.


Selalu saja begitu, biar air mata menjadi senjata paling ampuh seorang wanita


dan jadi kelemahan bagi seorang pria.


Brakkkkkk


Pintu kamar William terbuka, lelaki yang sedang menghadap laptop nya itu


sampai di buat kaget.


"Mau ngapain lo?" William bingung


sekaligus ada rasa takut menatap


Willy. Air mata mengalir tanpa susrat,


dia semakin mendekati William.


"Apa lebihnya Razeta sampe lebih milih dia dari pada aku? Dan lebih milih lo pindah agama karna dia, itu agama yang lo jaga dari kecil. Dan sekarang lo lebih memilih perempuan itu dari agama ko sendiri."


"Lo ngapain sih? Udah nggak waras ya lo?gue pindah agama itu bukan karna dia juga, jadi lo simpan perkataan


gue ini." William masih berusaha tenang, menurut mas Fauzan masalah besar atau kecil gunakanlah kepala dingin bukan dengan kekerasan.


"Gue kurang apa di mata lo? Gue seksi dibandingkan dia perempuan


gendut seperti itu. Apa gue kurang seksi di mata lo? Ok, gue buka baju gua biar lo tahu seberapa seksinya gue di banding Razeta cewe gendut seperti itu."


"Lo udah gila, Willy! Apapun yang lo lakuin itu gak akan merubah fakta bahwa gue lebih menyukai Razeta dengan apa adanya!"


"Iya aku gila! Aku gila! Kamu yang buat gue gila! " Willy tertunduk di lantai,


terisak berharap belah kasihan William.


"Semuanya gue lakuin buat lo, Will.


Seluruh hidup gue badan gue suami milio Will. Kurang cukup?" Isaknya semakin


Pilu, 2 tahun mencoba membuat William membalas cintanya namun tidak juga berhasil.


"Gue gak minta apapun dari lo!


Sekarang lo siap-siap jawab pertanyaan Mita ngeliat kelakuan lo ini." William meninggalkan Willy, tidak ingin mama atau Mita mendapati dia dalam keadaan


seperti ini.


..............


" Ra, temenin gue belanja yuk. Ajak mas Fauzan kalau lo nggak bisa sendiri,


atau sama mama aja," Ujar Razeta di telefon.


"Gue udah belanja, tapi kalau lo mau


ya ayo gue temenin."


"Oke, gue siap-siap."


Razeta sedikit menyesali keputusanya


untuk tidak membuka sosmed


selama ini, dia benar-benar tidak mendapat info apapun karna dia juga tidak suka menonton TV, hari ini Razeta


Instagram dan melihat vidio dari pemerintah sudah menyebar bahwa


masyarakat mendapatkan himbauan


untuk tetap berada di rumah selama masa pandemi ini hal itu membuat


Razeta cukup panik terlebih ini akhir bulan, persedian makanan di rumah sudah menipis.


Razeta tiba di supermarket tempat dia janji bertemu dengan Aurora, dia turun dil pintu utama sementara sopir memakir mobil di basement.


Tempat ini tidak bisa di bilang sepi,


hanya tidak seramai biasanya. Banyak orang yang berlalu lalang dengan masker, masih banyak juga yang seperti Razeta. Timbul perasaan takut dalam hatinya namun bagaimanapun dia harus tetap berbelanja kali ini.


Ponsel Razeta berdering, direktur perusahaan ibunya yang sejak tadi menelefon namun Razeta malas mengangkat, kembali di rejectnya.


"Asalamualaikum," Perempuan dengan gamis hijau botol yang selaras dengan kerudung dan cadar bandana warna hitam menyapa Razeta, yang di sapa tak


langsung menjawab, bingung siapa yang


menyapa dia melirik mata yang tidak asing itu.