
"Hahahahaha gak masalah, Razeta. Yayah cuman inget dulu bubu juga sendawa waktu pertama yayah ajak makan dirumah, kamu lebih mending karna makannya alpukat dulu bubu makan semur jengkol haha, sampe hampir gagal nikah karna mbah nggak suka sama bubu! " Cerita lelaki itu mengenang kisah dengan sang istri.
"Ih, yayah, bubu kan jadi malu."
Dicubitnya perut sang suami yang membuat mereka berdua tertawa.
"Tapi tenang Razeta, bubu bakal tetap kasih restu kamu sama William! Gak akan ada drama-drama kaya bubu
dulu!"
"Uhuuuuuukkkkkk!" Razeta tersedak,
hampir saja keluar apa yang di dalam mulutnya. Buru-buru Willim menyodorkan
air putih pada Razeta.
"Santai, gausah grogi gitu dong, Ta, "
Ucap William yang mendapatkan hadiah
plototan dari Razeta.
"Liat tuh, bu calon mantu bunda udah berani melotot ke aku!" Adu William
"Waah bagus dong!"
"Yah bagus jadi istri harus punya
skill melotot, nyubit, kamehameha-"
"Udah ah bubu ngaco! "
Diam-diam Razeta tersenyum, dia
tau dari mana William dapat kelakuan anehnya itu, mereka bertiga sama saja.
Keluarga ini sangat hangat, satu-satunya
hal yang Razeta dapatkan di dunia ini
ternyata di miliki William dengan sangat banyak; kasih cinta dan kasih sayang keluarga.
"Udah ah, malu sama Razeta." Lerai
sang Yayah.
"Emm, tante, saya minta maaf harus pergi sekarang. Masakan tante enak banget, terimakasih banyak ya, om, tante
saya permisi dulu, " Ucap Razeta
tidak sopan tapi dia tidak kuat lagi
menahan rindu pada mamanya.
Rumah ini sangat asri, tidak terlalu besar dan tidak juga bertingkat tapi begitu medamaikan dengan seluruh isi rumah
dominan warna hijau.
Halaman depan penuh rumput yang hijau yang rapih, sebelah kiri ada pohon mangga yang tidak terlalu tinggi namun sedang berbunga lebat.
Yang sangat menarik perhatian Razeta adalah bunga mawar berwarna
merah darah berumpun-rumpun,
Razeta berjongkok lalu mencium harumnya.
"Lo suka mawar?" Suara William
menginteprusinya, malas menjawab
Razeta hanya mengangguk.
William mencengkram batang mawar itu
untuk memetiknya, belum sempat mematahkan batang nya tangan William sudah terluka.
"Aw! Lo udah gila ya? Razeta ngeri sendiri yang dilakukan oleh William, di tariknya
tangan William ke arah lengannya yang terbalut lengan panjang dari bajunya.
"Razeta, untuk dapetin mawar itu gak mudah, kadang harus terluka karna ada duri yang melindunginya. Tapi gue bersedia terluka, asal gue bisa depetin lo. " Ucap William tak peduli dengan rasa sakitnya.
"Berarti lo cuman obsesi, kalau lo emang benaran suka sama mawar itu seharusnya lo rawat dan biarin dia tetap hidup bukan lo petik yang sebentar saja kayu sampai akhirnya mati ditangan lo. " Dingin suara Razeta.
........
Bayangan kejadian semalem mengysiknya, Razeta dengan sengaja meminum alkohol dengan harapan dia akan melupakan beban hidupnya barang sebentar saja, terakhir yang bisa dia ingat ketika dia menegak minuman itu
tenggorokannya panas kemudian di tegaknya juga minuman milik pria yang duduk dengannya dan setelah itu kepalanya sangat sakit kemudian terbangun di rumah William.
"Ya Tuhan! Kenapa gue bisa minum alkohol! " Razeta terperanjat mengingat bayi dalam kandungnya, dia pernah membaca artikel bahayanya ini hamil mengkonsumsi alkohol pada ibu hamil,
ada rasa takut yang sangat besar menyelimuti Razeta saat ini, dia tidak ingin terjadi apapun pada bayinya.
Razeta menimang-nimang ponselnya,
dia tidak tau harus menghubungi siapa selain Aurora, dia benar-benar tidak berani jika harus pergi ke rumah sakit sendirian. Demi anaknya, Razeta rela melupakan kekesalan nya pada sahabatnya itu, lagi pula Aurora juga sudah tidak mungkin memaksanya menikah dengan fauzan.