Razeta

Razeta
Sujud tanda cinta



Aurora termenung dengan


permintaan Razeta tadi, dalam hatinya


dia terus berucap syukur karna sahabatnya mulai mau membuka hati akan hidayah Allah yang sudah sering kali datang menyapanya.


Mobil terparkir di garasi rumah Razeta,


mereka turun dengan perasaan yang berbeda. Razeta yang masih menyimpan ketakutan juga keraguan, sedang Aurora dengan perasaan haru dan kebahagiaan.


Sebelum masuk kedalam rumah,


mereka di semprot disinfektan oleh satpam di rumah Razeta, " Mencegah masuknya virus ke dalam rumah."


Katanya.


"Ini apaan sih, Ta? Berlebihan banget deh."


"Gue gak tau juga, siapa yang suruh kalian lakuin ini ke gue sih?"


Razeta melotot ke arah satpam yang


menyemprotkan cairan itu padanya,


Razeta tidak suka bau cairan itu, dia


jadi agak mual sekarang.


"Gue yang suruh." Suara William agak berteriak dari dalam rumah.


"Ngapain dia ada disini!?" Gerutu Razeta,


dengan menghentak-hentakan kaki


dan menutup hidung dia masuk mencari William diikuti Aurora.


"Apa yang lo lakuin di rumah gue?"


"Nyemprot disinfektan, lo gak liat?"


Jawab William seperti tidak terjadi apa-apa di supermarket tadi.


"Lo gak tau malu banget ya."


"Kalau gue malu-malu nanti lo di ambil sama orang." William masih fokus


dengan semprotan disinfektannya,


dia berkeliling rumah Razeta tanpa permisi, Razeta tambah geram karna William seperti tidak peduli dengan emosinya. Razeta mengisyaratkan kepada para asisten rumah tangganya


pergi dari tempat itu, memberikan privasi kepada dirinya.


"Mau lo apa sebenarnya?"


"Elo."


"Lo udah punya anak?" Todong Razeta malas berbelit-belit dengan William yang suka gombal.


Razeta tidak suka memendam perasaan dan menyakiti diri sendiri, menurut nya komunikasi itu sangat penting.


Ada yang mengganjal tanyakan, tak suka ya sampaikan, diskusikan atau apapun


sampai masalah tuntas, jangan memendam lalu lelah sendiri dan memutuskan untuk pergi. Hubungan yang baik tidak bisa menggunakan cara seperti itu.


"Iya." Ucap singkat dari bibir William


sukses membuat Razeta melotot sempurna kepadanya.


"Lo serius?"


"Sangat serius."


"Kurang ajar banget lo!!! Terus apa maksud lo ngelamar gue dan masuk islam?!"


"Karna gue suka sama lo, sayang banget sama lo, Ta. Lo satu-satunya perempuan


yang bisa buat gue kagum dan jatuh cinta. Asal lo tau gue masuk islam bukan karna lo tapi itu kehendak gue


sendiri."


"Pergi lo dari sini! Bisa-bisanya lo bohongin gue! Sampe kapanpun gue


gak akan menikah sama suami


orang!" Razeta berteriak, lukanya kembali terkoyak. Entah kenapa hidupnya di kelilingi hal semacam ini.


"Gue masih sendiri, Ta."


"Terus gimana bisa lo punya anak? Lo lepehin itu bayi nya?"


"Willy, dia anak gue sama Willy."


pengakuan William membuat lutut


Razeta lemas. "Maafin gue, Ta."


"Jadi itu alasan lo nerima keadaan gue?


ckck muka polos ternyata bajing*n


juga." Razeta tersenyum miring.


"Terserah lo mau anggep gue apa ya,


yang jelas ini semua gak kaya apa yang lo pikirin."


"Ckck pergi dari rumah gue sekarang."


"Tapi, Ta gue belum selesai bicara."


"PERGI!!!!" Teriakan Razeta membuat William menyerah, dia tidak ingin


Razeta lebih marah lagi karna hal itu


William mengambil langkah mundur,


menatap punggung Razeta yang sudah lebih dulu berbalik meninggalkan nya.


"Maafin gue, Ta."


..........


Razeta berdiri di dekat jendela kamarnya yang mengarah ke gerbang depan,


dia menatap William yang sedang menatap nya.


Tidak ingin ia tahan, air mata itu begitu


lolos saja." Kenapa gue ya, Ra hidup gue begini banget? Gue udah berpikir bakal bangun keluarga bahagia dengan William. Ternyata dia menyimpan rahasia begitu besar. Apa Tuhan gak nulis takdir


indah dalam hidup gue, ya? Kenapa Tuhan gak mau sedikit saja berbaik hati


sama gue."


"Ta," Lembut Aurora membuat Razeta berbalik, dia menatap Aurora sebentar lalu membaringkan tubuh diatas tempat tidur empuk miliknya.


"Tuhan gak berhenti-henti kasih gue cobaan yang berat. Rasaya gue udah


gak kuat, Ra." Razeta menajamkan


mata, menarik napas panjang lalu


menghembuskan perlahan, berharap sesak di dadanya mereda.


"Saat sesuatu gak sesuai dengan harapan kita akan beranggapan hal ini itu buruk, padahal belum tentu, coba cari hikmah dari setiap kejadian maka kita akan merasakan kebaikan dari setiap


rencana Allah. Yuk sholat dulu nanti


kita bicarain ini setelah hati lo tenang."


Ajak Aurora.


"Gue kan ngga bisa sholat. Gue gak hapal bacaan sholat, gue udah lupa caranya berwudhu." Suara Razeta terdengar sangat lemah, ada perasaan malu kepada Aurora terlebih pada dirinya sendiri.


"Razeta, lo nggak sendirian. Ada gue disini, insyaAllah gue bisa sedikit bantuin lo." Aurora memeluk erat sahabatnya,


dia mengerti sudah terlalu banyak hal


berat yang dilalui Razeta, hal itu menambah kekaguman Aurora oada Razeta yang bisa setegar ini.


"Emm, Ta berarti lo selama ini ngga pernah mandi wajib?" Tanya Aurora hati-hati.


"Mandi emang wajib bagi gue, Ra. Lo lupa?"


"Maksud gue mandi junub, sesuai aturan dan niat karna Allah udah bersihin diri kita."


"Emang ada ya mandi yang kaya


begitu?" Razeta bingung, baru kali ini dia mendengar mandi yang seperti itu, padahal selama ini dia sangat rajin mandi.


"Ada dan itu sangat penting. Suci dari hadas itu syarat mutlak agar sholat kita diterima, bersuci dari hadas kecil kita harus berwudhu dan apabila hadas besar kita harus mandi. Mandi itu macam-macam penyebutannya, ada


yang menyebutnya mandi wajib, mandi junub tapi inti dan tata cara tetap sama."


"Coba bahasanya yang gue ngerti aja,


hadas itu apaan? Seperti apa itu hadas?"


"Hmmm gini, kalau menurut KBBI hadas itu dalam keadaan tidak suci pada seseorang muslim yang menyebabkan


dia tidak boleh salat, tawaf dan lain sebagainya. Contohnya hadas besar kayak haid, junub, nifas dan keluar mani


jadi kita wajib mandi setelah itu, kalau gak berarti sholat kita gak sah."


Terang Aurora mencoba membuat Razeta memahami perkataannya.


"Eh berarti gue waktu itu sholat gak sah ya? Yaah sayang banget." Keluh Razeta pada dirinya sendiri.


"Wallhu alam. Lo kemaren kan belum tau,


sekarang lo buruan mandi dulu gue


rasanya sakit banget."


Aurora berbaring, meluruskan


Kakinya, kandungan belum terlalu besar


namun dia semakin mudah lelah.


"Caranya gimana? Gue kan ngga tau."


"Bentar gue kirim dulu link nya lo baca sendiri ya, gue capek banget."


"Emang bisa gitu, ya?"


"Ya bisa. Dunia udah canggih ini lo


kok masih kebingungan gini sih?" Ledek Aurora.


"Ya ampun! Kok gue gak kepikiran ya kemaren-kemaren buat buka google atau youtube? Tau begitu gue belajar sholat


dari waktu itu astagaaaa asli ngga kepikiran ke situ!" Razeta merutuki


dirinya sendiri, padahal punya ponsel


canggih tapi tidak dia pergunakan untuk mencari ilmu, sungguh merugi.


Aurora mengeleng-geleng melihat Razeta yang sudah berlalu, mood perempuan itu cepat sekali berubah, bahkan Aurora sampai sekarang sangat sulit memahami


Razeta.


"Memaafkan memang tidak akan bisa mengubah masa lalu, tetapi dengan memaafkan, masa depan yang penuh dengan persaudaraan akan terlahir. Semoga di hari yang agung ini, kita dapat saling memaafkan dan di limpahi semua keberkahaan. Selamat Idul Adha 2020/1441 H."